Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Ucap Syukur


__ADS_3

Di dalam kamar kos berukuran kecil, temaram lampu masih menyala. Terlihat Andin yang masih tenggelam dengan berlembar-lembar kertas juga buku yang menumpuk. Sesekali menyangga dagunya menahan kantuk yang datang menghampiri. Menahan matanya supaya tetap terjaga di depan laptopnya.


Terdengar seseorang menggeliat dari tidurnya, lalu perlahan mengucek matanya. Ia melihat Andin yang masih berada di tempat yang sama, juga di posisi yang sama pula. Persis seperti sebelum ia memejamkan matanya lalu berhasil hanyut di dalam mimpinya. Ia segera meraih ponselnya yang berada tepat di samping bantalnya.


"Ya ampun, jam 01.10 pagi!" (pekiknya)


Andin menoleh ke belakang setelah mendengar pekikan suara.


"Kenapa bangun?" (tanya Andin)


"Apa yang kau lakukan, Ndin? Ini sudah pagi. Kau sudah belajar berjam-jam tanpa berhenti." (ucapnya)


"Kau kan tahu, besok aku ada ujian penting, Met."


Meta menyingkirkan selimut tipisnya. Ia duduk lalu menatap Andin.


"Ujian tidak ujian, sepertinya sama saja. Kau tetaplah belajar keras."


"Itu hanya perasaan mu, saja, Met. Sudah, kau tidur lagi saja."


Andin kembali menatap laptopnya, lalu membuka buku-buku nya. Meta masih menatap punggung Andin yang tengah belajar dengan khidmat.


Semoga saja, tidak banyak manusia sepertinya. Akan jadi apa dunia ini, jika semuanya memangku gelar kecerdasan? Ah, aku pasti akan menjadi rumput liar yang diinjak-injak sendirian.


"Bukankah kemarin kau mengatakan bahwa kau sudah memahami semuanya? Lalu kenapa kau belajar sampai lembur seperti ini?" (tanya Meta)


"Ya, setelah meneliti ulang, ternyata ada yang belum ku pahami sepenuhnya. Dan semakin aku berfikir, juga semakin banyak aku belajar, aku semakin merasa tidak mengetahui apapun." (jawan Andin)


Dia mengatakan persis seperti guru Bahasa Indonesia ku, saja! Huh, terlalu berlebihan.


Meta menggaruk-garuk kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Rupanya minat juga semangat belajarnya melejit tinggi ketika sahabatnya itu masuk ke perguruan tinggi. Ia sama sekali tak melihat semangat yang Andin tunjukkan saat ini, ada di saat Andin masih memakai seragam putih abu-abu.


"Kau juga, Met. Kau harus giat belajar. Jangan sampai kau mengecewakan semua. (ucap Andin lagi)


Meta memonyongkan bibirnya.


"Ah, tenang saja Ndin! Walau aku tak secerdas dirimu, tak secantik dirimu, dan tak sekaya keluarga mu, aku tetap belajar bersungguh-sungguh. Hanya saja, aku tak memiliki ambisi sebesar dirimu. Aku masih menghargai semua waktu ku." (ucap Meta)


Andin menoleh ke belakang lagi. Menatap Meta dengan senyum geli. Ia segera menutup semua bukunya dan juga laptopnya. Ia mendekati Meta, lalu mencubit tangan Meta.


"Aku hanya bercanda ketika mengatakan itu padamu."

__ADS_1


Andin tertawa melihat Meta yang masih cemberut.


"Kau ini, benar-benar menyebalkan, Ndin! Sudah sana, belajar saja terus sampai kedua mata mu memerah, lalu terlepas!"


Andin terkekeh dengan ucapan Meta.


"Maksudku adalah, kau sudah diberi kesempatan untuk belajar kembali. Dan, kau tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang datang pada mu."


Meta melemparkan bantal nya ke Andin dengan keras.


"Heh, aku hanya ingin menjalankan semua kegiatan juga kebutuhan ku dengan baik! Waktunya sekolah, aku sekolah. Waktunya belajar, aku belajar. Dan waktunya tidur, ya aku tidur lah! Karena aku, masih normal."


Andin menyedakepkan kedua tangannya. Menatap Meta tajam.


"Maksud mu, aku tidak normal, seperti itu?"


Meta mengedikkan kedua bahunya acuh. Tak ingin menjawab pertanyaan Andin, yang jelas-jelas sudah mengetahui jawabannya.


"Aku ingat, aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah ku, karena semua bantuan yang diberikan kebijakan pemerintah tempat tinggal ku. Melanjutkan pendidikan di sekolah negeri setelah berhenti beberapa tahun, tidaklah mudah jika tanpa bantuan dari mereka. Aku tahu, itu. Dan aku selalu mengingatnya."


Tiba-tiba Andin tertawa mendengar ucapan Meta yang sangat serius.


Sejurus dengan ucapan Andin tersebut, ia memeluk Meta. Memeluk sahabatnya yang paling mengenal, mengerti, juga memahami dirinya. Dalam peluknya, ia bersyukur dipertemukan kembali dengan sahabatnya itu. Mereka kembali dipertemukan dengan cara ketidaksengajaan. Meta melanjutkan pendidikan nya kembali, di SMA negeri terbaik di kota Surabaya. Dan tempat Meta bersekolah, berdekatan dengan kampus tempat Andin melanjutkan pendidikan.


"Aku bersyukur kita bertemu kembali. Ya, walau kau sangat menyebalkan,"


"Dan kali ini, kau yang datang ke kota kelahiran ku."


Meta melepaskan pelukan Andin.


"Kau ini apa-apaan, Ndin!"


Meta melengoskan wajahnya. Andin mengernyitkan keningnya. Ia melihat Meta yang terlihat semakin serius.


"Kau kan tidak suka berpelukan denganku!"


Andin mengembuskan nafasnya lega. Lalu ia tertawa keras dan disusul oleh Meta. Mereka tertawa keras selama beberapa saat. Entah apa yang membuat mereka tertawa keras dan tertawa selama itu. Mereka seakan melupakan bahwa jam menunjukkan waktu dini hari. Jam dimana digunakan untuk tertidur pulas. Mereka pun seakan melupakan bahwa penghuni kamar lainnya di kos tersebut pun memerlukan istirahat yang cukup tanpa adanya gangguan.


Dan benar saja, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang digedor-gedor dengan keras. Meta dan Andin pun seketika memandang satu sama lain.


"Husssttt..."

__ADS_1


Andin meletakkan jari telunjuknya tepat dibibir nya. Andin menahan tawa nya dengan menutupi wajahnya dengan bantal. Begitupun dengan Meta.


Dering alarm berbunyi pukul 05.00 WIB. Andin dan Meta bangun secara bersamaan setelah mendengar jam alarm yang berbunyi cukup keras. Mereka pun keluar dari kamar setelah mengambil kerudung untuk menutupi rambut. Mereka menuju ke kamar mandi yang memang sudah menjadi fasilitas bagi siapapun yang tinggal di kos tersebut. Terdapat tiga kamar mandi berukuran sedang yang saling berjejeran.


Kos putri memang terdapat beberapa kamar lainnya. Kebanyakan penghuni adalah mahasiswa. Dan sisanya adalah para pekerja. Hanya Meta lah yang sebagai siswi SMA yang tinggal di kos tersebut.


Dan tepat di seberang kos putri, tempat kos putra. Kos putra dan putri memang saling berhadapan. Hanya terpisah oleh jalan umum yang tidak terlalu lebar.


Setelah Andin dan Meta mengambil air wudhu, mereka pun segera sholat shubuh. Setelah selesai sholat, Andin mengambil handuk yang baru dibelinya kemarin setelah jam kuliahnya berakhir.


Meta melirik ke arah Andin. Lalu ia melepas mukena nya.


"Enak ya, jadi anak yang berasal dari keluarga berada. Apapun kebutuhan juga keinginan terpenuhi saat itu juga." (ucap Meta)


Andin masih diam. Ia belum menanggapi ucapan Meta. Meta pun berucap kembali.


"Ah ya, Tuhan. Sedangkan, lihatlah handukku. Warna nya bahkan sudah memudar dan mulai bermunculan bintik-bintik hitam."


Andin mengangkat suara nya. Ia tahu, apa yang harus ia katakan.


"Hahaha, itu karena kau tidak menjaga barang yang kau miliki, Met,"


"Kau membuat semua barang mu muncul bintik-bintik hitam. Itu karena kejorokan mu yang tidak pernah kau hilangkan sedikitpun sejak dulu,"


"Dan ah ya, mengenai aku yang berasal dari keluarga berada. Hemm, itu sudah menjadi takdir ku, sepertinya. Dan menurutku, terimalah takdir mu dengan lapang dada."


Andin berbicara dengan nada penuh ledekan. Meta benar-benar kesal karena senjata yang digunakan olehnya untuk meledek sahabatnya itu, justru berbalik menyerang dirinya.


"Kau sombong sekali, heh!" (pekik Meta)


"Tidak ada tempat lain yang lebih baik lagi, selain sombong di hadapan mu." (ucap Andin)


Andin tertawa sumringah. Lalu ia segera berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi. Andin bahkan, tak ingin mendengarkan kalimat jawaban yang di ucapkan Meta selanjutnya.


Meta menunjukan wajah marahnya di hadapan Andin. Dan setelah Andin berlalu dari hadapannya, ia mengulas senyumnya.


"Kau benar, kau memang hanya sombong di hadapanku saja." (lirihnya)


Aku yakin, sebentar lagi kebahagiaan mu akan segera datang. Dan kau harus melepas status mu yang memiliki suami dengan dua istri, Ndin. Harus.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2