
Ceklek..
Andin membuka pintu lemari lokernya. Seperti hari-hari biasanya di sekolah, ia memang selalu menyempatkan waktunya hanya untuk mengecek ada kejutan apa hari ini.
"Hemm, lagi-lagi seikat bunga."
Andin mengulas senyum lalu segera membuka sepucuk surat yang menempel di seikat bunga itu.
Hei, Putri Senjani!
Jangan tersenyum. Kau tahu, jika kau tersenyum seperti itu maka aku harus berebut dengan sekelompok semut demi mendapatkan secuil kemanisan darimu.
Jangan membuatku memusuhi sekelompok semut karena mu.
Aaaa, sudah cukup si kaku tampanku. Jangan membuatku menjadi semakin bucin sendirian seperti ini, kumohon.
Andin berteriak histeris dalam hatinya. Tak dapat dipungkiri, ia memang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dan juga rasa yang semakin tumbuh hari demi hari. Tentu kejutan-kejutan yang selalu ada untuk Andin di setiap harinya lah yang semakin membuat Andin merasa menjadi semakin bucin. Tetapi sampai saat ini pun Andin tidak mengatakan sesuatu hal mengenai kejutan-kejutan di setiap harinya itu kepada Zidan Haq. Itu ia lakukan karena ia berpikir bahwa,
"Jika si kaku tampanku bisa berperan biasa-biasa saja di hadapanku, maka aku pun harus berperan sebaik itu pula. Aku akan berpura-pura tidak mengetahui siapa si pengirim kejutan-kejutan itu di setiap harinya."
Begitu pikir Andin ketika ia selalu ingin sekali mempertanyakan hal itu kepada Zidan Haq. Akhirnya Andin telah memutuskan bahwa sampai kapanpun ia tidak akan menanyakan hal itu kepadanya. Terkecuali jika Zidan Haq lah yang lebih dulu membahasnya, maka itu akan berbeda alur ceritanya.
"Non Andin, dari tadi saya mencari anda non rupanya anda sedang berada di ruang loker ini. Kak Ziban memanggil Non Andin untuk segera ke perpustakaan secepatnya."
Sudah ku bilang jangan memanggilku dengan sebutan non kan?!
"Baiklah, terimakasih informasinya ya."
"Sama-sama non. Mari, biar saya antar ke perpustakaan."
"Ah tidak perlu, kau lanjutkan saja kegiatan mu."
"Tidak apa-apa non, saya hanya ingin memastikan bahwa anda sampai di perpustakaan dengan aman dan selamat tanpa terluka sedikitpun."
Omong kosong macam apa ini hah?! Memangnya di sekolah terbaik seperti ini akan ada begal di dalamnya? Apa kau sedang bercanda?! Pergi sana. Ku mohon hentikan omong kosong mu itu.
"Ku mohon pergilah. Aku berjanji aku akan baik-baik saja. Lagian aku kan hanya akan pergi ke perpustakaan. Dan itu masih di lingkungan sekolah kan?"
"Tidak non. Anda adalah kekasih Kak Ziban. Dengan menjaga anda, maka itu berarti sama saja dengan menjaga Kak Ziban. Dan jika Kak Ziban merasa senang, maka saya pun akan merasa bangga walau hanya melakukan suatu hal kecil seperti ini sekalipun."
Lihat, Kak Ziban Alkash yang terhormat! Semua ini akibat dari ketidakwarasan mu yang mengumumkan bahwa aku adalah kekasih mu. Cih! Entah apa tujuanmu!
__ADS_1
Andin pun segera berjalan melalui lintas tercepat menuju ke perpustakaan. Tentu saja ada buntut yang berada di belakangnya mengikuti Andin sejak tadi. Andin acuh dengannya. Ia tetap terus berjalan tanpa melirik ke belakang sedikitpun.
"Syukurlah, Non Andin telah sampai di perpustakaan dengan aman. Saya izin pergi dari sini non."
Terserah apa katamu! Pergi! Pergi yang jauh sana! Jangan kembali sekalian ke dunia!
Andin hanya menganggukkan kepalanya. Setelah ia pergi, Andin segera masuk ke dalam ruangan rahasia seperti biasa. Andin telah membuka pintu. Terlihat seseorang yang berbaring santai di ranjangnya. Andin melihatnya lamat.
"Hei kak!! Berkat kau, semua anak-anak terlihat semakin tidak waras kepadaku!!"
Ah tidak tidak. Jika aku mengatakan hal seperti itu maka iblis itu akan murka dan malah akan memarahiku kembali. Cih.
Plakk!!
"Awhhhh, sakitttt kak."
Sekotak tissue di dilempar ke arah tubuh Andin dan mengenai tepat di perutnya. Tentu Andin pun mengerang kesakitan.
"Apa yang kau lakukan di situ hah?! Cepat kesini."
Huh dasar! Sudah seenaknya saja melempari ku sekotak tissue, bahkan iblis itu tak merasa bersalah sedikitpun.
"Iya kak, maaf."
"Hei naik ke atas! Apa yang kau lakukan di bawah hah?!"
"Emm, apa maksud mu kak? Biasanya kan aku memang duduk di bawah seperti ini."
"Ini.." (kata Ziban sembari menunjuk pipinya)
Aaaa, apa yang dia lakukan?! Dia tidak sedang meminta ku untuk mencium pipinya kan?? Aaah bagaimana ini, bagaimana caraku menolaknya. Jika dia sudah menginginkan sesuatu, maka dia pasti akan memaksa ku. Tuhan tolong aku, tolong bantu aku menjaga kesucian ku ini untuk si kaku tampanku.
"Eheheh, kak.. sebaiknya aku di bawah saja. Sangat tidak sopan jika aku naik ke atas ranjang juga kan." (jawab Andin cengengesan)
"Aku bilang cepat naik! Jangan membuatku mengulangi kata-kata ku kau paham!"
Ucapan Ziban sedikit meninggi. Seketika Andin bergerak cepat naik ke atas ranjang dengan terus menunduk. Ia hanya berharap sesuatu yang buruk tidak akan menimpa kepadanya. Setelah itu Ziban mendekatkan wajahnya ke Andin.
Brugghhh!!
"Hei kebon karet! Apa yang kau lakukan hah?! Mengapa kau mendorongku!"
__ADS_1
Andin refleks mendorong Ziban ke belakang hingga ia terjerembab jatuh di atas kasurnya. Andin menggerutukkan giginya.
"Hemm..itu..karena wajahmu mendekat ke arahku kak, aku takut kau akan..." (jawab Andin terbata-bata)
"Cih! Dari ujung kaki mu sampai ujung kaki mu, bahkan tak ada yang menarik sedikitpun menurutku kau paham?! Seperti tidak ada perempuan yang cantik saja, jika aku sampai melirik mu!"
"Aku takut kau berbuat khilaf kak."
"Hahaha jika aku sampai berbuat khilaf sekalipun, maka mataku tak akan memilihmu karena mataku ini masih sangat normal."
"Lalu mengapa kau mendekatkan wajahmu tadi, kak?" (tanya Andin kembali tidak mau mengalah)
"Aku mau mengambil kotak obat yang berada di belakang mu, heh!"
Mendengar jawaban Ziban yang sangat masuk akal, Andin cengengesan karena telah menuduhnya macam-macam.
"Kau tidak melihat wajahku hah?! Cepat obati!" (tukas Ziban)
Andin segera bertindak cepat sebelum Ziban kembali menambahi beban untuknya. Memakai sarung tangan, lalu membuka kotak obat dan segera mengobati memar di wajah Ziban.
"Ini memar kenapa kak, apa boleh aku tahu? Seharusnya setelah menyadari ada memar di wajahmu kau harus segera mengobatinya kak."
Ziban terdiam mengingat kejadian kemarin. Kejadian dimana ia bersilat lidah dengan ayahnya sendiri dan berakhir dengan sebuah tamparan lalu kepergian. Mengingat dimana ketika Ziban telah sampai di apartemen pribadinya.
"Tuan Muda Ziban, jika anda tidak ingin dokter datang ke sini, biar saya obati wajah anda yang memar itu. Setidaknya tidak akan infeksi dan akan lebih baik nantinya, tuan."
Ucap Sekretaris Chan kepada kepada Ziban. Tetapi Ziban hanya menggelengkan kepalanya lalu menyuruh Sekretaris Chan untuk segera pergi. Tentu tak ada yang bisa Sekretaris Chan lakukan kembali, jika tuan mudanya telah menolak.
"Jangan banyak berbicara heh kebon karet! Cepat obati saja wajahku."
"Iya kak, maaf."
Andin pun melanjutkan mengobati memar yang terdapat di wajah Ziban. Sedangkan Ziban memejamkan matanya merasakan olesan obat yang menempel di pipi memar nya. Andin memandang nya lamat-lamat, dan segera menyadari sesuatu.
Oh tuhan, ternyata jika di tatap dari dekat seperti ini dia terlihat sangat..
Ah, tidak-tidak apa yang telah aku katakan!
Aaaa, kenapa perut ku tiba-tiba sakit di saat yang tidak tepat seperti ini sii.
BERSAMBUNG...
__ADS_1