Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Kedatangan Raditya


__ADS_3

Motor Kawasaki keluaran terbaru milik Ziban Alkash melaju dengan kecepatan tinggi. Di balik helm sport milikinya, Ziban cengengesan karena Andin selalu berteriak sepanjang jalan.


"Sudah diam! Jika kau terus saja berteriak seperti itu, maka aku akan menjatuhkan mu sekarang juga!" (pekik Ziban)


Andin pun langsung terdiam. Ia berpegangan di tempatnya sendiri. Ziban semakin menggila dalam membawa laju motornya itu.


Tolong jangan ajak aku jika kau ingin meninggal secara tidak terhormat seperti ini. Aaaaa aku belum menikah. Ku mohon pelankan motormu.


"Kak, apa tidak sebaiknya melaju pelan-pelan saja? Lihatlah banyak kendaraan yang berlalu-lalang sama cepatnya saling berebut jalan." (ucap Andin keras karena melawan angin yang kencang di jalanan)


"Memangnya kenapa? Aku terbiasa seperti ini."


"Sangat berbahaya untuk keselamatan mu kak."


"Untuk keselamatan ku atau keselamatan mu, hah?!"


Eheh, kau tahu saja kak. Hahaha mana mungkin aku peduli tentang keselamatan mu. Aku bahkan sangat ingin membunuhmu. Tentu saja hanya karena aku peduli tentang keselamatan ku haha.


"Apa kau pikir jika tanpa berpegangan maka kau akan baik-baik saja hah?!" (sambung Ziban kembali)


Cih! Tentu saja aku sudah menopang tubuhku kuat-kuat!


"Cepat berpegangan. Aku akan melaju maksimal untuk menguji motorku ini."


Apa kak?! Kau menguji coba motormu ketika bersamaku?! Dasar gila!


Andin pun berpegangan erat pada Ziban. Ia memejamkan matanya dan terus saja komat-kamit dalam bibir mungilnya itu. Ia berharap akan di beri umur yang panjang. Jika nanti terjadi kecelakaan, Andin berdoa agar ia saja yang di selamatkan. Ziban tidak usah.


"Heh kebon karet! Apa kau tidak memiliki otak?! Lepaskan tanganmu di helm ku ini! Bisa-bisanya kau berpegangan erat tepat di kepalaku! Cepat lepaskan!"


Ziban menepis keras tangan Andin yang berpegangan erat tepat di kepalanya. Andin pun menggerutu di belakang punggung Ziban. Ia bahkan menjulurkan lidahnya sembari mengutuk makhluk yang selalu mempersulit hidupnya itu. Rasanya Andin benar-benar ingin mencekiknya dari belakang. Tetapi ia urungkan, karena bagaimanapun Andin tidak ingin tangan sucinya itu ternodai karena iblis itu.


"Cara berpegangan yang benar itu seperti ini..."


Ziban menarik lengan Andin menggunakan tangan kirinya. Ia menaruhnya melingkar tepat di perutnya itu. Seketika Andin pun langsung menarik lengannya kembali. Lagi-lagi Ziban di buat bingung dengan tingkahnya.


"Kenapa di lepaskan?!"


"Hemm..."


"Jangan berpikiran bahwa aku sedang mengambil keuntungan darimu ya. Perlu di catat kau itu bukan tipe ku."


"Bukan seperti itu kak, sepertinya jika aku berpegangan tidaklah baik..."

__ADS_1


"Tidak baik bagaimana? Kau kan sudah memakai sarung tangan. Kulit mu tidak akan tersentuh sedikitpun olehku!"


"Eh, memangnya bisa seperti itu kak?" (Andin memicingkan matanya berusaha berpikir)


"Kalau kau tidak mau ya sudah, tubuh kecilmu pasti akan tersapu angin dengan mudah. Dan aku akan menertawai mu nantinya hahaha."


Andin merinding mendengar ucapan horor dari mulut Ziban. Sepertinya Ziban memang mengharapkan Andin akan tersapu angin di hadapannya. Tanpa berpikir panjang Andin melingkarkan kedua tangannya di perut Ziban. Ia terlihat meringkuk dan berpegangan sangat erat hingga kepalanya benar-benar menempel sempurna di punggung seseorang yang amat di bencinya itu. Tetapi ia lupakan sekejap kebenciannya. Ya, tentu saja karena ia harus menjaga diri terlebih dahulu. Ia percaya dengan ucapan Ziban bahwa Andin akan dengan sangat mudah tersapu angin. Itulah alasan kuatnya saat ini.


Ziban merasakan desiran kuat yang tiba-tiba hadir dari dalam dirinya. Lalu ia tersenyum di balik persembunyian wajahnya itu.


Kau sangat polos. Bagaimana mungkin aku akan membiarkan kau tersapu angin begitu saja?


Setelah beberapa drama dan adegan di sepanjang perjalanan, akhirnya sampailah mereka berdua di gerbang asrama pesantren tempat Andin tinggal. Andin sebenarnya ingin mempertanyakan kepadanya mengapa Ziban mengetahui tempat tinggal Andin sekarang. Padahal sejak tadi ia sengaja diam saja. Andin memang ingin mengerjai Ziban. Rupanya kali ini Andin sangat berpikir pendek.


"Hemm, kau harus membayar mahal karena berani memelukku erat dari belakang tadi!"


"Eh, bukankah kau yang menyuruhku kak?"


"Dasar bodoh! Aku hanya menyuruh mu untuk berpegangan bukan untuk memelukku erat seperti itu!"


Andin berusaha mengingat-ingat kejadian tadi. Ya, setelah di ingat-ingat, Ziban memang tidak menyuruh Andin untuk memeluknya.


"Tapi tadi kau tidak menolaknya kan kak?" (tanya Andin polos)


Lagi-lagi Andin mencoba mengingat-ingat. Sepertinya kali ini ia tidak bisa mengingat dan berpikir dengan baik karena terlalu pusing akibat membonceng motor Ziban yang melaju dengan sangat cepat.


"Ah, sudahlah kau terlalu lama berpikir! Lebih baik aku pulang saja daripada meladeni perempuan tidak penting seperti mu!"


Kau mau pergi? Pergi saja sana! Memangnya apa yang sedang kau tunggu. Cih.


"Baiklah kak, kalau begitu aku akan masuk ke dalam terlebih dahulu. Kau hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok kak. Daaahh."


Andin berbalik badan melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Ziban.


"Heh! Kembalikan helm ku bodoh!"


Andin sontak memegang kepalanya yang rupanya terdapat helm masih menempel. Ia membalikkan badannya lalu cengengesan menghadapi Ziban yang tengah berkacak pinggang sangat kesal.


...----------------...


"Ziban, kau ini tidak pernah menghormati ku sedikitpun!"


"Memangnya kau ini siapa hah?"

__ADS_1


Olive menggeram sangat keras.


"Apa kau ingin kembali ke ibumu yang sakit-sakitan itu?" (kata Olive)


"Ibuku tidak sakit-sakitan. Yang sakit sebenarnya adalah kau! Hama pengganggu!"


"Oh ya?"


"Betapa buruknya nasib ayahku karena mendapat pendamping baru yang sangat tidak tahu diri seperti mu haha." (Ziban mengucapkan sesantai mungkin)


"Kau ini ya!"


"Apa? Kau ingin memukulku seperti halnya kau memukul ayahku hah?!


"Camkan baik-baik. Aku Olive, ibu tiri mu, sama sekali tidak pernah melakukan hal seperti itu kepada ayahmu!"


"Ya, aku sangat percaya denganmu."


Ziban mengeloyor pergi meninggalkan Olive yang semakin di buat geram dengan tingkah tidak sopan Ziban.


Dasar, anak itu! Awas saja kau ya.


Ceklek.


Ziban membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba ia menangkap sosok yang sangat tidak asing baginya sedang duduk di sofa kamarnya dengan santai. Ziban tidak bisa diam saja.


"Hei, apa yang kau lakukan di kamarku hah?!"


"Ah ayolah men, kau berteriak keras seperti itu layaknya aku adalah orang asing bagimu. Aku kan juga sudah terbiasa keluar masuk di kamar mu ini kan man." (kata Raditya)


Ah ya, aku hanya sedang emosi akibat hama pengganggu tadi.


Ziban tak membalas ucapan Raditya. Ia segera mengambil handuk dan melangkahkan kakinya ke bathroom untuk membersihkan badannya.


"Jangan lama-lama ya man, aku ingin membicarakan hal penting kepadamu."


Raditya berteriak sangat keras ketika Ziban sudah berada di bathroom. Ziban pun mendengar walaupun sedikit samar-samar. Lalu ia membalas perkataan Raditya.


"Mengenai hal apa, Dit?"


"Tentu saja mengenai Andin. Memangnya ada hal lain yang lebih penting dari itu, bagimu?!"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2