Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Cari Tahu Jawabannya


__ADS_3

Malam semakin larut, keindahan suasana kota malam tak dapat dinikmati oleh hati yang tengah bersedih kali ini. Tak ada yang membuatnya lebih baik dibandingkan diam tak bersuara. Diam dan menikmatinya sendiri. Betapa Tuhan selalu merencanakan hal lain. Hal lain yang mungkin lebih baik. Mungkin.


Benar kata orang, Tuhan akan memberikan sosok yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan dan dambakan. Betapa mata sangat mempengaruhi segalanya. Ia bisa membuatmu menemukan ketepatan dan dapat pula membuatmu dipertemukan dengan penyesalan mendalam yang hanya dapat kau pendam, sendirian. Kehidupan cinta dan nestapa yang berkaitan terkadang datang bersamaan. Sungguh melelahkan.


Rem mobil diinjak perlahan oleh sang sopir. Andin mengucek matanya yang sudah kering. Melihat ke luar mobil, yang ternyata sudah ada semua anggota keluarganya. Entah kapan mereka datang. Andin bahkan tak menyadarinya.


Kumala membuka pintu mobil dan segera merengkuh Andin yang masih duduk dan diam dengan tatapan kosong.


"Ayo beristirahat lah, sayang. Kau pasti sangat lelah, kan." (ucap Kumala)


Kumala menuntun Andin berjalan ke kamarnya. Semua turut serta mengiringinya dari belakang, terkecuali sang sopir. Kumala membantu Andin untuk berbaring di ranjangnya. Lalu Kumala mengecup kening putrinya. Dan ketika Kumala hendak meninggalkan Andin di kamar, Andin sudah terlebih dahulu menarik lengan mamahnya dan tentunya dengan tatapan kosong yang masih sama. Seperti mengatakan, "Mamah disini saja, temani Andin. Tidur dengan Andin. Mamah, mau kan?"


Sesaat Kumala menatap Zidan dan Arga. Arga menganggukkan kepalanya. Arga memberikan kode kepada Zidan untuk meninggalkan kamar dan membiarkan Andin tidur dengan Kumala. Zidan mengangguk. Mereka berdua keluar dari kamar, lalu menutup pintu. Hanya tersisa Andin dan Kumala saja.


Zidan melangkahkan kakinya ke dapur. Membuka tempat pendingin minuman dan mengambil botol berisi air. Ia meneguknya hingga tandas. Terlihat ia yang mengambil ponsel di sakunya.


"Andin pulang ke rumah dengan sikapnya yang sangat aneh. Dia bahkan hanya ingin di temani mamahnya saja. Apa kau tahu? Padahal tadi pagi Andin mengatakan siap melayaniku malam ini. Kau tahu? Kami jadi gagal melakukannya gara-gara entah apa yang membuatnya murung seperti itu. Segera cari tahu, malam ini juga alasan kenapa dia bersikap aneh!"


"Boleh saya tanya, istri anda pergi dengan siapa?"


"Diantar oleh sopir. Tapi dia mengatakan tidak tahu apa-apa. Dia tidak akan berani berbohong di hadapan Tuan Arga."


"Baiklah, saya tahu apa yang harus saya lakukan, tuan."


Zidan mematikan sambungannya dan kembali memasukkan ponselnya ke sakunya lalu melangkahkan kakinya ke kamar tamu untuk segera beristirahat.


......................


"Selamat beristirahat, Tuan Muda Ziban Alkash."


Sekretaris Chan meninggalkan Ziban Alkash setelah mengantarnya ke kamarnya. Sekretaris Chan dibuat terkejut dengan ucapan terimakasih Ziban kepadanya. Ia tahu, ada yang tidak beres. Dan harus ia kerjakan malam ini juga. Semuanya pun harus terjawab kan malam ini juga. Begitulah tekadnya.


Sekretaris Chan keluar dari hotel berbintang itu dan terlihat menyalakan mesin mobil lalu membelah jalanan malam dengan kecepatan sedang. Ia merogoh saku jasnya lalu menyeringai penuh misteri.


Tak menunggu waktu yang lama, Sekretaris Chan mengerem mobil yang di kendarai nya. Ia berhenti tepat di depan rumah berukuran sedang. Ia segera keluar dari mobilnya. Tidak lupa ia memakai kacamata hitamnya. Ia segera mengetuk pintu.


"Permisi, apa ada orang di dalam?"


Beberapa saat Sekretaris Chan menunggu dan berulangkali mengetuk pintu, akhirnya pintu pun terbuka.


"Chandra?"


Sekertaris Chan dengan sigap membungkam mulut seseorang yang menyebut namanya itu. Ia adalah temannya dari dahulu sampai saat ini. Perempuan seusia dirinya yang memang tengah merintis karier nya di negara itu. Sekretaris Chan mengetahui keberadaannya karena memang sempat mengadakan temu. Mereka memang cukup dekat untuk dikatakan teman. Hanya saja, mereka memang jarang berkomunikasi terlebih dengan kesibukan mereka masing-masing. Kesibukan setiap individu memang membuat beberapa teman dekat mudah tersingkirkan dari zona prioritas.

__ADS_1


"Sudah kubilang, jangan panggil aku Chandra. Cukup panggil Chan saja."


"Tapi itu kan memang nama mu?"


"Clara, ku mohon panggil Chan saja. Itu nama populer ku."


"Ahaha, sok populer." (ucap Clara)


"Aku perlu bantuan darimu." (ucap Sekretaris Chan)


"Mari masuk."


Clara mempersilakan Sekretaris Chan masuk ke dalam.


"Kau mau minum apa, Chan? Eh, Chandra?"


Sekretaris Chan berdecih pelan.


"Kedatangan ku kesini, untuk meminta bantuan darimu. Bukan meminta minum."


Clara menarik pelan garis bibir nya. Sungguh ia terlihat cantik. Entah itu terlihat menarik di mata Sekretaris Chan ataupun tidak. Karena sekali lagi, Sekretaris Chan memang lah berbeda.


"Bantuan apa?" (tanya Clara)


Sekretaris Chan merogoh sakunya. Terlihat ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Lalu menyodorkan kepada Clara.


Clara mengambil plastik berukuran kecil yang berisi air putih dengan benak bertanya-tanya. Rasanya ia ingin menanyakan banyak hal, tetapi ia tahan. Ia tahu, temannya itu tidak menyukai siapapun yang terlalu banyak bertanya. Akhirnya Clara pun hanya mengiyakan dan menyanggupinya. Tak lupa ia menyuruh temannya itu untuk menunggu dan duduk di sofa.


Sekretaris Chan duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya. Ia memejamkan matanya. Ia memang sudah sangat bersahabat dengan kelelahan. Kesibukan dan kelelahan, keduanya tak pernah terpisahkan di setiap hari-harinya.


Dasar wanita beracun!


Sekretaris Chan mengingat kembali kejadian tadi. Kejadian dimana Rinta dan Talita memberi segelas air putih untuk diminum Ziban. Sekretaris Chan memang terburu-buru dalam menyusul dan berusaha mencegat Ziban Alkash. Tetapi, walau sangat terburu-buru, ia sempatkan untuk mengambil plastik kecil bening. Ia tahu, plastik itu akan sangat berguna baginya.


Sekretaris Chan memang kerapkali dikejar waktu. Jadi, ia sudah terbiasa dikejar-kejar waktu ini dan itu. Itulah mengapa, pekerjaannya selalu beres ditangani olehnya.


Seperti mengambil air sisa yang di teguk Ziban misalnya. Itu tentu sudah direncanakan sejak Sekretaris Chan melakukan pemantauan dan mencurigai segelas air putih itu.


Beberapa saat berlalu, Clara kembali. Seketika ia melihat temannya yang tertidur.


"Bagus, bagus sekali. Aku mengerjakan tugas darinya, dia malah tertidur pulas seperti ini."


Clara berdecak kesal ketika ia baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia langsung saja membangunkan temannya itu.

__ADS_1


"Chandra, bangun!"


Seketika Sekretaris Chan membuka matanya lalu mengerjap beberapa kali karena sedikit terkejut.


"Sudah? Bagaimana hasilnya?"


Clara menjelaskan detail mengenai zat yang terkandung di air putih tersebut. Sekretaris Chan berusaha memahami penjelasan Clara.


"Bisa kah kau menjelaskan intinya saja? Jelaskan nama obat itu beserta akibat jika sampai meminumnya. Sudah itu saja." (pinta Sekretaris Chan)


Clara menatap temannya itu. Ia memang sudah terlihat sangat lelah. Itu jelas terlihat di bola matanya.


"Sebenarnya aku tidak mengetahui nama dari obat yang terkandung di dalamnya."


"Kenapa seperti itu? Apa aku salah meminta bantuan darimu? Apa kau tidak cukup tahu? Bukankah kau ahlinya?"


Clara sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Seperti ini Chandra, obat tersebut belum pernah ada dimana pun. Maksudnya, mungkin saja obat tersebut di pesan khusus oleh seseorang,"


"Boleh aku tahu? Memangnya kau dapat air putih itu dari siapa?"


Kali ini Sekretaris Chan diam. Ia tidak mungkin memberitahu semuanya pada Clara. Tak ingin Clara menanyakan kembali, ia pun akhirnya tak memperpanjang mengenai nama obat tersebut.


"Sudah, seperti ini saja. Katakan padaku, efek samping dari obat tersebut."


"Sudah ku bilang, obat itu sangat langka. Aku saja tidak tahu namanya, bagaimana aku mengatakan efek sampingnya. Perlu diuji lebih lanjut sebelum aku berani menyimpulkan. Dan saat ini aku belum bisa mengatakannya dengan pasti."


"Astaga."


Sekretaris Chan diam beberapa saat. Ia harus memikirkan sesuatunya dengan baik.


"Setidaknya katakan menurut hasil uji mu tadi, Clara."


"C²A itu menurut asumsi sementara ku, yang dapat memengaruhi pikiran."


"C²A?"


"Iya, itu namanya."


"Kau tadi mengatakan tidak tahu namanya."


"Sudah ku namakan sendiri. C²A berarti Chandra dan Clarada. Karena kau yang pertama kali membawanya dan aku lah yang pertama kali mengujinya." (ucap Clara lugas)

__ADS_1


Sekretaris Chan menepuk jidatnya sendiri.


BERSAMBUNG...


__ADS_2