Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Tragedi Saat Upacara Bendera


__ADS_3

Hari Senin, semua siswa MAN 102 Bandung mengikuti upacara bendera rutin. Mengingat sebagaimana para pahlawan terdahulu yang memperjuangkan negeri tercinta dengan segenap jiwa raga yang bahkan siap mereka taruhkan.


Hal itulah yang menjadikan MAN 102 Bandung tidak akan menoleransi siapapun yang terlambat ke lapangan upacara. Tak ada satupun siswa yang berani melirik ke kanan atau kiri sekalipun pada saat upacara berlangsung. Menghadap ke depan dengan sikap tegap dan khidmat adalah hal yang sangat wajib ditaati bagi MAN 102 Bandung. Semua siswa baik kelas X, Xl, maupun Xll pun diwajibkan mendengarkan amanat pembina upacara yang akan dipimpin langsung oleh TNI angkatan laut, darat, dan juga udara. Dan setiap upacara bendera setiap hari Senin usai, semua siswa diwajibkan mempersembahkan satu buah karya tertulis untuk para pahlawan terdahulu yang sudah membela tanah air tercinta.


Pasukan pengibar bendera menjalankan tugasnya. Semua siswa selalu dibuat merinding dengan pasukan pengibar bendera terbaik dari MAN 102 Bandung. Terlebih dengan pemimpin pasukan dengan suara lantang nan menggema nya yang membuat semua peserta upacara menahan nafasnya.


Ketika bendera merah putih baru akan digerek ke atas oleh petugas, dua dokter laki-laki terlihat panik yang memang bertugas sebagai pengawas siswa ketika upacara sedang berlangsung. Dua dokter laki-laki yang menggunakan jas berwarna putih dan wajah yang sama-sama tampan itu terlihat sedang menggotong seseorang dalam tandu menuju ke klinik sekolah.


"Apa dia baik-baik saja? Bagaimana bisa dia sampai jatuh tergeletak di lapangan upacara tadi? Apa kejadian tadi bisa membahayakan baginya?"


Seseorang tiba-tiba datang ke ruangan pemeriksaan lalu memberondongkan pertanyaan kepada dokter yang baru akan memeriksa nya.


"Sebentar ya tuan, sedang saya cek terlebih dahulu." (jawab salah satu dokter)


Beberapa saat kemudian..


"Dia hanya kelelahan, matanya juga terlihat bengkak. Mungkin saja dia sedang stress dengan pikirannya. Dan besar kemungkinan juga dia belum memakan apapun sejak pagi. Hal itu lah yang menjadi faktor alasan mengapa tadi dia pingsan di lapangan upacara selain karena terik mentari yang sangat menyengat.."


"Apa perlu aku memanggilkan dokter terbaik di negeri ini untuk memulihkan nya kembali?"


Apa kau sudah tidak waras tuan? dia hanya pingsan, bukan sedang mengalami gagal ginjal.


"Tidak perlu tuan. Saya sudah memberikan suntikan tadi. Saat nanti tersadar, dia akan baik-baik saja asalkan langsung makan dan minum obat. Resep obatnya sedang disiapkan oleh dokter yang lain.."


"Baiklah, kerahkan semua tenaga medis untuknya. Jika sampai terjadi apa-apa, maka kalian berdua yang akan ku mintai pertanggungjawaban."


Dua dokter yang membawa seorang siswa perempuan karena pingsan ketika sedang upacara tadi, terlihat memandang wajah satu sama lain. Dan hanya satu dokter yang berani menjawabnya.


"Baiklah Tuan Zidan, kami berdua meminta maaf."


Memangnya apa yang kami lakukan hah?! Kami kan sudah menjalankan kewajiban kami sebagai dokter disini. Lagian hanya pingsan saja, nanti juga segera siuman. Cih! Atasan memang bisa melakukan segalanya hanya dengan satu kali hembusan nafasnya saja. (batin salah satu dokter yang lain)


Dua dokter tadi disuruh keluar dari ruangan itu. Sekarang hanya tertinggal seorang gadis yang terbaring di ranjang ruang kesehatan dan juga Zidan Haq yang duduk di sampingnya.


"Aku kira kau adalah sahabatku! Rupanya kau bahkan lebih buruk dari penjahat! Mulai dari sekarang, jangan pernah kau menganggap ku sebagai sahabat mu lagi! Persahabatan kita berakhir sampai disini!!" (kata seorang perempuan meledak-ledak sambil membanting semua yang berada di dekatnya)


Apa salahku? Aku bahkan sudah terlebih dahulu mencintainya.

__ADS_1


Ingin sekali Andin menjawab lantang meladeni Meta. Tetapi tenggorokan nya tiba-tiba kelu. Ia bahkan tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ia tak bisa memggerakkan badan sedikitpun.


Zidan Haq, yang melihat reaksi Andin yang masih terbaring lemah tiba-tiba menggerakkan tangannya, ia segera menyemangati Andin untuk segera membuka kedua matanya.


"Andin, ayo bangun..."


Zidan Haq mengelus kepala Andin yang memang tertutup kerudung.


Tak menunggu waktu yang lama, Andin terlihat membuka matanya. Seketika bingung apa yang sedang ia lakukan di ruangan itu.


"Aku dimana ini?"


"Kau di klinik sekolah. Tadi kau pingsan pada saat upacara bendera berlangsung. Apa kau sekarang merasa lebih baik?"


Zidan Haq melontarkan pertanyaan kepada Andin dengan senyum yang sangat tulus. Membuat kedua lesung pipi yang memang jarang dimunculkan, kali ini terlihat sangat sempurna. Membuat Andin yang semakin terpesona. Tetapi hal itu tak terjadi lama. Andin baru mengingat ia yang menangis semalaman karenanya. Andin pun tak merespon apa-apa, ia hanya terdiam sambil memandangi langit-langit ruangan itu.


Zidan Haq kembali mengajaknya berbicara.


"Andin, makan bubur ini dulu ya. Supaya energi mu segera kembali pulih seperti sedia kala."


"Saya tidak lapar.." (jawab Andin)


Zidan Haq tak peduli dengan jawaban Andin. Ia pun segera mengambil semangkuk bubur ayam yang sudah ia pesan kepada pelayan rumahnya. Yaa, Zidan Haq memang sudah memesan bubur ayam kepada pelayan rumahnya sebelum Andin terjatuh pingsan.


"Bi, tolong buat bubur ayam terenak yang selalu bibi buat buat aku ya. Tolong juga katakan kepada salah satu satpam untuk mengantar ke klinik sekolah."


"Baik, tuan muda."


Sambungan diputus.


Dari awal pagi tadi, aku melihatmu memang terlihat sedang tidak baik-baik saja. Itu terlihat jelas dari wajah mu.


Dugaan Zidan Haq pun benar adanya. Ia memperhatikan Andin yang berdiri di bawah panasnya mentari. Andin memang terlihat sangat lemas, dan akhirnya jatuh lunglai tak berdaya. Zidan Haq pun segera berlari menghampiri Andin yang memang sudah ditolong oleh dua dokter yang sedang bertugas. Ia pun berlari menuju klinik sekolah.


"Buka mulutmu, ayo cepat makan."


Andin pun membuka mulutnya menerima suapan setelah beberapa kali Zidan Haq memaksa.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya, apa enak?"


"Sangat enak."


Suapan terakhir masuk ke dalam mulut Andin.


"Ooh jadi ini yang dilakukan oleh orang yang tidak lapar..semangkuk bubur pun cepat tandas."


Zidan Haq mengatakan dengan sedikit meledek, tentu saja karena tadi baru saja Andin mengatakan bahwa ia tidak lapar. Rupanya semangkuk bubur ayam pun telah tandas. Betapa malunya Andin. Seketika sesuatu yang aneh entah apa menari-nari di dalam perut Andin. Layaknya jutaan kupu-kupu yang sedang mengguncang perutnya.


Ah, kenapa juga setiap deg-degan aku harus sakit perut begini si.


Rupanya Zidan Haq memahami kegelisahan yang nampak jelas di wajah Andin. Ia pun tidak sungkan untuk menanyakannya.


"Apa kau baik-baik saja?"


Yang ditanya lagi-lagi tak menjawab sesuai harapan. Andin justru malah bertanya balik kepada Zidan Haq. Pertanyaan yang sangat membuat Zidan Haq mati kutu seketika.


"Apa anda akan segera menikah?"


Belum sempat menjawab pertanyaan Andin, tiba-tiba seseorang datang di ruangan itu dengan kehebohannya. Hal itu membuat Zidan Haq tak jadi menjawab pertanyaan Andin. Sedangkan Andin terlihat mendengus kesal dengan kehadiran Talita diwaktu yang salah.


"Hei Ndin, apa kau tidak apa-apa. Andai tadi aku disampingmu. Pasti akan ku tangkap kau di pelukanku."


"Ah sudahlah jangan bicara omong kosong lagi. Pergi menjauh sana."


"Dasar tidak tahu diri sekali. Aku kesini kan karena mengkhawatirkan mu!"


"Hoamm, tiba-tiba aku mengantuk sekali."


Andin sedikit menguap yang dibuat-buat membuat Talita menggeram sambil mengepalkan tangannya. Dan terus berlangsunglah percekcokan diantara mereka berdua. Zidan Haq yang melihat pertengkaran diantara mereka berdua sejak tadi menahan kegeliannya untuk tetap menjaga kewibawaan nya di hadapan Andin dan Talita sebagai pemilik sekolah.


Sedangkan di balik pintu ruangan itu, seseorang tersenyum tipis seraya menggumam pelan sebelum ia meninggalkan tempatnya.


"Syukurlah kau tidak apa-apa, Andin Raharga."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2