Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Peran Boneka Cantik


__ADS_3

Aaaaah bisa-bisanya aku sampai kelupaan seperti ini si.


Gerutu Andin atas kecerobohan dirinya sendiri. Ia telah menuntaskan misi suci mulianya itu. Ia pun bermaksud untuk keluar dan menjalankan tugasnya seperti biasa. Tiba-tiba ia baru menyadari sesuatu.


Eh, ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba di kamar ini ada rok dan juga emm...


Seperti sudah disiapkan saja. Ah, rupanya Ziban masih menjadi misteri. Begitu pikiran Andin yang berkecamuk tak karuan. Ia pun memutuskan untuk tidak menanyakan atau hanya sekedar menyinggung soal itu kepada Ziban. Bukan apa, tentu itu demi martabatnya sebagai perempuan untuk tidak membuat dirinya malu lebih dalam lagi. Ia pun segera keluar dari kamar mandi dengan hati masih sedikit ragu-ragu karena malu. Malu kenapa? Ya tentu karena Ziban telah mengetahui hal mengenai Andin yang sangat privasi itu.


Bisa-bisanya Kak Ziban menjelaskan secara gamblang prediksi nya mengenai bercak merah gelap di rok ku. Ah, tetapi kali ini ku akui kau benar dalam memprediksi kak. Dan untuk kali ini mungkin aku akan sedikit berterimakasih kepadamu karena kau sudah mengingatkan ku. Ah, ayolah Ndin, kau tidak perlu berterimakasih seperti itu kepadanya. Dia hanya ingin menjatuhkan martabat mu di hadapannya. Oleh karena itu ia mengatakan secara gamblang tadi. Benar-benar tidak tahu malu, kau kak! Siapapun istrimu nanti, pasti akan malu karena memiliki suami seperti mu. Cih! Semoga saja tidak ada lagi makhluk sepertinya di planet ini.


Begitu gerutu Andin tadi ketika baru ingin mengganti sesuatu yang privasi itu. Antara sedikit terimakasih dan ah ya, lebih banyak rasa sebalnya.


Ceklek.


Pintu terbuka. Menandakan seseorang akan datang di ruang kamar itu. Ya, tentu saja siapa lagi kalau bukan Ziban lah bintangnya. Andin segera duduk dan tertunduk seperti biasa. Hari ini rasanya Andin hanya berharap Ziban tidak akan mengatakan sesuatu selain titah rutin seperti biasanya. Yaitu keinginan dan kemauan yang selalu membuat Andin merasa gila.


"Mengapa kau duduk di bawah situ hah?!"


Heh, ada apa denganmu? Apa kau sudah pikun? Ini kan kebiasaan ku ketika sedang berada di sini. Aku sudah sangat paham dengan semua tata tertib konyolmu itu! Sudahlah. Ku mohon jangan membuat peraturan baru lagi!


"Ehehe, seharusnya kau tidak perlu bertanya untuk hal yang sudah kau ketahui kan."


"Siapa yang mengizinkan mu untuk menasihati ku hah?! Lancang sekali mulut kotor mu itu!"


Memangnya mulut mu itu sangatlah bersih?


"Maafkan aku kak."


"Cepat bangun! Sedang apa kau duduk di lantai tanpa alas seperti itu!"


Sebenarnya apa mau mu sih? Sudahlah Ndin turuti saja semua titah dari sang maha raja ini.


Andin pun segera berdiri. Ia sebenarnya sangat kebingungan dengan kemauan Ziban kali ini. Tetapi ia memutuskan untuk diam dan terus diam. Ziban menunjuk ke arah ranjang dan memberi kode dengan isyarat lirikan matanya.


Apa yang akan dia lakukan? Jika dia sampai macam-macam denganku tidak mungkin kan? Dan, selain itu dia juga telah mengetahui bahwa aku sedang datang bulan. Ah iya kali ini aku sudah tahu arti isyarat darinya. Haha rupanya aku sekarang sudah sedikit demi sedikit memahami apa mau nya.


"Baiklah kak."


Andin membuka semua kurung bantal dan juga bed cover dengan hati yang angkuh. Ya, Andin merasa sangat keren hanya dengan berhasil memahami isyarat lirikan mata dari Ziban.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Dasar bodoh! Apa yang akan kau lakukan dengan semua itu hah?!"


Andin tersentak. Ia segera memberhentikan aktifitas tangannya.


"Sedang melakukan apa yang kau suruh kak. Memangnya apalagi?"


Ziban menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menjongkokkan tubuhnya di hadapan Andin. Ziban membalikkan badannya sebentar, terlihat mengepalkan tangannya lalu lagi-lagi ia menghembuskan nafasnya. Setelah itu Ziban kembali menghadap ke Andin.


Apa yang Kak Ziban lakukan? Mengapa berlutut di hadapan ku seperti ini? Ini seperti adegan detik-detik dimana sang laki-laki akan mengungkapkan perasaan nya kepada sang wanita. Aaaa, aku tidak sedang bermimpi kaaaaaan.


"Apa yang kau lakukan di bawah situ kak? Ayo cepat bangun."


Ziban menarik lengan kanan Andin dan menggenggamnya erat. Lalu Ziban memandang bola mata Andin. Begitupun dengan Andin. Ia memandangi tangannya yang tengah di genggam erat oleh Ziban.


Ayo Andin, katakan pada Kak Ziban bahwa kau sudah mencintai sang pemilik sekolah ini. Begitupun dengannya. Katakan, bahwa kau dan sang pemilik sekolah ini saling mencintai. Ayo Andin...cepat cegah agar Ziban tidak mengungkapkan perasaannya kepadamu!


"Emmm, kak tolong lepaskan tanganku. Sebenarnya.. sebenarnya aku sudah memiliki..."


"Cepat ambilkan aku obat sakit perut di klinik sekolah. Disini tidak ada stok obat apapun." (titah Ziban lemah)


Seketika Andin memandang bagian perut Ziban.


Ah! Mengapa aku jadi ge-er seperti ini si! Lihat saja, Kak Ziban pun memang sedang memegangi perutnya dengan tangan kirinya.


Andin beranjak pergi menuju klinik sekolah setelah membantu Ziban untuk berbaring di atas ranjangnya.


"Assalamualaikum, permisi dokter maaf menganggu waktunya. Saya ingin meminta obat sakit perut. Apa ada dok?"


Dokter laki-laki itu pun sedikit mengernyitkan dahinya.


"Emmm, sakitnya di bagian mana?"


"Memangnya setiap bagian perut maka berbeda penyakit juga ya dok?"


Dokter itu lagi-lagi mengernyitkan keningnya kembali, seperti menyiratkan..


"Bodoh sekali kau! Jika kau tidak memberitahu ku sakitnya di bagian mana, sangat mustahil bagiku untuk mengetahui apa yang sedang di derita. Terkecuali jika aku memeriksanya secara langsung."


"Mengapa yang sakit tidak di bawa ke sini saja?" (tanya sang dokter)

__ADS_1


"Dia sedang kesakitan dok dan dia hanya meminta obat saja."


"Saya tentu tidak bisa memberikan obat jika tidak mengetahui gejalanya. Apa saya yang akan ke tempat temanmu yang sedang sakit itu?"


Bagaimana ini? Kak Ziban kan sedang berada di kamar rahasia. Namanya juga rahasia, pastinya sangat dirahasiakan kan?


"Ah, tidak usah dokter. Anda tidak perlu repot-repot ke situ. Biar saya yang akan kembali dan segera menanyakan mengenai gejala yang di alami teman saya dok."


"Baiklah, tidak masalah."


Andin kembali berjalan setengah berlari menuju ke ruang kamar rahasia di perpustakaan. Ya, tentu saja ingin menemui Ziban untuk menanyakan apa saja gejalanya.


Setelah Andin membuka pintu. Ia langsung sedikit berteriak karena sedang terburu-buru tanpa melihat di sekelilingnya.


"Kak, dokter menanyakan semua gejala yang kau alami kaaaaakkk."


Glek.


"Kau sedang apa di situ kak?"


Andin terkejut melihat Ziban yang tengah duduk santai sembari menaikkan satu kakinya bertumpu di kaki yang lain. Duduk dengan angkuh yang masih sama seperti biasa.


"Ini adalah hukuman mu karena sudah berusaha membohongiku."


Aaah iyaaaaa! Jadi sejak tadi hanya drama semata? Ah sudahlah Ndin. Kau tidak perlu terkejut seperti ini. Kau ini hanya sedang berperan sebagai boneka dalam hidupnya. Bukankah iblis ini sering mengerjai mu?


"Cepat meminta ampunan kepadaku?" (sambung Ziban)


"Aku meminta maaf kepadamu dari hatiku yang paling dalam kak karena sudah berusaha membohongi mu."


"Hemm, baiklah. Karena hari ini aku sedang baik maka aku akan memaafkan mu."


Notifikasi email tiba-tiba masuk di ponsel Ziban. Ia pun segera membaca isinya karena pesan itu dari asisten pribadinya, Rinta Selviana.


"Selamat siang Kak Ziban. Tuan Zidan Haq sedang mencari keberadaan Andin di sekolah ini tuan. Apa yang kau inginkan kali ini?"


Tanpa berpikir panjang, Ziban membalas email itu.


"Atur strategi apapun alasannya dan bagaimanapun caranya agar Bang Zidan mengira bahwa Andin hari ini tidak masuk sekolah. Dan ingat, jangan sampai menyentuh kulit Bang Zidan sedikitpun dalam menangani segala sesuatunya nanti. Jika kau kewalahan, libatkan Sekretaris Chan. Dia bisa mengatasi semua masalah."

__ADS_1


Pesan terkirim dan langsung terbaca oleh asisten pribadinya Ziban Alkash.


BERSAMBUNG...


__ADS_2