
"Jam berapa jadwal penerbangan kembali ke Indonesia?" (Ziban Alkash menanyakan kepada Sekretaris Chan)
"Jam 13.00 penerbangan tuan. Masih ada satu jam lagi, anda bisa istirahat saja tuan. Semua keperluan sudah saya siapkan, tinggal berangkat saja."
"Hemm.."
Ziban Alkash menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas meja kepada Sekretaris Chan. Sekretaris Chan pun langsung memahami maksud Ziban Alkash tanpa diberi perintah. Sekretaris Chan mengambil ponsel Ziban Alkash lalu membuka dan membaca email yang masuk untuk Ziban Alkash.
"Laporan dari anak buah anda tuan. Berisi bahwa ia telah mengerjakan tugas yang anda berikan dengan sangat baik."
"Hemm.."
Sekretaris Chan membaca semua isi email yang masuk. Tetapi ada satu email yang dengan sengaja tidak dibaca oleh Sekretaris Chan. Yaa, ketika ia melihat yang ternyata terdapat email dari Tuan Bram, ia segera menghapus langsung tanpa membaca sedikitpun apa isinya. Tentu saja itu ia lakukan demi kebaikan Ziban Alkash. Ia tidak ingin membuat Ziban Alkash semakin muak dengannya. Hal yang terbaik ialah menjauhkan Tuan Bram dari Ziban Alkash.
"Semua sudah selesai dibaca tuan, hanya tertinggal beberapa email dari penggemar anda yang hanya sekedar menuai pujian."
"Hemm.."
Sekretaris Chan melihat arloji branded yang melingkar di lengannya.
"Tuan Ziban, kita bisa berangkat ke bandara sekarang."
"Baiklah, aku sudah siap."
Ziban Alkash beranjak dari duduknya, diikuti oleh Sekretaris Chan. Mereka menuju ke mobil untuk segera berangkat ke bandara internasional.
Dalam perjalanan, Ziban Alkash duduk di kursi belakang menyenderkan kepalanya sesekali memejamkan kedua matanya. Sedangkan Sekretaris Chan duduk di depan samping kemudi duduk diam siaga tanpa banyak bergerak. Ziban Alkash benar-benar menikmati perjalanan pulang kali ini.
Selamat datang Indonesia. Ada kebahagiaan di balik kembalinya ke tanah air. Tetapi ada kesedihan juga yang selalu menekan batinku. Ahh, andai aku bisa menukar semua kesedihan ku menggunakan uang ku. Aku pasti akan membelinya berapapun harganya.
Tiba-tiba seseorang menelepon Ziban Alkash. Ia pun segera mengangkat telepon itu setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Halo bang, ada apa."
"Sudah sampai dimana? Mau dijemput apa tidak usah?"
"Dalam perjalanan menuju bandara bang. Tidak usah dijemput. Aku kan bersama Sekretaris Chan."
"Berikan handphone mu ke Sekretaris Chan, Ziban.."
Ziban Alkash terlihat sedikit bingung dengan kemauan abangnya itu. Tetapi ia segera memberikan handphone nya kepada Sekretaris Chan. Lalu ia berbisik kepada Sekretaris Chan agar volume suara dikeraskan supaya Ziban Alkash dapat mendengar obrolan abangnya dengan Sekretaris Chan. Tetapi tiba-tiba terdengar suara peringatan dari seberang.
"Ketika aku bicara dengan Sekretaris Chan, harap volume dikecilkan saja!"
__ADS_1
Cih! Aku bahkan berbicara dengan Sekretaris Chan secara bisik-bisik! Rupanya abangku sudah tahu saja niat licikku.
Sekretaris Chan berbicara dengan Abang Ziban Alkash dengan lirih, Sekretaris Chan pun lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Ia terlihat mengangguk-angguk kan kepalanya beberapa kali. Lalu segera mengembalikan handphone Ziban Alkash kepadanya.
"Sambungan telah terputus, ini handphone anda tuan." (ungkap Sekretaris Chan)
Ziban Alkash sama sekali tidak berniat untuk menerima uluran handphone dari Sekretaris Chan. Ia malah memberi pertanyaan menohok kepada Sekretaris Chan.
"Bicara apa kau dengan abangku? Tidak sedang menjelek-jelekkan aku kan? Atau apa kalian berbicara mengenai program kerja baru yang akan dipersembahkan untukku?"
Sekretaris Chan hanya diam saja.
"Heh?! Berani-beraninya kau tidak menjawab pertanyaan ku!"
Mendengar nada suara Ziban Alkash yang sedikit tinggi, Sekretaris Chan angkat suara.
"Tidak sama sekali Tuan Ziban." (kata Sekretaris Chan)
"Hemm.."
Ziban Alkash menanggapi pernyataan Sekretaris Chan dengan membuang muka ke jalanan. Tentu itu adalah hal yang dilakukan ketika Ziban Alkash sedang marah. Yaitu memalingkan wajahnya. Sekretaris Chan tentu sudah sangat hafal dengan semua gerak-gerik Ziban Alkash. Hal yang disukainya, maupun hal yang tidak disukai olehnya.
"Abangnya tuan hanya berpesan hal yang sama berulang kali, tuan. Ia ingin berbicara dengan saya, hanya ingin memastikan langsung bahwa anda selalu baik-baik saja jika abang anda tidak sedang bersama anda. Begitu saja tuan, abang anda memang selalu mengkhawatirkan anda tuan. Ia sangat menyayangi anda."
Raut wajah Ziban Alkash setelah mendengar ungkapan Sekretaris Chan berubah total lalu sedikit mengulas senyum.
Bayangan yang telah lalu tiba-tiba menyeruak dalam ingatan Ziban Alkash. Saat ia menanyakan kepada abangnya mengapa belum menikah, padahal banyak yang menyukai abangnya Ziban. Abang Ziban selalu menjawab hal yang sama ketika Ziban menanyakan hal itu berulang-ulang.
"Aku pasti akan menikah, tenang saja."
Begitu jawabnya setiap Ziban Alkash menanyakan kepada abangnya. Ziban Alkash tentu sangat ingin melihat abangnya bahagia dengan orang yang dicintainya. Ziban Alkash bahkan telah berjanji akan melakukan apapun demi kebahagiaan abangnya itu.
"Apapun yang terjadi suatu saat nanti bang, aku akan berusaha membalas mu yang selama ini selalu berperan sebagai abang yang baik sekali. Aku tidak akan mengecewakan mu bang.."
Lirih Ziban Alkash suatu hari yang tengah memandangi abangnya yang sedang tertidur pulas.
"Tuan Ziban, kita sudah sampai."
Terlihat Sekretaris Chan yang sudah membukakan pintu mobil untuk Ziban Alkash.
Ziban pun segera turun dari mobil dengan sangat berwibawa.
Ketika Ziban Alkash baru turun dari mobilnya, tiba-tiba seorang wanita paruh baya memenawarkan kacang bawang yang terlihat masih utuh dalam sebuah wadah besar.
__ADS_1
"Hei apa yang kau lakukan?! Pergi menjauh sana! Tuan saya tidak makan makanan seperti yang kau jual itu! (bentak Sekretaris Chan kepada si penjual)
"Sekretaris Chan!!!"
Ziban Alkash tiba-tiba membentak Sekretaris Chan dengan nada yang sangat tinggi.
"Maaf Tuan Ziban." (lirih Sekretaris Chan)
"Jangan meminta maaf kepadaku. Minta maaf lah pada nya!" (hardik Ziban Alkash kepada Sekretaris Chan dengan menunjuk ke arah ibu separuh baya yang tertunduk)
"Tapi tuan.."
"Cepat!!"
"Baik tuan."
Sekretaris Chan segera menghadap ke penjual kacang yaitu ibu separuh baya yang menggendong anak kecilnya.
"Saya minta maaf atas perkataan saya tadi bu."
"Apa kau tidak bisa meminta maaf dengan sopan?! Cium tangannya!"
Sekretaris Chan sedikit terkejut dengan perintah Ziban Alkash kepadanya. Tetapi ia segera melaksanakan perintah dari Ziban Alkash. Sekretaris Chan menyalami dan mencium tangan si ibu lalu lalu mengucapkan permintaan maaf kepadanya.
Setelah acara meminta maaf selesai, Ziban Alkash mengajak bicara kepada ibu penjual kacang bawang.
"Anak ibu sudah lumayan besar bu, tetapi mengapa harus di gendong.." (tanya Ziban)
"Anak saya tertabrak mobil beberapa bulan yang lalu tuan, itu yang membuat kaki anak saya lumpuh dan tidak bisa dioperasi karena tidak memiliki uang tuan."
"Apa anak ibu adalah korban tabrak lari?"
"Ya begitulah tuan.."
Ziban Alkash terdiam sejenak meratapi nasib si ibu yang menjual kacang bawang sambil menggendong anaknya.
"Sekretaris Chan, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan kan?" (tanya Ziban Alkash kepada Sekretaris Chan)
"Siap tuan, untuk urusan ini biar anak buah kepercayaan saya yang mengurus langsung. Sekarang penerbangan akan segera berangkat tuan, mari."
Mereka berdua beranjak pergi. Sedangkan Sekretaris Chan yang berjalan di belakang Ziban Alkash, terlihat mengetik sesuatu.
"Beli semua dagangan kacang bawang ibu yang menggendong anaknya di bandar udara internasional. Jalankan operasi tulang terbaik secepatnya untuk anaknya. Dan jangan lupa, pastikan kehidupan mereka tercukupi. Foto si ibu penjual kacang bawang akan segera dikirim. Jalankan tugasmu dengan baik!"
__ADS_1
Pesan terkirim.
BERSAMBUNG...