
Kegiatan belajar Andin di sekolah kali ini tidak terlepas dari seseorang, tidak lain tidak bukan adalah Arif alias Talita Arifa. Dimana ada Andin Puspita Arga disitulah ada Talita Arifa. Mereka selalu tak bisa terpisahkan ketika di sekolah, mereka selalu menceritakan curahan hati mereka secara bergantian. Terkecuali Andin, ia memang belum menceritakan hal tentang perjanjian nya dengan kakak kelas senior Ziban Alkash dan juga sekretaris pribadinya Rinta Selviana yang sangat menyebalkan.
Biarlah waktu nanti yang akan menjawab, begitu kira-kira pikir Andin.
Apalagi Andin mengetahui bahwa Talita Arifa memang menyukai Ziban Alkash sudah sejak lama. Entah mengapa Andin hanya merasa tidak enak saja jika mengatakan tentang perjanjian nya dengan seseorang yang di sukai oleh temannya itu.
Memangnya apa tanggapan dari Talita Arifa jika ia mengetahui salah satu isi perjanjian nya yaitu menjadi pacar pura-pura Ziban Alkash? Itu yang selalu Andin pikirkan setelah mengetahui bahwa Talita Arifa menyukai Ziban Alkash.
Akhirnya Andin memutuskan untuk memendamnya sendirian, dan semoga saja Talita Arifa tidak mengetahui nya suatu saat nanti. Itu juga yang selalu Andin panjatkan dalam doanya.
Hingga suatu hari di sekolah, Talita Arifa tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Andin terperanjak.
"Menurutmu jika aku akan menembak kak Ziban, apa dia akan menerimanya Ndin?"
Oh ya ampun, dimana harga dirimu wahai temanku, bisa-bisanya kau akan menembak seorang laki-laki untuk menjadi kekasihmu?!
"Yang benar saja, apa itu tidak terlalu memalukan. Harusnya kan laki-laki dulu yang harus mengungkapkan perasaannya kepada perempuan." (Andin mengatakan agak pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal)
"Aaah, itu adalah cerita kuno. Lagian tidak ada salahnya jika perempuan dahulu lah yang mengungkapkan perasaan kan? Apapun yang terjadi aku tetap akan mengejar cinta Ziban Alkash sampai kapanpun. Tidak ada yang bisa menghalangiku termasuk kau, Andin."
Andin menelan salivanya beberapa kali. Ia tahu Talita Arifa jika memang sudah menginginkan sesuatu maka sesuatu itu harus didapatnya apapun dan bagaimanapun caranya.
Mendengar kalimat Talita yang terakhir tentu saja Andin tidak bisa menyela sedikitpun. Jika ia mengatakan sesuatu lagi, ia takut kata-katanya tidak disukai oleh Talita. Oleh karena itu Andin hanya diam saja.
Jam pelajaran telah usai, semua siswa segera berkemas-kemas untuk pulang ke rumah masing-masing. Andin dan Talita sudah beranjak keluar dari kelas mereka dan segera meninggalkan MAN 102 Bandung. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba seseorang menghampiri mereka berdua.
"Apa kalian membutuhkan tumpangan untuk pulang ke rumah?" (Zidan Haq, si pemilik sekolah menawarkan bantuan dengan wajah datar seperti biasa)
Andin dan juga Talita sedikit terkejut dengan kedatangan Zidan Haq dan juga pertanyaan nya yang menawarkan tumpangan pulang. Lalu seketika Talita lah yang menjawab pertanyaan Zidan Haq.
"Saya tidak perlu tuan, karena saya sudah dijemput supir seperti biasa. Biar Andin saja yang diantar oleh anda tuan."
Andin refleks melototkan matanya kepada Talita.
"Bakilah, jika kau membutuhkan tumpangan untuk pulang saya bisa mengantarmu."
Zidan Haq melontarkan pertanyaan yang dituju kepada Andin. Yang dituju pun segera menjawab tawaran dari Zidan Haq.
"Tidak usah, saya sudah biasa memesan ojek online."
"Ah ayolah Ndin, daripada kamu naik ojek online seperti biasa, akan lebih baik jika ikut bersama Tuan Zidan saja. Lagian tidak baik jika menolak tawaran baik seseorang kan." (Talita membujuk Andin untuk menerima tawaran Zidan Haq)
__ADS_1
"Ayo Ndin, jangan jual mahal seperti itu.
Ikut saja dengannya, ini kesempatanmu." (Talita menambahi dengan berbisik ke telinga Andin)
"Ehmmm, baiklah terimakasih sebelumnya." (Andin menjawab dengan pelan)
Zidan Haq segera masuk ke dalam mobil sport nya, terlihat Talita yang mulai membisikkan sesuatu ke telinga Andin sebelum ia ikut masuk juga ke dalam mobil.
"Jangan sampai berbuat macam-macam di dalam mobil oke Ndin, ingat kamu itu anak asrama hahaha."
Andin hanya mengutuk kata-kata yang keluar dari mulut Talita. Memangnya akan melakukan apa? Itu sangatlah tidak mungkin, lagian ini adalah Zidan Haq si pemilik sekolah terhormat tidak seperti berandalan pada umumnya. Begitu pikir Andin setelah mendengar kata-kata Talita.
Andin segera membuka pintu jok bagian belakang, seketika itu pula Zidan Haq menghentikan langkah Andin dengan kata-katanya.
"Apa kau menganggapku sebagai supir pribadi mu?"
Terlihat Andin yang tersipu malu terlebih dengan Talita yang masih melihat kejadian itu dengan cengengesan menertawai perbuatan Andin yang tiba-tiba membuka pintu mobil belakang.
Lalu Andin segera membuka pintu bagian depan di samping Zidan Haq dengan hati-hati. Tentu saja sambil mengutuki kepada seseorang yang sedang memandangi mereka sejak tadi yang tidak lain tidak bukan ialah Talita.
Mobil sport putih segera melaju dengan kecepatan sedang, sedangkan Talita yang masih di tempat nya bergumam..
"Aku telah berusaha membantu mu Ndin, semoga kita tetap akan menjadi teman sampai kapanpun nanti."
"Bagaimana belajarmu di dalam kelas hari ini?" (Zidan Haq memulai pembicaraan dengan Andin)
"Hari ini berjalan dengan lancar tanpa kendala sedikitpun." (jawab Andin sangat pelan)
"Sudah makan?"
"Sudah makan gado-gado tadi siang. Apa anda juga sudah makan?"
"Sudah."
Ah anda sangat cuek. Tapi tidak apa-apa, anda tetap sangatlah tampan hehe.
Setelah sedikit obrolan dengan Zidan Haq, Andin terlihat memejamkan matanya.
...----------------...
"Heii tolong aku kebon karet! Cepat!"
__ADS_1
Seseorang meminta bantuan kepada Andin, tidak lain tidak bukan ialah Ziban Alkash. Ia sedang berada di dalam lingkaran api yang sangat panas. Entah mengapa tiba-tiba ia berada disitu.
Andin segera mendekat ke arah suara yang sedang berteriak meminta bantuan kepadanya.
"Apa yang kau lakukan disitu kak?!" (Andin berteriak sama kencangnya dengan Ziban supaya terdengar sampai ke telinga Ziban)
"Sudah jangan banyak tanya, nanti aku jelaskan. Cepat ambilkan air untuk memadamkan api ini. Cepattttt!!"
Sebenarnya Andin tidak terlalu peduli dengan apapun yang terjadi oleh orang lain, apalagi hal itu terjadi kepada seseorang yang sangat ia benci karena telah menyusahkan kehidupan nya di sekolah selama ini. Tapi karena Andin memang tidak tegaan, tiba-tiba ia berniat akan membantu Ziban Alkash.
"Ayo cepattt kebon karet!!! Jika kau berlama-lama seperti itu, maka aku akan menghukum mu nanti!"
Cih! Dalam keadaan sulit seperti ini saja kau masih sempat-sempatnya mengutukku. Heiii, Kak Ziban Alkash yang terhormat, lebih baik kau pikirkan saja nasibmu sekarang!!
"Baiklah kak, bertahanlah. Aku akan mengambil air."
Andin membalikkan badan untuk segera mencari air, tapi tiba-tiba ketika ia baru saja membalikkan badan ke arah kiri, Andin melihat seseorang yang sedang terduduk lemas di dalam lingkaran api juga. Tetapi Andin benar-benar tidak mengenali wajahnya, karena tertutup oleh peci hitam dan sorban putih yang menempel di lehernya. Hal itu membuat Andin tidak terlalu jelas dalam melihat siapa orang yang sedang terjebak di dalam lingkaran api selain Ziban Alkash. Andin benar-benar bingung melihat kanan kirinya yang mengalami musibah yang sama, bedanya seseorang di sebelah kirinya sudah terduduk lemas dan diam saja tidak seperti Ziban Alkash yang berteriak terus-terusan meminta bantuan.
Apa yang akan aku lakukan? Siapa yang harus aku bantu terlebih dahulu? Kak Ziban berteriak berisik sekali sejak tadi, tapi lihatlah seseorang yang sudah terduduk lemas tak berdaya itu? Ah, bagaimana ini..aku tidak mungkin bisa menolong keduanya. Lalu siapa yang hendak aku tolong? Ya Tuhan, aku benar-benar bingung.
Tiba-tiba seseorang memanggil nama Andin dengan lembut.
"Andin..."
"Andin..."
"Andin, ayo bangun kita sudah sampai di depan asrama."
Andin segera terbangun dari lelap tidurnya di dalam mobil Zidan Haq dan mengusap wajahnya yang membuat ia tersadar bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi dari tidurnya.
"Kenapa anda bisa tahu saya tinggal di asrama ini?" (Andin bertanya kepada Zidan Haq dengan wajah kebingungan)
"Apa kau lupa aku adalah pemilik tempat mu bersekolah." (jawab Zidan Haq dengan santai)
"Hehe, iya. Terimakasih sudah merepotkan anda."
"Tidak sama sekali, apa kau tadi tidur sangat nyenyak di dalam mobil?"
Andin hanya cengengesan tidak menjawab pertanyaan dari Zidan Haq, karena tadi ia memang sangat nyenyak. Yang sangat disayangkan adalah kenapa tadi ia bermimpi buruk bukannya bermimpi romantis dengan si kaku tampannya, Zidan Haq.
Ah, aku baru pernah bermimpi aneh seperti tadi! Kira-kira arti dari mimpi ku tadi apa ya? Aaaa, sudahlah Andin..tadi itu hanya bunga tidur.
__ADS_1
Zidan Haq segera meninggalkan Andin setelah berpamitan dengannya, begitupun dengan Andin yang segera masuk ke dalam asrama dengan dua perasaan. Antara hati yang berbunga-bunga karena telah diantar pujaan hatinya, dan juga hati yang masih penasaran dengan mimpi anehnya di dalam mobil Zidan Haq tadi.
BERSAMBUNG...