Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Atas Nama Persahabatan dan Kebaikan


__ADS_3

Di dalam sebuah bus, Andin duduk sembari menyandarkan kepalanya. Ia memperhatikan semua hal apapun yang dilalui oleh bus tersebut. Andin mengambil ponselnya. Ia lupa mengabari Kumala, perihal kepulangannya.


"Mah, Andin pulang. Saat ini, Andin sedang di dalam bus."


Andin kembali memasukkan ponselnya ke dalam ransel hitamnya.


Andin kembali mengingat semua yang terjadi tiga bulan yang lalu. Ia memejamkan matanya.


"Mah, bayang-bayang masa kecil yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, beberapa hari ini sangat mengganggu Andin, mah."


Saat itu, Andin menceritakan kegelisahan dirinya pada Kumala.


"Hal apa yang membuat mu terganggu, sayang?"


"Saat kecil, Andin kerapkali bermain-main dengan Kak Ziban, Rossie, dan dia. Ayahnya Elle. Apa benar, mah? Tetapi sebelumnya Andin tidak mengingat apapun."


Kumala tersenyum.


"Saat kecil, kau pernah terjatuh dari tangga. Kepala mu terbentur. Kau melupakan masa kecilmu saat itu juga. Mamah dan papah sudah berusaha mencarikan dokter terbaik dari berbagai belahan dunia. Tetapi tidak ada hasilnya,"


"Jadi, saat itu mamah dan papah memutuskan untuk tidak mengingatkan kembali semua kenangan kecil mu yang hilang. Kami memutuskan untuk merawat dan mendidik mu sebaik mungkin. Kami hanya membantu mu mengingat hal-hal yang sudah ada di depan mata. Seperti Rossie dan ibunya,"


"Dan mengenai Ziban dan Zidan, kami tidak membantu mu mengingat. Karena mereka memang sudah tinggal bersama Atta, di Bandung bersama istri barunya."


Andin membuka kembali matanya, lalu tersenyum.


Siapa sangka, saat kecil, aku dan Kak Ziban selalu menunggu-nunggu senja datang.


Pangeran Senjana, Putri Senjani. Ah, Benar-benar konyol.


Andin masih tetap tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengingat semua kekonyolan yang ia lakukan dengan Ziban.


......................


"Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan merasakan ada seseorang yang selalu mengawasi ku dua tahun belakangan,"


"Percayalah, aku sangat berharap banyak padamu. Ibu ku yang sudah renta lah yang menjadi taruhannya,"


"Aku hanya mempunyai satu kelemahan, yaitu ibu ku."


Sekretaris Chan mengirimkannya pesan panjang lebar pada seseorang yang sudah lama ia cari-cari. Akhirnya ia mendapatkan nomor ponselnya setelah berhati-hati dalam meminta bantuan pada temannya. Temannya tersebut pun tidak semudah itu menemukan nomor ponsel, serta keberadaannya. Membutuhkan waktu yang sangat lama. Tetapi hanya itulah harapan Sekretaris Chan satu-satunya.

__ADS_1


"Kau mencariku. Dan itu adalah ketepatan. Aku tidak akan membiarkan semuanya terjadi sesuai keinginan Talita,"


"Keponakan ku itu, sudah tidak waras, Sekretaris Chan,"


"Aku bahkan mengetahui semua kebohongannya saat dahulu masih di sekolah. Aku tahu, dia sangat mencintai Ziban. Ah ya, tetapi itu tidak tepat jika di atas namakan mencintai. Lebih tepatnya obsesi yang berlebihan."


Mereka berdua saling mengirimkan pesan dan menjawabnya dengan cepat pula. Hanya itulah yang Sekretaris Chan dapat lakukan. Ia tidak akan membuat kesalahan, dengan membicarakan hal penting tersebut dengan melalui sambungan telepon. Ia tahu, di sekitarnya masih ada yang mengawasinya. Bahkan di dalam rumahnya sekalipun. Ia mengetahui beberapa titik letak kamera kecil yang berada di rumahnya. Ia tahu itu. Tetapi ia hanya berpura-pura tidak tahu, dengan membiarkan kamera tersebut tetap terpasang di rumahnya.


"Aku sungguh terkejut setelah kau mengatakan bahwa Talita adalah keponakan mu. Itu tentu di luar sepengetahuan ku,"


"Aku mencari-cari mu, karena aku tahu, selain Rinta, kau lah yang paling dekat dengan Tuan Muda Ziban Alkash. Aku berfikir, kau pasti akan membantu sahabat mu itu, Raditya."


Raditya kembali menjawab pesan dari Sekretaris Chan.


"Aku akan berusaha memperbaiki segalanya. Pertama, atas nama persahabatan. Lalu, atas nama kebaikan."


Setelah membaca pesan dari Raditya, Sekretaris Chan meletakkan ponselnya.


Tuan Muda Ziban bahkan mengira, kepergian ku adalah penghianatan. Sialan. Ini semua murni kesalahan perempuan itu! Berani-beraninya kau membuatku menekuk lutut dan menunduk dengan ancaman atas nama ibu ku!


Ia menatap kamera pengawas yang menempel di lukisan ibu nya dengan dirinya. Ia mengepalkan tangan kanannya.


Raditya bergegas menuju ke rumah masa kecil Ziban. Ya, rumah yang saat ini Ziban tempati. Rumah ibu kandungnya. Helen.


Raditya mendatangi Ziban, setelah satu hari kedatangannya di Indonesia. Itu ia lakukan, bukan karena semata-mata keinginannya. Itu karena di hari pertama kedatangan Ziban dan Talita, ia mendapatkan pesan baru dari Sekretaris Chan. Sekretaris Chan mengatakan bahwa Dokter Ferdian tengah kembali ke kampung halamannya bertepatan dengan kedatangan Ziban. Dokter Ferdian kembali ke kampung halamannya, untuk dua minggu.


Tentu saja, saat itu ia menemui Dokter Ferdian di bandara. Ia mengambil obat penetralisir yang sempat di minum Ziban beberapa kali. Obat itu menunjukkan kondisi Ziban yang signifikan, hanya saja Talita cepat mengetahuinya. Ia merusak segalanya.


"Aku tidak menyangka, bahwa aku sepintar ini."


Raditya membanggakan kejeniusan dirinya. Ia merasa bahwa ia memiliki bakat sebagai detektif.


Aku merasakan, terdapat aura detektif terkenal yang terpendam dalam diriku.


Raditya menyudahi pujian untuk dirinya tersebut. Ia mengetuk pintu rumah tempat Ziban berada. Pintu di buka oleh Rossie. Raditya meneguk salivanya. Ia tidak mengira ada gadis di rumah tersebut. Ia akan memakai parfum, jika ia mengetahui akan hal tersebut. Begitulah pikir Raditya kira-kira.


"Aku Raditya, temannya Ziban. Kau siapa?" (tanya Raditya)


"Aku adiknya." (jawab Rossie)


Kurang ajar! Bahkan Ziban tidak memberitahuku bahwa dia mempunyai adik manis seperti ini.

__ADS_1


"Boleh aku bertemu dengan Ziban?"


Rossie mengangguk. Lalu ia mempersilakan Raditya untuk masuk ke dalam.


Ah dan lihatlah caranya mengangguk. Aku benar-benar dibuat terpesona.


Rossie mengantarkan Raditya ke kamar Ziban. Setelah mengantar Raditya, Rossie pun meninggalkan nya. Tetapi ia sempat mendengar perkataan Raditya yang mengatakan bahwa Rossie sangat manis. Sangat berbeda dengan Ziban. Itulah yang Rossie dengar. Raditya tidak menyadari bahwa Rossie mendengar perkataan lirihnya.


Dan setelah Rossie memastikan Raditya yang masuk ke kamar Ziban, ia menoleh ke belakang. Lalu menutupi wajahnya. Ia terlihat tersipu malu.


"Hai, Man. Lama tidak bertemu." (sapa Raditya)


Ziban menatap Raditya dengan tatapan datar. Raditya mendekati Ziban yang tengah mengutak-atik ponselnya. Raditya merebut ponsel Ziban.


"Siapa kau?" (tanya Ziban)


Raditya membuka tas nya. Ia melemparkan ke ranjang beberapa fotonya dengan Ziban yang sudah sengaja ia cetak.


"Aku sahabat mu. Aku dengar-dengar kau kehilangan ingatan mu. Kau mengingat semuanya atas tuntunan dari Talita, kan? Ah, aku yakin dia tidak sempat mengatakan kenangan kita selama bersahabat. Ya, karena dia pasti sangat sibuk dengan beberapa karangannya."


Ziban mengambil foto-foto tersebut. Ia tidak terlalu memikirkan mengenai ucapan Raditya.


"Kau benar-benar sahabat ku?" (tanya Ziban)


"Tentu saja, Man. Kau percaya kan? Kalau begitu, aku akan menemanimu selama beberapa hari. Ah, aku sangat merindukanmu."


Raditya merebahkan tubuhnya di samping Ziban.


"Kau akan menginap disini, maksudnya?"


Raditya mengangguk.


"Lihatlah, aku sudah membawa beberapa pakaian."


Raditya menunjukkan tas nya yang sudah dipenuhi dengan beberapa keperluannya. Tiba-tiba ia menatap Ziban.


"Tapi Man, aku lupa membawa dalaman celana,"


"Ah, baiklah tidak masalah. Aku akan meminjam itu kepadamu." (ucapnya)


Ziban melotot kan matanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2