
"Apa yang kau lakukan tadi hah?! Mengapa kau menyelonong pergi meninggalkan stadion?!"
Ungkap Ziban Alkash dengan nada tinggi kepada Andin dengan menggebrak meja sangat keras di ruang kelas X IIS 1 Favorit.
Ziban Alkash memang sengaja menghampiri Andin di ruang kelasnya. Seketika semua yang berada di kelas pun meninggalkan ruang kelas itu tanpa dikomando oleh siapapun. Ya, kini hanya tertinggal Andin dan Ziban di ruang kelas X IIS 1 Favorit.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu kak, mengapa kau melakukan hal konyol seperti itu?!"
"Apa kau lupa dengan posisimu hah?! Kau kira aku melakukan hal itu tanpa suatu alasan hah?!"
Memangnya apa alasan mu kali ini hah?!
"Hahaha, yayaya apa kau mengira bahwa aku benar-benar menyukaimu hah?! Berani sekali kau mengira hal seperti itu. Itu namanya kau telah menuduhku, dan kau harus dihukum paham!"
Ziban meninggalkan Andin yang masih mematung di tempatnya belum sempat menyanggah perkataan Ziban.
Heh jangan pergi dulu, biarkan aku memarahimu karena sikapmu heh?! Dasar tidak tahu malu kau iblis!
Semua penghuni kelas X IIS 1 Favorit memasuki ruangan kelasnya secara bersamaan karena telah melihat Ziban telah selesai urusannya dengan Andin. Tiba-tiba semua anak menghampiri Andin yang masih termenung sendirian.
"Non Andin, tolong maafkan kami ini yang telah bertindak seenaknya saja kepada anda."
Ungkap salah satu diantara mereka semua dengan bertekuk lutut di hadapan Andin. Yang lainnya pun segera mengikuti dengan bertekuk lutut dan menunduk dalam-dalam. Renungan Andin seketika sirna sudah dan berubah menjadi terkejut melihat kelakuan teman-teman sekelasnya.
Apa yang mereka lakukan? Dan apa tadi katanya, Non Andin? Dia menyebutku Non Andin dan mengapa bahasanya mendadak resmi seperti itu si? Ada apa dengan mereka semua?
Masih dengan keterkejutan yang belum terjawab kan, seseorang yang lain tiba-tiba mengatakan sesuatu hal kembali kepada Andin.
"Jika Non Andin membutuhkan sesuatu, bicaralah. Siapapun yang anda tunjuk untuk melakukan hal apapun sesuai keinginan anda, maka kami akan dengan senang hati melaksanakannya.."
"Iya benar, mulai sekarang kami adalah pelayan anda Non Andin. Tolong jangan sungkan untuk meminta tolong kepada kami. Karena kami akan merasa terhormat telah membantu anda."
Tolong beri aku kesempatan untuk berbicara! Sebenarnya ada apa ini?! Apa kalian tahu kalian sangat aneh dan berlebihan.
"Ehehe, apa yang kalian lakukan? Itu sangat berlebihan." (jawab Andin cengengesan)
"Tidak apa-apa Non Andin, anggap saja ini adalah bentuk permintamaafan kami kepada anda."
"Ah tidak perlu berlebihan seperti ini, yang terpenting kan kalian telah mengetahui hal yang sebenarnya kan?" (jawab Andin sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal saka sekali)
"Kami mohon jangan menolak pengabdian kami ini. Kami sangat senang jika anda menerima kami sebagai suruhan anda."
"Kami meminta izin untuk duduk di tempat kami masing-masing. Jika Non Andin membutuhkan sesuatu, anda tinggal memberitahu kami."
__ADS_1
Mereka semua kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Tentunya meninggalkan Andin sendiri yang masih berpaku dalam kebingungannya.
Aaaaa apa ini termasuk kerjaannya si kaku tampanku juga? Apa dia hanya ingin melindungi ku dan menjadikan ku sebagai ratu dimana pun aku berada? Aaa, sebenarnya aku tidak menginginkan ini semua.
Setelah beberapa saat, Andin baru menyadari sesuatu hal.
"Eh, mengapa aku terlupa sesuatu? Kemana Talita hari ini? Aku belum melihat batang hidungnya sama sekali."
Andin berniat bertanya kepada salah seorang temannya yang duduk persis di depannya.
"Apa kau tahu mengapa Arif tidak berangkat ke sekolah hari ini?"
"Talita maksudnya non?"
Berhenti memanggilku dengan sebutan non! Eh apa tadi katanya? Dia menyebut Arif sebagai Talita?
"Eh apa katamu tadi?"
Akhirnya temannya Andin pun menjelaskan mengenai seseorang yang tidak di sebutkan namanya telah membongkar rahasia Talita terkecuali dengan kejadian di gedung. Ia pun membeberkan fakta mengenai pelaku pemfitnahan Andin yang di fitnah sebagai wanita penggoda. Tak dapat dipungkiri lagi, mendengar teman dekatnya telah mengkhianati nya, Andin pun tak dapat berkata apa-apa lagi setelah mendengar semua kebenarannya.
"Dan sebagai hukumannya, seseorang yang membuat non terjatuh kemarin dan Talita di tendang dari sekolah ini dengan tidak hormat. Tentu itu akan berpengaruh kehidupannya di masa depan karena tidak akan ada satupun yayasan sekolah yang akan menerima mereka berdua kembali."
Tega sekali kau membuatku mengira bahwa kau adalah teman ku. Rupanya kau tak ayal hanyalah musuh dalam selimut, Talita.
......................
Bunyi kran aliran air mengalir terdengar jelas dari arah kamar mandi berukuran luas. Seorang laki-laki yang hanya memakai celana pendek berwarna putih tulang tanpa memakai sehelai benangpun yang menutupi dadanya yang bidang terlihat tengah membasuh wajahnya perlahan. Lalu ia segera membuka matanya dan menatap lamat-lamat wajahnya di cermin yang persis berada di hadapannya itu.
"Apa yang aku lakukan adalah salah?"
Lirih Ziban, lalu kembali membasuh wajahnya pelan dan segera mengambil handuk kecil. Ziban mengelap wajahnya dan rambut nya yang sedikit basah sembari keluar dari kamar mandi. Baru saja ia membuka gagang pintu kamar mandi, tiba-tiba seseorang berada di depan pintu kamar mandi sembari berkacak pinggang.
"Apa yang kau lakukan di kamarku ini hah?!"
"Apa yang aku lakukan di kamarmu? Apa kau lupa status ku di rumah ini sebagai apa?"
"Cuih, pergilah sebelum aku marah kepadamu!" (kata Ziban sembari berdecih pelan)
"Aku adalah mamahmu. Kau tidak berhak mengusir ku. Setiap sudut di rumah ini adalah hak ku. Kau harus menerima itu dengan baik."
Ziban menyelonong pergi membuka lemari pakaian tanpa mengindahkan omong kosong seseorang yang menurutnya hanyalah hama semata.
"Heh, anak bandel?! Kau ini ya?!"
__ADS_1
Tukasnya kepada Ziban sembari mengangkat tangannya ke udara.
"Ayo, pukul aku. Pukul aku sepuasmu. Jangan sungkan, jangan ragu. Ayo, pukul cepat."
Ziban menanggapi dengan mendekatkan pipinya kepadanya agar ia lebih mudah dalam menjalankan maksud dan tujuannya untuk memukul Ziban Alkash seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya. Seorang perempuan tadi yang dianggap Ziban hama pun menurunkan tangannya kembali dan segera meninggalkan kamar Ziban dengan membanting pintu keras-keras. Ziban mengepalkan tangannya menahan nafasnya yang kian memburu.
Selesai sudah Ziban Alkash berganti setelan baju tidur. Ia hendak berbaring di ranjang kebesarannya, tiba-tiba dering ponsel bergetar beberapa kali.
"Ya bang, ada apa?"
"Cepat turun dan makan malam."
"Memangnya kau sudah pulang bang?"
"Sudah, ayo cepat turun ayah sedang menunggumu."
"Hemm, baiklah."
Obrolan selesai. Ziban segera turun ke bawah meninggalkan ponselnya tergeletak di atas ranjangnya.
Tak memakan waktu yang lama, Ziban sampai di meja makan keluarga besar. Terlihat ayahnya dan abangnya yang tengah duduk menunggunya.
"Ayo kita makan, rasanya aku lapar sekali." (ungkap abang Ziban)
"Tumben kau sampai lapar Bang Zidan." (Ziban menanggapi)
"Tentu saja karena aku selalu bekerja keras kan, tidak seperti mu yang hobinya hanya bermain-main."
"Ehehe, sudahlah lupakan. Wah kelihatannya masakannya sangatlah enak. Mari kita serbuuuu.."
"Ehh, tunggu anak-anak. Kita harus menunggu mamah kalian dulu kan."
Si ayah segera meminta pelayan untuk memanggilkan istrinya itu. Beberapa saat kemudian pun si pelayan datang sedikit tergopoh-gopoh.
"Maaf tuan, katanya nyonya tidak mau makan malam semeja dengan Tuan Muda Ziban."
Seketika kakak beradik Ziban Alkash dan Zidan Haq saling bertatapan tampak keheranan.
Drama apalagi yang sedang hama itu lakukan! Dan sebentar lagi ayah pasti akan memarahi ku seperti biasanya! Cih! Suatu saat nanti aku akan membongkar rahasiamu. Camkan itu wahai hama!
BERSAMBUNG...
TERIMAKASIH YANG MASIH SETIA MEMBACA. SEMOGA KEBERKAHAN MENGHUJANI KALIAN SEMUA YAA..🤗
__ADS_1