
Di rumah kebesaran keluarga terpandang di tanah air, terlihat begitu semaraknya hingga ramai dipenuhi oleh kerumunan masyarakat sampai di beberapa ujung jalan. Itu terjadi di siang hari, padahal acara inti akan berlangsung di malam hari nanti. Sorot media dari berbagai penyiaran dan pertelevisian ternama pun turut meramaikan suasana di siang hari itu. Penjagaan teramat ketat pun telah disiasati sejak awal, mengingat acara tersebut adalah acara penting Keluarga Raharga. Terlihat berpuluh-puluh petugas yang tengah menertibkan masyarakat supaya riuhnya tak terdengar sampai ke dalam rumah. Dan terdengar pula beberapa reporter sempat mewawancarai salah satu masyarakat yang turut meramaikan acara tersebut.
"Sudah sejak kapan anda ikut berkerumun disini?" (tanya sang reporter)
"Saya sudah sejak pagi sekali, hingga berada persis di depan gerbang seperti ini." (ucap salah satu warga)
"Sebenarnya hal apa saja yang anda inginkan hingga rela berkerumun dan berpanas-panasan seperti ini?"
"Hal pertama, saya ingin mendoakan semoga pernikahannya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun. Dan hal kedua adalah saya ingin melihat secara langsung pengantin perempuan nya alias puteri tunggal Tuan Arga karena memang tidak pernah disorot oleh media manapun."
"Hal apa saja yang anda ketahui dari puteri Tuan Arga?"
"Saya benar-benar tidak tahu tentangnya. Bahkan wajahnya saja saya tidak pernah melihat. Ya, oleh karena itulah saya datang dari jauh sengaja kesini karena sangat ingin melihat secara langsung, seperti itu." (jelas salah satu warga)
Suara semakin riuh, hingga tak terdengar jelas lagi apa yang mereka ributkan. Lalu beriringan dengan itu, salah satu petugas mengumumkan melalui pengeras suara bahwa dua jam sebelum acara inti berlangsung, semua kerumunan akan di bubarkan. Mereka semua di himbau untuk menyaksikan acara inti langsung di televisi favorit mereka saja. Kecewa? Tentu saja. Itulah kata yang nampak jelas terlihat dari raut wajah semuanya. Bagaimana lagi? Mereka semua hanyalah warga biasa. Tak berhak berkehendak dan tak dapat melakukan apa-apa. Tiba-tiba seorang pelayan rumah mendatangi petugas itu. Terlihat membisikkan sesuatu di telinga petugas itu, hingga pada akhirnya sang petugas menganggukkan kepalanya dan segera menginformasikan kepada semua petugas lainnya dan para media.
Semua media bergegas dan menempatkan dirinya masing-masing secara tertib dan teratur. Siap sedia menyiarkan secara langsung acara yang perlu di liput tersebut. Semua kerumunan terheran-heran, sebenarnya akan ada hal apa di jam seperti ini. Tetapi mereka tetap menyaksikan dengan menyipitkan matanya masing-masing berusaha melihat dari kejauhan. Dan yang tak berhasil melihat pun, menanyakan kepada yang di depannya. Begitupun seterusnya.
Di waktu yang sama, tengah duduk seorang laki-laki tampan dengan bersandar di sofa. Dan seorang laki-laki dengan jas seperti biasa tengah berdiri di belakang sofa. Empat mata yang tengah memandang televisi delapan puluh dua inch yang tengah menyiarkan secara langsung glenak-glenik acara pra nikah puteri tunggal Arga Raharga dan Kumala.
"Tuan..."
Seseorang yang tengah berdiri di balik sofa mengangkat suaranya.
"Ya,"
"Anda baik-baik saja?"
"Ya."
Jawaban singkat dari seseorang yang tengah duduk bersandar di sofa membuat seseorang di balik sofa tak berani mengeluarkan suaranya lagi.
Kau membatalkan kepergian ke luar negeri beberapa hari kemarin, Tuan Muda Ziban. Entah apa yang membuat anda berubah pikiran dan memilih tinggal di hotel ini. Entah sihir darimana yang membuat anda mampu melihat semuanya dan bersikap semestinya seolah anda memang baik-baik saja. Seharusnya kemarin anda dan saya jadi pergi ke luar negeri saja, tuan. Setidaknya, jarak akan membuat beberapa hal perlahan berangsur menghilang, walau tak semua.
Sekretaris Chan memejamkan matanya. Turut merasakan duka atas Ziban, yang sering menatap kosong dalam dirinya, sendirian.
Setelah beberapa patah kata di sampaikan oleh host, ia pun menerangkan bahwa akan ada sesi perkenalan mempelai wanita berhubung puteri tunggal Arga dan Kumala memang tidak pernah di publikasikan. Terdengar host professional memanggil primadona hari ini. Ya, calon pengantin wanita nya. Semua orang bersorak gembira mendengarnya.
Andin pun keluar dari rumahnya itu dengan di apit oleh dua perempuan yang berada di kanan kirinya. Semua pasang mata takjub dan tak mampu berkata-kata setelah memandang Andin yang memakai dress cantik berwarna merah muda dengan polesan di wajahnya, dan pipi yang merekah membuat ia terlihat benar-benar seperti puteri raja sesungguhnya.
Host mempersilakan primadona hari ini untuk memperkenalkan dirinya di tempat yang sudah disediakan, dan jika berkenan untuk menceritakan bagaimana awal mula mengenal calon suaminya dan bagaimana bisa jatuh cinta padanya. Begitu kata pemandu acara atau host tersebut.
Ziban Alkash berdiri dari duduknya lalu memutar badan, hendak meninggalkan acara televisi yang belum usai ia tonton. Sepertinya kekuatannya cukup sampai disini. Tiba-tiba Sekretaris Chan mencegahnya.
"Tuan, tunggu..."
Ziban berhenti melangkahkan kakinya dan menunggu kalimat selanjutnya.
"Ibu anda..."
"Ada apa dengan ibu?!"
__ADS_1
"Lihat di layar televisi, tuan."
Ziban sangat penasaran apa yang sedang di bicarakan oleh Sekretaris Chan. Ia pun membalikkan badannya kembali dan melihat acaranya lagi.
"Kenapa ibu di situ?!" (ucap Ziban)
Sudah kuduga, anda tidak menyadari bahwa yang mengapit Nona Andin adalah Nyonya Kumala dan Nyonya Helen. Anda hanya memperhatikan Nona Andin saja sejak tadi.
Sekretaris Chan segera mengangkat bahunya, karena merasa Ziban sedang menunggu jawaban darinya.
"Kau tidak tahu?!"
"Maafkan saya, tuan. Biar saya cari informasi secepatnya."
Sekretaris Chan hendak permisi meninggalkan nya dan segera melaksanakan tugas darinya. Tetapi sebelum itu, Ziban terlebih dahulu menghentikannya.
"Tidak usah. Biar aku saja."
Ziban melangkahkan kaki ke ruang kamar nya. Sekretaris Chan mengulas senyum sangat tipis.
Pribadi yang kuat, bahkan sangat kuat.
Di dalam kamar hotel sewa tempat nya tinggal beberapa hari terakhir, Ziban mengambil ponselnya mencari nomor kontak yang sering ia hubungi, lalu menekan layar panggil.
"Halo, ada apa? Apa kau memutuskan untuk kembali dan sekarang sedang berada di bandara?"
"Tidak bang. Masih sibuk sekali."
"Kau sedang apa, bang?"
"Bersiap-siap untuk nanti malam."
"Bang..."
"Ya, ada apa?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, kau jawab jujur, ya?"
"Bertanya apa?"
"Eh, tadi kau lihat di televisi, tidak? Calon istriku itu terlihat begitu memukau, kan? Aku baru pernah melihatnya berdandan. Dan itu benar-benar menambah kecantikannya."
Diam. Ziban tak menyahut.
"Kau lihat, tidak?"
"Tidak bang. Aku tidak terlalu suka menonton televisi dan berita-berita di televisi."
"Setidaknya hidupkan dulu televisinya sebentar saja. Aku yakin siaran tadi sampai di luar negeri sekalipun, walau hanya berita sekejap saja."
"Tidak bang. Aku tidak tertarik."
__ADS_1
"Ah, baguslah kalau kau tidak tertarik dengan calon istriku. Kau doakan saja agar nanti malam lancar, ya?"
"Bang, aku ingin bertanya." (ucap Ziban mengalihkan pembicaraan)
"Apa?"
"Ibu..."
"Ada apa dengan ibu?"
"Ibu sudah tahu kan, bang?"
Kali ini Zidan yang bungkam.
"Bang?"
"Ibu tahu kalau kau akan menikah dengan Andin kan?"
Masih tak ada jawaban.
"Walau sejauh apapun kita dengannya saat ini, kau tidak lupa untuk meminta restu dari ibu kandung mu kan, bang?"
"Ziban..."
"Itu..."
"Apa bang? Itu apa?"
"Aku belum menemui ibu."
"Astaga! Apa yang kau lakukan, bang? Kau ini seorang pemimpin perusahaan. Kau seorang pengajar ilmu agama. Dan sebentar lagi kau akan menjadi kepala keluarga. Kau bahkan tidak melakukan apa yang semestinya harus kau lakukan! Kau tahu Andin sangat dekat dengan ibu, tidak?!"
Tak ada jawaban dari Zidan Haq. Ziban menarik nafasnya dalam-dalam, lalu memandang layar ponselnya memastikan panggilan teleponnya masih tersambung.
"Ibu akan merasa tersakiti dengan hal yang kau anggap sepele, bang."
"Dan bukan hanya ibu. Ada adik perempuan mu juga, yang akan sama tersakiti nya seperti halnya ibu."
"Bicaralah dengan ibu bang, masih ada waktu."
"Baiklah, kau tenang saja." (ucap Zidan mengakhiri sambungannya)
Zidan Haq mengetikkan pesan pada seseorang.
"Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan nanti malam?"
Pesan langsung di balas.
"Ya Tuan Zidan Haq. Mengalihkan ibu dan adik perempuan anda ke suatu tempat, supaya mereka tidak menyaksikan acara nanti malam. Dengan catatan, tidak boleh menyakiti mereka berdua sedikitpun. Dan tidak boleh ada yang curiga terutama calon istri anda."
Zidan Haq menaruh ponselnya di meja, lalu kembali bersiap-siap dengan sangat tenang seperti tidak ada hal yang telah terjadi sebelumnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...