
Hotel New York berada, terlihat kelap-kelip bintang beradu dengan kelap-kelip cahaya lampu kota. Pemandangan yang sangat indah jika dilihat dari ketinggian. Ziban Alkash segera membuka jendela kamar menuju balkon hotel seorang diri. Memakai baju tidur motif garis-garis dan menggenggam ponselnya. Ia menuju kursi santai di balkon dengan nuansa indahnya kelap-kelip cahaya dimana-mana. Dan tentunya dengan udara malam yang sedikit menyentuh kulit.
"Nuansa malam hari di New York yang tidak pernah aku lirik sebelumnya. Ternyata disini sangat indah, walau hanya sendiri saja. Ah andai ibu berada denganku disini, aku bisa tidur di pangkuan ibu dan bercerita semua hari-hariku kepadanya."
Lirih Ziban dalam keheningan malamnya. Ia tersenyum melihat wallpaper ponselnya yang terdapat wajah ibunya dan wajah kecilnya yang sedang mencubit pipi sang ibu. Terlihat Ziban kecil dan sang ibu sedang membuat cake di dapur rumahnya.
Ibu, aku hanya merindukanmu, bukan yang lain.
Terlihat mata Ziban yang berkaca-kaca setelah merasakan rindunya yang kian hari kian menggebu kepada ibunya. Ia sangat ingin menemui ibunya, tapi sesuatu hal membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa.
Terlihat Ziban memejamkan matanya, merasakan keheningan malamnya di New York tanpa seorangpun yang menemani nya. Beberapa kali mengulas senyum tipis dan beberapa kali pula menahan air mata yang hendak menerobos keluar dari pelupuk matanya ketika teringat sesuatu.
"Ibuuu, aku sangat lapar. Hari ini ibu masak apa bu?"
Terlihat seorang anak laki-laki berumur delapan tahunan berlarian di dalam rumahnya seraya berteriak meminta makan kepada ibunya.
Ibunya pun segera menghampiri anaknya itu.
"Ibu masak makanan kesukaanmu dong sayang.." (kata ibunya seraya memeluk anaknya yang sedang merengek manja)
"Benarkah buuu? suapi aku ya buu, ku mohon."
"Baiklah sayang, ibu akan menyuapi mu yaa. Ayoo let's go makaaan."
Ibu dan anaknya pun segera menuju ke meja makan yang sudah tersanding banyak variasi makanan dan juga buah-buahan. Segera si ibu menyuapi anaknya, dan anaknya pun makan dengan lahap sekali.
Tiba-tiba sang ayah datang dan segera ikut duduk di antara mereka.
"Ayaah sudah pulang horee. Ayah ikut makan juga ya yah, masakan ibu benar-benar lezat hemm."
Anak kecil itu mengatakan dengan penuh semangat kepada sang ayah, sedangkan si ayah hanya terdiam membisu. Hal itu membuat anak kecil itu bertanya kepada ibunya, apa yang terjadi kepada ayah.
"Buu, kenapa ayah diam saja dan tidak makan apapun? padahal kan masakan ibu sangatlah enakkk."
Lalu sang ibu menjawab pertanyaan polos anak laki-lakinya seraya menyuapkan makanan ke mulut mungilnya.
"Ayah hanya sedang lelah Ziban sayang, nanti juga pasti ayah makan kok. Ayo habiskan dulu makananmu."
Si anak alias Ziban Alkash kecil melanjutkan makannya dengan sangat lahap. Setelah Ibu Ziban selesai menyuapi Ziban, Ibu Ziban memanggil pelayan.
"Bi, sudah waktunya Ziban mandi."
"Baik, nyonya."
Si pelayan segera membujuk Ziban untuk segera mandi.
__ADS_1
"Ayo den, waktunya mandi."
"Aaa tidak mau buu. Aku kan sudah mandi dua kali tadi, lagian aku tidak main lumpur kan buu."
Ziban kecil membujuk ibunya agar ia tidak mandi lagi, tetapi ibunya menasihati nya yang akhirnya Ziban mau untuk mandi.
Ziban meninggalkan ruang makan itu menuju kamar untuk mandi dengan pelayannya yang menggamit lengan kanannya.
"Aku sudah selesai mengurus semua berkas."
Ayah Ziban memulai bicara dengan Ibu Ziban yang masih berdiam diri di ruang makan setelah kepergian Ziban dengan pelayannya.
"Kita sudah resmi bercerai." (lanjut ayah Ziban)
Ibu Ziban pun hanya terdiam saja tanpa menunjukkan ekspresi sedikitpun di wajahnya. Lalu ayah Ziban segera melanjutkan perkataannya lagi.
"Dan satu lagi, hak asuh kedua anak laki-laki jatuh kepada ayahnya lalu hak asuh atas anak perempuan jatuh kepada ibunya."
Ibu Ziban benar-benar terkejut dengan hasil keputusan sidang.
"Apa?! bagaimana mungkin. Mereka tidak akan bisa jauh dariku. Apalagi Ziban yang memang sangat manja."
Ungkap Ibu Ziban dengan wajah yang masih datar tanpa berekspresi sedikitpun.
"Kan ada Olive yang akan menjadi ibu sambungnya nanti."
"Nanti akan kucarikan pelayan yang tepat untuk mereka."
......................
Di dalam kamar yang luas nan mewah, seseorang sedang terisak-isak dalam tangisnya. Meratapi nasibnya, menjadi seorang ibu yang tidak bisa membesarkan semua anak-anak nya dan juga atas hancurnya rumah tangga yang sudah ia pertahankan sejak dahulu.
Apa salahku tuhan? mengapa semua harus berakhir seperti ini? bagaimana dengan nasib kedua anak laki-laki ku nanti.
Dahulu kala ketika Ibu Ziban sedang mengandung Ziban pun sebenarnya hubungan antara suami istri itu memang sudah diguncang oleh cobaan. Ayah Ziban meninggalkan keluarganya dengan menghilang entah kemana ketika Ibu Ziban sedang mengandung Ziban dan diterpa oleh sakit yang tak kunjung sembuh. Sampai Ibu Ziban melahirkan pun suaminya tidak kembali ke rumahnya.
Hingga ketika Ibu Ziban melahirkan Ziban ke dunia pun sakit si ibu belum juga sembuh. Badan yang kurus kering, rambut tak terawat, wajah yang pusat pasi yang selalu memandangi bayi kecilnya di samping tempat tidurnya dengan tatapan sayu.
Terlihat kantung mata yang menghitam, badan yang rusak tak terurus sedang menggendong bayi kecilnya di depan rumah. Membuat beberapa tetangga yang lewat segera mempercepat langkah ketika melihatnya.
Beberapa orang menganggap bahwa dia sinting. Karena penampilannya benar-benar berantakan dan juga mata hitam nya yang membuat setiap orang memandang segera berlalu darinya.
Semua pelayan di rumah hanya prihatin dengan keadaan nyonya nya yang sangat memprihatikan. Nyonya nya itu memang selalu menangis setiap malam hari ketika memandangi bayi kecilnya yang berada di samping tidurnya. Itu yang membuat mata nyonya nya menjadi hitam karena ia memang menangis sepanjang malam setiap harinya ketika memandang bayinya, yaitu Ziban Alkash.
Semua pelayan pun sering meneteskan air matanya juga karena iba dengan kondisi nyonya nya yang ketika diperiksa dokter beberapa kali memang tidak ada penyakit terdeteksi oleh medis sekalipun. Beberapa tetangga yang mengatakan bahwa sakit terhadap nyonya nya itu adalah kiriman dari seseorang yang tidak menyukainya. Entah siapa.
__ADS_1
Hingga akhirnya setelah beberapa tahun setelah Ibu Ziban sembuh dari sakitnya, Ayah Ziban tiba-tiba datang kembali ke rumahnya. Ia menangis memohon-mohon kepada istrinya untuk memaafkan semua perlakuannya karena meninggalkan keluarga. Ibu Ziban pun hanya terdiam saja mendengar permintaan maaf dari suami yang sudah meninggalkannya dan juga anak-anaknya.
Ayah Ziban pun masih belum menyerah untuk meminta pengampunan dari istrinya, ia pun bertekuk lutut di hadapan istrinya dan mengatakan bagaimana nasib anak-anak nanti tanpa ayahnya. Tentu saja itu membuat Ibu Ziban berubah pikiran mengingat anaknya yang memang memerlukan kasih sayang seorang ayah. Dan akhirnya ia memberikan kesempatan kepada suaminya itu untuk mempertahankan keluarganya.
Tetapi pada akhirnya beberapa tahun kemudian, seorang perempuan bernama Olive hadir di tengah-tengah rumah tangga mereka yang sedang harmonis. Yaa, Ayah Ziban berselingkuh dengan Olive, yang lebih muda dari Ibu Ziban. Dan ternyata Ayah Ziban memilih mengakhiri rumah tangga nya dan mengulangi kesalahannya dahulu demi seorang perempuan bernama Olive.
...****************...
Hari disaat perpisahan pun tiba, Ayah Ziban membawa kedua anak laki-laki nya, yaitu Ziban dan kakaknya meninggalkan rumah. Ziban dan kakaknya sangat senang sekali karena dijanjikan akan diajak jalan-jalan oleh ayahnya. Mereka berdua pun segera berlari ke arah ibunya untuk mencium pipi lalu bersalaman kepada ibunya.
"Dah ibuu, kami pergi jalan-jalan dulu yaa atau ibu mau ikut bersama kami saja?"
Kata Ziban polos yang membuat Ibu Ziban sangat terpukul dengan keadaan itu. Dengan keadaan yang dimana ia harus berpisah dengan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil-kecil. Lalu ia merangkul erat pundak kecil mereka berdua.
"Tidak sayang, kalian hati-hati di jalan yaa." (ucap ibu Ziban dengan bibir bergetar)
"Baiklah bu, ibu mau dibelikan apa ketika kami sudah pulang?" (kata Ziban lagi, kakak Ziban memang sangat pendiam)
"Ibu tidak titip apa-apa sayang, ibu cuma mau bilang, ibu sangat sayang dengan kedua anak laki-laki ibu yang hebat ini."
"Kami juga sayang ibu.."
jawab mereka kompak lalu sang ayah segera menyuruh mereka untuk segera masuk ke dalam mobil. Kedua anak laki-laki kecil itu pun melambaikan tangan kepada ibunya.
Ibu sangat menyayangi kalian berdua, semoga kita masih bisa bertemu seperti janji ayah kalian.
Ibu Ziban pun segera berlari ke kamarnya sambil menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang sangat malang. Lalu seorang anak perempuan kecil tiba-tiba masuk ke dalam kamar nya.
"Ibu, ibu kenapa menangis seperti itu? siapa yang membuatmu bersedih buu, nanti biar aku pukul."
Segera ia mengelap air matanya, lalu segera memeluk anak perempuannya.
Aku harus kuat, masih ada anak perempuan ku yang memerlukan kasih sayang dariku. Semoga suatu saat nanti aku bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan semua anak-anakku.
Tiba-tiba...
"Ini sudah malam sekali, nanti anda masuk angin di situ tuan."
Seseorang membuyarkan lamunan Ziban Alkash di balkon hotel New York yang tidak lain tidak bukan ialah Sekretaris Chan.
"Anda harus segera beristirahat tuan, besok ada meeting pagi-pagi."
"Hemm.."
Ziban Alkash segera masuk kembali ke dalam kamarnya setelah mengusap air matanya yang sejak tadi menetes deras di pelupuk matanya mengingat masa lalu ibunya yang ia dengar dari salah satu pelayan yang pernah merawatnya dulu.
__ADS_1
"Huft, Tuan Muda Ziban pasti sedang merindukan ibunya. Maafkan saya tuan, ini adalah perintah dari tuan besar." (batin Sekretaris Chan)
BERSAMBUNG...