
Dini hari yang senyap, puncak kenyenyakan bagi setiap orang yang tertidur. Menari-nari bersama bunga tidurnya. Tetapi tidak dengan Meta. Pukul 02.30 ia sudah terbangun dalam tidurnya. Yaa, ia memang sengaja bangun disaat semua sedang nyenyak-nyenyak nya dalam tidur. Tentu saja ada alasan dibalik niatan bangun paginya itu.
"Ya Allah, tuhan semesta alam. Betapa hinanya hamba ini, yang ketika susah selalu mendekat kepada mu. Ketika sedang senang, hamba bahkan lalai bahwa engkau lah sang pemberi nikmat itu. Ampuni hamba mu ini yang sangat lah hina ini. Hamba hanya ingin bercerita kepada engkau ya Allah, bahwa hamba sedang mengagumi salah satu makhluk ciptaan-Mu. Engkau maha tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam dada ini beberapa hari terakhir. Engkau maha tahu, siapa yang membuat hamba benar-benar sangat bersemangat akhir-akhir ini. Tuhan, hamba mencintai salah satu manusia ciptaan-Mu. Jika memang ia adalah jodohku, maka dekatkanlah. Lalu jika memang ia bukan jodohku, semoga suatu saat bisa hamba ikhlas menerimanya.."
Rintihan lirih Meta dalam sujud di sepertiga malamnya diakhiri dengan linangan air mata. Tak lama kemudian, ia terlelap tidur dengan balutan mukena yang masih menempel di badannya.
"Segitu besarnya kah rasa cinta mu padanya, Meta?"
Seseorang mengatakan dengan lirih, yang ternyata sejak tadi ia mendengar rintihan Meta dalam sujudnya. Ketika Meta terbangun, Andin memang juga ikut terbangun. Tetapi Andin diam saja dan enggan menanyakan mengapa Meta bangun awal sekali. Ia pun memperhatikan semua gerak-gerik Meta, termasuk rintihan doanya. Andin seketika mengelap buliran hangat yang menetes di pelupuk matanya.
Apa yang harus aku lakukan? Mengapa Meta harus memiliki rasa yang sangat dalam seperti itu? Bagaimana perasaan Meta ketika ia mengetahui bahwa Ustad Zidan Haq adalah pangeran impian yang selalu aku ceritakan padanya?
......................
Dering alarm berbunyi sangat keras di kamar mewah milik Zidan Haq. Ia segera mematikan alarm yang berbunyi sejak tadi. Lalu ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Ketika sedang bersiap-siap, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Zidan Haq pun mempersilahkan si pengetuk pintu yang rupanya pelayan rumah untuk masuk ke dalam kamar.
"Selamat pagi tuan muda, semua sedang menunggu anda di meja makan untuk sarapan.."
"Baiklah, aku akan segera ke bawah."
Pelayan rumah pun segera beranjak pergi setelah mendapat izin dari Zidan Haq dan melanjutkan pekerjaan nya. Setelah selesai bersiap-siap, Zidan Haq segera turun ke bawah menuju ke meja makan untuk sarapan.
Ketika ia berjalan menapaki tangga menuju meja makan, dua orang yang memang sudah menunggu untuk sarapan melontarkan senyum kepada Zidan Haq. Mereka adalah sepasang suami istri.
"Selamat pagi Zidan.."
Seorang perempuan dengan dress feminim, rambut gelombang terurai dan juga lipstik merah merona menyapa Zidan Haq. Ia hanya tersenyum tak berniat menyapa kembali lalu berbicara dengan ayahnya.
"Apa hari ini ayah sangat sibuk?"
Zidan Haq menayakan kepada ayahnya, sang ayah pun hanya mengangkat bahunya lalu berkata.
"Yaa, selalu sibuk dan akan selalu seperti itu. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa yah, hari ini kegiatan ku sedikit longgar. Jadi, aku berfikiran untuk di rumah saja bersama ayah."
"Ah, sayang sekali. Jadwal meeting ayah hari ini sangatlah penting. Tapi tenang saja, kan ada mamah. Dia kan di rumah saja seharian kan mah?"
__ADS_1
Seseorang yang ditanya pun mengulas senyum.
"Tentu saja sayang, hari ini aku akan di rumah saja."
Perempuan itu tiba-tiba merangkul leher suaminya lalu mencium bibir suaminya di depan Zidan Haq. Hal itu membuat Zidan Haq mengambil dan meneguk segelas air putih lalu segera beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Ayah Zidan Haq lah yang paling terlihat kikuk, sedangkan ibu tiri Zidan hanya biasa-biasa saja seolah tak merasa malu atau bahkan merasa bersalah sedikitpun.
"Seharusnya kau tidak berperilaku seperti itu di depan anakku kan.." (protes Ayah Zidan)
"Berperilaku seperti apa memangnya? Aku kan hanya tidak kuat melihat ketampanan mu sayang.."
"Tapi kau lihat tadi kan, Zidan bahkan tidak jadi sarapan."
"Ahh, dia kan bukan anak kecil lagi sayang."
"Hemm, bagaimanapun kau harus akrab dengannya kan."
"Ah iya iya, setiap hari aku selalu berusaha. Sekarang ayo kembali ke kamar saja sayang, aku benar-benar tidak kuat.."
Istri Ayah Zidan tiba-tiba menarik paksa suaminya untuk meninggalkan meja makan dan segera kembali ke dalam kamar mereka. Ayah Zidan pun hanya bisa pasrah dengan tarikan istrinya itu.
MAN 102 Bandung, mobil sport pemilik sekolah berhenti di parkiran khusus. Lalu seorang satpam segera membukakan pintu mobil untuk Zidan Haq. Ia pun mengucapkan terimakasih kepada satpam.
"Terimakasih pak.."
Baru beberapa langkah Zidan Haq melangkahkan kakinya, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Tuan Muda Zidan.."
Zidan Haq pun segera menghentikan langkahnya.
"Ada apa Rinta?"
Mereka berdua terlihat berbicara serius untuk sepagi ini. Sedangkan, Andin yang berada di depan kelas X IIS 1 Favorit yang memang berada di lantai atas, sedang memperhatikan Zidan Haq dan juga Rinta.
Apa yang mereka bicarakan? Mengapa Kak Rinta terlihat genit seperti itu si, menunjukkan ponselnya ke si kaku tampanku. Awas saja jika Kak Rinta sampai ikut menyukai si kaku tampanku. Huh! Dia itu hanyalah milikku saja tau.
Andin terlihat mengepalkan tangannya dan sedikit menggeram.
Lalu tiba-tiba Talita datang mengejutkan Andin.
__ADS_1
"Hei Ndin, daripada kau melihat mereka berdua dengan tatapan cemburu mu yang tidak berguna sama sekali seperti itu, lebih baik kita jalankan misi kembali.."
Talita merangkul pundak Andin. Andinpun sedikit terhibur dengan gangguan Talita kali ini. Tetapi ia hanya diam saja, dan masih memandangi Zidan Haq dan Rinta yang masih mengobrol berdua. Lalu Talita berkata kembali.
"Heh Ndin, aku sudah memasang kamera tersembunyi di ruangan loker itu.."
Andin tersentak kaget dengan ide brilian Talita, dan sontak memeluk erat Talita.
"Aaaa, rupanya kau pintar juga..."
"CIE, CIE BERPELUKKAN NIH YEEE .."
Andin segera melepaskan pelukannya dengan Talita karena segerombolan siswa lainnya meledek keras ke arah Andin dan juga Talita.
Cih! Mereka hanya tidak tahu kalau yang selalu mereka anggap Arif ialah Talita seorang perempuan.
"Eh, ayo cek rekaman hasil kamera tersembunyi mu Talita."
"Siappppp.."
Mereka berdua masuk ke dalam kelas dan segera memeriksa handphone Talita yang bisa terhubung dengan kamera tersembunyi di ruangan loker.
"Ayo cepat dong diperiksa."
Rekaman berhasil di lihat, terlihat jelas ruangan lemari loker itu. Andin dan Talita mengamati setiap jengkal waktunya. Tiba-tiba terdapat seseorang yang memakai jaket dan topi membuka lemari loker Andin menggunakan kunci.
"Heh Ndin, ternyata dia memiliki kunci lokermu."
"Ah iya benar, siapa dia kira-kira ya.."
"Entahlah, wajahnya benar-benar tertutup seperti itu."
"Lihatlah jam rekaman itu, jadi dia datang ke situ disaat jam pelajaran telah usai."
"Ah iya Ndin, betul sekali. Berarti besar kemungkinan dia adalah siswa disini juga."
"Yah, sayang sekali. Padahal aku berharap si kaku tampanku Zidan Haq yang mengirim nya."
"Si pengirim adalah orang terdekat mu dulu Ndin. Coba diingat-ingat Kembali.."
__ADS_1
Ahhh, aku benar-benar tidak mengingat apapun. Cih!
BERSAMBUNG..