Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Kau Tahu, Kami Bersahabat Dengan Tidak Sehat


__ADS_3

"Emm, aku akan memanggil dokter."


Andin segera beranjak dan meminta tolong pada sopirnya agar memanggilkan dokter untuk segera datang. Diana mencegah.


"Tidak usah."


Elle mendekati ibunya yang masih terbaring di ranjangnya. Ia memijat pelan kepala Diana. Andin dibuat terperangah olehnya. Ia pun memaksakan senyumnya yang memang tidak datang dari dasar dalam dirinya.


"Tidak apa-apa kak."


"Ku mohon mengertilah keadaan ku." (Diana memelas)


Andin diam sejenak. Kali ini, ia ikut merasakan kesedihan yang terlihat jelas di matanya.


"Tapi kak..."


"Uang yang digunakan untuk berobat nantinya, bisa digunakan untuk makan dan kebutuhan kami berhari-hari. Ku mohon, jangan memanggil dokter atau yang semacamnya."


"Tapi jika kau tidak sehat seperti ini, lantas siapa yang akan menjaga dan mengurus putri cantikmu, ini?"


Andin menatap hangat Elle.


"Kesehatan mu adalah nomor satu. Kebetulan, aku mempunyai sedikit uang. Kau tidak perlu khawatir akan itu. Aku akan tetap memanggil dokter kesini." (ucap Andin)


Diana tersenyum penuh arti.


"Baiklah, aku akan menganggap ini adalah pinjaman."


"Tidak perlu, kak. Sungguh."


"Kau baik sekali. Padahal kau adalah orang asing bagi kami."


Andin mengulas senyumnya. Kali ini terlihat lebih tulus. Sepertinya perlahan-lahan, ia sudah bisa memecahkan benteng ego yang ada dalam dirinya.


"Namaku, Andin. Aku sengaja mencari keberadaan mu."


"Benarkah?"


"Tentu."


"Apa sebelumnya kita kenal?"


"Ya, sebelumnya, kita memang tidaklah saling mengenal. Tetapi, setelah ini, mungkin aku akan sangat berharap kita mengenal satu sama lain."


Diana tersenyum simpul kembali.


"Ah iya, aku akan ke depan sebentar untuk meminta temanku untuk memanggil dokter kesini. Sebentar ya."


Andin menyebutkan sopir rumahnya sebagai temannya dihadapan Diana dan Elle.


"Tunggu..." (Diana mencegah Andin untuk kedua kalinya)


Andin dibuat bertanya-tanya kembali.


"Aku tahu kau sangat baik. Ku mohon, jangan memanggil dokter untuk kesini. Karena aku rasa, sakit ku sudah jauh lebih membaik setelah kedatangan mu."


"Ku mohon jangan menolak bantuan ku, kak."


"Ah, baiklah. Kalau begitu jika boleh aku memilih, lebih baik beli obat di apotik saja. Aku akan cepat sembuh nantinya."


Andin menimbang permintaannya sebelum ia tersenyum dan berkata iya.


Andin hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, untuk menyuruh sopir rumahnya membelikan obat sesuai kondisi Diana. Setelah itupun, ia kembali lagi ke kamar tempat Diana dan Elle disana.

__ADS_1


"Hemm, Andin. Apa aku boleh menebak sesuatu?" (ucap Diana)


"Menebak apa, kak?"


"Ah lihatlah, Elle mengantuk hingga hampir terjatuh."


Andin menertawai kelucuan gadis kecil yang ada dihadapannya. Seketika, ia lupa bahwa gadis kecil itu adalah hasil buah cinta dari suaminya dengan orang lain. Ya, setidaknya itulah kebenaran yang diucapkan oleh Meta. Ia sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa yang dikatakan Meta memanglah benar adanya.


"Hust..."


Andin membungkam mulutnya. Diana pun segera menidurkan Elle di sebelahnya. Dan seperti hal yang sudah biasa, gadis kecil itu pun tertidur dengan pulas nya. Andin tersenyum melihatnya.


"Ah iya kak, katamu kau ingin menebak sesuatu dariku."


"Apa kau temannya Zulfia?" (tebak Diana)


"Bagaimana kau tahu, kak? Ah iya, kami satu asrama."


"Hanya menebak saja."


"Tapi, bagaimana mungkin tebakan mu benar."


Diana berusaha duduk dari baringan nya. Andin dengan cekatan membantu dan menyodorkan bantal untuk ganjalan punggungnya.


"Zulfia adalah satu-satunya temanku serta sahabatku dari dulu ketika kami bersekolah. Jadi aku pikir...orang baik pasti akan datang darinya karena hanya dia lah yang memahami ku sepenuhnya."


"Teman satu-satunya?" (ucap Andin tidak percaya)


Diana mengangguk mantap.


"Bagaimana mungkin kak. Kau cantik, kau baik. Dan aku yakin kau juga sangat pintar ketika di sekolah dahulu. Itu terlihat jelas dari caramu berbicara. Dan yang pasti, kau adalah primadona di sekolah mu dulu. Iya kan?"


Andin mulai berbicara panjang lebar tanpa mengingat tujuan awalnya ia datang menemuinya. Dan Diana pun sangat nyaman bercerita tentang kehidupan nya. Ia merasa ia menemukan tempat yang tepat untuknya bercerita masa lalu tanpa sepengetahuan dirinya bahwa Andin datang atas nama hal yang lain.


"Kau benar kak. Ada saja orang yang membenci kita, walau setelah melihat semua kebaikan kita. Mereka semua hanya iri padamu, aku yakin itu."


Diana tersenyum getir.


"Sudahlah, itu semua sudah berlalu."


"Permisi Non Andin, ini obatnya."


Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan mereka berdua.


"Terimakasih."


Andin menerima bungkusan obat yang disodorkan oleh sopirnya. Lalu sang sopir pun kembali pergi meninggalkan mereka setelah meminta izin.


"Dia tidak terlihat seperti temanmu. Dia terlihat seperti sopir pribadi mu." (ucap Diana)


"Ehehe."


Andin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau pasti berasal dari keluarga yang sangat berada."


"Ah tidak kak. Tidak. Ini obatnya."


Diana menerima obat nya.


"Maaf, aku terlalu banyak bercerita, sebenarnya hal apa yang membuat mu mencariku?" (tanya Diana)


Andin seketika mengingat tujuan awalnya datang menemuinya.

__ADS_1


Ah, Ya Tuhan. Bagaimana aku memulainya?


Diana melihat jelas keresahan Andin.


"Katakan saja, ada hal apa hingga kau mencariku?"


"Dimana ayahnya Elle?" (tanya Andin)


Andin membungkam mulutnya sendiri. Ia mengutuk keras pertanyaan tidak sopan nya itu.


"Maaf kak, maksudnya..."


Diana mengulas senyum. Sungguh diluar dugaan Andin. Ia kira, Diana akan tersinggung dengan pertanyaannya. Tetapi, justru Diana terlihat santai dan biasa-biasa saja.


"Tidak apa-apa, semua orang sudah mengetahuinya. Elle tidak memiliki ayah seperti anak lainnya pada umumnya."


Deg.


"Hemm, maksudnya? Apakah, ayahnya sudah tiada? Maaf kak..."


"Tidak. Sebelumnya Zulfia dan temannya siapa itu namanya, hemm Tata."


"Meta, maksudnya, kak?"


"Ah iya, Meta. Mereka datang kesini untuk bertanya hal masa laluku. Aku menceritakan semuanya dengan apa adanya karena sepertinya mereka terutama Meta memang sangat membutuhkan jawabannya saat itu juga. Dan ah iya, mereka juga sempat mengatakan bahwa ayah Elle sudah menikah. Seperti itulah."


Andin tak dapat berkata apa-apa lagi.


"Kami melakukan kesalahan pada saat itu. Dan akibatnya, Elle lah yang harus menanggung semuanya."


Bukan hanya Elle. Kau pun menanggung semuanya. Ya, Tuhan. Kenapa semua ini harus ada dalam kehidupan ku.


Andin menguatkan dirinya. Ia harus terlihat biasa saja. Ada banyak hal yang masih samar. Ia harus membuka celah untuk memperjelas nya.


"Elle terlihat berumur tujuh tahunan? Bagaimana mungkin?"


"Kesalahan itu terjadi pada saat kami masih duduk di bangku sekolah."


Andin melihat kesedihan di mata Diana.


"Kau boleh bercerita apapun padaku, kak."


Terdiam beberapa saat. Andin yang masih menahan semua sesak di dada, sedangkan Diana yang tengah mengingat waktu itu. Hingga akhirnya ia membuka suara.


"Tidak ada yang mau berteman denganku dulu, entah apa kesalahan ku. Itu terjadi, ketika aku dinobatkan sebagai pemenang nominasi Puteri Sejuta Prestasi di sekolah. Entah mengapa semuanya tiba-tiba memberondong ku dengan berbagai rundungan. Hanya Zulfia saja lah yang tetap berteman denganku ketika hal itu terjadi. Hanya saja, Zulfia pun sama sepertiku. Ia tidak bisa berbuat apa-apa."


Andin mendengarkan dengan seksama.


"Lalu seorang laki-laki datang membelaku dihadapan semuanya. Seketika mereka semua pun bungkam dan menundukkan kepalanya karena pembelaan darinya. Dia sangat populer di sekolah ku dulu. Aku sangat senang dengan kehadirannya dan juga dukungan nya, oleh karena itu kami bersahabat sangat dekat hingga akhirnya semuanya terjadi begitu saja."


Diana menghembuskan nafasnya teratur.


"Ya, memanglah benar jika perempuan dan laki-laki tidak akan bisa bersahabat dengan sehat. Dan itu terjadi pada kami."


"Apakah ayah Elle mengetahui bahwa kau hamil pada saat itu?"


Diana mengangguk.


"Aku sempat datang ke rumahnya berniat untuk menemuinya dan meminta pertanggungjawaban. Tetapi kami tidak pernah bertemu. Hingga pada akhirnya ibunya dia datang mengunjungi ku dengan memberiku uang. Dia memintaku untuk menggugurkan kandungan ku."


Tante Olive? Benarkah?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2