Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Cuci Rambutmu, Andin


__ADS_3

Semburat mentari pagi masuk lewat celah kamar setelah Helen menyibakkan gorden jendela. Menatap kedua putrinya yang masih terlelap tidur. Ia mendekatkan dirinya mendekat diantara dua putrinya. Rossie dan Andin. Helen memang sudah menganggap Andin sebagai putrinya juga. Mengelus kedua gadis itu secara bergantian.


"Dulu Zidan dan Ziban juga selalu tidur bersama..."


Tetesan air bening menetes di pelupuk mata Helen. Kata orang, menangisi sesuatu hal yang tidak akan pernah bisa dimiliki lagi adalah hal yang sia-sia. Tetapi apa yang bisa dilakukan Helen? Menangis. Ya, lagi-lagi, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menahan lara seorang diri. Bagaimana pun, dijauhkan dari dua permata laki-laki nya adalah hal yang mustahil untuk dapat dilupakan.


Tetesan air bening mengalir kian deras ketika Rossie dan Andin tiba-tiba sudah memeluk erat Helen. Helen bahkan tak menyadari mereka berdua telah bangun dari tidurnya.


"Kenapa ibu menangis?"


"Tante, ada apa?"


Helen memandang bergantian wajah kedua gadis itu penuh arti. Ia bahkan semakin jatuh dalam isakan tangisnya. Mengingat kapan terakhir ia dipeluk oleh kedua putranya. Mengingat saat-saat itu. Saat-saat dimana kedua pangerannya meninggalkan nya sampai detik ini. Mengingat Ziban yang manja dan masih sangat polos. Mengingat Zidan, kakaknya yang lebih pendiam.


"Ibuuuu?!"


"Katakan sesuatu. Jangan diam saja?! Buuuu?"


Rossie mengguncang badan ibunya. Sejak tadi Helen hanya mengalirkan deras tangisannya tanpa mengatakan sepatah katapun. Andin diam saja. Ini adalah urusan keluarga. Begitu pikirnya.


Helen kembali mengingat masa-masa itu. Membutuhkan waktu yang amat lama untuk ia kembali bersemangat dalam menjalani hidupnya. Menjalani kehidupan tanpa sosok suami. Tanpa kedua sosok putranya yang masih kecil. Menjalani kehidupan dengan bayang-bayang masa lalunya. Bayangan wajah suaminya yang mengatakan dengan khidmat janji suci di pernikahan nya. Seperti inilah akhir cintanya. Disuguhkan dengan sebuah penghianatan. Berakhir dengan meja hijau yang menetapkan bahwa hak asuh kedua putranya akan jatuh di tangan sang ayah.


Jika ku tahu cintamu tak seindah janji manis mu, maka aku akan menolak pinangan mu waktu itu kepada orang tuaku. Kau meninggalkanku demi wanita itu. Bahkan kau tega memisahkan ku dengan kedua puteraku.


"Ibu, ibu kenapa menangis seperti itu? Siapa yang membuat mu bersedih buu, nanti biar aku pukul."


Kalimat Rossie kecil yang selalu terngiang-ngiang di ingatan Helen. Hingga akhirnya Helen pun kembali menemukan hidupnya pada gadis kecil yang memanggilnya ibu. Pada gadis yang membuatnya untuk tetap bernafas dengan baik.


Rossie, ya, dia anakku juga.


"Ibuuu? Buu? Katakan sesuatu!"


Astaga, apa yang aku lakukan. Kenapa aku sampai menangis di hadapan Rossie seperti ini.


Helen baru menyadari bahwa ia telah menangis di hadapan putrinya. Helen mengusap perlahan wajahnya. Menghilangkan sisa-sisa air mata yang berhasil tumpah tadi.


"Ibu tidak apa-apa,"


"Cepat kalian bersihkan badan kalian. Ibu akan memasak nasi goreng spesial untuk pagi ini,"


"Rossie, bersihkan kuku mu ini ya."


Helen mengatakan kepada dua gadis itu. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan mereka berdua yang tentunya masih bertanya-tanya. Tiba-tiba Helen membalikkan badannya.


"Eh, Andin. Jangan lupa cuci rambut mu yang bersih."

__ADS_1


Helen menutup pintu kamar itu.


"Ada apa dengan ibumu, Rossie?" (tanya Andin)


Rossie menarik guling lalu memangku nya. Sejak tadi ia sudah berfikir mengenai ibunya itu.


Ibu pasti menangis karena merindukan Kak Ziban dan Kak Zidan. Harus ku benci siapa kali ini? Bukankah ayah yang sudah meninggalkan ibu. Tapi kenapa ibu melarang ku untuk membencinya?! Ibu hanya menegaskan kepadaku untuk tidak merindukan seseorang yang tidak merindukan ku. Karena hal itu adalah hal sia-sia. Ayah?! Apa yang kau lakukan kepada ibu?!


Rossie menekan erat guling nya. Menyalurkan segala emosinya untuk meredakan kemarahannya.


"Hei! Kau belum menjawabnya pertanyaan ku!" (kata Andin)


"Pertanyaan apa?!"


"Kenapa Tante Helen menangis seperti itu?"


"Kau lupa kalimat yang diucapkan oleh ibu sebelum menutup pintu kamar?"


"Eh, Andin. Jangan lupa cuci rambut mu yang bersih." (Andin mempraktikkan ucapan Helen dengan segala lenggak-lenggok nya)


"Kau sedang mengejek ibuku ya?!"


"Ehehe tidak, Rossie,"


"Ibuku dari dulu sangat membenci bau tak sedap dari rambut yang jarang keramas."


"Maksudmu aku jarang keramas? Begitu?"


Rossie hanya mengedikkan bahunya.


"Seseorang yang menghirup bau yang tidak sedap tidak akan menangis seperti itu. Menegur, membicarakan nya di belakang, atau menjauhinya langsung adalah hal yang mutlak dilakukan oleh seseorang yang mencium aroma yang tidak sedap." (jelas Andin)


"Ibu memang seperti itu. Dia akan menangis jika mencium aroma yang teramat sangat tidak sedap. Makannya, rajin-rajinlah cuci rambut mu."


"Tapi itu tidak mung..."


"Aaaa, sudahlah. Kau memang tidak mengerti kehidupan yang sebenarnya. Kau hanya si pintar di sekolah saja."


Rossie mengambil handuknya menuju ke kamar mandi dan meninggalkan Andin sendirian. Setelah Andin memastikan bahwa Rossie sudah benar-benar masuk ke kamar mandi dan Menutup pintunya, Andin mencoba mencium aroma rambutnya. Apa benar rambutku sebau itu? Begitulah pertanyaannya kali ini.


"Hahaha, tuh kan. Cium saja terus aroma rambut mu yang bau sampah busuk itu!"


Tiba-tiba Rossie menertawakan Andin. Andin benar-benar terkejut dengan Rossie yang tiba-tiba sudah membuka pintunya. Sepertinya ia memang sengaja.


Bruggghh!!!!

__ADS_1


"Heh! Apa yang kau lakukan?! Bantal ku basah dasar bodoh!"


Rossie marah-marah karena Andin melemparkan bantal ke arah nya. Rossie sengaja menyingkir untuk tidak terkena timpukan lemparan bantal dadi Andin. Yang ada, bantal nya yang masuk ke dalam kamar mandi.


......................


"Enak kan pah,"


"Emhhhhh,"


"Aahhhhh...."


"Sudah cukup, olive."


Olive memberhentikan aksinya itu. Seiringan dengan itu, Olive merasa tidak mood setelah Atta, suaminya memberinya lampu merah.


"Papah ini kenapa si?!"


"Sakittttt..." (jawab Atta)


Olive turun dari badan suaminya. Lalu mentelantangkan badan polosnya di samping suaminya itu. Rasanya ia benar-benar sebal karena suaminya sudah tidak pernah bisa memuaskan dirinya seperti dahulu. Atta memakai baju dan celananya kembali lalu menutupi badan polos Olive dengan selimut tebal.


"Apa-apaan ini?!"


Olive menendang selimut yang digunakan suaminya untuk menutupi badannya. Ia benar-benar jengkel karena selalu di kecewakan oleh suaminya ketika di atas ranjang.


"Papah ini sudah tidak seperti dulu lagi!"


"Maaf ya..."


"Ah, benar-benar membosankan!" (gerutu Olive)


Atta memandang nanar tubuh polos Olive tanpa benang sehelai pun yang menempel di tubuhnya. Sudah lama ia menahan rasa sakit yang sudah ia tanam sendiri. Kini, ia telah memanen nya. Memanen sakit dan sesak yang ia tanam dan ia pupuk sejak dulu kepada mantan istrinya, Helen.


"Ayah! Istri tercinta mu itu telah menyelingkuhi ayah! Asal ayah tahu!"


Ucap Ziban Alkash pada Atta suatu hari saat Ziban Alkash benar-benar marah. Atta hanya diam saja. Berpura-pura tidak mempercayai putranya itu. Ia bahkan memarahi Ziban Alkash kembali karena telah mengatakan yang tidak-tidak mengenai Olive. Padahal sebenarnya, ia mengetahui semua kelakuan Olive jika ketidakadaan dirinya. Ia mengetahui Olive memang memiliki banyak kekasih gelap di belakangnya.


"Jangan memandang ku seperti itu! Aku sedang marah padamu, pah!" (tukas Olive)


Atta masih memandang Olive. Beberapa kali ia merasakan kepedihan saat Olive sedang beraksi kepadanya di atas ranjang. Membayangkan banyak lelaki yang ia perlakukan sama seperti itu.


Apakah Helen merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kurasakan saat ini? Tetapi ia terlihat biasa saja ketika ia tahu bahwa aku selingkuh dengan Olive di depannya, dulu. Bahkan saat aku memutuskan untuk meninggalkannya sekalipun, ia masih bisa tersenyum.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2