
Dua tahun kemudian...
Dalam keramaian siang hari di jalanan. Semua pengendara kendaraan hilir mudik tak henti-hentinya. Para pejalan kaki pun berlalu lalang kesana kemari. Semua orang seakan berlomba-lomba mengejar waktu mereka. Tak ingin terlambat, apalagi ketinggalan.
Termasuk dengan perempuan yang memakai gamis kekinian berwarna biru muda, dengan ransel hitam, dan sepatu sneakers warna abu. Terlihat ia yang tengah mengipasi wajahnya menggunakan tangannya. Menahan kepanasan juga kebisingan di dalam angkutan umum yang dinaiki nya. Sesekali mengelap keringat yang bercucuran. Sambil terus mengutuki beberapa penumpang lainnya yang asik bergosip dan beberapa kali tertawa yang duduk tepat di sebelahnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya ia turun tepat di depan gang kecil.
"Cepat neng, ongkosnya."
Kernet angkutan umum tersebut berteriak beberapa kali pada nya. Ia terlihat tidak memiliki kesabaran sedikitpun. Dengan sesekali mengumpat pada penumpang yang baru turun tersebut, karena terlalu lama dalam mengambil uang di dalam tas nya. Itu menurutnya.
"Kalau tidak ada uang, harusnya tadi jalan kaki saja!"
Teriak kernet tersebut. Perempuan itu pun tak menggubris makian dari kernet tersebut. Dan akhirnya, ia menutup kembali tas nya setelah mengambil uang selembar seratus ribuan.
Kernet tersebut menerima uang itu dan ia tengah menghitung uang kembalian.
"Sudah, kembaliannya ambil saja, bang."
Kernet tersebut pun langsung memperlihatkan giginya yang tidak terlalu putih. Angkutan umum itu pun kembali membelah jalanan. Terdengar kernet tersebut yang sedikit berteriak.
"Terimakasih, neng, kembaliannya."
Perempuan itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berjalan masuk ke dalam gang.
Tak menunggu waktu lama, ia sudah sampai di depan kos-kosan. Ia membuka pintu kos tersebut setelah mengambil kunci di pot bunga yang digantung.
Ia meletakkan ransel hitamnya, lalu membersihkan badannya. Menghilangkan penat yang dirasanya. Setelah itu, ia membawa laptop juga ponselnya ke depan teras. Ia pun duduk di kursi yang terbuat dari rotan dan menyibukkan dirinya dengan laptopnya.
Beberapa saat kemudian, ia menutup laptopnya lalu beralih ke ponselnya. Ada sesuatu yang hampir ia lupakan. Ia pun memanggil nomor yang tidak pernah absen ia hubungi di setiap harinya, walau sesibuk apapun dirinya.
"Hari ini, Andin tidak pulang ya mah. Besok ada ujian penting di kampus pagi-pagi sekali."
"Lalu kau menyewa hotel, atau bagaimana?"
"Tidak mah, malam ini Andin tidur di kos nya temanku. Dan mungkin selama beberapa hari besok. Tidak apa-apa kan, mah?"
"Tidak apa-apa, sayang."
"Oh iya, mah. Katakan pada Kak Diana juga Elle, ya? Supaya mereka tidak menungguiku seperti biasa."
Diam. Kumala tak menanggapi permintaan putrinya itu. Andin pun telah memahami perubahan sikap mamahnya yang kerapkali berubah-ubah sejak dua tahun belakangan.
__ADS_1
"Mah, Andin mohon." (pinta Andin)
"Kau bisa mengirimnya pesan langsung, atau bahkan menelepon nya. Mamah sedang sedikit sibuk. Sampai nanti, sayang. Semoga hari-harimu di kampus menyenangkan. Dan segera, menemukan kebahagiaan."
Sambungan telepon diputuskan oleh Kumala. Andin menarik nafas panjang lalu mengeluarkan secara perlahan. Setelah itu, ia meletakkan ponselnya kembali di meja. Dan kembali tenggelam dalam kesibukan di depan laptop kesayangannya.
......................
Senja terlukis sangat indah di atas sana. Tak salah orang mengatakan, bahwa langit memang selalu menyimpan kerinduan untuk sekedar memandang. Pagi, siang, sore, lalu malam. Di bawah senja berlabuh, deburan ombak menghantam batu karang. Hembusan angin yang kian terasa. Seorang perempuan menggenggam erat tangan kekasihnya. Seakan takut kehilangan dirinya barang sejenak saja.
"Kita besok kembali ke Indonesia, ya?"
Kekasihnya itu hanya mengangguk.
"Ya sudah, lebih baik kita kembali pulang, karena hari sudah semakin petang."
"Tunggu sebentar."
"Ada apa?"
"Talita, aku merasakan ada kenangan penting ketika aku memandang senja."
Kenangan penting?
"Benarkah?"
"Yang kau rasakan, adalah rasa setiap mata yang memandang. Aku pun merasakannya. Sesuatu yang membahagiakan ketika melihat senja." (ucap Talita)
Ziban tak menjawab ucapan Talita. Ia masih saja memandang senja dengan penuh makna. Talita mengembuskan nafasnya. Rupanya pilihan untuk membawanya liburan berdua ke pantai adalah pilihan yang salah.
"Mari pulang, kita harus bersiap-siap untuk besok. Aku akan membantu mu berkemas." (ucap Talita)
Mereka berdua pun kembali ke hotel dengan mobil milik Ziban. Melaju dengan kecepatan sedang. Dan ketika tengah dalam perjalanan kembali pulang, Ziban justru membelokkan setirnya.
"Ini bukan jalur ke hotel, kan?" (tanya Talita)
"Iya. Tapi sudah waktunya masuk sholat maghrib. Tidak baik menunda-nunda sholat. Di sekitar sini, ada masjid kecil." (ucap Ziban)
Talita menyedakepkan kedua tangannya lalu memutarkan bola matanya kembali.
Dia melupakan semuanya. Kecuali sholat. Aku memberitahu semua kisah hidupnya sesuai keinginan ku dan berhasil mengubah pandangan hidupnya. Tetapi tidak dengan keimanan nya. Sial.
"Iya sayang, kau benar." (ucap Talita)
__ADS_1
Talita menghadap ke arah Ziban lalu berpura-pura mengulas senyum. Ziban membalas senyuman tipis untuknya.
Setelah lima menit masuk ke dalam gang yang berukuran sedang, mobil berhenti tepat di depan masjid. Ziban turun terlebih dahulu, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Talita seperti biasa.
Tiba-tiba Talita menarik lengan Ziban, hingga terjatuh dan menindih Talita. Talita pun melingkarkan tangannya ke tubuh Ziban.
"Apa yang kau lakukan?!" (pekik Ziban)
Ziban segera melepaskan pelukan paksa dari Talita. Talita enggan untuk melepaskannya. Tetapi tentu saja, kekuatan Ziban lebih besar dibandingkan dirinya yang hanya seorang perempuan. Walau pelukannya sudah terlepas, Talita pun tetap tersenyum puas.
Ziban berpura-pura berdehem lalu memandang ke sekitar, berharap tidak ada yang melihat kejadian tadi. Dan setelah memastikan tidak ada orang, ia segera merapikan bajunya, lalu memandang Talita.
"Jika ada yang lihat, bagaimana?" (tanya Ziban)
"Jangan berlebihan deh, sayang. Jika ketahuan sekalipun, di sini tidak akan ada yang memarahi atau menghukum kita. Ini kota bebas. Hal mesum sekalipun, terjadi dimana-mana." (ucap Talita)
"Apapun alasannya, itu bukan budaya kita,"
"Dan lihatlah, kita sedang ada di depan masjid. Warga sekitar masjid ini pun, kebanyakan adalah Islam."
"Iya sayang, maaf."
Talita mengucapkan maaf dengan sangat ringan. Terlihat ia yang tidak terlalu mengerti arti maaf yang sesungguhnya. Ia sangat acuh dengan ucapan Ziban. Lalu ia merapikan rambutnya dengan jemarinya.
"Sudah ayo, turun. Kita sholat maghrib terlebih dahulu."
"Aku tidak sholat, sayang."
"Benarkah?"
"Tentu. Kenapa? Kau mau lihat, sayang?"
"Tidak, tidak. Bukan itu maksud ku. Maksudnya, sejak kapan?"
Sejak lahir di dunia ini, sayang.
"Sudah-sudah sana masuk ke masjid." (ucap Talita)
Ziban pun mengangguk. Lalu meninggalkan Talita sendiri di mobil. Baru beberapa langkah, Talita kembali memanggilnya. Ziban pun menoleh ke belakang.
"Sampaikan salam ku untuk Tuhan ya, sayang?" (ucap Talita)
BERSAMBUNG...
__ADS_1