
Kabut embun pagi masih menutupi jalanan yang sangat lengang. Hanya terdapat satu atau dua kendaraan yang terlihat melintasi jalan itu. Terlihat beberapa pedagang kaki lima tengah mendorong gerobaknya untuk kembali ke penginapan setelah semalaman mereka bergelut menjual dagangannya.
Di dalam sebuah mobil berwarna hitam, Andin terlihat melamun setelah puas melihat-lihat jalanan di kota pada sepagi ini. Ia berhasil mengingat-ingat kejadian kala itu. Kejadian dua tahun silam sebelum pelepasan dan juga wisuda angkatannya berlangsung tepat kemarin hari. Kejadian yang masih terngiang-ngiang sampai detik ini yang masih meninggalkan seberkas kisah di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Kak Ziban, selamat atas kelulusan dan prestasi yang di raih oleh mu kak."
Ucap Ni'mah antusias ketika Ziban Alkash lewat di hadapannya dan juga Andin. Andin memerhatikan gerak-gerik sosok yang tepat berada di hadapannya itu. Apa yang akan Ziban tanggapi setelah mendengar ungkapan dari Ni'mah temannya itu? Pertanyaan itu tiba-tiba melintas sekelebat di benak gadis cantik Andin.
"Terimakasih, atas ucapannya." (ucap Ziban menyungging senyum)
Lalu Ziban segera melangkahkan kakinya meninggalkan Andin dan juga Ni'mah yang masih mematung di tempatnya.
"Wah, Andin. Apa kau tahu, sebelumnya setiap aku mengucapkan selamat atau hanya sekedar berbasa-basi dengan Kak Ziban, ia pasti selalu melengos tanpa berniat menanggapi ku sedikitpun." (kata Ni'mah)
"Benarkah?"
"Ya Andin. Tentu ini karena mu kan? Dia terlihat berbeda setelah bersamamu Ndin."
Ah sudah cukup. Jangan mengaitkan sesuatu hal mengenai nya dengan diriku. Aku sama sekali tidak ada kaitan dengannya sedikitpun terkecuali karena kontrak yang di buat oleh orang tidak waras itu.
"Memangnya menurutmu seperti itu?"
"Ah kau sepertinya tidak percaya denganku ya. Kau kan tahu aku tidak suka membicarakan sesuatu jika hal itu tidaklah benar. Apa kau tidak melihat tatapannya tadi? Baru kali ini dia sudi menatap ku, Ndin."
"Ya, kau benar. Dia memang sempat menatap mu tadi."
Benar. Benar sekali. Tapi apa kau tidak tahu Ni'mah? Sejak tadi dia bahkan tidak melirik ku sedikitpun. Benar-benar keterlaluan. Dia seperti tidak menganggap adanya diriku di samping mu. Cih! Tapi itu sama sekali bukan kerugian untukku.
"Tapi Ndin..."
"Tapi apa?"
"Sepertinya tadi Kak Ziban terlihat ketus denganmu. Dia bahkan tidak melirik mu sedikitpun. Itu yang aku lihat tadi Ndin, maaf ya."
Aaaaa, benar-benar memalukan. Ternyata Ni'mah menyadari hal yang sama.
"Ahaha, kau ini lucu sekali." (Andin tertawa kaku)
"Sudahlah Ndin. Kau jangan menutupi sesuatu hal kepadaku. Aku tahu, kalian sedang bertengkar kan? Tidak apa-apa Ndin, lagian bertengkar adalah hal yang biasa dalam sebuah hubungan. Nanti juga akan kembali berbaikan seperti sediakala."
Darimana Ni'mah tahu tentang hal seperti itu? Setahuku dia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun.
"Maaf jika ucapanku salah ya Ndin. Itu menurut buku lika-liku asmara yang aku baca kemarin di perpustakaan. Hehe, entah mengapa aku tiba-tiba tertarik dengan buku seperti itu."
__ADS_1
"Ah Ni'mah, kau ini bisa saja haha. Ya, yang dikatakan olehmu memanglah benar."
"Berarti kalian berdua memang sedang bertengkar kan Ndin? Benar dugaanku, ah ya dugaan ku memang jarang meleset."
"Aaaa bukan itu Ni'mah. Maksudnya tentang lika-liku yang kau bicarakan tadi. Tentu saja aku dan Kak Ziban sedang baik-baik saja. Bahkan tadi dia sempat mengedipkan sebelah matanya kepadaku."
"Benarkah seperti itu Ndin?"
"Tentu."
"Ah tidak apa-apa, kali ini dugaanku sedikit meleset. Nanti aku akan membaca lebih banyak buku lagi mengenai kehidupan asmara." (kata Ni'mah sedikit kecewa)
Huft....
Andin mengembuskan nafas lega. Akhirnya Ni'mah percaya dengan kebohongannya.
Ya tentu saja aku sedang berbohong. Bagaimana mungkin Kak Ziban sampai hati berkedip centil kepadaku? Ish, hanya membayangkan nya saja benar-benar membuatku merinding.
Percakapan antara Andin dan Ni'mah purna sudah. Ni'mah terlebih dahulu meninggalkan sekolah karena acara perpisahan kakak kelasnya itu telah usai. Sedangkan Andin memilih untuk tetap berada di MAN 102 Bandung. Ada sesuatu yang harus di kerjakan olehnya.
Ia berjalan pelan sembari menyapu sekelilingnya dengan pandangan matanya yang jeli. Ya, ia terlihat sedang mencari seseorang. Jalan demi jalan ia susuri. Di sekeliling taman sekolah, akhirnya Andin berhasil menemukan seseorang yang sedang dicarinya itu. Ia terlihat sedang berjalan sendirian. Andin pun segera berlari ke arahnya agar seseorang itu tidak melangkahkan kakinya kembali.
"Kak Rinta, tunggu..."
"Kak, sejak tadi aku mencarimu."
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kak."
"Apa kita bisa bicara sebentar saja, kak?"
Hening. Tak ada respon sedikitpun.
"Kak Rinta?"
Ada apa dengannya? Apa mulutnya sedang bau sampah?
Andin pun sejenak terdiam. Ia memicingkan matanya. Berusaha mereka-reka apa yang sedang terjadi. Mengapa Rinta tidak meresponnya dan memilih untuk membelakangi nya seperti itu. Hiruk pikuk alunan musik yang sejak tadi Andin dengar pun tiba-tiba senyap. Tak terdengar sedikit pun. Sepertinya acara memang sudah benar-benar usai. Dan di taman sekolah pun sudah tidak ada siapapun yang melintas. Hanya ada Andin dan Rinta yang masih terus saja membelakangi Andin.
"Kak Rinta, aku sedang berbicara denganmu. Mengapa kau diam saja, kak?"
"Kak Rinta?"
"Bicara saja, cepat." (jawabannya datar)
__ADS_1
"Apa sebaiknya tidak dibicarakan di tempat yang lebih nyaman saja kak? Ini kan di taman, masa..."
"Ehem."
Rinta berdehem keras. Mungkin itu adalah tanda agar Andin segera mengatakan apa maksud tujuannya memanggilnya.
"Ah ya baiklah kak. Ini mengenai kontrak dengan Kak Ziban. Bukankah ini sudah berakhir? Aku mau menandatangani berakhirnya surat kontrak itu kak. Aku hanya ingin memastikan bahwa perjanjian itu telah usai dan tidak akan ada makna apapun setelahnya. Boleh ku tanda tangani berakhirnya kontrak itu sekarang juga kak?"
Suara sepatu pantofel yang berketukan dengan jalan setapak di taman MAN 102 Bandung terdengar berirama menjauhi Andin.
Hei, kau belum menjawab pertanyaan ku kak! Ah, jadi begitu kah yang dilakukan oleh kakak senior kepada juniornya? Memalukan!
Dalam kamus hidup Andin, rasanya sangat tidak afdhol jika tidak mengutuk seseorang yang menurut penelitian Andin sangat menyebalkan. Andin pun mengutuki Rinta di sepanjang perjalanan nya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap tidak sopan senior kepada junior nya.
Memangnya dia keren sekali? Memangnya dia siapa?
Geram, kesal, dan ingin menelan habis seseorang. Itulah yang di rasakan Andin sekarang ini. Ia mengambil botol air mineral yang masih tersisa di dalam ransel hitamnya, berjongkok, lalu meneguk isinya sampai tandas. Karena kondisi hatinya yang tidak karuan itu, Andin membuang ke sembarang tempat bekas botol itu. Padahal itu bukanlah kebiasannya.
Semua orang begitu menyebalkan!!!
PRAKK!!!!
Aaah!!!
Tubuh Andin bergetar hebat karena mengetahui bahwa botol plastik hasil tendangannya gol secara sempurna di kepala seseorang. Benar-benar tak disangka-sangka botol plastik nya akan mengenai orang yang sedang Andin kutuki sejak tadi beserta Rinta.
Bukankah itu Kak Ziban? Astaga, kenapa harus tepat sasaran si. Biasanya kan tidak pernah. Aaaa, aku tidak melihat ada orang di sekeliling ku.
"Hei man, kau tidak apa-apa? Sepertinya Andin mu itu berbakat menendang." (ucap Raditya meledek)
Andin tidak mendengar apapun yang dibicarakan oleh Raditya. Ya, tentu karena jarak mereka yang tidak terlalu dekat. Hanya saja, mereka dapat saling melihat satu sama lain.
Ah ya ampun, mati aku. Bisa-bisa aku akan di hukum lagi olehnya. Aaaa, aku tidak mauuu. Kenapa Kak Ziban melihat ke arahku dengan tatapan mengerikan seperti itu. Apa aku kabur saja ya?
"Kau baik-baik saja man?"
Ucap Raditya lagi dan mengangkat tangannya untuk melihat bagian yang terkena timpukan botol plastik tadi. Tetapi sebelum Raditya memegang kepala Ziban, ia mengibaskan tangan Raditya dan berlalu pergi menjauh tanpa berkata sepatah katapun. Hal itu membuat Andin bingung.
Andin memicingkan matanya setelah melihat Raditya yang berjalan dan mendekat ke arahnya.
"Andin, kau harus tahu sesuatu." (ucap Raditya lirih)
BERSAMBUNG...
__ADS_1