Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Panggil Saja, Mamah


__ADS_3

Suara ketukan bolpoint bergesekan dengan meja dalam hening terdengar sedikit berirama. Zidan Haq memang kerap kali terlihat gelisah seperti itu jika ia tengah sendirian. Entah hal apa yang selalu membuat Zidan Haq termenung sendirian seperti itu. Beberapa kali pula ia terlihat mengacak rambutnya dengan wajah yang tak bisa di tebak oleh siapapun.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan lebar tanpa mengetuk pintu sekalipun. Zidan segera mengarahkankan padangan matanya ke seseorang yang tengah berdiri angkuh di ambang pintu.


"Hai, mengapa wajah mu terlihat terkejut seperti itu? Apa kau tidak ingin mempersilakan mamah mu ini untuk masuk, anakku sayang?"


Ibu tiri Zidan segera melangkahkan kaki angkuhnya mendekati Zidan yang tengah duduk di kursi empuknya.


"Mengapa kau menunduk seperti itu anakku sayang? Apa kau tidak ingin melihat penampilan mamah mu yang sangat cantik ini?"


Ucap Olive kepada Zidan yang masih menunduk sembari menggerakkan jemari lentiknya ke wajah Zidan. Hal itu refleks di singkirkan dengan mentah-mentah oleh Zidan. Tentunya Olive hanya tersenyum dan segera duduk di kursi persis di hadapan Zidan.


"Bagaimana keadaan ayah di rumah?! Apa kau menjalankan tugasmu sebagai istrinya dengan baik?"


"Tidak bisakah kau berkata lebih manis di depan mamah mu ini sayang?"


"Pulanglah ke rumah, temani ayahku di sana. Kumohon."


Gebrakkk!!!


"Tidak usah mengatur apa yang harus aku lakukan! Memangnya siapa yang mau merawat orang sakit sepertinya hah?!"


Zidan diam tak bersuara. Ia menahan amarahnya kepada ibu tirinya itu. Olive pun kembali bangkit dari duduknya dan segera mendekati Zidan.


"Kau bahkan lebih tampan dan menarik dari ayahmu yang sedang sakit itu.." (kata Olive sembari memijat pelan pundak Zidan)


"Apa kau lupa sayang, hanya aku lah yang mengetahui rahasia mu." (sambungnya lagi)


Zidan menelan salivanya pelan. Lalu segera menurunkan tangan Olive yang berada di pundaknya perlahan.


"Apa kau sudah selesai berbicara? Pintu keluar ada di sebelah sana, silakan keluar."


Tukas Zidan kepada ibu tirinya sembari menunjukkan pintu keluar kepadanya.


"Heh! Kau sama seperti adik nakal mu itu. Sangat tidak sopan. Bisa-bisanya mengusir mamahnya sendiri. Aku bahkan belum mengatakan apa tujuanku!"


"Katakan apa tujuan mu datang menemuiku di sini? Apa kau meminta uang seperti biasa?"


"Tentu saja karena uang."


"Benar-benar menyedihkan. Uang dari ayah bahkan sudah jauh lebih dari cukup. Rupanya kau pun memeras ku juga."


"Selama kau menuruti semua keinginanku, maka rahasia mu akan aman bersamaku. Ingat itu!" (jawab Olive menyeringai)


Zidan kembali menghembuskan nafasnya berat. Lalu ia mengambil kertas cek di loker meja nya. Terlihat Zidan yang menggoreskan tinta di secarik cek itu dengan nominal seperti biasanya. Olive melihatnya yang tengah menuliskan nominal angka untuknya segera mencegah.


"Eh, berhenti! Kali ini aku hanya mau 650 juta saja."


650 juta? Baru beberapa hari kemarin kau meminta uang padaku kan? Apa kau akan membeli suatu pulau kepada pemerintah, hah?!


Lagi-lagi Zidan hanya mengembuskan nafasnya. Lalu ia segera menuliskan angka yang Olive minta. Setelah selesai menulis nominalnya, ia segera menyodorkan kertas cek itu kepadanya. Olive pun menerimanya dengan senang hati lalu segera keluar dari ruangan Zidan.

__ADS_1


Perempuan itu selalu mengancamku dengan alasan yang sama! Memangnya apa salahku?


KRING...KRING...KRING...


Dering telepon kantor di mejanya berbunyi keras memekakkan telinga Zidan.


"Halo.."


"Halo Zidan, aku telepon di ponsel mu tetapi tidak di jawab sejak tadi."


"Ah, assalamualaikum Nyonya Kumala. Maaf ya tadi saya agak sibuk hehe."


"Waalaikumsalam nak. Hemm, kau memang selalu bekerja keras. Dan satu lagi, jangan terbiasa memanggil ku nyonya yaa nak Zidan. Aku kan mamahnya Andin."


"Jadi saya harus panggil anda siapa nyonya?" (tanya Zidan sedikit tertawa)


"Panggil mamah juga tidak apa-apa kok."


Betapa salah tingkah nya Zidan mendengar jawaban Kumala, mamah Andin.


"Ah, belum saatnya nyonya. Jika nanti memang ditakdirkan pasti akan terwujud dengan sendirinya."


"Hahaha bisa saja kau ini nak."


Kumala terkekeh mendengar jawaban dari Zidan Haq. Ia tidak menyangka rupanya Zidan sangat asik diajak berbicara.


"Ada apa tumben anda menelepon saya di siang bolong seperti ini. Atau mungkin ada sesuatu yang penting?"


Zidan Haq terdiam sejenak. Mengingat beberapa hal yang terjadi kepada Andin beberapa minggu terakhir. Mulai dari Andin yang pingsan di lapangan ketika upacara bendera, lalu dengan yang lainnya. Tetapi ia urung untuk berbicara kepada Kumala atau bahkan Arga. Itu karena ia takut ia akan disalahkan dalam hal ini. Ia takut Kumala dan Arga akan mengecapnya tidak mampu dalam menjaga putri semata wayangnya itu.


"Halo, Nak Zidan? Mengapa diam saja? Andin baik-baik saja kan?"


Zidan Haq segera tersadar.


"Ah tentu saja Andin baik-baik saja disini nyonya. Anda tidak perlu mengkhawatirkan nya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaganya."


"Baiklah nak Zidan. Aku percaya padamu. Titip Andin ya nak. Silakan lanjutkan pekerjaanmu."


"Terimakasih sudah mempercayai saya nyonya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh nak."


Telepon diputus. Zidan Haq mengulas senyum. Lalu segera menelepon sekretaris di kantornya. Telepon langsung diangkat tanpa Zidan Haq menunggu lama.


"Selamat siang Tuan Zidan, ada yang bisa saya bantu?"


"Handle semua meeting hari ini. Aku sedang ada urusan lain."


"Baik Tuan Zidan. Saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini."


"Baik, terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama, tuan. Semoga hari anda menyenangkan."


Percakapan selesai. Zidan Haq beranjak pergi dari ruangan kantornya itu menuju ke MAN 102 Bandung. Ia masuk ke dalam mobil sport nya lalu mengemudi dengan kecepatan sedang dan membelah jalanan.


Setelah memakan waktu yang sedikit lama, akhirnya Zidan Haq sampai di MAN 102 Bandung. Ia langsung menuju ke suatu tempat. Ya, perpustakaan.


Aku yakin Ziban sedang berada di sana. Aku harus bertemu dengannya dan berbicara kepadanya mengenai keadaan ayah setelah Ziban meninggalkan rumah.


Zidan menuju ke perpustakaan dengan melangkahkan kakinya sedikit cepat. Semua yang bertemu dengannya di jalan terlihat menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Sesampainya di perpustakaan, ia tidak melihat siapapun berada disana. Ia jadi semakin yakin bahwa adiknya sedang berada di dalam ruangan rahasia itu.


Eh, Ziban terdengar seperti sedang mengobrol dengan seseorang. Sepertinya Ziban di dalam tidak sendirian.


Ketika Zidan akan mengetuk pintu, tiba-tiba seseorang datang mencegah nya.


"Permisi Tuan Zidan, sedang apa anda disini?" (tanya Rinta sedikit gugup)


"Aku ingin menemui Ziban. Dia sepertinya sedang berada di dalam dengan seseorang."


"Ah Kak Ziban sedang sendirian di dalam tuan."


"Tidak, Rinta. Ziban sedang bersama seseorang di dalam. Tadi aku mendengarnya berbicara kepada seseorang."


"Jika tidak percaya, silakan anda masuk saja tuan."


"Memang itu yang akan aku lakukan jika kau tidak mengganggu ku dari tadi."


"Hehe maafkan saya tuan."


Rinta mengembuskan nafas lega karena ia berhasil sedikit mengulur waktu. Mengingat seberapa gugupnya tadi ketika melihat Zidan Haq memasuki area perpustakaan. Ia pun segera mengirim email ke ponsel baru Ziban Alkash berisi bahwa Zidan Haq, kakaknya memasuki area perpustakaan.


Zidan mengetuk pintu, lalu tanpa menunggu lama Ziban membuka pintunya menggunakan remot otomatis.


"Kenapa kau kesini bang?"


"Kau sedang bersama siapa? Tadi aku mendengar mu berbicara dengan seseorang." (kata Zidan bertanya balik)


"Apa bang? Aku? Sejak tadi aku sedang menelepon Sekretaris Chan."


"Oh begitu. Ada sesuatu yang penting mengenai ayah."


"Sudahlah bang. Jangan membahasnya lagi."


"Ayah sakit Ziban..."


Ziban diam sejenak. Memejamkan matanya lalu menelan salivanya perlahan.


"Duduk dulu bang, sejak tadi kau berdiri di situ. Apa kau harus mendapatkan izin dariku terlebih dahulu untuk mendapat tempat duduk yang bahkan di sekolah milik mu sendiri?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2