Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Tampar Aku, Ayah...


__ADS_3

Serpihan piring elok nan mahal berhamburan di setiap jengkal lantai. Terlihat Atta yang tengah melototkan kedua matanya tajam sembari memegang dadanya yang naik turun tak karuan usai memarahi putranya, Ziban. Ziban pun hanya berdiam diri di kursinya tanpa menghiraukan luapan emosi ayahnya yang selalu tertuju kepadanya akibat ulah ibu tirinya.


"Apa kau tidak bisa sekali saja menghargai Olive sebagai ibu tirimu? Apa itu sangat sulit untukmu?!"


"Bukan hanya sulit. Tetapi menerimanya dalam kehidupanku adalah hal yang mustahil."


Ungkap Ziban berterus terang di depan ayahnya. Hal itu tentu membuat emosi Atta semakin menjadi-jadi. Tetapi ia segera menahan emosinya yang membuncah dengan mengelus dadanya berkali-kali sembari menghembuskan nafas keras.


"Cepat pergi ke kamar mamahmu dan segera meminta maaf kepadanya.."


"Aku sama sekali tidak bersalah. Dia hanya sedang menjalankan perannya sebagai ratu drama terbaik di rumah ini."


Lagi-lagi Ziban mengungkapkan isi hatinya dengan berterus terang. Sedangkan Zidan Haq, kakaknya Ziban yang sedari tadi hanya diam khidmat mendengarkan persilatan lidah antara adiknya dan ayahnya, tiba-tiba menyentuh pundak Ziban. Itu ia lakukan setelah melihat Atta semakin mencengkram kuat dadanya. Tentu Zidan Haq tak ingin pertengkaran antara mereka semakin memanas. Oleh karena itu ia berusaha memberi kode kepada Ziban untuk berhenti menanggapi sang ayah dan berhenti berkata-kata lagi. Karena itu akan membuat sang ayah akan semakin marah. Di luar dugaan Zidan, biasanya ketika ia menasihati adiknya maka adiknya pun akan menurut. Kali ini tidak. Justru Ziban menyingkirkan tangan kakaknya yang berada di pundaknya. Seperti mengatakan..


"Jika kali ini kau tak berniat membelaku, maka kau diam saja bang! Biarkan aku yang akan memberitahu ayah bahwa kita sangat membenci istri tercintanya itu."


"Memangnya apa kesalahan Olive? Dia sudah berbaik hati mau menjadi ibu sambung untuk kalian berdua." (tukas Atta menghadap kedua anaknya secara bergantian)


"Hahaha, mengapa ayah bertanya hal konyol seperti itu?"


Atta mengernyitkan keningnya. Begitupun dengan Zidan.


Kumohon jangan berkata apa-apa lagi di hadapan ayah. (batin Zidan)


"Jangan membuat air semakin keruh, Ziban!!" (kata Atta)


"Apa yang kau katakan ayah? Air sudah sangat keruh. Dan tak akan pernah kembali jernih kecuali hama itu lenyap dari dunia ini!!!"


Plaakkkkkkkk!!!!!!!


Tamparan keras mendarat di pipi kanan Ziban Alkash yang putih bersih. Hal itu membuat Zidan Haq tercengang melihat pemandangan di hadapannya itu. Dimana melihat pertengkaran yang semakin sengit antara ayahnya dan adiknya.


"Sekarang tinggal pipi kiri. Ayo ayah angkat tanganmu kembali."


Plaakkkkkkkkk!!!!!!!!


Tamparan hebat kembali mendarat di pipi kiri Ziban Alkash.


"Cukup ayah!! Cukup!! Hentikan!!"


Zidan Haq yang tak kuasa melihat memar di di wajah adiknya segera memegang kendali kuat-kuat tangan Atta yang hendak memukul Ziban ketiga kalinya.


"Lepaskan tangan ayah, Zidan! Biarkan ayah memberi pelajaran kepada anak yang tidak tahu diri ini!"


"Siapa yang tidak tahu diri?! Yang tidak tahu diri sesungguhnya adalah hama mu itu!! Dia yang telah mengambil alih hati ayah hingga kau tega menceraikan ibu hanya demi hama pengganggu itu!! Dan tidak ada yang lebih kejam lagi selain seorang ayah yang dengan sengaja menjauhkan anaknya dengan ibu kandungnya sendiri!!!"

__ADS_1


"Kau bahkan tega bermain di belakang ibu ketika ibu sedang mengandung ku!! Apa kau tidak memiliki hati nurani sedikitpun kepadanya hah?!"


Luapan emosi Ziban tak dapat dibendung lagi. Ia mengatakan sesuatu yang selalu mengganjal di dalam dirinya dengan sangat membara. Mendengar tutur kata Ziban, Atta terduduk pasrah di kursi sembari memegang dadanya yang terasa semakin sesak.


"Jika kau menginginkan aku pergi dari rumah ini, katakan saja. Karena tanpa disuruh oleh ayah pun aku akan dengan senang hati meninggalkan rumah ini. Berbahagialah bersama istri tercinta ayah!!"


Ziban melangkahkan kaki penuh emosi pergi meninggalkan rumah. Nafas Atta semakin tidak teratur. Ia masih memegang dadanya erat. Seperti menahan rasa sakit yang luar biasa. Zidan pun segera menyangga ayahnya yang terlihat sangat kesakitan.


"Ziban, tolong jangan pergi..."


Lirih Atta sebelum kegelapan mengalihkan pandangannya. Seketika tangan Atta tak memegang dadanya kembali. Dan segera disangga dengan sempurna oleh Zidan Haq.


"Ayah, kau kenapa??? Pelayan cepat segera panggil dokter ke rumah ini!!!!"


......................


"Mari ikut saya keluar sebentar, Tuan Zidan. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."


Dokter yang telah memeriksa Atta segera meminta Zidan untuk ikut keluar bersamanya untuk membicarakan sesuatu hal. Zidan pun menatap hangat sosok ayah yang tengah terbujur lemah di ranjangnya sebelum ia mengiyakan permintaan dokter itu.


Setelah sampai di luar kamar Atta...


"Maaf dokter, apa kau bisa menunggu ku di ruang kerja ku saja? Ada sesuatu hal penting yang harus ku urus sebentar saja. Hanya beberapa menit, aku janji."


"Baiklah tuan. Sama sekali tidak masalah. Pergilah dan urusi urusan anda. Saya akan menunggu di ruang kerja anda."


"Dimana Olive? Kan aku sudah menyuruh mu untuk memanggilnya?!"


Pelayan laki-laki terlihat gemetaran mendengar Zidan Haq yang memang tidak pernah menaikkan nada bicaranya sebelumnya. Itu berarti kali ini ia benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


"Emm...maaf tuan. Tadi saya sudah menyampaikan yang tuan perintahkan kepada saya untuk Nyonya Olive."


"Berarti Olive sudah mengetahui bahwa suaminya tengah terbaring lemah kan?!"


"Emm, iya tentu tuan. Tetapi ketika saya mengatakan kepadanya ia hanya mengedikkan bahunya acuh. Dan.."


"Dan apa?! Jangan berusaha menutup-nutupi sesuatu hal sedikitpun. Atau kau mau aku pecat!"


"Dan Nyonya Olive mengatakan bahwa ia tidak akan pernah sudi merawat orang yang tengah sakit. Setelah itu ia beranjak pergi keluar entah kemana. Seperti itu tuan. Nyonya Olive memang selalu mengancam semua pelayan di rumah ini yang berani mengadukan kepada Tuan Atta mengenai sikap buruknya di rumah ini."


Terlihat Zidan Haq yang mengepalkan tangannya geram. Lalu ia segera pergi menuju ruang kerjanya menepati janjinya kepada dokter untuk berbicara empat mata.


"Maaf telah membuatmu menunggu, dok."


"Ah tidak masalah tuan." (jawab dokter tersenyum tulus)

__ADS_1


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"


"Begini Tuan Zidan Haq, ini mengenai keadaan Tuan Atta. Hemm..."


Zidan terlihat antusias dalam menanti penjelasan dari sang dokter.


"Tuan Atta hanya terlihat kelelahan hingga ia sampai kehilangan kesadarannya. Tidak ada yang perlu anda cemaskan."


Zidan Haq menghela nafas lega setelah mendengar penjelasan dokter yang mengatakan bahwa ayahnya tidak mengalami sakit yang serius.


"Tetapi tuan...ada sesuatu hal lagi yang perlu saya bicarakan kepada anda."


Ungkap sang dokter kembali dengan mimik wajah yang tak dapat ditebak. Zidan Haq pun tak bisa menyembunyikan ketegangannya yang muncul kembali.


"Ayah anda..."


Tok..tok..tok..


Tiba-tiba suara ketukan pintu ruang kerja Zidan Haq terdengar jelas. Membuat pembicaraan antara mereka berdua terpaksa dihentikan.


"Sebentar dok, biar aku lihat siapa yang mengetuk pintu."


"Baiklah, tuan silakan."


Zidan Haq segera membuka pintu melihat siapa yang tengah menganggu pembicaraan seriusnya dengan dokter.


"Mohon maaf telah menganggu anda tuan. Ketika saya sedang mengambil buah-buahan dan menggantinya dengan yang fresh di kamar Tuan Ziban, saya menemukan handphone Tuan Ziban yang berada di kamarnya, tuan." (ucap pelayan wanita sembari mengulurkan ponsel yang ia genggam)


Ah, anak itu. Pantesan saja dipanggil berkali-kali tak dijawab. Pergi kemana anak itu sekarang.


"Baiklah, terimakasih bi. Kau boleh kembali melanjutkan pekerjaan mu."


Zidan Haq kembali menutup pintu. Lalu ia siap mendengarkan penjelasan dari dokter.


"Begini Tuan Zidan, ketika saya memeriksa di bagian dada Tuan Atta, saya melihat luka memar di bagian dadanya."


"Luka memar dok?! Bagaimana mungkin?!"


"Itu seperti bekas pukulan luar biasa yang menghantam nya, tuan. Dan saya yakin memar itu adalah pukulan keras yang menumpuk berkali-kali. Dan itulah yang membuat Tuan Atta selalu memegang dadanya."


"Apakah itu sangat berbahaya dok?"


"Tentu akan sangat berbahaya jika memar itu tak kunjung sembuh. Itu akan membuat dadanya mengalami sakit yang luar biasa."


Ada apa denganmu ayah? Siapa yang melakukan hal seperti ini kepadamu? Dan mengapa kau diam saja?!

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2