
Pagi menjadi siang. Siang menjadi sore. Sore menjadi malam. Begitupun seterusnya. Hari-hari berlalu, bulan demi bulan terlewatkan. Rotasi kehidupan pun selalu berputar hari demi hari. Menjalankan perannya atas segala situasi. Hidup seorang diri, atau sang terkasih. Semua perlu disyukuri dengan penuh terimakasih. Maka mereka termasuk manusia terbaik yang terpilih.
Sebuah perjalanan hidup. Adakalanya, terang lalu redup. Adakalanya, mekar lalu mengatup. Adakalanya, berani lalu takut. Dan adakalanya, hidup lalu maut.
Suatu kehebatan, bagi mereka yang mampu menerima segala situasi yang tak memihak. Dengan berdiri, mendongak, lalu bergerak. Menatap dunia dengan mimpi yang mengarak.
"Andin! Ayo, cepat. Jika tidak, kita akan terlambat."
Meta berteriak di depan kosnya. Memanggil-manggil nama sahabatnya tersebut. Seseorang berkacak pinggang di ambang pintu.
"Heh! Apa kau tidak bisa diam. Ini kos-kosan bukan di hutan tempat mu tinggal." (ucapnya)
"Apa masalah mu? Kau tidak tahu, hari ini sahabatku itu akan di wisuda dengan predikat summa cumlaude." (ucap Meta)
"Itu sahabat mu, kan? Itu bukan kau. Lalu kenapa kau terlihat sangat bangga."
"Itu karena aku adalah sahabat nya yang baik. Ah, sudahlah lebih baik kau kerja sana. Kau tidak akan mengerti semua yang ku ucapkan. Karena apa? Tentu karena kau tidak memiliki sahabat."
Terlihat Andin yang mulai datang. Sedangkan perempuan yang berbicara dengan Meta, berjalan pelan. Ketika telah mendekati Meta, seorang perempuan tersebut membisikkan kata-kata.
"Sahabat mu itu, ku akui sangat hebat. Dia memiliki masa depan yang sangat cerah. Sedangkan kau hanyalah waiters amatir di restoran kecil. Sungguh memilukan."
Meta mengepalkan tangannya. Perempuan tersebut pun segera berlari berangkat kerja. Ia tentu hendak menghindari kemarahan Meta.
Andin mendekati Meta. Ia mulai memakai sepatu heelsnya.
"Kalian bertengkar lagi?" (tanya Andin)
"Ya begitulah."
"Kalian tidak pernah berhenti bertengkar. Aku yakin, sebenarnya kalian saling memerhatikan, menyayangi, dan mengasihi."
Mendengar ucapan Andin, Meta berdecih keras. Ia tentu tidak menyukai ucapan Andin. Tetapi ia, langsung melupakan akan hal tersebut. Mengingat, dirinya. Mengingat ia yang telah menunggu lama sahabatnya itu.
"Kau ini lama sekali, Ndin. Kau tahu, aku sudah siap sejak tadi."
Andin menyedakepkan kedua tangannya.
"Aku yang di wisuda. Tetapi, kenapa kau yang terlihat sangat bersemangat."
Meta mendengus kesal, karena tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Sudahlah, ayo cepat. Aku sudah menyewa angkutan pribadi. Lihatlah. Hanya kita berdua saja yang akan menjadi penumpang nya."
Meta menunjuk ke arah depan kosnya, yang sudah terparkir sebuah angkutan umum.
"Kenapa sampai menyewa angkutan?" (tanya Andin)
Meta mengipasi wajahnya, yang mulai kegerahan karena panas dan berkeringat.
"Lihatlah, kau berdandan anggun seperti ini. Kau bahkan memakai heels 22 cm."
__ADS_1
Andin terkekeh dengan ucapan Meta. Tetapi tak dapat dipungkiri, ia sangat senang dengan persiapan Meta hanya untuk dirinya, di hari istimewanya. Ia tahu, Meta harus membayar biaya naik angkutan tersebut beberapa kali lipat karena di sewa khusus.
"Jika kita naik angkutan umum dengan berdesak-desakan, maka telinga ku akan sakit. Kau pasti akan mengeluarkan segala unek-unek mu ketika berdesakan, kepadaku."
"Meta ku ini, sangat romantis."
Andin dan Meta pun, segera naik ke angkutan tersebut. Selama perjalanan, mereka berdua terus saja berbicara. Ada banyak hal yang memang dibicarakan antara sahabat. Hal penting ataupun tidak, itu bukan syarat utama.
Dalam perjalanan menuju kampus, tidak ada kendala sedikitpun menghalangi mereka. Tidak ada kemacetan yang biasanya kerapkali menghantui pengguna jalan. Entah mengapa, semuanya terasa mempermudah jalan mereka.
Setelah beberapa saat perjalanan, angkutan tersebut pun berhenti di depan kampus. Meta lah yang turun terlebih dahulu.
"Bang, dia yang bayar ya."
Meta memberitahu pada sopir angkutan tersebut, sembari menunjuk ke arah Andin yang terlihat hendak turun. Sopir angkutan tersebut pun memangguk. Sedangkan Andin menggerutukkan giginya.
Dasar, sahabat tidak tahu diri!
Andin segera membayar biayanya. Lalu Andin berjalan lebih cepat terlebih dahulu. Meninggalkan Meta yang masih menyapukan pandangannya ke sekeliling kampus.
"Hei, tunggu, Ndin!"
Meta mengejar Andin. Seketika, ia menyadari mengapa Andin bersikap seperti itu kepadanya.
"Hehe, ayolah Ndin. Kau tahu, gaji ku tidak terlalu besar. Aku harus menghemat supaya dapat bertahan hidup. Aku bahkan harus memberikan empat puluh persen gaji ku untuk orangtuaku. Kau bahkan tidak pernah kekurangan uang sedikitpun."
"Hemm, sudahlah. Kau selalu membicarakan hal itu."
Mereka berdua berjalan dengan saling berangkulan. Seperti mengatakan pada semua, bahwa mereka berdua adalah sahabat yang tak terpisahkan. Seperti berniat, membuat semua mata yang memandang menjadi iri.
Persahabatan mereka, yang sempat muncul kekakuan telah cair kembali. Dahulu. Beberapa masalah diantara mereka yang membuatnya persahabatan mereka sempat hancur. Kembalinya sahabat yang saling membutuhkan tersebut, mereka berdua benar-benar bersyukur.
Setelah sampai di depan ruang tempat berkumpulnya mahasiswa mahasiswi yang akan di wisuda, Meta memberhentikannya langkahnya.
"Andin..."
Andin terlihat bingung, mengapa Meta berhenti.
"Apa?"
"Sebaiknya aku di luar saja."
Meta memundurkan beberapa langkah kakinya. Sedangkan Andin tidak akan mendengarkan alasan Meta sedikitpun. Ia menarik paksa Meta. Meta hanya menghembuskan nafasnya. Pasrah.
Semua yang hendak di wisuda bersamaan dengan Andin, mengucapkan selamat beribu-ribu kebanggaan penuh cinta padanya.
Andin menerima dengan hati yang terbuka semua ucapan selamat kepadanya. Meta melihat semuanya. Mata Andin yang berbinar-binar, wajah yang berseri-seri, serta bibir tipisnya yang tak berhenti tersenyum.
Pada akhirnya, seseorang yang benar-benar berusaha tidak akan pernah dikecewakan. Kebahagiaan mu sedang di mulai, Ndin. Nilai atas ujian-ujian mu dahulu, sudah diumumkan. Tuhan telah mengumumkan hasil ujian mu. Hasil doa serta usaha mu. Dan, kau pantas mendapatkannya.
Meta duduk di kursi yang sudah di sediakan. Ia masih mengamati sahabatnya. Beberapa saat, Andin duduk di sebelah Meta. Tentu, setelah ia menerima semua ucapan-ucapan selamat dari wisudawan wisudawati lainnya.
__ADS_1
"Ndin, papah dan mamah mu belum juga datang?" (tanya Meta)
"Mungkin sebentar lagi." (jawab Andin)
Mereka terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya, Meta kembali mengangkat suara.
"Kau pasti sangat bahagia kan, Ndin."
Andin menatap Meta dengan tatapan sahabat kepadanya. Ia mengerti arah pembicaraan Meta.
"Percayalah, kesuksesan tidak hanya diraih bagi mereka yang duduk di bangku kuliah. Berjanjilah padaku, bahwa kau akan sukses suatu saat nanti dengan caramu. Janji?"
Meta menghembuskan nafasnya berat. Ia tentu tidak akan mengambil janji tersebut. Hidup dengan selayaknya, dan tidak ada yang menginjak-injak nya, adalah mimpi nya.
Andin masih menunggu Meta berjanji. Tetapi setelah beberapa saat, Meta masih terdiam. Andin memahami sahabatnya tersebut, tanpa Meta harus mengucapkannya dengan mulut.
"Baiklah, aku yang akan berjanji."
Meta menatap Andin tidak mengerti.
"Berjanji apa?"
"Aku akan menjodohkan mu dengan laki-laki yang kaya."
Meta mendorong bahu Andin pelan. Ia tidak menyetujuinya. Ia benar-benar bergidik ngeri.
Mungkin benar ucapannya, bahwa dia akan menjodohkan ku dengan laki-laki yang kaya. Tetapi aku yakin, laki-laki yang di maksud adalah laki-laki tua renta yang pantas ku panggil kakek buyut. Aku tahu pikirannya!
Beberapa saat pun berlalu. Andin sudah nampak menawan dengan seragam wisudanya. Ia duduk di baris terdepan bersamaan wisudawan wisudawati yang berprestasi lainnya, di setiap fakultas. Acara wisuda sudah di mulai sejak tadi di ruang wisuda yang sangat luas. Andin hanya tinggal menunggu gilirannya di panggil. Ia menggigiti kukunya. Kedua orangtuanya tak kunjung datang. Ia celingukan mencari-cari kedua orangtuanya.
Deg!
Namanya di panggil. Ia di panggil sebagai pemegang IPK terbesar fakultas psikologi. Beserta ucapan kebanggaan atas pihak kampus terhadap dirinya.
Andin benar-benar kecewa dengan kedua orang tuanya. Ia menghembuskan nafasnya. Ia menaiki panggung dengan lemas. Harapannya untuk di dampingi kedua orangtuanya, sudah pupus.
Tetapi, ketika Andin menerima penghargaan, tiba-tiba seseorang naik ke atas panggung. Ia benar-benar terkejut dengan siapa yang dilihatnya.
Ia menunjuk ke samping panggung. Andin melihat ke arah yang di tunjuk orang tersebut. Seketika Andin tersenyum lebar.
Semua keluarga ku!
Andin melihat Arga, Kumala, Helen, Rossie, Elle. Ah, iya, Diana dan Zidan yang menggendong bayi kembar laki-laki mereka.
Andin kembali menatap kaki-kaki di hadapannya itu. Ia semakin tersenyum melihatnya. Melihatnya berdiri di hadapannya. Di hari wisudanya. Di saat, ia mendapatkan penghargaan.
"I'm so proud of you, Putri Senjani ku."
Ziban Alkash menyodorkan bunga mawar yang terselip di saku jasnya. Semua mata memandang terbawa perasaan mereka masing-masing. Sedangkan mata Andin berkaca-kaca. Meyakinkan dirinya, bahwa kali ini mimpi nya memang benar-benar nyata.
"Menikahlah denganku, dan menghabiskan sisa umur bersamaku. Aku memaksamu. Karena apa? Karena aku masih memiliki tujuh permintaan kontrak yang dulu belum kau penuhi."
__ADS_1
BERSAMBUNG...