
Hari pertunangan Ziban Alkash dan Talita Arifa tiba. Acara pertunangan di selenggarakan di sebuah aula hotel sesuai keinginan Talita. Kesibukan sudah terlihat di aula tersebut.
Sedangkan di dalam kamar, seorang wanita yang memakai dress mini, terlihat mondar-mandir sembari memegang ponselnya. Ia tengah menunggu kedatangan seseorang yang tak kunjung datang. Sudah berkali-kali ia menghubungi Ziban. Hari ini, Ziban benar-benar tidak menghubungi kembali Talita. Ia kembali mengirimkan pesan kesekian kalinya padanya.
"Satu jam lagi, acara akan segera dimulai. Kau juga harus bersiap-siap kan? Cepatlah datang, sayang."
Talita menggigiti bibirnya sendiri. Ia masih mondar-mandir resah. Tiba-tiba pintu terbuka.
"Kenapa putri papah terlihat khawatir seperti ini?" (tanya Bram)
"Calon suamiku belum datang juga, pah."
Bram memegangi kedua pundak Talita. Ia menuntun putrinya untuk duduk di sofa.
"Tenanglah. Bukankah Ziban tidak pernah membantah mu? Dia selalu menuruti semua kemauan mu, kan?"
Talita menatap Bram. Pendukung terbaik dalam hidupnya. Bram selalu menuruti segala keinginan putrinya tersebut. Ia selalu mengikuti semua yang Talita putuskan. Termasuk keputusannya, yang keluar dari ajaran agama Islam sejak lama. Bram mengikuti nya.
"Aku tidak mempercayai kepercayaan dari manapun. Aku tidak mempercayai adanya Tuhan. Dan aku tidak mempercayai adanya kebaikan,"
"Papah mengikuti semua keinginanku. Walau papah tahu, papah harus kehilangan mamah. Mamah akan pergi, jika papah meninggalkan agama. Dan mamah benar-benar melakukan itu."
Talita memeluk Bram. Bram mengelus lembut rambut putrinya.
"Kau tahu, papah dan mamah sebelumnya memang kerapkali bertengkar. Papah tidak menyesalinya. Yang terpenting saat ini adalah, putri papah akan bertunangan dan menikah dengan orang yang sangat dicintainya. Kau pasti akan sangat bahagia, kan?"
Talita mengangguk mantap masih di dalam pelukan Bram.
"Kau meminta papah untuk mengundang banyak tamu, tetapi kau selalu memeluk papah seperti ini. Sudah lepaskan. Papah harus menyambut tamu-tamu yang mulai berdatangan."
Bram melepaskan pelukannya. Ia kembali menutup pintu dan meninggalkan Talita di kamar sendirian.
Aku akan menelepon calon suamiku sekali lagi.
Talita menelepon Ziban kembali. Tak menunggu waktu lama, Ziban langsung mengangkat telepon dari Talita. Talita mengembuskan nafasnya lega.
"Huh sayang, kenapa baru diangkat?"
"Sudah berada dimana? Sebentar lagi acara akan dimulai. Cepatlah datang,"
"Kau tahu, aku pikir, kau tidak akan datang di malam pertunangan kita."
Talita memberondong kan beberapa kalimat kepada Ziban.
"Kau tidak memberi kesempatan kepada ku untuk berbicara, Talita sayang." (ucap Ziban)
Talita terkejut dengan ucapan Ziban yang memanggilnya sayang. Sebelum-sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi.
"Kau memanggilku dengan panggilan sayang?" (tanya Talita)
"Ya, memangnya kenapa? Kita sudah menghabiskan banyak hari-hari bersama,"
Ziban sempat menggantungkan kalimatnya sebelum ia melanjutkan kalimatnya lagi.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, sayang."
Talita membungkam mulutnya sendiri. Ia benar-benar tidak percaya dengan pendengarannya kali ini.
"Cepatlah datang." (pinta Talita)
"Memangnya apa yang akan kau lakukan, jika aku cepat datang?" (tanya Ziban)
"Aku akan memeluk lalu mencium mu."
Ziban tak memerlukan waktu yang lama untuk menanggapi ucapan Talita.
"Baiklah. Aku tepat berada di depan pintu. Cepat buka pintunya. Kata mu, kau akan memeluk dan mencium ku."
"Benarkah? Kau benar-benar menyebalkan. Sejak tadi, kau sudah sampai, rupanya." (ucap Talita)
"Ayolah cepat buka pintunya, sebelum papah mu datang. Ini kesempatan kita."
Ziban mematikan sambungannya. Talita tersenyum kegirangan.
Aku tidak tahu, apa dia salah makan atau bagaimana. Yang pasti, aku senang dengan sikapnya yang menjadi sangat manis padaku.
Talita meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu, ia melangkahkan kakinya secepat mungkin, untuk membuka pintu dan menyambut kedatangan Ziban Alkash. Talita benar-benar terlihat sangat berbinar-binar. Rasanya, ia tak sabar untuk menyambut Ziban yang ia rasa sudah bersikap manis padanya. Hal itu adalah sesuatu hal yang perlu dirayakan. Begitu pikir Talita.
Lihat saja. Aku akan benar-benar langsung memeluk dan menciumnya sesuka ku.
Ia mulai memegang gagang pintu dan membuka pintu itu dengan cepat. Dalam penglihatannya, ia melihat seorang laki-laki yang memakai jas berwarna hitam berdiri tepat di depan pintu. Ia melebarkan kedua tangannya, hendak memeluknya.
"Sayang, akhirnya kau datang..."
"Heh, apa yang kau lakukan disini!" (pekiknya)
Sekretaris Chan memandang sekitar. Memastikan, tidak ada orang lain yang berada di sekitar mereka. Ia mendorong tubuh Talita untuk masuk ke dalam kamar berserta dirinya.
Ceklek
Ia mengunci pintu kamar tersebut. Lalu ia mendorong kasar tubuh Talita hingga Talita terjerembab di ranjangnya. Talita mengontrol nafasnya yang naik turun terbakar. Ia lalu memaksakan dirinya untuk tertawa.
"Kau lupa aku ini, siapa?"
Talita mulai membangkitkan tubuhnya.
"Kau ingin mengorbankan ibu renta mu, itu?"
Sekretaris Chan masih diam. Ia menatap Talita dengan tatapan datarnya. Membiarkan Talita terus berbicara.
"Oh, aku tahu. Jangan-jangan kau datang kesini menemuiku, lalu mengunci pintu kamar, supaya kau dapat berduaan denganku. Iya kan?"
"Kau tertarik denganku dan ingin bermain-main dan menyentuh ku, kan?"
Talita menaikkan alisnya sebelah.
"Aku tau, aku memang semenarik itu. Baiklah, akan ku layani. Ayo, mendekat lah. Kita hanya mempunyai sedikit waktu sebelum calon suamiku datang."
__ADS_1
Sekretaris Chan berkacak pinggang.
"Daripada menyentuh perempuan murahan kelas rendah seperti mu, aku lebih baik mati."
Mendengar ucapan Sekretaris Chan, Talita meludah sembarangan. Ia merasa, dirinya sangat dihina.
"Pergi sana! Aku sedang menunggu calon suamiku!"
Sekretaris Chan menaikkan sudut bibirnya.
"Menunggu calon suami mu? Calon suami seperti apa yang sedang kau bicarakan?"
"Ah ya, calon suami yang didapatkan dengan mengendalikan dirinya karena sebuah keegoisan,"
"Silakan bermimpi lah setinggi mungkin."
Talita menggeram lalu mengepalkan tangannya, setelah mendengar ucapan Sekretaris Chan.
"Apa yang kau lakukan, hah!" (teriak Talita)
"Apa yang aku lakukan? Hemm, aku hanya menghancurkan pesta pertunangan seseorang di aula. Ayah dari wanita tersebut, sedang merasakan malu yang sangat luar biasa, karena mendapat banyak cemoohan dari tamu-tamu nya sendiri. Hemm, karena kesalahan putrinya. Putrinya yang sangat manja, telah gagal bertunangan,"
"Sekarang, aku yang akan memberimu pelajaran, perempuan egois!"
......................
Sedangkan di ruang tamu, terlihat Ziban, Raditya, Rossie dan Helen yang tengah duduk dengan tenang.
"Kau harus berterimakasih padaku, Man."
Raditya membanggakan hasil kerjanya yang mengembalikan segala memori Ziban dengan memasukkan obat penetralisir rekomendasi Dokter Ferdian. Ia memasukkan obat tersebut secara diam-diam di minumannya, selama ia tinggal bersamanya.
Ziban menatap Raditya penuh arti. Ia memang tidak mengungkapkan rasa terimakasih atas bantuannya yang sangat berarti bagi kehidupan Ziban. Rasanya, sebuah ungkapan terimakasih tidak akan cukup untuk sahabatnya itu. Raditya bergidik ngeri melihat tatapan dari Ziban yang tertuju kepada dirinya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Man? Ah aku tahu, kau pasti sedang memikirkan bagaimana cara mu berterimakasih padaku, kan? Kau pasti sangat senang karena aku membebaskan mu dari pengaruh keponakan ku yang sudah tidak waras itu."
Raditya terlihat berpura-pura berfikir. Tiga pasang mata, masih memerhatikan nya.
"Ah, aku tau Man. Kau tidak perlu repot-repot memikirkan cara berterimakasih kepada ku. Karena apa? Karena aku adalah calon adik ipar mu."
Raditya mengedipkan sebelah matanya ke arah Rossie. Yang dituju pun, seketika menundukkan kepalanya malu-malu.
"Hemm." (ucap Helen)
"Ehehe, tante pasti sangat setuju, kan?"
Raditya cengengesan. Sedangkan Ziban menonjok perut Raditya.
"Mata keranjang sepertimu, tidak akan ku izinkan mempermainkan adikku."
"Hei! Seperti inikah cara mu berterimakasih!"
Helen dan Ziban terkekeh geli. Hanya Rossie lah yang terlihat mengkhawatirkan Raditya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...