Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Rahasia Talita Arifa


__ADS_3

Heiii, lalalalala dudududu hohohoho nananana...


Hari yang sangat cerah, secerah hatiku hahaha.


Andin terus saja bernyanyi di sepanjang jalan menuju MAN 102 BANDUNG. Ia benar-benar sangat bersemangat dalam bersekolah semenjak bertemu dengan Zidan Haq. Apalagi masalah perjanjiannya dengan Ziban Alkash yang di tunda sementara. Bagi Andin itu adalah waktu yang sangat berharga yang tidak boleh Andin lewatkan tanpa Zidan Haq. Andin memang selalu bertemu dengan Zidan Haq setiap harinya entah apapun alasannya Andin memang sengaja hanya ingin berdekatan dengan si kaku tampannya yaitu Zidan Haq.


Padahal sebelum-sebelumnya Zidan Haq sangat jarang terlihat di MAN 102 Bandung itu, tapi akhir-akhir ini ia kerap kali terlihat di sekitar sekolah itu. Tentu saja itu adalah hal yang harus Andin manfaatkan sebaik mungkin.


Sesampainya Andin di kelas IIS 1 Favorit, terlihat Arif yang sudah menempati tempat duduknya. Andin segera menjejeri kursi Arif tanpa harus kikuk sedikitpun akibat tragedi yang terjadi di kamar Arif.


Itu karena Arif memang sudah menjelaskan semua masalahnya kepada Andin yang membuat Andin memahami untuk setiap cerita yang diceritakan Arif. Yaa, setelah tragedi kesalahpahaman antara Arif, Andin, Zidan Haq, dan juga Bi Ningsih di kamar Arif, ia langsung saja menceritakan semua hal termasuk tentang Talita Arifa kepada Andin dan juga Zidan Haq di kamar itu. Tentu saja Bi Ningsih sangat tahu diri, ketika Arif akan menceritakan menyangkut masalah pribadinya, Bi Ningsih segera keluar dari kamar itu dan segera melanjutkan pekerjaan. Yaa, Bi Ningsih pergi tanpa disuruh oleh anak majikannya itu karena ia tahu, keluarga majikannya sangat menjaga privasi. Hanya terdapat Andin, Arif, dan juga Zidan Haq yang terdapat di kamar itu. Arif mulai menceritakan dari awal sampai akhir kepada mereka berdua.


...----------------...


"Apa kau sudah paham setelah membaca diary ku tadi Ndin?"


Arif bertanya kepada Andin, Andin pun seketika menggelengkan kepalanya cepat karena ia memang tidak memahami arah pembicaraan Arif di buku diary nya. Zidan Haq hanya terdiam saja dengan duduk di sofa kamar Arif. Sedangkan Andin dan Arif duduk di tepi ranjang milik Arif, tapi tentunya Zidan Haq masih sangat jelas mendengar pembicaraan antara Andin dan Arif karena jaraknya memang sangatlah dekat. Arif melanjutkan kembali ceritanya karena ia yakin bahwa Andin memang belum memahami isi diary nya.


"Seperti yang pernah aku ceritakan kepadamu di kelas kala itu Ndin, bahwa aku memanglah Talita Arifa. Kau tadi mengamati foto yang di meja itu kan? itu adalah fotoku."


Arif menjelaskan dengan sangat tenang sedangkan Andin masih terkejut atas pengakuan Arif dan juga foto yang tadi ia lihat. Andin sangat tidak mempercayai ucapan Arif kali ini, karena foto yang tadi ia pegang itu bukan foto Arif atau bahkan foto Talita Arifa, selebram terkenal. Andin sangat yakin Arif memang hanya sedang bergurau. Tapi kenapa Arif bergurau mengenai hal seperti ini di waktu yang sangat tidak tepat untuk bercanda? kira-kira itu yang sedang difikirkan Andin. Tetapi Andin hanya berusaha menjadi pendengar yang baik tanpa harus menyela sedikitpun perkataan Arif. Yaa, Andin membiarkan Arif bercerita kelanjutannya walau sangat tidak masuk akal bagi Andin.


"Aku yakin kamu tidak akan mempercayai perkataan ku kali ini Ndin, yaa aku bisa memahami mu. Itu memanglah sangat tidak masuk akal. Tetapi apalah daya Ndin, semua itu memang benar adanya. Faktanya adalah aku adalah Talita Arifa dan foto yang tadi kau lihat itu adalah Talita Arifa."


Bagaimana mungkin Arif adalah Talita Arifa, lalu foto yang tadi ku pegang adalah Arif alias Talita Arifa? hemm, kalau boleh jujur foto tadi adalah foto perempuan yang tidak terlalu cantik. Ia benar-benar perempuan biasa saja. Talita Arifa kan sangat...


"Ya Ndin, dugaan mu benar sekali. Foto yang tadi kau sentuh itu adalah foto perempuan yang sangat jelek dan dekil, itu benar adanya."

__ADS_1


Hah? bagaimana mungkin dia bisa membaca jalan pikiran ku? apakah wajahku sangat jelas untuk dibaca seseorang? ah!


Andin masih terdiam mendengar perkataan Arif dengan seksama karena ingin mendengar penjelasan selanjutnya.


"Aku operasi plastik."


Kali ini Andin tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya setelah mendengar ungkapan dari Arif.


"Apa?! bagaimana mungkin?!"


"Itu karena aku yang tidak bisa bersyukur atas ciptaan tuhan Ndin, dulu aku sangat minder kepada semuanya karena aku menganggap wajahku sangat jelek. Lalu aku meminta kepada orang tuaku untuk melakukan operasi wajah kepadaku. Orang tuaku pun menyetujui permintaan ku, itupun karena aksi beberapa hari mogok makan dan juga menangis setiap hari. Akhirnya kedua orang tuaku mewujudkan kemauan ku itu karena tidak tega kepadaku."


Arif berhenti melanjutkan ceritanya sejenak dengan menghembuskan nafas beratnya beberapa kali. Andin pun mulai merasakan hal yang dirasakan oleh Arif. Ia hanya terdiam dan menunggu Arif melanjutkan ceritanya.


"Setelah operasi wajah itu berhasil, wajahku benar-benar berubah total. Kala itu aku benar-benar sangat senang dengan wajah baruku yang membuat ku menjadi lebih percaya diri dalam menjalani hari-hari ku dimanapun. Sejak saat itu juga aku mendadak menjadi selebgram dan menjadi pujaan disana sini. Yaa, Talita Arifa. Itu memang namaku sejak kecil yang diberikan oleh orang tuaku. Hampir semua orang mengenal Talita Arifa, ialah selebram paling top kala itu. Lalu..."


"Ketenaranku menjadi selebram paling top hanya berjalan beberapa bulan saja, setelah itu tiba-tiba datang sebuah rumor bahwa Talita Arifa menjalankan operasi plastik demi sebuah ketenaran. Sejak datangnya rumor itu, aku benar-benar terpukul karena rumor itu memang benar adanya. Semua penggemarku menghujatku di sosial media. Kata-kata hinaan selalu saja berdatangan untukku..hiks."


Andin mendengar isakan tangis dari Arif alias Talita Arifa. Andin baru menyadari Arif yang selama ini ia kenal ternyata ketika menangis seperti ini ia benar-benar perempuan.


Mengapa aku baru menyadari suara Arif yang memang tidak seperti suara laki-laki pada umumnya si? Yaa, suara Arif memang terdengar seperti perempuan setelah aku baru mendengar faktanya bahwa ia perempuan. Ahh, selama ini aku pun terberdaya.


Andin segera memegang tangan Arif untuk menenangkan dia. Zida Haq pun melihat semuanya termasuk Andin yang memegang tangan Arif. Tetapi Zidan Haq hanya diam tanpa ekspresi seperti biasa. Arif kemudian melanjutkan ceritanya.


"Hampir semua channel televisi bahkan menggosipkan tentang rumor baru Talita Arifa. Aku benar-benar tertekan dengan keadaan itu begitupun dengan orangtuaku. Oleh karena itu sejak saat itu keluarga kami sangat menutup privasi."


"Lalu sejak saat itu juga kau menjalankan operasi wajah kembali ke semula Rif?"

__ADS_1


Andin menanyakan kepada Arif setelah melihat kondisi Arif yang sedikit tenang.


"Ya, betul sekai. Tapi sayang operasi wajah untuk kedua kalinya seperti muka semula tidak berjalan dengan lancar. Dan inilah sekarang wajahku, setelah berusaha untuk kembali ke wajahku yang dulu."


"Lalu mengapa kau bahkan berpenampilan menjadi laki-laki seperti ini Rif?"


"Aku hanya ingin semua orang tidak bisa mengetahui siapa diriku..."


"Apa kau mengetahui siapa yang mengedarkan rumor tentangmu itu?"


"Yaa, itu adalah salah satu dokter operasi plastik ku. Orang tuaku sudah menuntut dia atas pembocoran privasi. Dan akhirnya kami lah yang menang, dokter itu di dihukum sesuai ketentuan."


"Ahhh, seharusnya dia kan bisa menjaga privasi kliennya kan, aku mengerti perasaan mu Rif.."


"Haha, aku mohon kau bisa menjaga semua rahasia ini."


"Tentu saja, aku berjanji atas nama Tuhan. Tunggu, jadi aku harus memanggilmu Arif saja, begitu?"


"Ya Ndin, panggil saja Arif seperti biasa. Ingat, hanya kau yang mengetahui aku adalah seorang perempuan di sekolah dan... Tuan Zidan Haq juga sudah mengetahui semua hal tentang ku sudah lama sebelum aku bercerita tadi."


Andin terperanjak kaget ternyata Zidan Haq juga sudah mengetahui kisah dari Talita Arifa sebelumnya. Arif dan Andin memandang Zidan Haq yang hanya dibalas senyum tipis olehnya.


......................


"Heii Riff, selamat pagi."


Andin menjejeri Arif di bangku sebelahnya, Arif pun menjawab ucapan selamat pagi dari Andin dengan bersemangat. Lalu mereka mengobrol kesana kemari sebelum jam pelajaran segera dimulai. Beberapa kali menertawai obrolan yang sedang mereka bicarakan. Mereka terlihat sangat akrab, bagai sahabat.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2