
"Awwhhh..."
Andin mendesah kesakitan ketika lengannya sudah di lepaskan oleh Ziban. Rasanya perih, mungkin itu akibat dari genggaman erat Ziban yang menariknya dengan paksa untuk menepi di tempat yang tidak terpapar sinar matahari langsung. Ziban pun berlagak angkuh seperti biasanya.
"Heh! Bukankah kau harus ke tempat biasa untuk melayaniku hah! Dan sedang apa kau berdiri panas-panasan di situ tadi?! Apa kau sedang menebar pesona?!"
"Iya kak, aku selalu ingat akan hal itu. Tetapi kan ini masih waktu sholat. Biasanya pun seperti itu, kau membiarkan aku sholat terlebih dahulu."
CLETIKKK!!!!!
Sentilan keras mendarat tepat di kening Andin. Tentu Andin pun mengerang kesakitan.
"Dasar bodoh!"
Eh, memangnya aku terlihat bodoh seperti yang dikatakan oleh iblis ini? Di bagian mana aku terlihat bodoh?
"Maaf kak, aku tidak sedang ingin kabur darimu kak. Aku tidak akan mendadak menjadi pemberani seperti itu."
CLETIKKK!!!!
Sentilan kedua pun mendarat dengan sempurna kembali. Kali ini lebih keras. Andin menahan sakitnya itu dan langsung bungkam. Ia benar-benar tak mengerti apa maksudnya.
"Rupanya selain buruk rupa, kau juga sangat bodoh!"
Jadi sebenarnya apa maksudmu wahai iblis?!
"Apa maksud mu kak?"
"Kau tadi belum mejawab pertanyaanku bodoh! Sedang apa kau disitu tadi hah? Apa kau sedang menunggu seseorang?!"
"Aaah tentu saja aku sedang tidak menunggu siapapun." (jawab Andin bohong)
"Oh ya ya ya, rupanya kau sudah mulai berani membohongi ku ya!"
Aduh sebenarnya apa yang iblis ini inginkan si? Aku tidak mungkin mengatakan kepadanya bahwa aku sedang mencari pemilik sekolah ini kan?
"Baiklah, jika kau tidak berkata jujur kepadaku. Aku akan menghukum mu dan juga tidak mengizinkan mu untuk makan siang kali ini!"
Mendengar ancaman dari Ziban, Andin pun segera mendecih keras dalam diamnya ketika mengingat makan siangnya setiap harinya di sekolah itu sejak beberapa bulan terakhir.
"Ayo makanlah. Katanya kau sangat lapar. Bukankah aku sangat berbaik hati telah memberikan makanan gratis untuk mu?!"
__ADS_1
Andin mengamati piring yang di sodorkan oleh Ziban kepadanya lalu seketika ia menelan ludahnya.
Benar-benar sangat menjijikan! Aku harus makan setelah kau merasa kenyang seperti itu, maksudmu?! Aku tidak mau makan bekas makanan darimu.
"Apa? Kau tidak enak karena makan makanan ku? Sudahlah makan saja. Jangan merasa tidak enak seperti itu. Untuk soal perut, aku tidak tega melihat perutmu berbunyi sejak tadi. Cepat makanlah, dan habiskan."
Apa yang harus ku habiskan?! Tersisa sedikit nasi dan tulang belulang bekas gigitan mu. Itu lebih pantas kau berikan kepada bebek. Apa kau tahu itu?!
"Baiklah kak. Akan ku makan. Terimakasih karena kau telah berbaik hati menyisakan makananmu ini untukku."
Andin pun segera meraih makanan sisa dari Ziban. Memakan sisa-sisa dengan menyingkirkan sendok bekas Ziban. Melihat kelakuan Andin, Ziban pun membentak dan menyuruhnya untuk tetap memakai sendok itu. Akhirnya Andin pun dengan sangat terpaksa menuruti semua kegilaan Ziban.
Ingatan Andin telah purna. Ia kembali menatap wajah yang sangat menyebalkan itu dengan tatapan aneh. Sedangkan yang di tatap malah semakin menunjukkan keangkuhannya di hadapan Andin dengan memakai kacamata hitam miliknya yang baru ia ambil di saku kanan di baju seragamnya.
"Cepat jawab! Dan jangan terus-terusan menatap wajah tampanku!"
"Bisa-bisa kau semakin jatuh hati kepadaku.." (gumam Ziban Alkash kembali)
"Tidak kak, aku sungguh tidak sedang menunggu siapapun."
Kau masih saja terus berbohong tentang apa yang sudah ku ketahui darimu sebelum-sebelumnya. (batin Ziban)
"Baiklah, aku mempercayai mu kali ini. Sekarang seperti biasa kau harus kembali ke ruang kamar perpustakaan. Kau tidak menghargai ku hah?! Padahal aku sudah bersusah payah sengaja mengingatkan mu secara langsung!"
"Ah tetapi aku belum sholat kak. Aku izin sholat sebentar ya kak. Kau duluan saja yang pergi ke perpustakaan. Nanti aku menyusul."
Bagaimanapun aku harus menunggu si kaku tampanku sebentar lagi saja. Karena entah mengapa firasat ku mengatakan bahwa si kaku tampanku akan datang hari ini ke sekolah.
"Hahaha, sholat apa memangnya?!"
"Tentu saja sholat dhuhur kak. Bukankah biasanya pun seperti itu? Hehe." (jawab Andin cengengesan)
Ziban membuka kaca mata hitamnya dan menaruhnya kembali di saku nya. Ia mendekatkan matanya dengan sedikit menelisik siratan arti mata dari Andin. Andin yang di lihati dengan lamat pun sedikit was-was untuk menghadapi kejadian-kejadian yang tak terduga.
CLETIKKK!!!!
Benar dugaan Andin. Tetapi entah mengapa ia tak bisa menghindar bahkan dari hal yang sudah ia ketahui sekalipun. Ia benar-benar sering pasrah dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk kesekian kalinya jika berhadapan dengan Ziban langsung.
"Kau mau sholat apa?! Memangnya aku sebodoh itu hah?!"
Andin mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Hari ini kau sedang datang bulan. Memangnya siapa yang menjalankan ibadah sholat jika sedang kedatangan tamu?!"
Apa?! Kenapa bisa dia mengetahui nya? Aaaa kenapa kau mengatakan hal itu dengan gamblang tanpa beban seperti itu sih!! Aaaaa, tolong hilangkan aku dari bumi untuk sebentar sajaaaaa.
Kali ini Andin memasang wajah salah tingkah nya. Ia benar-benar di buat malu karena perkataan gamblang dari Ziban mengenai hal privasinya itu.
"Cih! Berani-beraninya kau berbohong kepadaku!"
"Hehe maafkan aku kak. Aku hanya kelupaan."
Terus, teruskan saja berbohong mu! (pekik Ziban dalam hati)
"Tentu kau harus dihukum karena berusaha membohongiku, kebon karet!!"
Ah ya, terima saja hukumannya Ndin. Bukankah kau sudah terbiasa di hukum olehnya? Tenang saja kak. Baiklah. Katakan saja apa hukuman darimu untukku? Apa kau ingin aku mencarikan jago putih di Kutub Utara? Iya? Itu maumu? Dari sekian banyak kemauan mu?
"Baiklah kak. Hukum saja aku sesuai keinginan mu."
Beberapa saat mereka terpaku dalam diam. Tak ada yang bersuara sedikitpun. Andin masih terlihat menunduk karena rasa malu yang belum sirna. Sedangkan Ziban yang sejak tadi memandangi Andin dengan tatapan aneh. Tiba-tiba Ziban pun kembali bersuara.
"Apa kau tidak ingin tahu dari siapa aku mengetahui mengenai kau yang sedang datang bulan?"
Ah, kau kan bisa melakukan apa saja. Tentu kau pun pasti sudah mengetahui jadwal tamu ku datang. Kau kan sangat sulit di tebak!
"Mengapa kau diam saja? Kau sedang tidak mengira bahwa aku telah mengetahui jadwal datang bulan mu kan? Apa kau sudah gila? Memangnya kau penting bagiku, hingga aku harus mencari semua informasi tentang mu dan jadwal datang bulan mu? Apa kau gila hah?! Aku ini orang penting dan sangat sibuk!"
Hemm, bisa saja kan kau sengaja mencari informasi tentang hal itu? Sudahlah kak, jangan mengelak seperti itu. Hahaha, ya ya rupanya kau sangat perhatian. Hingga kau pun menguak informasi mengenai jadwal datang bulanku. Ayo Andin, kau harus berpura-pura tidak tahu apapun. Coba lihat apa yang akan dikatakan oleh iblis ini.
"Lalu kau mengetahui dari mana kak? Emmm...mengenai hari ini aku sedang datang bulan?"
"Di rok belakang mu terdapat bercak merah gelap. Terlihat melingkar, tetapi tidak sepenuhnya melingkar. Itu berarti darah yang masih baru telah merembes di kain rok mu hingga warnanya berubah menjadi gelap dan bertambah lebar jika dibiarkan terlalu lama. Apa kau tidak memakai...."
Aaaaaaaa!!!! Bodohnya akuuuu!!!! Harusnya aku sudah mengganti nya dengan yang baru kan!!!!! Aaaaaa!!! Sim salabim aku harus menghilang!!!!!
"Cepat bersihkan rok mu itu di kamar mandi yang terdapat di ruang kamar perpustakaan. Di meja sudah ada rok seragam untukmu dan..."
Ziban menggantungkan kalimatnya. Andin pun segera berlari terbirit-birit menuju ke ruang kamar rahasia perpustakaan untuk menjalankan misi suci mulianya itu. Ya, tanpa Ziban menyelesaikan kalimatnya pun Andin telah mengetahui apa yang akan ia katakan.
Sedangkan Ziban memandangi Andin yang tengah berlari terbirit-birit dengan tersenyum geli.
Sebenarnya itulah alasan mengapa aku menarik mu tadi untuk segera menepi. Itu supaya kau tidak menjadi tontonan gratis bagi anak-anak lain.
__ADS_1
BERSAMBUNG...