
"Hah?!"
Andin sontak menahan keterkejutan nya. Seseorang yang turun dari helikopter itu mengenakan baju formal dan kacamata hitam yang telah tiga tahun lamanya Andin tak melihat, mendengar, atau sengaja mencari kabar tentangnya. Ya, ialah papah nya. Arga Raharga.
"Apa yang papah lakukan di malam hari seperti ini?"
Helen hanya menggelengkan kepalanya. Tetapi sejatinya ia telah mengetahui apa tujuannya. Ya, tentu saja untuk menjemput putrinya itu. Beberapa hari kemarin, seorang supir memang telah berusaha menjemput Andin untuk kembali ke rumahnya. Hanya saja, Andin menolak dan bersikeras untuk tetap di rumah Helen saja. Dan tentu saja Helen tidak bisa melakukan apapun. Ia tidak bisa memaksakan Andin untuk pulang ke rumahnya dengan alasan ia takut Andin berfikir bahwa ia tengah mengusirnya.
"Huh, kira-kira apa yang di lakukan Tuan Arga ya." (lirih Rossie)
Dua anak buah yang berpakaian serba hitam itu tiba-tiba menurunkan kursi kebesaran untuk tuannya. Arga pun langsung duduk di tempat yang telah di sediakan. Dua anak buah itu kembali ke tempat barisan tadi setelah menyodorkan alat pengeras suara kepada Arga. Andin tertegun melihat pemandangan yang tengah ia lihat.
Astaga, benar-benar berlebihan sekali.
"Mari kita keluar." (ucap Helen)
"Ta-tapi ibu?"
"Ayo cepat. Sebelum Tuan Arga memanggil kita dengan pengeras suara itu."
Helen membuka pintu. Rossie mengikuti di belakangnya. Sedangkan Andin hanya diam saja mematung di tempatnya. Helen dan Rossie tidak menyadari itu.
"Apa yang terjadi, kenapa ramai sekali malam-malam seperti ini?" (ucap Helen)
"Bagus sekali. Kau datang sebelum ku panggil." (ucap Arga)
Helen diam saja. Tidak ada suara sedikitpun. Salah satu anak buah mendekat ke Arga dan mengambil pengeras suara setelah berhasil memahami kode kecil yang di tunjukkan Arga.
"Kau tentu tahu tujuan kehadiran ku, bukan?"
"Ya, tentu saja tuan."
"Bagus lah. Lalu dimana Andin?"
Helen membalikkan badannya. Betapa terkejutnya Helen. Ternyata hanya ada Rossie di belakangnya. Padahal ia mengira Andin pun akan mengikuti langkahnya juga.
"Dimana Andin?" (bisik Helen pada Rossie)
"Entahlah Bu."
Arga menjentikkan jemarinya satu kali. Lalu semua anak buahnya yang berada di belakang segera berlarian sigap masuk ke dalam rumah Helen. Tentu saja Helen dan juga Rossie panik. Mereka berdua di tahan oleh dua anak buahnya.
"Apa-apaan ini, Tuan Arga?!" (ucap Helen)
Helen dan Rossie masih berusaha memberikan perlawanan.
"Lepaskan! Ini sakit!" (teriak Rossie)
Helen melototkan matanya setelah melihat Rossie, putrinya sedang kesakitan.
"Heh! Jangan kasar pada putriku!"
Arga menatap anak buahnya itu dengan tatapan menohok. Anak buahnya itu pun memahami kesalahannya karena telah membuat gadis yang tengah ia tahan itu merasa kesakitan.
"Maafkan saya, Tuan Arga. Tolong maafkan kesalahan saya." (ucap anak buah itu)
"Diam! Tidak ada yang menyuruh mu berbicara."
"Setelah malam ini, kau tidak perlu bekerja denganku lagi!"
Rossie menelan salivanya berat.
Astaga, ini karena diriku. Ya, Tuan Arga sedang membela ku.
__ADS_1
"Mmm, Tuan Arga. Bolehkah saya mengatakan sesuatu?" (ucap Rossie)
Helen menatap putrinya itu dengan penuh tanda tanya. Arga menganggukkan kepalanya.
"Mmm, anda tidak perlu memecat nya. Mungkin saja ia memiliki keluarga yang harus ia hidupi, tuan."
"Dia telah berlaku kasar kepada perempuan. Dan aku tidak mentolerir nya."
"Tapi tuan, saya tidak apa-apa."
"Ini bukan hanya tentang dirimu saja."
"Setidaknya beri dia kesempatan lagi, tuan."
Arga tidak pernah memberikan kesempatan lagi kepada siapapun yang ia anggap bersalah. Di dalam kamus hidupnya, kesalahan orang tidaklah termaafkan. Itulah prinsip hidupnya.
"Baiklah." (ucap Arga)
Entah mendapatkan angin dari mana. Yang pasti karena Arga mengingat ucapan Rossie mengenai keluarga anak buahnya itu yang tengah ia hidupi.
"Terimakasih, nona." (bisik anak buah itu)
Ya sama-sama! Tapi bisa kau lepaskan aku?!
"Tenanglah Nyonya Helen. Aku tidak sedang mengacaukan rumah mu. Aku hanya ingin mencari putriku."
Helen tidak menanggapi ucapan Arga. Tiba-tiba semua anak buahnya Arga keluar dari dalam rumah secara bersamaan dengan wajah tertunduk semuanya. Hanya ada salah satu dari mereka lah yang berbicara. Mungkin itu adalah ketuanya.
"Maafkan kami Tuan Arga. Sepertinya Non Andin tidak ada di dalam rumah."
Helen dan Rossie sangat terkejut mendengar tutur katanya. Bagaimana mungkin? Bagiamana mungkin mereka semua tidak menemukan Andin? Begitulah pertanyaan Helen dan juga Rossie di benaknya sendiri. Sedangkan Arga masih dengan ekspresi yang sama. Arga sama sekali belum menunjukkan amarahnya. Ia masih bisa bersikap tenang.
"Dimana Andin berada, Nyonya Helen?" (tanya Arga)
"Ta-tadi Andin..." (jawab Rossie)
Rossie tidak berani melanjutkan kalimatnya lagi.
"Andin tadi berada di dalam, tuan. Tidak mungkin tidak ada di dalam rumah." (ucap Helen tenang)
"Kau yakin, Nyonya Helen?"
Helen mengangguk mantap.
"Cari yang benar! Temukan Andin, cepat!" (Arga meninggikan nada bicaranya)
"Maaf tuan, izinkan saya berbicara. Tadi saya melihat salah satu kamar yang terbuka jendelanya. Sepertinya Non Andin kabur lewat situ." (ucap salah satu anak buahnya)
"Cari sampai dapat! Pastikan Andin baik-baik saja!" (tukas Arga)
Dimana kau berada Andin sayang. Kau telah melakukan kesalahan besar Tuan Arga. (batin Helen)
Di tempat yang berbeda, di waktu yang sama. Sebuah sepeda motor melaju begitu cepatnya di jalanan. Andin berpegangan erat di pundaknya.
"Ya bang, bagus. Lebih cepat lagi."
Pengendara motor itu semakin menambah kecepatannya.
"Kita kemana, nona?" (ucap nya dengan suara serak yang dibuat-buat)
Andin tidak bisa berfikir lagi. Tidak ada yang bisa ia temui untuk di jam semalam ini.
"Terserah saja bang. Bawa aku menjauh dari sini."
__ADS_1
Beberapa selang kemudian, sepeda motor itu berhenti di danau kota. Andin tidak berkomentar apapun. Sepertinya ia sudah sedikit lega karena pada akhirnya ia sudah seberani ini.
Aku tahu papah hanya beralasan menjemput ku. Tetapi aku benar-benar tidak menyukai caranya itu.
"Terimakasih bang. Kau pergi saja. Ini ongkos untuk mu."
Andin menyodorkan lembaran uang kertas untuk bang ojek pangkalan yang sudah mengantarnya untuk kabur. Seseorang yang memakai topi hitam beserta masker dan kaca mata itu tidak menerima uang yang Andin sodorkan. Ia duduk di tepi danau. Andin mengikutinya.
"Bang? Ada apa dengan mu? Ini uangnya."
"Tempatnya tidak terlalu jauh. Traktir aku segelas susu saja nona. Itu sudah sangat setimpal." (ucapnya masih dengan serak yang sama)
"Baiklah."
Andin segera mencari warung terdekat. Memesan segelas susu putih untuk orang itu dan sebotol air mineral untuknya.
Ah, mungkin juga abang itu menyukai gorengan. Biasannya kan seperti itu kalau tukang ojek.
Ah iya, rokok.
Andin juga memesan gorengan dan tiga bungkus rokok untuk orang itu.
Andin hanya memesan dan memberikan uang. Ia memang sudah meminta si pemilik warung untuk mengantar pesanannya itu di dekat danau. Si pemilik warung itu pun mengiyakan.
"Apa kau merasa kedinginan bang?"
Hingga jaket, masker, topi, dan kacamata mu tak kau lepas?
"Ya, nona. Ketika di malam hari aku memang tidak kuat menahan rasa dingin yang mencekam."
Andin mengangguk-angguk memahami nya. Tiba-tiba seorang pemilik warung tadi datang membawa pesanan nya.
"Ini pesanan nya."
"Terimakasih banyak."
Pemilik warung tadi pun segera beranjak setelah mengantarkan pesanan Andin.
"Ini bang susu yang kau minta." (Andin menyodorkan segelas susu)
"Terimakasih, nona."
Orang itu menyesapnya perlahan. Begitu juga dengan Andin. Ia meminum air mineral yang ia pesan tadi. Tiba-tiba orang itu memandang gorengan dan rokok.
"Apa kau merokok, nona?"
Andin mengernyitkan keningnya.
"Tidak. Itu untuk mu bang,"
"Apa kau tidak merokok, bang?"
Orang itu menggelengkan kepalanya.
"Rokok membuat bangsa ini hancur perlahan."
"Kau benar, bang."
Andin melemparkan tiga bungkus rokok yang tadi ia beli ke danau.
Tiba-tiba jam tangan yang di pakai oleh orang itu berkedip berkali-kali.
Astaga, jam ku berkedip. Itu tandanya dia ada di sekitar sini. Jangan sampai dia melihatku. (batin nya)
__ADS_1
Orang itu berlari dan meninggalkan Andin sendirian. Meninggalkan segelas susu yang belum ia habiskan sepenuhnya. Andin berdecak sebal karena ditinggal nya tanpa sepatah katapun.
BERSAMBUNG...