
Hari Minggu, hari akhir pekan yang ditunggu-tunggu oleh setiap siswa sekolah atau bahkan karyawan swasta. Kota Bandung selalu ramai seperti biasa, terutama di berbagai titik wisata. Beberapa orang memang menghabiskan hari liburnya untuk berbelanja atau bahkan cuma berjalan-jalan saja.
Orang-orang hilir mudik dengan kendaraan mereka masing-masing.
Saling memaki satu sama lain adalah hal yang biasa jika kendaraan di depan mereka tidak segera ada tanda-tanda untuk menancap gas ketika lampu lalulintas berubah menjadi hijau. Yaa, begitulah. Mereka tentu saja beralasan tidak ingin berlama-lama berada di jalanan yang sangat riuh. Terlebih bagi mereka yang memang mengendarai sepeda motor. Sampai di tujuan adalah hal yang paling utama.
Mereka tentu saja masih mempunyai garis nasib yang masih harus disukuri. Karena apa? Karena tidak sedikit yang mempunyai garis kehidupan yang cukup keras. Seperti anak jalanan yang sedang mengamen, berjualan air mineral, berjualan koran, dan lainnya di pampu merah itu.
Yaa, Andin sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Anak-anak dibawah umur yang berjualan di tengah-tengah teriknya mentari dan juga kendaraan yang sangat membahayakan mereka jika mereka tidak berhati-hati. Kehidupan yang sangat keras bagi mereka, dengan menawarkan dagangan mereka ke setiap kendaraan yang tengah berhenti karena lampu merah.
Mereka memakai pakaian lusuh seadanya dengan sesekali mengelap bulir keringat yang kian menetes dan mulai merembes di kaos lusuh mereka.
Mereka bahkan mengalami nasib yang jauh lebih menyedihkan dariku. Tetapi lihatlah, mereka mengulas senyum yang tidak dibuat-buat ketika dagangan mereka ada yang membeli.
Harusnya yang mereka lakukan diumur mereka sekarang adalah belajar dan terus belajar. Ahh, tentu saja keadaan ekonomi yang membuat mereka harus tumbuh menjadi pekerja keras seperti itu.
Andin mendatangi anak-anak jalanan itu yang terlihat sedang menepi di trotoar dengan sesekali meneguk air mineral berukuran besar secara bergantian setelah lampu lalulintas berubah warna menjadi hijau.
"Hai, anak-anak. Apa kedatanganku mengganggu kalian?" (tanya Andin dengan mengulas senyum manis sekali)
"Hai kak, tentu saja tidak." (salah satu dari mereka angkat bicara)
"Apa kalian sudah makan?"
Tanya Andin kembali kepada sembilan anak-anak jalanan yang berada di depannya.
"Kami belum membeli makan kak, uang kami masih belum cukup untuk membeli sebungkus nasi. Belum lagi setoran yang memang harus ada setiap harinya untuk juragan kami."
Bahkan mengisi perut kecil dengan sesuap nasi saja mereka selalu kebingungan untuk setiap harinya? Lalu bagaimana denganku yang bahkan tinggal mengatakan kepada mamah aku ingin makan apa maka semua pelayan di rumah akan membuat dengan semua cinta mereka? Ada apa denganku? Mengapa hatiku merasa tercabik-cabik mendengar tutur kata dari bibir polos mereka?
"Ehmm, bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan? Kalian mau makan apa siang ini?" (tanya Andin dengan bersemangat)
Bola mata mereka terlihat sangat berbinar-binar, tentu saja karena mereka akan mendapatkan makanan gratis siang ini tanpa harus mengumpulkan pundi-pundi receh lagi setelah beristirahat. Tetapi tidak dengan salah satu dari mereka. Mungkin saja dia yang umurnya lebih tua dari mereka, sekitar kelas empat sekolah dasar.
"Terimakasih sebelumnya kak, tetapi kami tidak akan menerima belas kasihan seseorang kepada kami."
Jawab yang tertua dari mereka, hal itu membuat yang lainnya segera mengerucutkan bibir menahan rasa kecewa. Karena sejujurnya mereka memang sudah menahan rasa lapar yang mengguncang perut kecil nya sejak tadi.
__ADS_1
"Ah tentu saja bukan karena aku kasihan. Aku sudah berikrar saat pengumuman ujian ke jurusan kemarin akan mentraktir anak-anak kecil. Tetapi aku baru menyadari bahwa aku tidak memiliki sanak saudara yang masih anak-anak. Ah ayolah aku mohon, bantu aku menepati janjiku kali ini saja ya?" (kata Andin dengan menelungkup kan kedua tangannya di depan dada)
Sejenak anak-anak terlihat saling memandang lalu mengatakan..
"Baiklah kak, terimakasih sebelumnya."
...----------------...
Restoran terkenal di kota Bandung..
Dua meja yang sudah Andin pesan berjejeran, satu meja untuk lima anak laki-laki dan satu meja untuk lima anak perempuan sudah termasuk dengan Andin. Beberapa pasang mata yang memandang ke arah meja itu terlihat mengernyitkan kening mereka seperti menyiratkan..
"Apa yang anak-anak gelandangan itu lakukan di restoran mahal ini?"
"Apakah mereka mampu membayar untuk selembar tissue saja yang mereka gunakan untuk mengusap bibir mereka?"
Hentikan tatapan tidak berguna kalian! Kalau tidak, aku akan mencolok kedua mata kalian dengan garpu!
Sama seperti halnya dengan satpam yang menjaga di depan restoran tadi. Dia menahan anak-anak yang akan masuk ke dalam restoran. Tetapi kemudian Andin tiba-tiba mempunyai cara dengan memperlihatkan kartu nama Andin yang berasal dari Keluarga Raharga. Dan sejurus dengan itu pula, pak satpam segera meminta ampunan maaf dan memohon kepada Andin untuk tidak melaporkan kejadian tadi kepada Tuan Arga. Andin hanya membalas dengan tersenyum kecut yang membuat pak satpam bertambah was-was kejadian tadi akan membuat nya kehilangan pekerjaan sebagai satpam.
Pelayan menyodorkan menu makanan dan minuman ke dua meja yang sudah Andin pesan. Mereka terlihat kebingungan dengan semua jenis makanan yang terdapat di gambar menu, tentu saja karena mereka tidak bisa membaca nama makanan itu.
Akhirnya Andin yang memutuskan untuk memilih semua menu terbaik yang ada di restoran itu. Sembari menunggu makanannya datang, mereka asik mengobrol kesana kemari dengan Andin. Sedikit gelak tawa diiringi tatapan tidak suka dari beberapa pengunjung restoran lainnya.
Tentu saja tatapan dari mereka yang memang menganggap dirinya bersih dan suci.
Cih! Berhubung ini di tempat umum, karena itu aku masih bisa menahan amarahku kepada kalian! Jika tidak, habislah kalian menerima kemarahan ku karena tatapan buruk yang kalian tujukan kepada anak-anak polos ini!
"Nahh, makanannya datang. Ayo makan sepuas kalian, jika nanti kurang boleh tambah lagi kok. Jangan malu-malu yaa.." (kata Andin)
"Baik kak, terimakasih banyak."
Jawab mereka kompak dengan langsung menyerbu makanan yang sudah disuguhkan oleh pelayan yang membuat Andin tersenyum kembali.
Mereka terlihat makan dengan lahap sekali. Ahh, andai saja kejadian anak-anak jalanan di negeri ini tidak lagi adanya.
Acara makan bersama dengan anak-anak jalanan akhirnya usai juga, semua anak-anak memuji makanan yang sungguh luar biasa ketika beradu dengan lidah mereka. Mereka pun menghujani doa-doa kepada Andin, yang sudah mentraktir makan siang di tempat mewah dan juga memberi banyak lembaran uang kertas yang sempat ditolak tetapi Andin memohon untuk menerimanya.
__ADS_1
"Terimakasih doa-doa dari kalian semua, anak-anak."
Hari semakin petang, aku harus cepat sampai di asrama sebelum adzan Maghrib berkumandang.
Andin berjalan dengan cepat menuju ojek online yang sudah ia pesan, lalu menuju ke asrama dengan hati gembira setelah bertemu dengan anak-anak jalanan tadi.
Di sisi lain, Andin masih belum menyadari kegiatan hari ini dengan anak-anak sedang diawasi oleh sepasang mata yang sedang tersenyum manis sekali.
......................
Akhirnya Andin sampai di asrama pukul 17.40, semua teman-teman di asrama sedang bersiap-siap untuk berjamaah ke masjid. Tentu saja Andin harus segera menyusul yang lainnya dengan mandi kilat, mengambil wudhu lalu memakai mukena berwarna putih dengan bordir biru muda bercorak bunga membuat wajah Andin terlihat bersinar walaupun tanpa polesan apapun. Ia segera berangkat sendirian ke masjid. Karena Meta, sahabatnya juga sudah berangkat meninggalkan nya.
Andin sedikit mempercepat langkahnya tanpa melihat ke belakang, ada seorang laki-laki yang sedang berada tidak jauh darinya. Entai siapa.
Sholat berjamaah telah usai, ada yang tetap di masjid, dan ada pula yang kembali ke kamar. Andin dan Meta memilih untuk kembali ke kamar.
"Ndin, tau tidak tadi siapa yang jadi imam maghrib di masjid?" (kata Meta)
"Siapa?" (jawab Andin sama sekali tidak tertarik)
"Jodohku yang aku ceritakan kemarin itu loh Ndin!"
"Ya, itu keren sekali." (jawabnya datar agar Meta tidak membahas guru akhlak itu lagi)
"Aku meminta restu darimu ya Ndin, aku yakin suatu saat aku dan ustad memanglah berjodoh." (kata Meta lagi)
Apa-apaan ini?! Jangan meminta restu dariku! Karena kau tidak butuh restu dariku. Kejar pak ustadmu sana!
"Ya ya ya, aku merestuimu. Semoga kalian berjodoh."
"Aaaaa terimakasih Andin sahabatku, kau sangat baik. Terimakasih telah menyemangati ku." (kata Meta dengan memeluk Andin)
Lepaskan pelukan konyolmu ini Met! Karena yang hanya boleh memeluk tubuhku hanyalah mamah, Tante Helen, dan juga si kaku tampanku! Aaaa, kenapa kau semakin mempererat pelukanmu sii! Aku benar-benar sesak napas!
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YAA, BIAR SAYA TAHU APA YANG HARUS SAYA PERBAIKI. TERIMAKASIH, SEMOGA KALIAN SELALU BAHAGIA...💛💛
__ADS_1