
Sebenarnya apa salahku di hadapan dunia. Mengapa dunia selalu saja menghadapkan ku dalam situasi permasalahan hidup terus menerus? Mengapa ujian demi ujian selalu datang menghampiri ku? Dimana letak kesalahan ku Tuhan? Kesalahan besar apa yang pernah ku perbuat yang mustahil untuk dimaafkan olehmu, hingga semua berimbas pada kehidupan ku sekarang ini. Ya, Tuhan...
Andin memegang kepalanya frustasi. Menitikkan air mata penuh kesedihan. Meratapi nasibnya sendiri. Nasib yang tak banyak khalayak mengetahui. Raut wajah kecewa nan terluka, terpancar jelas di wajahnya saat ini. Ketukan pintu pelan terdengar jelas di telinganya sejak tadi. Tak ada niat sekecil apapun dalam dirinya untuk membuka pintu bathroom yang sengaja ia kunci dari dalam. Terduduk lemas dengan sedikit bersandar pada dinding, sesekali menatap lantai tanpa arti. Berusaha mengingat-ingat kembali kata-kata seseorang yang tadi memintanya membatalkan pernikahannya secara tiba-tiba. Dengan alasan, atas janji dirinya kepada Zulfia. Janji nya yang akan memberikan yang terbaik untuk Zulfia. Dan ia menganggap Zidan lah yang terbaik dan pantas bersanding dengan Zulfia, seorang gadis yang mengabdikan dirinya kepadanya selama ini.
Lalu apa salahku di dalam cerita hidupku ini?
Apa harus aku yang mengalah?
Apa akan adil jika aku lah yang terluka?
Apa tak ada lagi laki-laki baik di dunia?
Hingga kau berusaha memutus hubungan ku yang sudah sangat jelas di pelupuk mata?
"Apa salahku, Ummi?"
Hanya kalimat itulah yang berhasil lolos dari sekian banyak pertanyaan yang bergejolak dalam hatinya. Hanya itu saja, yang ia mampu katakan sebelum ia mengurungkan dirinya di dalam bathroom nya sendiri.
"Nak..." (panggil Ummi di balik pintu)
Andin menutup rapat-rapat telinganya. Tak ingin mendengarkan satu kata lagi yang keluar darinya.
"Ummi tahu, kau adalah gadis yang sangat tegar. Kau memiliki segalanya yang ada di dalam dunia ini. Tak bisakah kau membagi sedikit kebahagiaan yang kau miliki pada orang lain? Lihatlah, Zulfia. Dia tak memiliki secuil kebahagiaan pun yang bahkan ada di dalam hidup mu. Ummi tahu, kau adalah gadis yang kuat dan mampu mengikhlaskan. Percayalah nak, kau akan mendapatkan kebahagian setelah menciptakan kebahagiaan orang lain."
Jelas. Masih terdengar sangat jelas di telinga Andin yang normal. Ia semakin mempererat dalam menutupi telinganya.
"Permisi, sedang apa anda di depan pintu seperti itu?" (ucap Helen)
Ummi terkejut dengan kehadiran perempuan yang tak di kenal yang tiba-tiba berada di kamar itu.
"Saya sedang menunggu Andin keluar dari kamar mandi."
Helen terlihat sedikit curiga.
Menunggunya? Untuk apa?
Helen mendekati pintu dan berusaha berbicara pada Andin, untuk memastikan bahwa dugaannya akan salah.
"Andin sayang, ini Tante nak. Kau di dalam?"
Tak ada sautan dari Andin. Dan sepertinya tak ada suara yang berhasil di dengar dari luar sedikitpun.
"Andin sayang, jawab Tante nak. Apa yang kau lakukan?"
Tiba-tiba terdengar suara gemericik air dari dalam bathroom. Helen sangat lega. Ternyata dugaannya salah, bahwa sedang terjadi sesuatu pada Andin. Pintu pun di buka dari dalam.
"Maaf Tante. Tadi Andin sakit perut, jadi agak lama di dalam."
"Kau sakit perut?! Sejak kapan, sayang?"
"Emm, tadi."
"Tante akan meminta mamah mu untuk memanggil dokter."
"Eh, tidak usah Tante. Perut Andin sudah tidak sakit lagi. Tidak usah, ya?"
"Kau yakin?"
Andin mengangguk. Terlihat Ummi yang hanya diam saja sejak tadi. Helen sedikit mencemaskan keadaan Andin.
Kata mu, aku gadis yang tegar, bukan? Ya, Ummi. Akan ku buktikan bahwa perkataan mu memang benar adanya. Tetapi, selain itu, aku tak mengiyakan semua ucapan mu tadi.
"Oh ya sayang, Tante hampir lupa. Tadi ada yang mencari mu."
"Siapa, Tante?
__ADS_1
"Entahlah, Tante belum menanyakan namanya. Tetapi katanya dia adalah sahabat mu di asrama."
Sahabat ku? Apa Meta? Ya, siapa lagi.
"Dimana dia Tante?"
"Dia di taman belakang. Kau akan menemuinya?"
"Tentu saja, Tante. Dia sudah jauh-jauh datang kesini."
......................
"Wahh, rumah Andin benar-benar terlihat seperti istana."
Meta duduk di kursi yang berada di taman. Memandang hijaunya tanaman hias berpadu dengan bunga-bunga cantik yang turut menambah keelokan taman.
"Hemm, ternyata seperti ini ya, rasanya jadi orang kaya heheheh."
Meta menumpang kan satu kakinya di kaki yang yang lain. Menyandarkan kepalanya dengan bertumpu di kedua tangannya. Masih terus saja mengamati taman yang diluar batas normal. Menurutnya, taman yang sangat tidak wajar untuk standar taman pribadi. Harusnya lebih tepat di panggil alun-alun. Ya, untuk khalayak umum. Begitu asumsinya.
"Met?" (panggil Andin)
Meta menurunkan kakinya dengan sigap. Meta sedikit cengengesan.
"Kau sudah menungguku lama?" (ucap Andin)
"Lumayan. Mungkin sekitar lima belas menit yang lalu." (ucap Meta tersenyum)
Andin membalas senyuman Meta. Jelas sangat terlihat kekikukan diantara mereka berdua. Tetapi masing-masing telah berusaha mengatasinya. Itu juga terlihat jelas.
"Apa belum ada pelayan yang memberi mu air minum?"
"Ah, tidak apa-apa. Aku sudah pergi ke dapur tadi, untuk meminta minum."
"Kau pergi ke dapur untuk meminta minum?"
"Kenapa pelayan tidak melayani tamu ku si." (Andin berucap lirih)
Meta memahami bahwa Andin sedang tidak merasa enak padanya.
"Sudahlah Ndin. Mungkin aku memang tidak terlihat seperti tamu hehe."
Andin semakin merasa tidak enak. Ia semakin geram dengan semua pelayan nya, dari sekian banyak pelayan. Tiba-tiba Andin pun terfikirkan sesuatu.
"Apa tadi kau masuk ke dalam dengan mudah?"
"Aku tidak boleh masuk oleh penjaga pintu gerbang, Ndin. Padahal aku sudah mengatakan bahwa aku adalah sahabat mu. Tetapi mereka malah mengusirku dengan kasar. Cih! Benar-benar menyebalkan."
Andin menelan salivanya. Membayangkan kejadian yang dialami oleh Meta, sahabatnya.
"Lalu bagaimana cara mu masuk?"
"Lewat pintu belakang."
Andin diam sejenak. Ia memikirkan tentang semua jalan masuk menuju rumahnya, tak ada bedanya. Semua di jaga sama ketatnya.
"Ya, ya, ya. Yang kau pikirkan itu memang benar. Aku tadi benar-benar sangat berusaha, dan memainkan trik agar bisa masuk ke dalam walau dengan cara apapun."
"Wah, kau memang hebat Met."
Setelah beberapa saat mengobrol, rupanya kekikukan antara mereka berdua sedikit mencair. Mereka sudah terlihat layaknya sahabat yang dulu. Sahabat yang tak pernah merasakan permasalahan sedikitpun. Pada dasarnya, sahabat memang mempunyai caranya tersendiri untuk saling temu lagi. Kerinduan di antara keduanya, jelas sangat terlihat. Sama-sama merindukan sosok sahabat yang ceria. Sosok sahabat yang saling menerima apa adanya.
"Ndin, aku ingin bertanya kepadamu."
"Apa?"
__ADS_1
"Di mana kolam renangnya? Apa tidak ada? Sejak tadi ku amati, tidak ada bau-bau kolam renang."
"Kolam renang di sebelah sana. Mari biar ku tunjukkan."
Andin berjalan pelan, Meta pun mengikutinya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan semua yang ia lihat. Ternyata masih ada bagian taman yang belum ia susuri sepenuhnya tadi. Meta menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu, kolam renang yang kau cari. Kau mau berenang?"
Astaga, ini baru taman nya saja. Bagaimana dengan di dalamnya, dan segala isinya? Benar-benar beruntung sekali aku, memasuki istana sebesar ini.
"Met? Ada apa? Kenapa diam saja?"
"Aaa tidak apa-apa."
Andin dan Meta duduk di tepi kolam renang. Sama-sama diam dengan pemikiran masing-masing. Andin yang masih memikirkan kekecewaannya atas permintaan Ummi. Sedangkan Meta, yang masih memuja-muja dan berdecak kagum dengan istana yang sedang ia masuki.
"Emm, Met?"
"Ya, ada apa?"
"Kau baik sekali. Kau datang dari jauh, hanya untukku."
Meta tertegun. Ia baru menyadari tujuan utama kedatangannya ke Surabaya. Semua yang dilihatnya, membuatnya menjadi lupa akan misi awalnya.
"Andin..."
"Ya."
"Kau jangan marah padaku, lagi ya?"
Andin menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum.
"Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan sejak dulu."
"Katakan saja."
Meta mengambil secarik kertas kosong dan bolpoint di tas berukuran sedang yang sejak tadi belum ia lepas. Beberapa saat ia menulisnya, lalu menyodorkan ke Andin tanpa keraguan sedikitpun. Andin menerima dan segera membacanya. Tak menunggu waktu yang lama, Andin telah selesai membacanya. Ia pun melipat kertas nya rapi. Lalu menatap kedua mata Meta.
"Maafkan aku Ndin. Tidak mudah untukku, mengatakan semuanya dengan gamblang. Maka dari itu, aku menulisnya di secarik kertas. Jujur saja, Aku pun sangat terkejut, ternyata pernikahan mu adalah malam nanti. Maafkan aku karena baru menyampaikannya padamu, sekarang. Itu karena dulu kau tidak mau mendengarkan ku, emm, jadi..."
"Andin, aku hanya tidak mau kau sedih. Kau tahu kan..."
Andin tersenyum lalu memeluk Meta.
"Semua yang kau tulis di kertas tadi, itu karena Mbak Zulfia yang menyuruhmu kan?"
"Kau sudah tahu?"
"Nanti ku ceritakan, bagaimana Ummi memohon-mohon padaku untuk membatalkan pernikahan ku juga, sama halnya seperti Mbak Zulfia."
Sebenarnya Meta sangat terkejut dengan ucapan Andin. Bagaimanapun, ia harus berfikir kritis.
"Lalu yang ku tulis di kertas tadi? Apakah itu juga akal-akalan Mbak Zulfia?" (tanya Meta)
"Apa Mbak Zulfia mempunyai buktinya?" (Andin bertanya balik)
"Tidak. Dia hanya menceritakan semuanya padaku, untuk disampaikan padamu."
Andin mengembuskan nafasnya perlahan.
"Kau tahu, Met? Ummi meminta ku mengikhlaskan calon suamiku untuk Mbak Zulfia. Ah, sudahlah lupakan saja, Met."
Di balik pelukan Andin, mata Meta berkaca-kaca. Ia mempererat pelukannya.
Astaga, maafkan aku Ndin. Aku sudah mempercayai semua perkataan Mbak Zulfia tanpa bukti.
__ADS_1
BERSAMBUNG...