Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Dengarkan Aku


__ADS_3

Kelas malam mengaji di asrama pesantren baru saja usai. Semua segera kembali ke kamar mereka masing-masing. Termasuk penghuni kamar C12. Mereka semua terlihat baru saja sampai di kamarnya. Meta lah yang sampai terlebih dahulu. Sedangkan Andin di belakang sendiri di antara yang lainnya. Tiba-tiba Riani yang memang sangat polos menanyakan sesuatu kepada Andin dengan berbisik-bisik.


"Ndin, bukankah sudah lumayan lama Meta sangat terlihat aneh akhir-akhir ini ya. Apa kau tahu dia kenapa?"


"Ehehe, mana ku tahu."


"Eh, bukankah kau sahabat dekatnya?"


"Ya, tentu saja Riani."


Andin mengeloyor pergi meninggalkan Riani yang masih mematung di tempatnya dengan wajah polosnya.


Ada apa dengan mereka berdua sebenarnya? Ah ya, mungkin saja mereka sedang bertengkar. Nanti juga akan baikan seperti biasa. Bukankah dalam persahabatan pasti ada lika-likunya?


Semua penghuni kamar C12 sedang bercanda gurau di dalam kamar. Terkecuali Meta dan juga Andin. Meta terlihat langsung merebahkan badannya di ranjang susun nya.


"Eh Met, akhir-akhir ini kau kerap kali tidur lebih cepat. Kerjaan mu akhir-akhir ini menjadi tukang tidur tak tahu aturan." (kata Riana)


Andin yang sejak tadi sedang membereskan rak bukunya, diam sejenak demi mendengarkan kira-kira apa jawaban yang akan diungkapkan oleh Meta.


"Memangnya apa peduli mu? Ada dan tidaknya aku bukankah kau baik-baik saja? Tak ada beban yang mengganjal pada dirimu sekecil apapun kan?" (jawab Meta)


Riana, Riani, Violla dan juga tentunya Andin yang paling terkejut setelah mendengar jawaban Meta.


Apa yang di maksud dengan Meta? Jawaban Meta benar-benar tidak masuk akal. Begitu benak Riana, Riani, dan juga Violla. Hanya Andin saja yang memahami kalimat Meta itu. Ya, Meta tengah menyindirnya. Tetapi Andin diam saja. Ia tak pernah berfikiran untuk memanaskan suasana.


"Jawaban mu benar-benar tidak masuk akal Met. Kau ini kenapa sih? Apa kau sedang putus cinta? Memangnya ada yang mau denganmu hahaha."


Mendengar tanggapan dari Riana yang memang sangat asal jeplak, Riani dan juga Violla pun ikut menertawai ucapan Riana yang dianggapnya sangat konyol. Padahal Violla sangat jarang tertawa seperti itu. Itu berarti kali ini hal yang di katakan oleh Riana memang patut mengundang gelak tawa.


"Ya, kau benar sekali. Memangnya ada yang mau denganku? Dengan gadis yang miskin dan buruk rupa seperti ku. Ya, kau tidak perlu memberitahuku pun, aku sudah tahu akan hal itu."


Seketika mereka bertiga yang menertawai Meta sejak tadi sejenak membisu karena tukasan Meta yang begitu dalam. Tentu Andin masih berpura-pura tengah berkutat di rak bukunya itu.


"Kau tidak sedang marah kan Met?" (tanya Violla)


"Ahaha, untuk apa aku marah? Ah, kalian seperti belum kenal denganku saja."


Mereka bertiga kembali tertawa lepas setelah mengetahui bahwa Meta tidak sedang marah.

__ADS_1


Kau memang pandai menyembunyikan perasaan mu Met. Kau tidak ingin siapapun mengetahui mengenai masalah kita berdua. Maafkan aku Met, aku tidak bisa melepaskan si kaku tampanku kepadamu. Dan apa kau tahu, aku dengannya semakin dekat. Mohon kau untuk berlapang dada menerima kenyataan apapun yang akan terjadi nantinya.


Andin melangkahkan kaki keluar pintu. Sepertinya dadanya tiba-tiba sesak di dalam kamar C12. Ia takut jika ia terus berlama-lama berada di situ, maka ia akan menangisi antara persahabatan dan cinta yang akhir-akhir ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.


"Kau mau kemana Ndin?" (tanya Riani polos)


Andin membalikkan badannya dan semua pasang mata pun tertuju padanya. Lalu ia sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ayo Ndin, Meta saja bisa berperan baik seperti itu. Masa kau tidak bisa?


"Ah, tiba-tiba aku merasa panas sekali di dalam kamar. Mungkin saja karena habis membenahi buku-buku ku tadi. Aku mau ke kamar mandi untuk cuci wajah sebentar."


Riana, Riani dan juga Violla mengangguk paham. Sedangkan Meta berdecih sangat pelan. Andin melanjutkan langkah kakinya untuk menjauh dari kamar C12.


Malam ini aku akan tidur di kamar lain saja. Mungkin itu akan jauh lebih baik.


......................


Di tempat yang sama dan di waktu yang sama. Terlihat Ummi, Zulfia yang tengah duduk berdua untuk kedua kalinya di aula asrama pesantren. Sebelumnya Ummi memang telah mengatakan kepada Zulfia bahwa ia akan dipertemukan dengan seseorang yang akan dijodohkan dengannya. Pada saat itu pun Zulfia hanya terdiam malu-malu.


"Apa kau sedang gugup, Mbak Zulfia?"


"Ehe, tidak Ummi."


Lagi-lagi Zulfia hanya tersenyum malu-malu, seperti mengatakan "Semoga saja, Ummi."


Lima belas menit kemudian...


"Kenapa dia belum juga datang ke sini sih? Apa di jalan sedang macet?" (gerutu Ummi)


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Akhirnya kau datang juga ustad. Aku tadi sedikit kesal karena menunggu lama. Bukankah menunggu itu sangat tidak enak?" (jawab Ummi bergurau)


"Maaf Ummi. Tadi di jalan ada sedikit masalah."


"Sudah, tidak apa-apa ustad. Yang penting kan kau sudah datang ke sini. Ayo, duduk dulu biar lebih enak dalam berbicara."


Mendengar perintah langsung dari Ummi, Zidan Haq pun segera menurutinya. Ia duduk persis di hadapan Ummi dan seorang gadis yang tidak ia kenali karena sejak tadi ia menundukkan kepalanya. Setelah beberapa saat Ummi dan Zidan Haq berbasa-basi, akhirnya mereka tertuju pada topik pembicaraan yang serius.

__ADS_1


"Eh ustad, kau tidak lihat perempuan cantik yang duduk di sebelah Ummi."


"Tentu saja Ummi."


Ummi tersenyum lalu ia melirik perempuan yang tadi ia maksud itu.


"Angkat wajahmu Mbak, tidak sopan jika di depan tamu menunduk terlalu dalam seperti itu. Itu seperti kau tengah bersembunyi. Apa kau malu?" (kata Ummi dengan nada menggoda Zulfia)


Zulfia pun mengangkat wajahnya pelan. Lalu ia melihat seseorang yang berada di hadapannya itu. Betapa terkejutnya Zulfia melihat sosok di hadapannya itu. Mata Zulfia dan juga Zidan Haq sempat beradu. Yang terkejut hanyalah Zulfia seorang. Sedangkan Zidan hanya menampilkan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja. Ekspresi Zidan memang sulit di bedakan ketika ia berada dalam suasana apapun. Datar adalah ekspresi andalannya.


"Ustad Zidan, perkenalkan ini Zulfia."


"Zulfia, ini Ustad Zidan."


Sejak tadi Zulfia sudah terlihat sangat kesusahan bernafas setelah melihat Zidan Haq lah yang berada di hadapannya itu. Dan ya, Zidan Haq jugalah yang sedang di jodohkan oleh Ummi untuknya.


Sepanjang pertemuan itu, Zidan Haq lebih banyak terdiam. Begitupun dengan Zulfia. Hanya Ummi yang terlihat sangat bersemangat dalam misinya itu.


"Baiklah Ummi, karena ini sudah larut malam, aku pamit pulang. Tidak baik jika berlama-lama di sini." (ungkap Zidan Haq)


"Oke hati-hati di jalan Ustad Zidan. Coba pikirkan kembali mengenai hal ini ya ustad. Ummi sangat berharap padamu."


Zidan Haq mengulas segaris senyum hambar lalu segera pergi meninggalkan Ummi dan juga Zulfia yang masih duduk di aula.


"Apa yang Ummi lakukan? Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa aku akan melamar Andin suatu saat nanti. Ah!" (gerutu Zidan dengan membanting setir mobilnya lalu membelah jalanan yang lengang)


Masih di ruang aula. Zulfia yang sejak tadi tertunduk tiba-tiba angkat suara ketika mengetahui Ummi akan segera beranjak dari tempat duduknya.


"Ummi..."


"Ya Mbak Zulfia, ada apa?" (kata Ummi)


"Kau tentu menyukai Ustad Zidan kan? Bukankah dia sangatlah tampan." (sambungnya lagi)


Zulfia semakin menunduk dalam. Entah apa arti dari penundukkan nya itu. Yang pasti Ummi menganggap Zulfia sedang malu-malu.


"Sudahlah Mbak Zulfia. Tidak usah malu-malu lagi seperti itu. Ustad Zidan sudah tidak ada disini kan? Baiklah Ummi akan kembali ke kamar. Rasanya sudah mengantuk sekali. Kau juga harus segera tidur ya."


Tanpa menunggu Zulfia membalas ucapan Ummi, ia sudah meninggalkan Zulfia yang masih menunduk. Zulfia memegang kepalanya frustasi.

__ADS_1


Ummi, ku mohon dengarkan aku sebentar saja.


BERSAMBUNG...


__ADS_2