Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Dia, Ibuku


__ADS_3

"Akhirnya kau bangun juga..." (ucap Zidan)


Andin mengucek matanya lalu mengerjap beberapa kali. Ia baru tersadar bahwa ia sedang bersandar di bahu seseorang. Ia pun segera menyingkir dan meminta maaf atas tindakan tidak sopan nya itu.


"Aaa maafkan saya. Saya tidak sengaja telah bersandar di bahu anda."


Aku yang sengaja menarik mu tadi. (batin Zidan)


"Apa kau sangat kelelahan?"


Hingga kau mendengkur sekeras itu?


"Hemm, ya tentu saya sangat lelah. Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, kau tadi tidur pulas sekali."


Andin memicingkan matanya. Sepertinya ia agak curiga padanya.


"Anda yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari saya?"


Zidan Haq tak bisa menyembunyikan tawanya kali ini.


Aaaaaa, mengapa dia tertawa seperti itu.


"Semua orang yang tidur kan memang seperti itu jika sangat kelelahan." (jawab Zidan memahami)


Astaga, apa dia mendengar dengkuran ku saat tidur tadi? Aaaaa, tidaaaaaak. Dengkuran orang ketika tertidur kan terdengar seperti suara hewan bab....


"Kau seperti baby. Lucu sekali saat tertidur."


"Apa yang anda katakan?!"


"Memangnya apa yang ku katakan? Baby itukan bayi. Dia sama menggemaskan nya seperti dirimu."


Rasanya ingin melayang. Terbang jauh ke langit ke tujuh.


"Kita sudah sampai, ayo turun." (ucapnya lagi)


Andin dan Zidan beserta penumpang lainnya segera turun dari kereta. Ada yang sudah di tunggu oleh keluarga mereka. Ada juga yang tidak. Saling berdesakan satu sama lain adalah pemandangan yang kini terlihat. Lagi-lagi, tak sabar untuk segera sampai ke tujuan tentu alasan utamanya.


"Berikan tas mu."


Zidan meraih ransel hitam milik Andin lalu menggendongnya di pundaknya. Andin menuruti saja.


"Eh, dimana tas anda?"


"Tidak bawa."


"Eh, kenapa bisa?"


"Jika aku memerlukan sesuatu, aku bisa membelinya."


Ya, ya. Dia orang kaya.


"Kau pun seharusnya tidak usah membawa tas. Lagian, segala keperluan mu kan sudah tersedia di rumah mu. Jika sampai ada yang kurang, kau hanya harus mengatakan nya saja." (katanya lagi)

__ADS_1


Andin masih diam saja. Ia tidak berniat untuk membalas ucapan Zidan. Tidak penting. Itu menurutnya.


"Mobil jemputan ada si sebelah sana. Ayo."


Zidan mengajak Andin untuk mengikuti langkahnya. Andin pun menurutinya. Mereka berdua pun ternyata sudah si tunggu oleh sopir. Andin dan Zidan disambut sangat sopan oleh sopir itu. Sang sopir segera mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam mobil dengan membukakan pintunya. Tidak lupa Andin berterimakasih.


"Kau kan tadi sudah tidur di dalam kereta. Sekarang giliran aku ya?" (ucap Zidan menahan kantuknya)


"Tidur lah. Saya akan menjaga anda."


"Kau sedang menggoda ku?"


Andin terkekeh sendiri. Baru kali ini ia seperti ini. Setelah beberapa obrolan, akhirnya Zidan pun terlelap tidur. Ini adalah kesempatan Andin. Ia yakin, Zidan Haq akan mengantarnya ke rumahnya.


"Pak, setelah perempatan yang besar itu kita belok kiri ya."


Pak sopir sedikit kebingungan.


"Tapi itu bukan jalan menuju rumah anda, non."


"Aaaa, sudahlah. Aku tahu jalan pintas nya. Apa bapak tidak kasian kepadaku? Aku sangatlah letih. Dan lihatlah Tuan Zidan. Ia bahkan terlelap begitu pulas."


Apa benar ada jalan pintas? Selama aku disini setahuku tidak ada jalan pintas lain.


"Bapak tidak percaya denganku?"


"Tentu percaya non. Sangat percaya."


Pak sopir membelokkan setir mobil ke kiri jalan. Mengendarai mobil dengan agak cepat. Sepertinya ia menangkap semua perkataan Andin. Bahwa mereka berdua sudah sangat letih dan ingin cepat-cepat sampai. Oleh karena itu, pak sopir mempercepat laju mobil.


Tiga puluh menit kemudian...


Zidan membuka matanya. Ia benar-benar terkejut dengan pemandangan yang ia lihat sekarang ini. Sebuah rumah yang amat ia kenali. Rumah penuh kenangan masa kecilnya. Memandangnya lamat-lamat rumah itu. Rumah yang tidak berubah sama sekali. Sudah bertahun-tahun ia tidak menginjakkan kakinya disini.


"Dimana kita? Kenapa kita berhenti disini?" (ucap Zidan marah kepada pak sopir)


"Ma-maaf tuan."


"Anda jangan marah kepadanya. Saya yang memintanya untuk kesini. Saya yang menunjukkan jalannya."


"Tapi Andin, kita harus segera pulang."


"Tidak. Anda pulang saja sendiri."


Tiba-tiba terlihat dua sosok perempuan yang keluar dari pintu rumah. Zidan benar-benar susah bernafas kali ini.


Ibu, Rossie. Aku selalu hanya bisa memandang kalian dari kejauhan.


"Ayolah, turun dari mobil sebentar saja ya? Biar saya kenalkan dengan Tante Helen. Dia sangat baik."


Kau benar Ndin. Dia sangat baik. Dia adalah ibuku. Tetapi aku tidak bisa menemuinya tanpa izin dari ayahku.


"Tidak Andin. Ada pekerjaan penting yang harus ku kerjakan sekarang ini." (kata Zidan beralasan)


"Aaaa, ayolah. Hanya bersalaman saja ya? Tante Helen sangat menyenangkan. Sedangkan anaknya itu, yang berada di sampingnya sangatlah menyebalkan. Ayolah, kumohon."

__ADS_1


Dia Rossie kan Ndin? Dia adik perempuan ku. Dia terlihat manis sekali.


"Lain kali saya ya."


"Ah, ya sudah kalau begitu!"


Andin keluar dari mobil dengan menggendong kembali ransel hitamnya dan segera berlarian kecil ke arah dua perempuan yang tengah menunggunya itu. Sedangkan pak sopir kembali melajukan kendaraan berputar arah sesuai tujuan awalnya. Ya, rumah Andin.


Zidan mengembuskan nafasnya perlahan.


Entah kapan ayah akan memberi izin untuk bisa menemui ibu dan adik perempuan ku sendiri.


......................


"Ayo sayang, minum dulu ya."


Helen menyodorkan segelas air es ke Andin. Andin meraihnya dengan girang.


"Terimakasih, Tante Helen."


Helen tersenyum lembut seperti biasanya. Selama Andin bertahun-tahunbtidak bertemu dengannya, rupanya tidak ada yang berubah darinya menurut Andin.


"Bagaimana perjalanan mu sayang?"


"Menyenangkan, Tante."


"Kau di antar siapa tadi? Sepertinya tadi Tante melihat sekilas ada yang duduk di samping mu. Tetapi itu tidak jelas."


"Apa itu kekasihmu? Yang dijodohkan oleh papahmu?"


"Hehe. Tante selalu bertanya untuk hal yang sudah Tante ketahui."


"Kenapa tidak diajak masuk ke rumah? Tante kan ingin melihatnya."


"Sudah ku ajak Tante. Tetapi katanya lain kali saja. Ada pekerjaan yang penting sedang menunggunya."


"Huh. Tante benar-benar kecewa sekali."


"Hehe, maaf ya Tante."


"Ya! Bicara saja terus berdua! Asal kalian tahu! Aku ada di antara kalian berdua, heh!"


Andin dan Helen terkekeh-kekeh. Mendengar protes dari Rossie yang selalu mengundang gelak tawa. Pada akhirnya Helen pun menyuruh Andin untuk membersihkan badannya dan segera beristirahat di kamar Rossie setelah lumayan lama bercengkrama bertiga. Sebenarnya kamar di rumah itu masih ada beberapa. Tetapi ia sengaja menyuruhnya untuk ke kamar putrinya saja. Tentu mereka berdua akan lebih senang jika saling berbicara dari hati ke hati. Walau mereka berdua seringkali bertengkar, pada dasarnya mereka saling menyayangi.


...----------------...


Di ruang tamu bernuansa mewah, Zidan, Kumala dan Arga tengah duduk berbincang. Zidan beberapa kali mengucapkan untaian kata maaf kepada Kumala dan Arga atas kecerobohannya itu. Karena sudah tertidur selama perjalanan hingga pada akhirnya mereka sampai di rumah Helen sesuai arahan Andin.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Nanti biar Andin di jemput sopir rumah."


Kumala tidak marah karena Zidan tidak membawa putrinya ke rumahnya. Ia memakluminya. Andin memang seperti itu. Bagaimana pun hal seperti ini tidak akan mudah di terima oleh putrinya itu. Apalagi, selama di asrama tidak ada satupun keluarganya yang menjenguknya atau hanya sekedar menanyakan kabar nya.


"Apa ibumu sudah mengetahui tentang perjodohan kalian berdua?" (tanya Arga)


Zidan menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Saya rasa belum. Bahkan sampai detik ini ibu tidak mengetahui keberadaan kami. Ia tidak mengetahui bahwa saya sering berada di sekitarnya."


BERSAMBUNG...


__ADS_2