
Di MAN 102 Bandungan, semua siswa kelas X IIS 1 Favorit terlihat sedang berada di lapangan basket. Yaa, pada hari Jum'at dan juga di jam itu jadwal pelajaran mereka memang penjas. Kebetulan materinya memang permainan bola basket. Semua siswa dikelompokkan dalam beberapa kelompok, setiap regu berisi lima anak. Untuk pembagian laki-laki dan perempuan pun dibedakan. Andin masuk ke kelompok delapan tentunya tanpa Talita Arifa, karena semua orang memang tidak mengetahui penyamaran Talita Arifa yang menjadi laki-laki bernama Arif.
Talita pun dikelompokkan dengan regu laki-laki.
"Heh Rif, cepat oper bolanya dong jangan malah kebingungan seperti itu." (kata salah satu anggota regu dari Arif alias Talita Arifa)
Arif alias Talita Arifa tentu saja beberapa kali mendapat ocehan dari tim regunya karena ia sangat lamban dalam bermain bola basket. Yaa, tentu saja karena dia sejatinya adalah seorang perempuan. Andin yang melihat kejadian yang meninpa temannya yaitu Talita, tentu saja cekikikan sendiri dalam hati kecilnya.
Hahaha, itulah akibatnya jika kau berusaha menjadi laki-laki.
Andin masih cekikikan sendiri di tepi lapangan setelah melihat Talita yang memang selalu berpenampilan layaknya laki-laki sedang bermain bola basket dengan sangat kesusahan tidak seperti laki-laki lain pada umumnya.
Andin pun masih menonton semua regu lainnya juga yang sedang bermain bola basket sesekali meminum air mineralnya.
Talita memang sangat keren, ia bahkan bisa mengelabuhi semua orang yang berada di sekelilingnya bahwa ia adalah laki-laki. Yaa, gaya penampilan nya memang laki-laki. Ah, aku bahkan tak menyangka kalau dia itu benar-benar perempuan sampai saat ini.
Setelah beberapa saat, lalu seseorang menghampiri Andin dan kemudian ikut duduk di sebelahnya. Andin sama sekali tidak terkejut dengan kedatangannya. Yaa, tentu saja karena yang datang adalah Talita Arifa.
"Heh Ndin, kau liat regu ku tadi main kan?" (tanya Talita sambil mengelap peluh keringat nya)
"Hahaha, aku menertawai mu sepanjang kau bermain." (jawab Andin dengan ledekan yang sempurna)
"Huh grup regu ku itu sangat kurang ajar!" (Talita mengatakan dengan raut muka emosi)
"Haha, memangnya kenapa dengan mereka?"
"Kau tahu Ndin, salah satu dari mereka ada yang mendorongku."
"Ah iya, aku melihatnya tadi.."
"Hiiih kau tahu dia menyentuh dadaku hiks." (ungkap Talita masih dengan emosi yang menggebu)
"Hahaha, benarkah? Lalu bagaimana ekspresi nya?" (jawab Andin dengan sangat antusias)
"Aku melihat dia sedikit melototkan mata. Aaaaa dia sangat keterlaluan berani-beraninya sudah menodaiku seperti itu.."
"Halah, dia kan tidak tahu kau adalah perempuan kan."
"Ah iya. Semoga saja dia tidak curgia padaku."
Setelah obrolan selesai, mereka berdua segera menuju ke loker khusus tempatnya menaruh baju ganti. Yaa, pelajaran penjas memang sudah selesai. Semua siswa harus berganti seragam lagi seperti semula. Andin dan Talita pun menuju ke arah yang berbeda. Andin menuju loker khusus perempuan, sedangkan Talita menuju ke loker khusus laki-laki. Yaa, karena sejatinya semua orang mengetahui jenis kelamin Talita memang lah laki-laki.
__ADS_1
Andin membuka lemari lokernya, mengambil handuk kecil dan juga seragam sekolahnya. Tetapi ketika Andin menarik handuk kecil dan juga seragamnya, tiba-tiba sesuatu terjatuh ke lantai.
Andin segera mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah muda dengan pita putih menghiasinya yang tergeletak di lantai.
"Apa ini?" (Lirih Andin)
Andin segera melirik ke kanan kirinya berharap ada seseorang yang bisa ia tanyai. Tapi sayangnya nihil, tidak ada satupun manusia yang berada di ruang loker itu. Andin segera membolak-balik kan kotak kecil itu, ia menemui tulisan kecil di bawah kotak.
"To: Andin Puspita Arga."
Andin segera membuka kotak itu karena kotak kecil itu memang untuknya.
"Hah? Inikan gantungan kunci kesayangan ku waktu kecil?"
Andin sangat terkejut dengan isi gantungan kunci kecilnya yang memang sudah lama sekali ia cari-cari.
Siapa yang mengirim gantungan kunciku ini?
Terlihat juga kertas kecil yang dilinting. Ia segera membuka lintingan kertas itu dan membacanya.
"Pangeran senjana, putri senjani."
Apa maksud dari pangeran senjana dan juga putri senjani? Aaaa, kenapa dia juga bisa membuka lemari lokerku padahal kan selalu dikunci rapat.
"Mah, gantungan kunci milik Andin dimana ya mah. Sejak tadi Andin cari nggak ketemu."
Terlihat gadis kecil berlari ke arah mamahnya sambil menangis. Mamahnya pun segera membopong gadis kecil itu.
"Nanti beli lagi ya sayang.."
"Aaaa tidak mau mah, Andin cuma mau gantungan itu."
"Ya sudah nanti dicari lagi ya, pasti ketemu sayang." (kata mamahmya dengan tersenyum dan terus membujuk gadis kecilnya yang sedang merengek)
Andin sudah mengingat kenangan kecilnya tentang gantungan kuncinya yang memang sudah hilang beberapa tahun silam entah kemana.
Kira-kira siapa yang bisa membuka pintu lemari lokerku dan juga mengirim gantungan kunci ku ini ya?
Setelah lama berpikir keras yang tak ada ujungnya, Andin segera memasukkan gantungan kecilnya dan juga kertas kecil ke dalam kotak lagi. Lalu membawa handuk kecilnya dan juga seragamnya segera beranjak ke kamar ganti khusus siswa perempuan.
Di tempat lain, masih di MAN 102 Bandung tepatnya di ruang ganti khusus laki-laki. Terlihat beberapa siswa laki-laki sedang mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Eh Rif, mau masuk sekalian ganti bareng kita apa nggak?"
Seseorang teman laki-laki nya menawari Arif alias Talita yang sedang berdiri di depan pintu ruang ganti sambil memegang handuk kecil dan juga seragam yang hendak ia pakai.
"Kalian kan sudah berdua, nanti malah sempit."
Seorang perempuan bernama Talita yang mereka anggap adalah teman laki-lakinya segera menolak ajakan mereka untuk masuk bersama mereka.
"Heh, jangan mengada-ngada. Di dalam kan sangat luas ayo cepat masuk karena jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai."
Belum sempat Talita menyanggah ajakan mereka, salah satu dari mereka segera menarik lengan Talita untuk segera masuk ke dalam ruang ganti tersebut.
Aaaa, kenapa dia malah menarikku ke dalam seperti ini sii. Apa yang harus kulakukan nanti, masa iya aku akan membuka baju di depan mereka? Itu sangat tidak mungkin, karena rahasia ku akan terbongkar.
Mereka bertiga berada di ruang ganti yang sama, dan segera membuka baju mereka untuk membersihkan badan kecuali Talita.
"Heh Rif, kau sedang apa di balik tembok itu cepat bersihkan badan mu."
Salah satu dari mereka menegur Talita yang memang sejak tadi berdiam diri di balik tembok.
"Ah kalian dulu saja, perutku sedang sedikit sakit." (jawab Talita lirih)
Talita masih berdiam diri di balik tembok yang tentunya membelakangi mereka bertiga yang terlihat sedang berganti pakaian. Ia mendengar obrolan mereka berdua dan juga tawaan mereka yang sangat keras membuat Talita sangat merinding berada disitu.
"Hahaha, heh apa kau tidak memakai ****** *****?"
"Ah tadi pagi aku sangat buru-buru, jadi sampai lupa memakai ****** *****."
"Bagaimana jika sampai pacarmu mengetahui nya? Hahaha mungkin dia akan sangat jijik."
"Ah aku tidak akan mengatakan hal itu, dan dia juga tidak akan menanyakan hal itu kan haha."
"Lalu bagaimana jika aku yang akan mengatakan hal ini kepadanya?"
"Aku akan membunuhmu."
Tawaan keras pecah di dalam ruangan itu karena obrolan konyol mereka berdua. Sedangkan Talita yang sejak tadi berada di balik tembok beberapa kali bergidik ngeri mendengar obrolan mereka berdua.
Mengapa mereka berdua malah buka-bukaan seperti itu sih, benar-benar menjijikan. Cih!
BERSAMBUNG...
__ADS_1
THANK YOU FOR YOU READING
KRITIK DAN SARAN SELALU TERBUKAš„°