Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Hati Yang Sama


__ADS_3

Adzan Maghrib berkumandang, Andin sudah sampai ke asrama pesantren setelah bersekolah hari ini yang menurutnya sangat melelahkan. Ia segera mengambil wudhu dan segera sholat di kamarnya. Yaa, Andin memang sudah izin kepada pengurus untuk tidak ke masjid. Andin benar-benar lelah dan setelah sholat akan langsung beristirahat.


Andin merebahkan badannya yang terasa lemas sekali. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya lalu mengulas senyum mengingat kejadian tadi siang di sekolah.


"Andin, kau disuruh datang ke ruang Tuan Zidan Haq."


Guru matematika yang memang sedang mengisi di kelas IIS 1 Favorit, tiba-tiba berucap dengan keras di ruangan itu setelah memandangi ponselnya. Mungkin saja ia telah mendapat notifikasi dari seseorang untuk memanggil Andin.


Andin pun segera menuju ke ruangan khusus pemilik sekolah tanpa berlama-lama. Padahal semua siswa di kelas itu memandangi Andin sedikit menelisik, kira-kira mengapa Andin di dipanggil oleh Tuan Zidan Haq yang sangat terhormat itu. Begitu pikir mereka kira-kira, begitupun juga dengan guru yang menyampaikan pesan tadi kepada Andin. Ia memang sangat penasaran juga, tetapi ia pendam bahkan semua siswa pun juga memendam dalam-dalam penasaran yang timbul di otaknya. Yaa, itu karena mereka semua tidak mau mendapatkan masalah jika mereka terlalu mencari tahu tentang Zidan Haq.


"Permisi.."


Andin berdiri di depan pintu kaca ruangan khusus pemilik sekolah. Lalu ia segera mengulang kembali kata-katanya menjadi salam setelah mengingat kejadian di rumah Talita bersama Zidan Haq.


"Eh, assalamualaikum. Apa saya boleh masuk."


Tak ada sahutan apapun dari dalam sana. Ia pun berniat akan membuka pintu itu sendiri mengingat kedatangannya ia disitu memang undangan dari Zidan Haq.


Sebelum Andin memegang gagang pintu, Zidan Haq sudah terlebih dahulu membuka pintu itu.


"Silakan masuk. Maaf tadi menunggu agak lama karena aku habis dari kamar kecil."


"Ah tidak menunggu lama, saya juga baru sampai."


"Baiklah, masuk."


Andin menuruti perintah Zidan Haq yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam.


Wah, benar-benar ruang kebesaran. Ini sih tidak kalah seperti ruang Papah Arga di perusahaannya.


Andin mengagumi ruangan yang sangat mewah itu. Zidan Haq segera menyuruh duduk di sofa kepada Andin. Ia pun menurutinya.


"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, tapi tolong dijawab jujur."


Zidan Haq memulai pembicaraan dengan Andin. Andin pun mulai menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Zidan Haq.


Aaaa, apa dia akan menanyakan perasaan kepadaku? Ah, kenapa perutku tiba-tiba sakit begini si.


"Silakan, tanyakan saja."


"Hemm, apa kau masih ingat kejadian di rumah Talita pada saat itu?"


"Ya, tentu saja saya ingat."


Ah ayolah katakan saja tentang perasaanmu, jangan bertele-tele seperti itu kumohon.


"Hemm, apa kau marah ketika aku memelukmu pada saat itu?"


Bagaimana mungkin saya marah kepada anda? Aaaa, aku bahkan ingin mengulang kembali momen itu. Ayo sekarang peluk aku lagi..

__ADS_1


"Sedikit.."


Andin menjawab dengan gelagat aneh. Zidan Haq pun terkejut dengan jawaban Andin.


"Aku benar-benar minta maaf. Karena pada saat itu aku hanya ingin melindungi muridku yang sedang terancam."


"Yang sudah biarlah berlalu." (jawab Andin dengan nada lemah)


"Apa yang bisa aku lakukan agar kau bisa memaafkan ku?" (tanya Zidan Haq kepada Andin)


"Hemm..."


Andin berpura-pura berpikir untuk menemukan solusinya. Zidan Haq pun menunggu jawaban dari Andin. Lalu sesaat kemudian ia mengatakan sesuatu.


"Traktir saya makan siang ini."


Terlihat Zidan Haq yang sedikit tersenyum setelah mendengar ucapan Andin.


"Kau benar-benar menggemaskan, Andin Raharga." (batin Zidan Haq)


"Baiklah, kau boleh makan sepuasnya dimanapun kau mau."


Beberapa kali Zidan Haq menawarkan restoran terbaik di kota itu. Tetapi semua pun ditolak olehnya. Andin meminta untuk ditraktir makan di pedagang kaki lima pinggir jalan depan sekolah saja. Awalnya Zidan Haq menolak permintaannya, tetapi karena itu memang sudah kemauannya jadi ia mengalah. Akhirnya mereka berdua makan gado-gado di tenda pedagang kaki lima pinggir jalan.


Andin menutup wajahnya dengan bantal lalu sedikit berteriak gemas.


"Wah wah, katanya lagi letih sekali. Rupa-rupanya di kamar malah enak-enakan menghayal seperti ini."


Tiba-tiba terdengar sautan dari Meta yang meledeknya. Ia pun segera membuka bantal yang menutupi wajahnya itu.


"Ahh biarkan saja. Aku lebih baik daripada kau yang mencintai ustadmu diam-diam tak ada perubahan apapun kan??"


Andin menjulurkan lidahnya meledek Meta, sahabatnya. Meta tiba-tiba menampilkan sorot mata yang sedih.


"Haha kali ini kau benar Ndin, aku mungkin memang sudah ditakdirkan untuk mencintai dalam diam seperti ini..,"


"Aku tidak seperti kau yang bersekolah dan bergaul dengan siapapun. Aku hanya butiran debu yang tak terlihat sedikitpun." (Meta melanjutkan kalimatnya kembali)


Mendengar ungkapan yang terlihat tidak dibuat-buat oleh Meta, Andin benar-benar trenyuh dengan ucapan Meta. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Meta menjadi down seperti itu.


"Ah ayolah Met, kau pasti bisa mendapatkan cinta itu. Tentu saja karena kau kan memiliki cinta yang sangat tulus untuknya." (kata Andin)


"Benarkah Ndin?"


"Tentu saja."


"Aaaa, kalau begitu aku akan memperjuangkan cintaku."


"Nah, itu baru sahabatku.."

__ADS_1


Mereka menyudahi obrolannya, karena memang adzan isya' sudah berkumandang. Mereka segera sholat di kamar. Lalu, bersiap-siap untuk berangkat ke kelas akhlak.


"Tumben mau berangkat ke kelas akhlak, biasanya malas." (ledek Meta)


"Itu karena hari ini hatiku sangat berbunga-bunga."


"Baiklah, jika nanti sudah melihat jodohku yang mengajar pelajaran akhlak jangan jatuh cinta padanya ya. Nanti kau lihat siapa yang lebih tampan antara jodohku atau si kaku tampan mu."


"Haha, seleramu dan seleraku kan sangat jauh berbeda."


Mereka berdua tertawa bersama setelah mengobrol kesana kemari sambil berjalan menuju ruang kelas akhlak.


Rembulan berbentuk sabit yang indah menghiasi langit malam hari yang terlihat begitu menawan ditambah dengan kelap-kelip bintang kecil yang menyebar di seluruh permukaannya. Andin, Meta dan teman-teman yang lainnya masih berjalan menuju kelas masing-masing.


Beberapa kali berpapasan dengan santri laki-laki, yang membuat semua santri perempuan menundukkan kepalanya karena malu. Terkecuali Andin, ia tetap tegak walau bertemu dengan santri laki-laki.


Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah sampai di kelas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Andin dan Meta, mereka duduk satu meja bersama.


Andin langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja dan berniat akan tidur sebelum yang mengajar akhlak datang. Ia pun sudah menyuruh Meta yang sedari tadi sedang belajar sendiri dengan buku-bukunya untuk membangunkan ketika gurunya sudah masuk. Meta pun mengiyakan.


Beberapa menit kemudian, terdengar bel tanda pelajaran akan segera dimulai. Semua santri duduk tegak pertanda sudah siap menerima pelajaran malam ini. Meta pun beberapa kali membangunkan Andin yang tertidur.


"Ndin, heh cepat bangun. Sebentar lagi guru nya akan datang."


Meta menyenggol Andin dengan lengannya, tetapi Andin tidak segera bersuara.


Sejurus dengan itu, seseorang telah masuk ke dalam ruangan dengan pesona yang selalu memukau bagi siapapun yang melihatnya.


"Heii Andin, katamu kau ingin melihat jodohku. Cepat banguuuuun."


Meta berbisik-bisik dalam membangunkan Andin lalu mencubit lengannya dengan keras agar ia terbangun dari tidurnya. Andin pun segera berteriak kesakitan dengan suara yang cukup keras hingga semua mata memandang ke arah mereka berdua.


"Aaaaaaaa....!"


Meta segera membungkam mulut Andin dengan tangannya, lalu berbisik..


"Lihatlah, semua mata memandang ke arah kita termasuk jodohku.."


Andin segera melihat ke arah depan dengan maksud untuk melihat siapa guru yang selalu di puja-puja oleh Meta, sahabatnya.


Setelah melihat siapa yang sedang duduk di kursi guru akhlak, Andin segera melototkan matanya lalu bertanya kepada Meta siapa namanya untuk memastikan hal yang ia lihat adalah salah.


"Siapa namanya Met?"


"Ustad Zidan Haq Ndin, dialah yang selalu aku ceritakan kepadamu.."


Apa?! Bagaimana mungkin.. kenapa dia bisa ada dimana-mana seperti ini sii. Dan, kenapa juga seseorang yang dicintai oleh Meta adalah si kaku tampanku. Aaaa, aku harus bagaimana ini..kenapa hidup sebercanda ini sii.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2