
Pagi hari di kediaman Keluarga Raharga. Terlihat Arga, Kumala yang tengah duduk di sofa. Zidan berjalan melewati mereka. Kumala mencegatnya.
"Nak, tadi pagi kau belum sarapan. Sebaiknya sarapan lah terlebih dahulu." (ucap Kumala)
"Nanti saja, mah. Aku ingin melihat kondisi Andin di kamar."
Kumala tersenyum.
"Pergilah. Bicaralah dengannya. Sepertinya dia sedang mengalami masalah yang tidak biasa. Tetapi Andin tidak mau bercerita denganku." (ucap Kumala)
"Dan mungkin saja, dia mau bercerita denganmu." (sambung Arga)
"Maafkan putri kecil kami yang masih kekanakan ya, nak. Dekati lah dia, dan berbicara dengannya." (ucap Kumala)
Mendengar ucapan Kumala yang terakhir, Zidan kesusahan menelan salivanya. Mengingat laporan orang suruhannya untuk mencari alasan mengapa Andin menjadi sangat murung. Dan ia saat ini sudah mengetahui jawabannya. Ada dua perempuan yang harus ia temui terlebih dahulu. Pertama, Andin, istrinya. Kedua, Olive, ibu tirinya.
Zidan berjalan gontai menuju kamar untuk menemui Andin. Debaran rasa takutnya di dada, sudah berusaha ia singkirkan dari dalam dirinya. Tetapi tetap saja, ada rasa takut yang masih tersisa. Terutama, takut dilepas dan kehilangan ikatan yang baru saja akan dimulai nya.
Zidan berdiri tepat di ambang pintu kamar. Sebelum ia membuka pintu, ia mengelap keringat yang mulai mengucur terlebih dahulu.
"Sayang..."
Ia memberanikan dirinya memanggil Andin dengan sebutan itu. Melihat Andin yang tengah duduk terdiam sembari memegangi kedua kakinya, Zidan merasakan hatinya yang teriris. Bagaimanapun, ia tak bermaksud menyakitinya dan membuatnya terluka seperti itu. Tetapi tetap saja, sebuah luka hadir akibat masa lalunya.
"Andin, istriku..."
Masih tak ada sautan. Zidan perlahan mendekati nya. Segera menundukkan kepalanya. Lalu membungkukkan badannya dan berlutut tepat di depannya.
"Maafkan aku..."
Ucapan maaf berkali-kali ia haturkan pada Andin. Pada istrinya. Tetapi keadaannya masih sama. Tak ada sautan darinya atau bahkan hanya sekedar melirik. Ia tahu, saat ini segala sesuatunya telah berubah.
"Kau tenangkan dirimu, aku akan memberimu banyak cukup waktu. Jangan lupa untuk berusaha memaafkan kebodohan ku di masa lalu." (ucap Zidan pelan)
Zidan beranjak hendak meninggalkan Andin. Lalu sebelum ia benar-benar menutup pintu, ia membalikkan badannya kembali. Melihat Andin yang masih di posisi yang sama. Duduk diam dengan tangan yang memegangi kedua lututnya.
"Aku mencintaimu, istriku."
Pintu kamar telah sepenuhnya ditutup. Zidan melangkahkan kakinya keluar rumah dengan terburu-buru.
Sedangkan Andin menatap pintu. Pintu yang masih terdapat bayang-bayang kecil Zidan yang baru saja menutupnya. Andin memejamkan matanya, lalu membukanya perlahan. Dan setelah itu, ia mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya secara teratur.
Ia beranjak ke depan meja riasnya. Ia duduk dan menatap wajahnya di depan cermin cukup lama. Lalu setelah itu, ia melepaskan kerudung nya. Yang senantiasa menutupi rambut indahnya. Bahkan di setiap waktu, ketika Andin dan Zidan bernafas di atap kamar yang sama sekalipun.
Andin mengambil sisir rambut miliknya, dan menyisakan sisir rambut yang satunya. Yaitu sisir milik Zidan. Ia mulai menyisir rambutnya perlahan-lahan sembari menatap wajahnya.
Dia bahkan belum pernah melihat rambut ku, bukan?
......................
Di sebuah kafe yang yang tidak terlalu ramai. Zidan menyapukan penglihatan nya di sekeliling kafe itu demi mencari seseorang yang hendak ia temui. Tetapi nihil. Ia segera mengambil ponsel di saku nya.
"Dimana sekarang?"
__ADS_1
Pesan terkirim.
"Di belakang mu."
Tiba-tiba saja, Olive sudah ada di belakangnya. Zidan segera duduk di kursi yang terdekat. Olive mengikutinya.
"Ada hal penting apa yang sangat ingin kau bicarakan?" (tanya Olive)
Satu pelayan kafe menghampiri meja mereka dan menanyakan apa yang ingin dipesan. Olive mengatakan hanya memesan minuman saja, setelah menanyakan nya pada Zidan dan Zidan menggeleng untuk makan. Pelayan itu pun mencatat pesanan dan segera meninggalkan mereka.
"Ini tentang Diana."
Olive terkejut. Tetapi ia segera menghilangkan keterkejutan nya dengan mengambil tissue di tas nya dan mengelap wajahnya pelan-pelan.
"Hari yang panas, ya? Mamah saja sampai berkeringat. Huh." (ucap Olive)
"Tolong jangan mengalihkan pembicaraan."
Olive meletakkan tissue nya di atas meja. Pesanan minuman sudah datang. Pelayan kafe itu pun segera kembali bekerja.
"Kau dulu mengatakan padaku, bahwa kau akan meminta Diana menggugurkan kandungannya," (ucap Zidan)
"Kau berbohong." (sambungnya lagi)
Olive mengernyitkan keningnya setelah mendengar ucapan Zidan.
Darimana dia tahu akan hal itu?
"Astaga apa yang harus ku lakukan? Kekasih mu yang kampungan itu sangat keras kepala. Dia menolak uang pemberian ku dan tidak mau menggugurkan kandungannya." (ucap Olive)
Olive berdecih.
"Kau ingin menyalahkan ku? Apa kau lupa, waktu itu kau sudah tidak ingin mendengar namanya?"
Kali ini Zidan diam tak menjawab. Yang diucapkan oleh Olive memanglah benar.
"Darimana kau tahu?" (tanya Olive)
"Darimana aku tahu, tidaklah penting. Masalahnya adalah, Andin sudah mengetahui semuanya. Diana yang bercerita pada istriku."
"Benarkah? Diana berani mengadu? Kurang ajar!"
Olive mengepalkan tangannya geram. Lalu Olive diam beberapa saat.
"Masalah ini jangan sampai mempengaruhi pernikahan kalian."
"Itulah mau ku. Tetapi apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa meminta maaf. Semuanya tentu terserah istriku."
"Lalu bagaimana dengan kedua mertua mu, itu? Maksudnya, bagaimana sikapnya pada mu?" (tanya Olive)
"Andin belum berbicara apa-apa."
Zidan menundukkan kepalanya lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Olive menggeser kursinya lalu memegang pundak Zidan.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, kau harus mempertahankan pernikahan mu."
Zidan menatap Olive sekejap. Lalu ia menyingkirkan tangan Olive yang menempel di pundaknya.
"Sudahlah. Tidak ada yang bisa aku lakukan."
Olive menyeringai.
"Kau memang tidak bisa, tetapi aku bisa."
"Apa yang akan kau lakukan?"
Olive meninggalkan Zidan tanpa menjawab sepatah katapun lagi. Zidan tentu sangat khawatir jika ibu tirinya akan melakukan hal yang tidak tidak.
......................
"Suami mu tadi pergi kemana? Dia terlihat sangat terburu-buru."
Kumala mengamati putrinya yang tengah menyisir rambutnya. Andin hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kumala mendekati putrinya dan segera membantunya menyisir rambut dengan manja.
"Kau putriku yang cantik. Putri kesayangan mamah dan juga papah."
Kumala menatap putrinya dari cermin dengan tak berhenti mengulas senyum.
"Mamah selalu ada untuk putri kecil ku ini."
Kumala mencubit pelan pipi Andin. Sedangkan Andin masih tak berekspresi apapun.
"Oh iya, mamah mempunyai sebuah kejutan untuk mu."
Andin masih tak bergeming. Kumala meletakkan sisir di atas meja.
"Jika putriku ini tidak bisa bercerita pada mamahnya, mungkin saja dia mau bercerita kepada mamahnya yang satunya lagi,"
"Dan mungkin sebentar lagi dia akan datang." (sambungnya lagi)
Kumala tersenyum dan mengelus rambut Andin, lalu ia segera meninggalkan Andin.
Tante Olive?
Setelah Kumala benar-benar keluar dari kamar nya, Andin menjatuhkan kasar apapun yang terdapat di meja riasnya. Ia kembali mengingat semua perkataan Diana. Semuanya. Tak ada yang terlupakan sedikitpun.
Andin menunduk frustasi. Ia menyesali karena Kumala menyuruh Olive untuk datang. Kumala tidak tahu, semua permasalahan putrinya saat ini berangkutan dengan Olive.
Andin menegakkan wajahnya kembali. Menatap wajahnya saat ini di cermin. Wajahnya yang tersulut penuh emosi. Ia mengambil ponselnya di atas ranjang nya. Lalu melemparnya dengan keras tepat sasaran mengenai cermin.
Prakkkkk...!!
Seketika pecahan cermin bertebaran dimana-mana. Andin mengontrol nafasnya yang naik turun tak beraturan. Tiba-tiba saja, pintu kamarnya terbuka dengan keras.
"Andin sayang, suara apa itu?!"
Andin mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
Tante Helen?
BERSAMBUNG...