Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Kucing Jepang Favorit


__ADS_3

Hari semakin petang, burung-burung mulai beterbangan untuk kembali ke sarang mereka masing-masing, mentari kembali ke peraduannya, tergantikan dengan senja yang kian memanjakan semua mata memandang. Lukisan tuhan semesta alam yang selalu menakjubkan.


Sedangkan di asrama pesantren tempat Andin tinggal, terlihat Andin yang sedang menyangga kepalanya dengan kedua tangannya, menandakan ia sedang memikirkan sesuatu, entah apa. Tiba-tiba Meta datang mengagetkan nya, yang tentu berhasil membuat Andin tersadar dari lamunannya.


"Ada titipan dari mbak Zulfia, Ndin."


(kata Meta sambil menyodorkan bingkisan berukuran besar berwarna biru muda)


"Thanks Met, kau boleh pergi."


"Apa kau mengusirku? Asal kau tahu saja, ini bukan hanya kamar milikmu tuan putri Andin Raharga!"


"Ahaha, tentu saja ini kamar milik kita berlima. Maksudku kau mungkin sibuk, pergilah dan lakukan kesibukanmu sendiri. Seperti itu wahai sahabatku."


"Apa kau tidak bisa melihat air liur ku yang kian menetes demi melihat bingkisan besar berwarna biru muda itu?! Cepat buka, aku sungguh penasaran dengan isinya."


"Baiklah kalau kau benar-benar ingin mengetahui isinya, karena aku memang selalu bersikap baik terhadap siapapun, oleh karena itu..."


"Apa kau bisa membuka nya sekarang Andin?! Kau sangat bertele-tele!"


Meta memotong kalimat Andin, yang tentunya membuat Andin cengengesan merasa puas membuat sahabatnya kesal karena penasaran.


"Hemm, kira-kira isinya apa yaa?"


Andin sengaja membuat Meta semakin penasaran.


Rasakan!


"Kalau kau tidak mau membuka bingkisan itu, biar aku saja yang akan membukanya dengan paksa!"


Kata Meta sembari merebut bingkisan besar berwarna biru muda yang berada di pangkuan Andin, lalu membuka dengan tidak hati-hati yang tentu membuat Andin sangat terkejut dengan kelakuan sahabatnya.


Benar-benar tidak tahu malu! Kembalikan bingkisanku!


"Kau memang sengaja mengulur-ulur waktu kan? Rasakan akibatnya karena kau berani membuatku naik darah."


Kata Meta yang masih menuntaskan tujuan suci mulianya untuk membuka kado Andin dengan menyeringai puas.


Kenapa jadi Meta yang berperilaku antagonis? Bukannya disini aku yang harus berperan antagonis?


Hei sang sutradara, tolong tegur Meta!


Tiba...tiba...


"Apa ini Ndin?! Apa?! Isinya boneka?! Sangat menjijikan."


Kata Meta sembari melempar kan bingkisan berwarna biru muda yang belum ia buka seluruhnya ke pangkuan Andin kembali, lalu ia pergi menjauh dari kamar C12.


Hahahaha, rasakan! Itu adalah hukuman karena kau sudah berani-beraninya membuka bingkisanku tanpa seizinku.


Meta memang sangat membenci segala macam boneka, hanya Meta dan tuhannya yang mengetahui apa alasannya.


Andin kembali membuka bingkisan yang berada dipangkuan nya itu dengan sesekali mengulas senyum yang sangat manis.


Inilah yang dimaksud Ummi tadi pagi. Eh tapi ini kan bentuknya bingkisan, kenapa Ummi mengatakan paket surat bukannya sebuah bingkisan besar? Ah, mungkin mamah memberitahu Ummi untuk memberiku sedikit kejutan, mereka kan memang sangat akrab seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu saat mamah mengantar ku ke asrama pesantren ini..


"Mala."


(Panggil akrab Ummi kepada Mamah Kumala)


"Hai Ummi, apa kabar denganmu?"

__ADS_1


(Jawab Mamah Kumala dengan nada bersemangat)


"Kabarku selalu baik, wah kau terlihat semakin cantik saja. Bagaimana perjalanan nya dari Surabaya menuju ke Bandung?"


"Ah bisa saja. Perjalanan dari Surabaya ke Bandung berjalan lancar tanpa ada kendala satupun di jalan. Mungkin karena memang sudah jalannya Andin untuk kesini."


Jawab mamah kepada Ummi, yang langsung menatapku hangat, seperti menyiratkan..


"Putrimu sangatlah cantik, Kumala. Dia sangat mirip sekali denganmu. Aku akan menjaganya disini dengan baik."


"Dia sangat mirip denganmu." (Jawab Ummi)


Tuh kan kali ini dugaanku tidaklah meleset. Baiklah sang sutradara, silakan beri penghargaan kepadaku atas kerja kerasku.


"Aku mau kau mendidiknya sama seperti muridmu yang lainnya. Jangan membedakan antara Andin dengan muridmu yang lain dengan alasan karena dia putriku."


Kenapa mamah mengatakan hal itu si? Seperti menegaskan, jika aku melakukan kesalahan, maka Ummi boleh menghukumku sesuka hati. Ahh, kenapa mamah jadi ketularan virus buruk papah juga si! Cih!


"Aku akan berusaha semampuku dengan memberikan yang terbaik untuk semua yang tinggal di asrama pesantren ini."


"Aku percaya padamu."


Hemm, Ummi dengan mamah memang sangat akrab layaknya sahabat.


Andin kembali memporak-porandakan bingkisan dari mamahnya itu demi melihat apa saja yang terdapat di dalamnya. Terdapat boneka karakter kartun kucing Jepang besar berwarna biru muda dan sepucuk surat.


Aaaa, boneka kesayangan ku.


Beberapa teman-teman penghuni asrama pesantren lainnya yang juga melihat Andin membuka bingkisan itu karena pintu kamar C12 memang terbuka lebar mengira hari ini Andin berulang tahun. Tidak sedikit pula yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Andin. Tentu saja Andin hanya mengulas senyum dan mengiyakan tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Tapi sayangnya dugaan mereka salah besar. Mendapat kejutan seperti kado dan yang lainnya adalah hal yang biasa untuk Andin, yang memang berasal dari keluarga kelas atas. Teman-teman Andin bahkan tidak ada yang mengetahui bahwa Andin berasal dari keluarga terpandang, kecuali Meta. Meta mengetahui semua seluk beluk masa kecil Andin termasuk kebencian Andin kepada papahnya dan juga guru privat yang membuat Andin tergila-gila sampai detik ini.


"Wah, kompak sekali kalian? Masuk kamar saja bersama-sama seperti berjanjian saja haha."


"Apa kau tidak memasang telinga mu dengan baik, Ndin?"


(Kata Violla dengan raut muka yang selalu dingin dan datar)


Aku tidak bertanya kepadamu heh. Aku bertanya kepada Meta, dan juga si kembar Riana, Riani. Tutup saja mulut pedas mu itu!


"Bel kan sudah berbunyi keras tadi Ndin, ini waktunya mengaji Kitab Akhlak seperti biasa."


(Jawab Riani dengan polos)


Ah iya, dari tadi aku melamun sampai tidak mendengar bel sekalipun.


Mereka berempat terlihat sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kelas mengaji Kitab Akhlak. Andin bahkan tidak berniat untuk berangkat bersama mereka.


Rasanya hari ini lelah sekali. Aku akan membaca surat dari mamah setelah itu aku mau tidur saja!


"Ndin cepat bersiap-siap, yang lain sudah berangkat." (Kata Meta)


"Hoammm, ah aku sangat mengantuk. Pergi sana dengan yang lain." (Jawab Ansjn dengan menguap keras)


"Kau apa-apaan sih Ndin! Setiap pelajaran Akhlak tidak berangkat!"


"Aaah kau kan tahu pelajaran Akhlak sangatlah membosankan."


"Tidak seburuk itu Andin, apalagi kalau kau tahu yang mengajar pelajaran itu adalah pak ustad yang tampan sekali huuuu."


(Jawab Meta dengan tersenyum berbunga-bunga layaknya sedang membicarakan sang kekasih)

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak tertarik dengan kata-kata mu."


"Aku kan hanya menawari. Yaaa, mungkin saja kau ingin melihat jodohku."


"Memangnya ada yang mau dengan perempuan tomboy sepertimu?"


"Sepertinya kau harus memperbanyak berkaca diri. Sudahlah aku mau berangkat menemui jodohku."


"Jangan lupa titip absen seperti biasanya yaa..."


"Kemalasanmu sangat merepotkan ku, Cih!"


Meta beranjak pergi menyusul teman-teman lainnya yang sudah berangkat sejak tadi tanpa menunggu Andin menjawab kembali kalimat terakhirnya.


Hoamm, aku sungguh mengantuk sekali..aku akan tidur sebentar saja sampai Meta dan teman-teman kembali pulang. Setelah mereka pulang baru aku akan membaca isi surat dari mamah.


Andin pun beranjak naik ke tempat tidur susun yang berada di tengah antara tiga susun ranjang. Meta berada di susunan bawah sekasur dengan Violla, sedangkan si kembar Riana, Riani berada di susunan teratas.


......................


Sedangkan di tempat lain, di kelas belajar mengajar Kitab Akhlak yang memang terpisah dengan murid laki-laki. Artinya hanya terdapat murid perempuan dan juga seseorang yang mengajar di kelas itu.


Terlihat pembelajaran berlangsung dengan cukup rileks yang kadang serius dan tidak jarang juga diselingi candaan kecil.


"Apa kalian menyukai pelajaran Akhlak kali ini?"


(Tanya ustad setelah mengakhiri pelajaran dengan membuka obrolan santai dengan murid-muridnya)


"Sangat suka, ustad.."


(Jawab mereka semua dengan kompak seperti berjanjian)


"Semua memang akan terasa mudah jika kita menikmati. Jadi, jangan menganggap pelajaran Akhlak atau pelajaran yang lainnya itu sulit dan membosankan ya anak-anak..."


(Tutur pak ustad dengan lembut tanpa mengulas senyum sedikitpun)


"Pelajaran Akhlak menjadi tidak membosankan berkat kelihaianmu, pak ustad. Lebih tepatnya jodohku." (batin Meta)


"Apa kelas ini memang hanya ada 39 anak? Tetapi di buku absen terdapat 40 anak?"


Tanya ustad dengan memandangi buku absen yang sedang ia pegang dan membaca dalam hati setiap nama yang tertera.


Semua hening, tanpa ada yang berani menjawab pertanyaan dari ustad, dan tentu saja yang paling terlihat cemas adalah Meta.


Aduhh, bagaimana ini. Kenapa pak ustad menanyakan nya si, biasannya kan dia tidak pernah menanyakan soal ini. Aaaa, mati riwayatmu Andin.


Tiba-tiba seseorang menjawab pertanyaan dari ustad dengan mengangkat tangan kanannya.


"Ada satu lagi yang tidak hadir pak, yaitu Andin. Dia sedang bersantai di kamar dan mungkin saja sekarang sudah terlelap tidur seperti biasa."


Jawab Violla lancar dengan raut wajah yang masih datar dan dingin yang tidak merasa bersalah sekalipun.


Cih! Kenapa disini harus ada manusia robot seperti Violla si, dasar tukang mengadu! Maaf Ndin, kali ini aku tidak bisa membantu mu dihadapan jodohku.


Ustad yang terlihat tidak terkejut dengan jawaban Violla hanya terlihat mengangguk paham.


Apa pak ustad akan melaporkan hal ini kepada Ummi? Mati riwayatmu kali ini Ndin. Ummi tidak akan memberi toleransi untuk kesalahanmu kali ini.


BERSAMBUNG....


KASIH TAU SAYA JIKA MENEMUKAN TYPO YAA, TERIMAKASIH 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2