
"Ayah sedang sakit. Kau tahu, bahkan terdapat luka memar di dada ayah."
Ziban tentu terkejut sama halnya dengan Zidan kemarin setelah mendengarnya langsung dari sang dokter mengenai luka memar di dada ayahnya.
"Bagaimana mungkin ayah memiliki luka memar di dada dan ayah diam saja, bang?"
Zidan Haq menarik nafasnya dan mengembuskan pelan.
"Menurut mu siapa yang melakukan hal itu kepada ayah?"
"Siapa lagi kalau bukan hama penganggu itu bang. Cih!" (kata Ziban dengan berdecih keras)
"Aku pun menduga Olive lah yang berbuat kasar kepada ayah. Tetapi jika di pikir-pikir apa itu masuk akal? Lalu mengapa ayah hanya diam, diam, dan terus diam? Kata penjelasan dari dokter kemarin luka memar yang terdapat di dada ayah adalah luka yang menumpuk."
"Cih! Aku yakin hama pengganggu itu mengancam ayah!"
Jawab Ziban tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Ayah bukanlah sosok yang mudah di gertak oleh siapapun. Apa kau lupa hal itu?"
Mendengar ucapan dari kakaknya, Ziban pun mengerutkan keningnya.
Hemm, benar juga kata Bang Zidan. Ayah tidak mungkin dapat digertak dengan mudah oleh siapapun.
Beberapa saat kakak beradik itu terlihat diam sejenak. Mereka sama-sama terlihat memikirkan sesuatu. Ya, apalagi kalau bukan mengenai ayahnya.
AAAAAHH HMMMPPPPHHH...!!!!
"Suara apa itu Ziban?!"
Zidan refleks berdiri setelah mendengar suara aneh yang tertangkap jelas di telinganya. Ziban tentu terlihat panik.
Cih! Mengapa dia mengeluarkan suara seperti itu si! Apa yang harus ku lakukan! Jangan sampai Bang Zidan mengetahui Andin berada di kamar ini juga, bisa-bisa dia marah kepadaku! Ah, bagaimana jika Andin sampai mengatakan kepada Bang Zidan tentang perlakuan ku kepadanya?
"Ah ayolah bang, duduk dan lanjutkan ceritamu lagi. Sejak tadi aku tidak mendengar apapun bang."
"Jelas-jelas tadi terdengar suara seorang perempuan menjerit Ziban. Aku yakin itu. Apa yang menjerit ada di sekitar sini?"
Wajah Ziban mendadak pias. Ia tak bisa menyembunyikan wajah piasnya itu di hadapan kakaknya. Ia benar-benar khawatir jikalau Zidan sampai mengetahui semuanya.
"Ada apa dengan wajahmu Ziban? Mengapa kau sangat pucat? Apa ada yang sedang kau sembunyikan dariku?"
Ah, astaga! Ayo Ziban, kendalikan dirimu. Jangan sampai Bang Zidan terus mencurigai mu lagi.
"Ahaha, untuk apa aku menyembunyikan rahasia darimu bang. Kau lah yang paling dekat denganku, dan aku akan selalu bercerita apapun masalahku kepadamu bang."
"Lalu mengapa wajahmu mendadak berubah pias seperti itu? Aneh sekali." (tanya Zidan menaikkan satu alisnya)
"Kau bilang tadi mendengar suara jeritan seorang perempuan kan bang?"
__ADS_1
"Iya benar dan aku sangat yakin. Karena itu sungguh terdengar jelas tadi. Masa kau tidak mendengarnya juga sih?"
Ziban segera memasang wajah sangat ketakutan. Hal itu membuat Zidan memandangi adiknya serius.
"Bang, sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan kepadamu. Itu mengenai seorang perempuan itu..."
"Ada apa sebenarnya?"
"Sebelum-sebelumnya aku juga pernah mendengar persis seperti yang kau dengar tadi bang. Apa kau mendengar seorang perempuan itu seperti menjerit ketakutan?"
Zidan menganggukkan kepalanya mantap.
"Apa terdengar seperti suara menjerit lalu di bungkam?"
Zidan menganggukkan kepalanya kembali. Ia tetap memandang adiknya yang tengah bercerita dengan serius.
"Ish bang. Entah mengapa bulu kudukku tiba-tiba merinding seperti ini. Ketika aku sendiri pun di dalam sini, aku sering mendengar sama halnya yang kau dengar tadi bang.."
"Heh! Apa yang sedang kau bicarakan Ziban. Tidak akan mungkin ada hal-hal aneh seperti itu."
"Mengapa tidak mungkin bang? Kau ingat kan sekolah ini memang beberapa kali terjadi kasus yang tak terduga."
Zidan menelan salivanya pelan. Tiba-tiba ia merasakan bulu kuduknya benar-benar berdiri setelah mengingat beberapa kejadian-kejadian di masa lampau.
Ceklek!!!!
Aaaaaaaaaaaa!!!
"Heh! Mengapa kau membuka pintu secara tidak sopan seperti itu hah! Memangnya kau siapa?!"
Tukas Ziban kepada Rinta yang telah membuka pintu masuk dengan sangat keras hingga membuatnya dan Zidan terkejut. Rinta pun segera menunduk dalam karena merasa bersalah.
"Maaf kak. Aku takut di depan sendirian..."
Kakak beradik itu memandang Rinta dengan tatapan aneh. Lalu Zidan Haq tiba-tiba membuka suara.
"Takut? Memangnya apa yang membuatmu sampai ketakutan seperti itu?"
Zidan Haq bertanya lugas kepada Rinta yang memang sangat terlihat ketakutan. Ya, ekspresi ketakutan di wajah Rinta tak dapat disembunyikan lagi.
"Emmmm, tuan..tadi di depan ada..."
Jawab Rinta terbata-bata. Hal itu semakin membuat kakak beradik itu penasaran. Jangan-jangan Rinta juga mendengar jeritan seorang perempuan yang sama.
"Apa kau mendengar jeritan seorang perempuan juga, Rinta?" (tanya Zidan Haq antusias)
"Tidak tuan. Tadi saya sedang membaca buku untuk mengisi waktu luang saya ketika menunggu Kak Ziban di luar, tiba-tiba tadi saya melihat ada kecoa di lantai. Dan itu sering terjadi. Saya sering melihat kecoa yang belum juga hilang dari perpustakaan."
Zidan Haq mengusap seluruh wajahnya pelan.
__ADS_1
"Jadi tadi kau yang menjerit sekeras itu hingga menembus sampai ke sini? Dengan alasan karena takut melihat kecoa, Rinta?"
"Ya tuan maafkan saya jika suara saya sangat menganggu. Kecoa itu benar-benar menjijikan. Saya selalu geli ketika melihatnya, dan tidak bisa menahan ketakutan ku."
Ziban menyilangkan kakinya di tempat tidurnya, lalu angkat bicara.
"Sini Rinta, mendekatlah."
Kata Ziban mengarah ke Rinta yang masih mematung. Rinta pun segera mendekat ke arah Ziban tanpa bantahan sedikitpun darinya.
PLAAKKK!!!
Sebuah bantal empuk di lempar ke wajah Rinta.
"Dasar bodoh! Jadi kau yang selalu menakut-nakutiku selama ini hah?! Berani-beraninya kau membuatku mengira bahwa suara itu adalah suara makhluk halus hah?! Apa kau hanya ingin aku terlihat bodoh di hadapan kakak ku ini hah?!"
Zidan Haq terkejut dengan perlakuan adiknya kepada Rinta yang dianggapnya sangat berlebihan.
"Eh, Ziban apa yang kau lakukan?! Rinta sedang ketakutan karena melihat kecoa tadi. Kau jangan memarahinya seperti itu."
"Memangnya kenapa bang? Dia hanya ingin supaya aku terlihat bodoh di hadapan kau saja!"
Jawab Ziban sembari menunjuk-nunjuk ke wajah Rinta dengan luapan emosinya. Zidan Haq pun menenangkan amarah adiknya.
Ah, Ziban kalau sedang emosi sangatlah berbahaya. Bisa-bisa dia akan menelan Rinta mentah-mentah di hadapanku.
"Rinta, pergilah." (kata Zidan Haq pelan)
"Heh, bang! Apa yang kau lakukan. Aku belum memberikan pelajaran kepadanya!"
Rinta segera mengeloyor pergi meninggalkan ruang kamar rahasia itu. Ia menaati perintah dari Zidan Haq dan memang terlihat sangat ketakutan jika Ziban Alkash
sampai benar-benar akan menghukumnya.
Zidan Haq pun menenangkan adiknya itu sembari mengelus-elus pundaknya. Terlihat Ziban yang sedikit tenang. Tiba-tiba dering ponsel Zidan Haq terdengar. Ia pun segera mengangkatnya.
"Halo." (sapa Zidan kepada sekretaris di kantornya )
"Maaf Tuan Zidan, ada beberapa klien yang memaksa ingin bertemu dengan anda langsung tuan. Apa anda bisa datang ke kantor? Jika tidak, maka saya akan mengatasinya tuan."
"Kebetulan urusan ku sudah selesai. Oleh karena itu aku akan segera menuju ke kantor."
"Baiklah tuan."
Zidan Haq memutus teleponnya.
"Aku akan pergi ke kantor lagi. Ingat, nanti pulang ke rumah dan ingat juga jangan memarahi Rinta lagi."
Ziban Alkash mengangguk. Zidan Haq pergi meninggalkan adiknya sendirian dan segera kembali ke kantornya. Ziban meraih ponselnya segera mengetikkan sesuatu dan berhasil dikirim. Ia membanting ponselnya ke sembarang arah setelah itu menelantangkan tubuhnya di atas kasurnya. Memejamkan matanya, lalu mengulas senyum penuh kepuasan.
__ADS_1
"Untung saja Bang Zidan tidak mencurigai bahwa Andin sedang berada di kamar mandi. Ah, Rinta memang selalu bisa diandalkan. Eh, ngomong-ngomong mengapa Rinta datang di saat yang tepat?" (gumam Ziban Alkash)
BERSAMBUNG...