Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Apa Salah Bibi?


__ADS_3

"Masakan Tante Helen memang selaluuuu enak." (ucap Andin sembari mengacungkan jempolnya)


"Kau selalu pandai sekali memuji Tante mu ini." (jawab Helen)


"Sungguh Tante. Nasi goreng spesial buatan Tante uhhhh benar-benar enakkkk. Para koki terbaik di belahan dunia mana pun akan kalah jika harus bertanding dengan Tante."


Helen tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Andin melanjutkan misinya dalam menyantap sarapannya dengan senang hati.


"Eh, kenapa Rossie belum juga ke sini." (kata Helen)


Tanpa menggubris perkataan Helen, Andin masih saja melanjutkan sarapannya tanpa ada beban sedikitpun.


"Andin? Kau tahu tidak mengapa Rossie tidak ikut sarapan."


"Ehmm...."


"Dia sedang tidak lapar, katanya Tante."


"Tumben sekali. Biasanya dia paling suka makan hehe." (kata Helen)


"Putri Tante kan memang selalu berubah-ubah seperti itu haha."


"Ya, kau benar."


"Bibiiiiii......" (Andin setengah berteriak)


"Biiiiiiii, tolong panggilkan Rossie..." (ujarnya lagi)


Helen hanya diam saja.


"Ish bibi ini dipanggil tidak muncul-muncul, sama seperti Rossie haha." (Andin bergurau)


"Biiiii....."


"Andin sayang, bibi tidak ada disini." (kata Helen)


"Benarkah? Ah, pantes saja dipanggil berkali-kali tidak ada sautan sedikitpun."


"Apa bibi sedang ke pasar, Tante?" (tanya Andin sembari menghabiskan makanan terakhir ke mulutnya)


"Tidak. Bibi sudah Tante berhentikan." (ucap Helen tenang)


"Haaaa? Kenapa bisa Tante? Apa salah bibi? Bibi kan sangat baik. Bahkan ia telah lama berada disini kan." (ungkap Andin tidak percaya)


"Tante hanya sedang ingin berhemat."


Andin terperangah. Ia masih belum bisa mempercayai yang baru ia dengar.


Berhemat? Bagaimana mungkin.


"Mungkin hal ini sulit untuk kau percayai, Andin sayang." (ucap Helen lagi)


"Memangnya apa yang terjadi padamu, Tante?"


"Tidak sedang terjadi apa-apa. Hanya saja, bisnis yang sedang Tante kelola sekarang sedang tidak stabil. Jadi, Tante pikir berhemat untuk saat ini sangat dibutuhkan apalagi Rossie kan juga harus melanjutkan pendidikannya." (jelas Helen)


Andin tiba-tiba merasakan kesedihan yang mendalam. Membayangkan Tante Helen yang berjuang sendirian tanpa adanya sosok suami di sampingnya. Andin memang sudah mengetahui sejak lama, jikalau suami Tante Helen memang telah lama pergi meninggalkannya.


Suami Tante memang jahat. Tega-teganya dia meninggalkan istrinya dan juga Rossie, putri satu-satunya.


Andin memang tidak mengetahui perihal anak Tante Helen yang lainnya. Ia hanya mengetahui anak Tante Helen hanya satu, yaitu Rossie.


"Apa Tante melakukan hal semuanya sendiri? Termasuk urusan rumah."


Helen hanya menyimpulkan senyum manisnya. Andin yakin, senyuman itu adalah palsu.


"Tapi Tante, rumah Tante begitu besar."


"Ahh Tante sudah terbiasa. Lagipula, Rossie juga selalu membantu Tante lho."


"Benarkah Tante?"


"He'eh."

__ADS_1


"Walau Rossie begitu menyebalkan, kali ini Andin sedikit salut padanya."


"Ingat ya Tante, hanya sedikit. Dan tolong jangan katakan kepada Rossie, bahwa Andin sudah memujinya."


Helen sedikit terhibur dengan lelucon Andin.


Banyak hal yang harus ku syukuri di balik semua derita yang ku alami. Ada Rossie, putriku. Dan juga ada Andin yang sudah ku anggap putriku juga. Mereka berdua sangat istimewa di dalam hidupku. (batin Helen)


"Tante,"


"Kenapa Tante diam saja? Apa ucapan Andin ada yang menyinggung Tante?"


Lagi-lagi Helen tersenyum. Sepertinya tersenyum adalah hal yang tidak ia lepaskan dalam hidupnya hingga ia menjadikannya sebagai kebiasaan dalam segala keadaan.


"Tidak Andin sayang. Sama sekali tidak." (ucap Helen sembari menumpuk piring yang kotor)


Andin memerhatikan semua gerak-gerik Helen. Ia benar-benar lincah dalam membereskan semuanya.


Entah dimana sekarang ayahnya Rossie. Yang pasti, mempunyai ayah seperti nya adalah mimpi buruk bagi semua. Ah, semoga saja ayah mertuaku tidak sepertinya.


Andin bergidik ngeri.


......................


Di dalam ruang kerja milik Arga di rumahnya, ia terlihat tengah menenggelamkan dirinya dengan setumpuk berkas-berkas penting yang harus ia tanda tangani. Tiba-tiba terdengar seseorang masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu. Ya, Kumala. Siapa lagi kalau bukan istrinya yang masuk ke ruangan kerja itu dengan semudah itu.


"Pah, ini teh nya."


Kumala menyodorkannya secangkir teh panas yang baru ia seduh. Tidak lupa sepiring biskuit kesukaan suaminya itu.


"Terimakasih, mah."


Arga menjawab tanpa melihat istrinya sedikitpun. Ia masih saja berpaku dengan pekerjaannya itu. Kumala melangkahkan kakinya menuju ke tirai jendela. Ruangan kerja yang begitu nyaman. Tidak ada yang di perbolehkan masuk ke dalam ruangan itu, kecuali Kumala dan pelayan khusus terpercaya yang membersihkan ruangan itu. Bahkan Andin, sebagai putrinya sekalipun belum pernah masuk ke dalamnya. Kumala mewanti-wanti kepada putrinya itu untuk tidak masuk ke dalam ruangan itu. Ya, tentu saja itu bukanlah masalah yang besar untuk Andin. Toh Andin juga memang tidak ingin masuk ke dalam ruang kerja papahnya itu.


"Mamah sedang memandang apa?" (tanya Arga sedikit melirik)


"Lanjutkan saja pekerjaan papah, tidak usah bertanya kepada mamah."


Jawab Kumala datar. Ia masih saja memandang luar jendela tak berarti. Arga meletakkan beberapa lembar berkas ke meja. Ia meraih secangkir teh yang dibuatkan istrinya tadi, lalu menelannya dua sesepan. Berdiri dan mendekati Kumala yang masih berdiri memandang luar jendela.


"Sudah selesai pekerjaan mu?" (Kumala balik bertanya)


"Pekerjaan apa?"


"Ya pekerjaan tadi." (Kumala benar-benar kesal dengan jawaban Arga)


"Papah tidak pernah bekerja apapun. Yang bekerja hanyalah pegawai papah."


"Apa pagi ini papah tidak ke kantor?"


"Tidak."


"Kenapa? Katanya ada meeting di kantor."


"Papah batalkan."


"Kenapa di batalkan?"


"Terserah papah. Papah kan bos nya."


Ya. Terserah!


Kumala menghembuskan nafas geram. Arga tertawa terpingkal-pingkal. Berhasil membuat istrinya marah di sepagi ini.


"Mamah..."


Tidak ada sautan dari Kumala.


"Istriku..."


Kumala masih tak bersuara.


"Istriku, sayang."

__ADS_1


Cup!


Arga mengecup pipi kanan Kumala.


"Papah ini?!" (geram Kumala)


"Iya, sayang."


Cup!


Kecupan kedua Arga mendarat di hidung Kumala karena istrinya sedikit menggerakkan kepalanya. Tentu hal itu membuat bidikan Arga tak sesuai incaran.


"Papah ini! Kebiasaan!"


"Kebiasaan kenapa? Mamah tidak suka ya? Maaf ya, papah salah sasaran. Makannya mamah diam saja."


"Bukan itu pah!"


"Lalu?"


"Selalu menyebalkan! Selalu menggoda jika mamah sedang marah!"


Hehe, itu jurus andalan papah, mah.


Arga menarik tubuh istrinya untuk mendekat. Mendekapnya erat dalam pelukannya.


"Kau ini masih saja tidak berubah." (kata Arga pelan)


"Biarkan saja! Ini sifat asliku yang selalu suka ngambek!"


"Bukan itu..."


"Lalu apa?! Mamah yang menyebalkan, begitu?!" (ucap Kumala keras)


"Hussst. Pelankan suaramu,"


"Istriku ini masih saja tidak berubah. Masih tetap cantik seperti masih perawan saja." (Arga sedikit terkekeh dengan kalimatnya)


Kumala hendak melepaskan tubuhnya yang di dekap Arga. Tetapi hal itu tidaklah berhasil, karena Arga jauh lebih kuat darinya. Pemberontakan Kumala memang tidak pernah dianggap berarti oleh Arga. Baginya, pemberontakan oleh istrinya itu dianggap menggemaskan. Entah mengapa ia merasa lebih menikmatinya.


"Istriku ini tidak akan pernah lolos dari ku." (lirih Arga)


Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Kumala.


"Ah, baiknya aku mulai dari mana dulu ini." (ucap Arga)


"Baiklah, papah mulai dari sini." (ucapnya lagi)


Arga memandang dua gundukan yang sangat menarik.


Kriiiiiiiiingggggg.....kriiiingggggg......


Ah, siapa yang berani menganggu!


Arga benar-benar kesal dengan bunyi telepon yang berbunyi. Sedangkan Kumala merasa lega karena pagi ini ia akan lepas. Arga melepaskan pelukannya. Ia mendekat ke arah bunyi telepon yang berdering.


"Dasar telepon sialan!"


Arga menggunting sambungan kabel dari telepon itu. Hingga akhirnya bunyi pengganggu tidak lagi terdengar. Kumala menelan salivanya. Terperangah dengan tindakan suaminya. Arga kembali mendekati istirnya. Tiba-tiba bunyi dering kembali terdengar. Kali ini berasal dari handphone genggam nya.


"Siapa lagi si!"


Tertera nama si pemanggil.


"Atta."


Arga memandang Kumala yang terlihat sedang menjulurkan lidahnya ke arah Arga. Ya, ia sedang meledek suaminya karena kali ini Kumala merasa menang. Jika si penelpon adalah ayah dari anak yang sedang dijodohkan dengan putrinya, tentu saja tidak akan mungkin dimatikan.


Arga Raharga, tidak pernah menerima kekalahan apapun!


Arga melangkahkan kaki ke pintu. Mengunci pintu hingga berbunyi glek dua kali, lalu menarik kuncinya dan memasukkan ke dalam saku celananya.


"Anggap saja ini iklan ya, istriku sayang. Nanti kita mulai lagi. Biar papah angkat dulu panggilan nya sebentar." (Arga tersenyum puas)

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2