Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Cinta dan Pemujaan


__ADS_3

Andin menyentuh tangan Diana dengan tujuan menyalurkan kekuatan yang tersisa untuknya. Ia tahu, nestapa kesedihan lebih berada di posisi Diana dan juga Elle. Jika dibandingkan dengan kesedihannya, maka Andin hanyalah tokoh yang tidak tahu apa-apa. Ia hanya sedang berada diantara kehidupan mereka bertiga atas kehendak Tuhan yang maha kuasa.


"Apa ayahnya Elle namannya Zidan Haq? Ibunya adalah Olive dan ayahnya adalah Atta?"


Diana menatap tajam Andin.


"Bagaimana kau tahu?"


"Katakan dulu, apa benar ayahnya Elle adalah Zidan Haq?"


Diana mengangguk. Dan seketika itu juga lah, Andin merasakan desiran yang amat kuat. Ia tiba-tiba saja meneteskan air mata yang sudah tak tertahankan. Ia juga mengangkat jari manisnya sembari tersenyum dengan linangan air mata yang turut serta mengiringi. Ia menunjukkan pada Diana perihal cincin pernikahan yang melingkar cantik di jari manisnya dengan senyum dan tangis yang hampir imbang.


"Kau istrinya? Kau yang kemarin baru saja menikah dengannya?"


Andin mengangguk dengan senyum dan tangis yang masih sama. Ada sisi lain yang ingin menangis, dan ada sisi lain pula yang melarang nya untuk menangis hingga akhirnya ia menunjukkan kedua-duanya secara bersamaan.


Ku mohon, jangan menangis lagi!


Andin mengelap sisa-sisa air matanya yang ia paksakan untuk berhenti secepatnya.


"Maaf kak, aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu kalau laki-laki yang aku nikahi sudah memiliki..."


Andin menelungkup kan kedua tangannya. Diana memegang tangan Andin dan menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak ingin Andin menelungkup kan kedua tangannya untuk dirinya.


"Aku tidak habis pikir dengan sikap ayahnya Elle. Rasanya sangat sulit untuk dipercaya." (ucap Andin putus asa)


"Tidak. Dia hanya tidak tahu bahwa Elle telah ku lahir kan pada akhirnya. Pada saat itu, akhirnya aku tahu bahwa dia melanjutkan sekolah di luar negeri tanpa meninggalkan pesan sedikitpun padaku. Bu Olive terus saja datang menemui ku untuk memastikan ku bahwa kandungan yang tak diharapakan olehnya telah lenyap dengan iming-iming uang. Tetapi aku terus bersikeras untuk mempertahankan nya walau dengan segala hinaan dari semua orang. Ya, aku menolak semua uang yang akan dijanjikan. Hingga akhirnya, Bu Olive mengangkat tangannya dan menutup mata. Dia pun pergi meninggalkan ku dan tidak datang lagi kepadaku sampai detik ini." (jelas Diana)


"Tapi tentunya itu adalah permintaan ayahnya Elle kan? Untuk menggugurkan saja kandungan mu itu. Hanya saja, dia tidak berani datang padamu dan hanya melalui Tante Olive. Benar-benar pengecut." (ucap Andin sinis)


Diana memejamkan mata nya. Lalu ia membukanya kembali perlahan.


"Untuk hal itu, hingga detik ini pun aku masih tidak mengetahuinya. Mungkin saja, dia hanya belum siap di umurnya pada saat itu." (Diana masih membela)


Andin pun menghembuskan nafas nya agak kasar.


"Apakah kau sangat siap hamil muda ketika masih menjadi siswi pada saat itu, kak?"


"Andin...bukan seperti itu. Perjalanan hidupnya masih sangatlah panjang. Dia memiliki cita-cita tinggi yang sangat ingin diraihnya."


Andin dibuat geram kembali dengan jawaban Diana. Ia masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Diana masih sangat baik padahal ia sudah menderita akibatnya.


"Kak Diana, coba jawab jujur. Apakah pada saat itu, kau tidak memiliki ingin dan angan? Apakah pada saat itu kau sama sekali tidak memiliki cita-cita? Mimpi-mimpi indah? Menjadi sukses dan membanggakan?" (ucap Andin dengan nada sedikit tegas)


Ucapan Andin kali ini membuat Diana bungkam. Ia menundukkan kepalanya, merasa perkataan Andin memang sepenuhnya adalah benar.

__ADS_1


"Ini tentang tanggungjawab. Bukan tentang siap tidak siap, kak. Akibatnya, kau harus menjalaninya sendirian selama ini. Aku tahu, itu tidaklah mudah. Dan tidak akan ada perempuan satupun yang sanggup seperti mu. Tidak akan ada yang mampu."


Diana mengangkat kepalanya kembali dan mengulas senyum tipis.


"Sudah, lupakan saja. Aku tidak apa-apa."


Ah, Ya Tuhan!


Andin memegang kepalanya geram.


"Sudah malam, pulanglah. Suamimu pasti mencari-cari mu." (ucap Diana)


"Kak,"


Diana menunggu ucapan Andin selanjutnya.


"Apa menurut Kak Diana, setelah ini, aku akan baik-baik saja dengannya? Tentu saja, jawabannya adalah tidak."


"Ku mohon, aku tidak ingin menjadi perkara dalam pernikahan kalian." ( ucap Diana)


"Kau salah kak. Bukan kau. Tetapi aku lah yang berada diantara kalian."


"Ku mohon, jangan mempermasalahkan masa laluku dengan pernikahan mu."


"Tidak kak. Aku hanya mempermasalahkan sifat serta sikap tidak tanggungjawab dirinya terhadap mu dan putrimu."


"Percayakan semuanya padaku, kak. Terimakasih telah bersedia menceritakan semuanya padaku tentang kebenarannya. Aku sangat bersyukur untuk itu. Sungguh."


Diana mengangguk pasrah dengan mengulas sedikit senyum. Sangat sedikit.


"Baiklah kak. Ini sudah malam. Aku akan pulang ke rumah dan segera mengurusnya. Ah iya, aku juga membawakan sedikit oleh-oleh buah segar dan beberapa makanan untuk kalian. Semuanya sudah di taruh di meja makan. Maaf tidak bilang terlebih dahulu, kak. Karena meja makannya terlihat sangat jelas tadi ketika aku mau masuk ke kamar ini, jadi..."


Diana menertawai Andin. Ah ya, lebih tepatnya ia menertawai dirinya sendiri dan rumahnya yang amat kecil dan sempit.


"Rumahku memang sangat sempit, hehehe. Terimakasih banyak atas semuanya, Andin. Kau baik sekali seperti malaikat."


Yang baik itu kau, kak. Bukan, aku.


"Sama-sama Kak Diana. Obatnya jangan lupa di minum. Assalamualaikum."


Diana mengangguk kembali seraya tersenyum manis.


"Waalaikumsalam."


Andin meninggalkan mereka setelah menjabat tangan Diana ala sahabat dan juga tentunya mencium kening gadis kecil itu. Elle. Putri dari Diana Anastasia dan juga suaminya sekarang ini, Zidan Haq.

__ADS_1


Berkali-kali cinta berhasil membuat sang pemuja lemah. Dan berkali-kali pula cinta berhasil menciptakan luka mendalam di hidup sang pemuja. Dan saat ini juga, aku berjanji tidak akan pernah memuja cinta itu lagi.


......................


Rumah kebesaran Keluarga Raharga berada. Lebih tepatnya di ruang utama. Terlihat Arga, Kumala, dan Zidan yang tengah menunggu kedatangan seseorang. Ya, siapa lagi kalau bukan menunggu bintang utamanya, ialah Andin seorang.


"Kan sudah mamah bilang pah, Andin cuma sedang ada urusan disana. Nanti juga pulang."


Kumala mengangkat suaranya berusaha menjelaskan kepada Arga supaya tidak cemas.


"Bahkan asisten papah kehilangan petunjuk keberadaan Andin dimana, mah. Entah apa yang sudah terjadi." (ucap Arga masih terlihat sangat khawatir)


Kumala mendekati suaminya. Ia memegang tangan Arga berusaha menyakinkan padanya bahwa Andin memang baik-baik saja.


"Pah, mah, aku akan ikut mencari Andin saja, ya? Rasanya sangat tidak tenang jika hanya mengandalkan anak buah saja." (ucap Zidan)


"Tidak, jangan nak. Mamah yakin Andin pasti baik-baik saja. Tenanglah." (ucap Kumala)


"Tidak mah. Aku akan tetap mencarinya." (Zidan bersikeras)


Zidan Haq terlihat hendak beranjak pergi. Tetapi Arga mencegahnya.


"Jika istriku mengatakan bahwa Andin baik-baik saja, ya dia memang baik-baik saja. Sudah. Tetaplah disini. Kau tidak perlu meragukan asisten kepercayaan ku."


Zidan Haq terdiam. Tak ada kata-kata yang mampu diucapkannya lagi. Ia pun menurut dan duduk kembali. Tiba-tiba ponsel Arga berdering.


"Dari asisten papah." (ucapnya menatap Kumala)


"Angkat pah, cepat." (ucap Kumala tidak sabar)


"Bagaimana? Sudah ketemu?"


"Sudah terlacak kembali tuan. Mereka sedang berada di perjalanan dan sepertinya menuju arah jalan pulang."


"Tadi kau mengatakan lokasinya tiba-tiba hilang. Kenapa tiba-tiba terlacak kembali?"


"Saya pun sangat heran tuan. Hal itu bisa terjadi jika ada kerusakan sistem di mobil yang di tumpangi Non Andin, tetapi itu tentu saja sangat di luar kendali kami. Dan kami yakin kesalahan seperti itu hanya bisa terjadi jika ada yang dengan sengaja..."


"Sudah, sudah. Kau tidak perlu banyak berbicara. Lain kali, sistem pelacakan lokasi harus di cek secara berkala. Kali ini aku memaafkan mu."


Telepon dimatikan. Asisten kepercayaan Arga sedikit berdecih. Tentu saja, itu bukan murni kesalahannya. Ya, karena ada yang sengaja merusak sistemnya dan memperbaikinya kembali. Begitulah asumsinya.


Ah, ya sudahlah. Lagipula Tuan Arga tidak akan mendengarkan pembelaan ku. Bagaimanapun, ia hanya ingin memastikan putrinya baik-baik saja. Hanya itu yang ingin didengarnya. Selain itu, masih banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan di kantor. Jadi aku tidak perlu memperpanjang masalah ini.


Asisten kepercayaan Arga kembali memantau lokasi keberadaan Andin dengan seksama. Untuk memastikan, tidak akan ada lagi alasan tuan nya untuk menegur dirinya kembali seperti tadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2