
Senyum merekah secercah mentari pagi. Menghiasi wajah cantik menambah pesona yang terkuak dalam dirinya. Hari ini entah mengapa Andin merasa berbahagia. Mengingat perkataan Zidan Haq kemarin di rumah sakit mengenai masalahnya di sekolah telah terselesaikan. Tak ada yang perlu Andin khawatirkan. Pelaku yang menyebar fitnah tentang Andin telah mengakui fitnah yang ia sebar.
"Apa anda mengetahui perihal mengenai fitnah yang di sebar oleh orang itu?"
Tanya Andin kepada Zidan Haq takut-takut ia telah mengetahui rumor yang sempat beredar tentang Andin dan juga Ziban Alkash.
"Aku sama sekali tidak mengetahui. Seseorang telah mengurus tuntas mengenai masalahmu di sekolah. Ia sama sekali tidak mengatakan rumor apa yang sedang beredar. Ia hanya mengatakan bahwasanya hal itu tidak terlalu penting untuk dipikirkan.."
Mendengar penjelasan Zidan Haq, Andin menghela nafas lega karena ia tidak mengetahui rumor yang beredar.
Jika si kaku tampanku sampai mengetahui rumor yang beredar itu lalu menyelidikinya, apa yang akan nanti dia pikirkan tentang ku? Tentang aku yang menjadi kekasih kontrak iblis itu. Ah, syukurlah si kaku tampanku rupanya tidak mencurigai nya.
"Apa setelah mendapat laporan dari seseorang itu, anda langsung menuju ke sini untuk sekedar melihat keadaanku?" (tanya Andin sembari memeluk bantal fasilitas VVIP rumah sakit)
"Jangan tanyakan sesuatu hal kepadaku jika kau sudah mengetahui jawabannya."
Rupanya kejadian kemarin tak membuat Andin mempertanyakan siapa yang tega telah memfitnah nya sebagai wanita penggoda. Itu karena Zidan telah mengatakan bahwa pelaku telah dihukum, dan Andin memilih untuk tidak mengetahuinya. Andai ia mengetahui bahwa teman dekatnya lah yang membuatnya dirundung, mungkin tidak akan seperti itu ceritanya.
Ingat Andin, hari ini kau tidak perlu menghawatirkan hal-hal yang tak perlu kau khawatirkan. Baiklah, hari ini aku akan bersekolah seperti biasa karena semua anak telah mengetahui kebenarannya.
Sesampainya Andin di gerbang MAN 102 Bandung, tiba-tiba seseorang menarik lengannya untuk ikut bersamanya.
"Heiii, apa yang kau lakukan?! Mengapa kau menarik ku dengan paksa seperti ini?!"
Seorang siswa perempuan segera meminta maaf kepada Andin, tetapi ia tetap menariknya menuju ke suatu tempat.
"Maafkan aku Ndin, kau harus tahu sesuatu."
__ADS_1
Mendengar tutur kata seorang perempuan yang tiba-tiba menariknya, Andin bungkam dan menurut saja. Ia tentu kebingungan, tetapi kali ini ia memilih untuk menurut saja.
Ah sepertinya dia anak baik-baik, buktinya tadi ia meminta maaf kepadaku.
Setelah beberapa saat kemudian. Sampai lah mereka berdua di stadion sepakbola sekolah. Terlihat ramai sekali di lapangan. Hampir semua siswa berada disitu. Hanya Andin dan seseorang yang menariknya tadi lah yang duduk di tempat duduk stadion yang bertingkat di atas sendiri.
"Heii, mengapa kau membawaku kesini? Dan sedang apa mereka semua di lapangan ini?"
Tanya Andin sangat kebingungan. Yang ditanya pun hanya diam seribu bahasa. Wajahnya terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada kecemasan, tidak ada ketakutan.
Apa yang mereka lakukan pada jam sepagi ini di lapangan? Atau ada sesuatu yang aku lewatkan kemarin? Tetapi ini masih terlalu pagi untuk memulai suatu acara kan?
Andin sangat kebingungan. Tidak ada satupun yang memberitahunya tentang pemandangan di depannya itu. Seseorang yang duduk di sampingnya itu pun hanya terdiam seribu bahasa yang membuat Andin tidak yakin jika ia memaksanya untuk mengatakan hal apa yang sedang terjadi, maka ia akan segera menjelaskannya. Setelah beberapa saat kemudian, seseorang naik ke atas podium di antara siswa-siswa yang berkumpul beramai-ramai di lapangan. Andin terperangah melihat siapa yang tertangkap oleh matanya.
"Hei, mengapa iblis itu naik ke podium? Apa yang akan dia lakukan?!"
Apa maksudnya, tadi dia yang menarik-narik lenganku dan membawaku kesini. Sekarang dia hanya diam saja tanpa berniat memberitahuku. Dasar, tidak jelas kau!
Ketika Andin masih menyumpah nyerapahi seseorang yang berada di sampingnya karena tidak segera mengatakan sesuatu hal apapun, tiba-tiba sorakan ramai penuh semangat berapi-api terdengar jelas di gendang telinga Andin. Seseorang telah mengatakan sesuatu di atas podium dengan santainya, dan sesuatu itu membuat semua yang berada di lapangan bersorak.
"Ehem, mari kita langsung masuk ke topik pembicaraan utama saja. Karena aku sangat sibuk dan tidak memiliki banyak waktu apalagi untuk berbicara di depan kalian."
Rasanya aku ingin memuntahkan semua isi perutku mendengar ocehannya, cih. Memangnya apa untungnya aku disini.
"Baik, berdirinya aku di sini untuk menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting.."
Hoamm, benar-benar membuang waktuku. Lebih baik aku pergi saja.
__ADS_1
Andin beranjak pergi setelah merasa telah membuang-buang waktunya yang berharga disitu untuk mendengar ocehan yang sama sekali tak berguna. Ketika Andin telah bangkit dari duduknya, seorang perempuan di sampingnya menarik lengannya.
"Ndin, duduklah..."
"Ah, aku ingin pergi ke kamar kecil sebentar saja."
"Jangan beralasan apapun, duduklah."
Seorang perempuan di sampingnya mendudukkan Andin dengan paksa. Tentu Andin mengutuki nya berkali-kali. Andin benar-benar bosan mendengarkan ocehan Ziban di podium.
Cih, katanya sangat sibuk dan tidak memiliki waktu yang banyak untuk hal seperti ini. Mengapa dia seperti membaca dongeng saja si. Dan anehnya mengapa semua anak malah bersorak kegirangan. Memangnya apa istimewanya? Benar-benar tidak masuk akal.
Setelah beberapa saat, Andin telah menyusun strategi untuk beranjak dari situ. Yaa, Andin akan mengelabuhi seseorang yang berada di sampingnya itu. Setelah itu Andin akan berlari dan meninggalkan stadion sekolah.
"Eh, eh, lihatlah di sebelah sana. Bukankah itu guru seni kita yang super killer. Bagaimana mungkin dia berada disini juga?"
Rencana Andin berhasil. Seorang perempuan di sampingnya melirik ke arah yang ditunjukkan oleh Andin. Tentu Andin pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia pun segera melangkahkan kakinya. Ketika ia baru melangkahkan kakinya beberapa pijakan, tiba-tiba...
"Lihatlah seorang perempuan yang hendak meninggalkan stadion ini di atas sana, dia adalah Andin Puspita Arga. Dan perlu kalian ketahui bahwa dia adalah kekasihku. Siapapun yang berani macam-macam dengannya, maka kalian akan berurusan denganku."
Betapa terkejutnya Andin mendengar ungkapan Ziban Alkash di podium. Lalu ia pun segera membalikkan badannya ingin sedikit memastikan mengenai kebenarannya. Dan benar saja, ketika ia menghadap ke belakang, semua siswa yang berada di lapangan tengah menghadap ke arah nya sebelum mereka semua bersorak lalu bertepuk tangan. Andin pun memandang Ziban dengan tatapan kesal dan amarahnya. Sedangkan yang dipandang hanya tersenyum manis lalu melambaikan tangan dan juga mengirimkan kiss jauh kepadanya.
Cih, benar-benar menjijikan sekali. Bisa-bisanya dia mengatakan hal bodoh seperti tadi. Dan apa tadi? Dia mengirim kiss jauh untukku? Oh tuhan, kali ini rasanya aku ingin sekali memuntahkan semua isi perutku sekarang juga.
Rupanya belum berakhir keterkejutan Andin di stadion itu. Tiba-tiba terdengar ledakan sesuatu. Lalu setelah itu kertas-kertas kecil cantik berwarna-warni berhamburan di stadion itu diiringi alunan musik yang menambah suasana kian ramai. Dan juga warna-warni cat tabur yang mengguyur mereka semua yang berada disitu. Mereka semua bertambah kegirangan sembari berjoged bersuka ria diantara semaraknya alunan musik dan suasana di situ. Lagi-lagi Andin memandang seseorang yang masih berdiri di podium yang sedang menyedakepkan kedua tangannya.
Iblis itu rupanya kian hari kian bertambah sinting!
__ADS_1
BERSAMBUNG...