Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Permintaan Andin


__ADS_3

"Saya ingin meminta sesuatu dari anda. Apa boleh?"


Tanya Andin kepada Zidan di ruangan kebesaran khusus pemilik sekolah. Ketika kemarin Andin tidak bisa bertemu dengan Zidan, akhirnya hari berikutnya ia pun mencarinya lagi. Dan ya, perjuangan Andin tidaklah sia-sia. Hari ini ia bertemu dengan orang yang dicarinya sekaligus dambaan hatinya itu.


"Memangnya kau mau meminta apa? Katakan saja, jangan ragu. Aku pasti akan memenuhi keinginan mu itu."


"Benarkah? Anda tentu memenuhinya?"


Terlihat Zidan Haq yang berfikir sejenak. Ia mencoba mencerna kalimat yang baru saja ia katakan kepada Andin.


"Ah iya, tentu saja. Jika itu membuatmu merasa senang."


Andin diam sejenak. Lalu ia mengatakan sesuatu tanpa ragu-ragu.


"Biarkan Talita kembali bersekolah."


"Dan juga Intan yang ikut di keluarkan dari sekolah ini karena membuatku terjatuh dan terluka." (sambung nya lagi)


"Hanya itu yang kau inginkan? Baiklah itu hal mudah. Nanti setelah ini akan ku urus."


Tanpa berpikir panjang, Zidan pun langsung menuruti kemauan Andin. Tentu Andin sangat kegirangan karena permintaannya langsung di ACC oleh Zidan.


"Terimakasih ya, anda memang selalu mengerti." (ucap Andin kegirangan)


Aku tidak boleh terlalu lama dalam membenci mu, Talita. Bagaimana pun juga kau sempat dekat denganku. Walau aku tak mengetahui apakah ada maksud lain dari semua itu. Aku sudah memaafkan mu, kau harus lanjut bersekolah lagi bersamaku, di samping ku. Berdamai denganmu adalah kata hatiku, Talita. Secepatnya kau bisa bersekolah kembali. Dan ya, kali ini kau sudah bisa menampilkan dirimu yang sesungguhnya, Talita Arifa.


Setelah kepergian Andin, terlihat Zidan yang mengambil ponselnya dan memanggil satu nomor yang bertuliskan sering di hubungi. Satu kali memanggil tak ada jawaban, Zidan mencoba untuk yang kedua kalinya dan akhirnya di angkat dari seberang sana.


"Ya bang, ada apa lagi?"


"Ziban, kau urus mengenai Talita dan Intan yang kau keluarkan dari sekolah ini. Andin memintaku untuk memasukkan mereka kembali ke sekolah."


"Bagaimana mungkin bang, Talita pasti tidak akan menyerah begitu saja. Apalagi setelah berhasil masuk ke sekolah lagi. Bukankah kau yang menyuruhku untuk mengawasi Andin, bang? Aku pun sudah berusaha untuknya. Jika aku kembali memasukkan Talita dan juga Intan yang jelas-jelas sudah ku usir dari sini, maka akan sangat berpengaruh pada Andin nantinya kan?"


Zidan mengambil cangkir air putih di meja nya lalu menenguk nya pelan. Ia terlihat sedang merilekskan pikirannya.


"Sudahlah, kau turuti saja mau Andin. Dia hanya tidak ingin terlalu lama memendam kebencian. Andin hanya merasa tidak enak."


"Merasa tidak enak bagaimana bang?"

__ADS_1


"Tentu karena tidak akan ada lagi sekolah yang mau menerimanya. Bukankah itu semua adalah ulahmu? Kau harus bertanggungjawab memasukkan mereka berdua kembali ke sekolah dan melanjutkan belajar mereka."


Decihan lirih dari seberang tak di dengar oleh Zidan.


"Sudahlah bang, aku tak ingin bertengkar dengan mu. Kau sudah mempercayakan Andin kepadaku kan bang? Jadi, untuk masalah ini akan ku urus tuntas tanpa harus membuat Andin merasa bersalah terus-terusan dan juga tanpa Andin harus terancam sedikitpun oleh siapapun."


"Bagus, adikku ini memang selalu bisa diandalkan. Bertindaklah dengan bijak, karena bagaimanapun Andin hanya mengetahui bahwa aku yang selalu memihak kepadanya dan yang selalu mendukungnya. Jadi, jangan lakukan kesalahan sekecil apapun yang akan membuat Andin merasa kecewa kepada ku nantinya."


Hening. Tak ada jawaban dari seberang sana. Membuat Zidan memanggilnya untuk memastikan bahwa lawan bicaranya yang tidak lain tidak bukan adalah adiknya sendiri masih mendengarkan perkataan nya.


"Ziban...?"


"Kau masih di situ?"


"Kau mendengar apa yang aku katakan tadi kan?"


Tut...Tut...Tut


Panggilan diakhiri. Zidan mengernyitkan keningnya sekejap lalu ia menulis email kepada adiknya itu.


"Kenapa dimatikan?"


Email langsung dibalas oleh Ziban.


Zidan tak membalasnya lagi. Ia tak ingin menganggu pembelajaran adiknya itu. Bagaimanapun walaupun Ziban adalah adik dari pemilik MAN 102 Bandung itu, ia memang harus berusaha keras sendiri untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Banyak yang mengira bahwa Ziban menjadi populer dengan prestasinya itu, adalah karena Ziban adalah orang dalam di sekolah. Tetapi dugaan mereka salah kaprah. Ziban memang pada dasarnya pintar dan giat belajar. Pihak sekolah pun tidak pernah membedakan nya dengan siswa lain.


......................


Sepulang sekolah, semua siswa berebut jalan seperti biasa. Hanya Andin lah yang di beri jalan longgar. Ya, semua siswa mempersilakan Andin untuk jalan terlebih dahulu atau hanya sekedar memberinya jarak untuk tidak berdesak-desakan dengan yang lainnya. Ya, tentu saja dengan panggilan yang akhir-akhir ini sangat di benci olehnya.


Ah, andai saja aku bisa mengatakan semua masalahku dengan Kak Ziban kepada si kaku tampanku. Tentu dia akan berusaha mencarikan jalan keluar untukku. Ah ayolah Andin, tahan sebentar lagi saja. Bukankah masa kontrak mu akan habis setelah Kak Ziban lulus dari sini? Ya, kali ini aku pasti bisa menyelesaikan masalahku tanpa bantuan siapapun.


"Andin..."


Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah belakang. Andin pun melihat ke arah sumber suara. Terlihat dua sosok yang tertangkap oleh Andin. Satu sosok ialah Zidan Haq yang sekarang berada di hadapan Andin. Sedangkan sosok lainnya yaitu Ziban Alkash yang berdiri agak jauh berada di belakang Zidan Haq.


Siapa yang memanggilku tadi? Si kaku tampanku atau iblis itu?


"Biar aku antar ke asrama..." (ucap Zidan Haq)

__ADS_1


Andin melirik ke sekelilingnya. Semua siswa yang hilir mudik berjalan seakan tak mengindahkan dengan apa yang mereka lihat. Ya, semua anak-anak memang sengaja menutup telinga dan matanya jika itu berkaitan dengan dua orang yang penting di sekolah itu. Tentu itu mereka lakukan hanyalah semata-mata untuk mencari hidup yang aman dan nyaman di sekolah nya.


"Ayo Andin, biar aku antar kau kembali ke asrama.." (ucapnya lagi)


Sebelum Andin menjawab ajakan Zidan Haq, ia sempatkan terlebih dahulu untuk melirik laki-laki yang berdiri agak jauh di belakang Zidan. Tetapi itu sangatlah jelas bagi Andin. Karena memang terlihat jelas Ziban yang tengah mengawasi gerak-gerik Andin sembari berkacak pinggang mengerikan. Ziban melototkan matanya seakan memberi kode kepada Andin...


"Jangan terima ajakan itu! Kau lupa kau ini siapa hah! Semua anak-anak di sini mengetahui bahwa kau adalah kekasih ku. Apa kau lupa?! Lihatlah, semua anak-anak tengah melihat ke arahmu! Kau mau terkena rumor lagi hah?!"


Andin bergidik ngeri. Ia membayangkan apa yang akan di pikirkan oleh anak-anak. Karena sejatinya semua anak-anak memang mengetahui bahwa Andin adalah kekasih Ziban. Bagaimana mungkin Andin menerima ajakan selain Ziban Alkash?


"Tidak usah. Itu akan sangat merepotkan anda." (jawab Andin)


"Kau tidak akan pernah membuatku repot sedikitpun, Ndin.."


Oh tuhan, semoga tidak ada yang mendengar ungkapan si kaku tampanku selain aku sendiri.


"Ahh tidak usah. Saya sudah memesan ojek online langganan saya seperti biasa. Tidak enak jika tiba-tiba di cancel kan?"


Rasa kecewa nampak jelas di raut wajah Zidan. Andin merasa tidak enak karena telah berbohong kepadanya. Tetapi apalah daya. Ia harus menyelamatkan dirinya dari pembicaraan anak-anak lainnya dan juga menyelamatkan dirinya dari iblis yang tengah mengawasinya sejak tadi tanpa terlihat berkedip sedikitpun.


Akhirnya Zidan mengalah. Ia pulang terlebih dahulu karena tiba-tiba mendapat panggilan mengenai pekerjaan yang sangat penting. Tidak lupa ia mengatakan kepada Andin untuk berhati-hati di jalan. Dan tentu saja, Andin pun langsung mengiyakan.


Setelah kepergian Zidan Haq, Ziban pun langsung melangkahkan kakinya mendekati Andin dan segera menggamit lengan Andin.


"Kak, tanganku..." (lirih Andin)


Ziban langsung melepaskan genggamannya. Ia membuka tas miliknya dan mengambil sarung tangan lalu segera memakaikan di kedua lengan Andin di hadapan semua anak-anak yang sejak tadi lewat hilir mudik di sekelilingnya. Andin hanya diam saja. Setelah itu Ziban menggamit lengannya kembali untuk menuju ke motor Kawasaki keluaran terbarunya.


"Pakai!"


Ziban melemparkan helm ke arah Andin. Andin pun gelagapan dalam menerimanya. Ia langsung memakainya tanpa di komando untuk kedua kalinya.


Aduh, ini bagaimana si. Kenapa sulit sekali dalam memakai helm. Biasanya kan sangatlah mudah. Ah ya ini pasti karena pemilik helm nya yang tidak waras, maka helm nya pun ikut-ikut.


Ziban membantu memasang helm di kepala Andin, dan helm pun langsung terpasang dengan aman, nyaman, dan sempurna.


"Lain kali naik angkutan umum saja, jika tidak bisa memakai helm. Kasian tukang ojeknya selalu di buat repot olehmu."


Kata Ziban dengan menyentil kening Andin seperti biasa. Andin memonyongkan bibirnya. Ia benar-benar tidak rela di ejek bahwa hanya sekedar memakai helm saja ia tidak becus.

__ADS_1


Cih!


BERSAMBUNG...


__ADS_2