
"Pulang lah, hanya untuk satu hari pun tidak apa."
Zidan Haq tengah berbicara dengan adiknya di telepon sejak tadi.
"Tidak, bang."
"Apa sesibuk itu, hingga di hari pernikahan Abang mu ini, kau tidak menyempatkan waktu untuk datang."
Tak ada jawaban.
"Akhir-akhir ini kau terlihat sangat aneh, ada apa denganmu?" (tanya Zidan Haq)
"Aku tidak apa-apa bang."
"Bukan karena kau keberatan dengan hubunganku dan Andin, kan?"
Deg!
Apa Bang Zidan tahu?
"Kau ini bicara apa bang, haha." (jawab Ziban dengan tertawa kaku)
"Ahahaha...."
Zidan Haq tertawa sangat renyah. Membuat Ziban mengernyitkan keningnya sesaat.
"Aku hanya bercanda,"
"Itu karena banyak sekali rekan bisnis ku yang keberatan dengan hubunganku dan Andin. Jadi, ya, aku hanya ingin mengetes mu saja."
Ziban Alkash mengembuskan nafasnya lega. Benar-benar lega. Ketakutannya tak perlu di khawatirkan sama sekali.
"Kau memang beruntung mendapatkan Andin, bang."
"Ya, aku tahu. Dan kau pun beruntung karena mendapatkan kakak ipar seperti Andin."
Ziban memejamkan matanya, berusaha mencari kekuatan di dalam dirinya yang masih tersisa.
"Kau harus memanggil Andin dengan sebutan kakak, mulai besok."
"Ya, bang, pasti."
Hening kembali.
"Ziban..." (panggil Zidan Haq)
"Ya, bang."
"Kau sudah mengantuk?" (tanya Zidan Haq)
Ziban Alkash memandang jam tangan yang menempel di pergelangan tangannya.
"Ini baru jam 18.05 WIB, bang." (jawab Ziban)
"Arghhhh. Ada apa denganku..."
"Memangnya kau sudah mengantuk, bang?"
"Tentu saja belum. Hari ini aku hanya sedang gagal fokus saja, entah mengapa."
Hening kembali.
"Ziban...."
"Ya, bang."
"Besok aku akan menikah."
"Ya, ku tahu, bang."
"Malam ini adalah malam terakhir aku tidur sendirian di kamar."
Hening kembali.
"Ziban..."
"Ada apa, bang?"
"Di hari pernikahan ku, adikku ini besok tidak bisa datang, dan tentu saja, aku sangat sedih."
"Aku memang tidak datang, tetapi kado pernikahan dari ku akan datang tepat besok bang."
Terimakasih raga, terimakasih. Terimakasih karena kau masih kuat.
"Memangnya apa istimewanya kado dari mu?"
__ADS_1
"Aku memilih, membeli, dan membungkusnya sendiri, dengan kedua tangan ku."
Dan juga perasaanku.
"Hahaha, baiklah. Kita lihat saja, besok. Aku jadi penasaran apa hadiah mu."
"Sudah dulu ya bang. Perutku tiba-tiba melilit."
"Apa yang kau makan, tadi?"
"Sudah ya, bang. Sakit sekali."
"Tapi..."
Tut.
Telepon diputus oleh Ziban.
"Dasar anak ini." (Zidan mendengus sebal)
......................
Hari yang begitu cerah. Hari yang di nantikan oleh sepasang kekasih Zidan dan Andin pun akhirnya tiba. Hari ini adalah pengikatan cinta sehidup semati antara Andin dan Zidan. Ya, pernikahan. Apalagi kalau bukan pernikahan. Dua sejoli yang tentunya sangat berbunga-bunga itu tengah menyiapkan dirinya masing-masing dalam akad yang akan berlangsung tepat hari ini di rumah mewah mempelai perempuan. Zidan, Olive, dan Atta sekarang tinggal di hotel tidak terlalu jauh dari kediaman Andin. Ya, tentunya itu untuk mempermudah semuanya agar perjalanan ke rumah mempelai perempuan tidak terlalu memakan waktu dan tenaga.
"Sejak tadi kau terlihat sibuk sekali, ikut serta dalam mengatur semuanya. Kau tidak perlu repot-repot begini, nak."
Atta memegang pundak putera pertamanya itu.
"Tidak masalah, ayah." (jawabnya singkat)
"Kau kan pengantin pria nya. Kau tidak boleh kelelahan. Lagipula, sudah ada team wedding organizer yang mengatur semuanya, kan? Mereka akan bekerja dengan maksimal."
Ucapan Atta, tak di jawab kembali oleh Zidan. Membuat Atta bertanya-tanya karena puteranya sedikit bertingkah aneh kali ini.
"Kau baik-baik saja, nak?"
Atta memegang tangan Zidan yang berkeringat dan sedikit bergetar.
"Ada apa denganmu?"
"Kenapa tangan mu bergetar seperti ini?"
Beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh Atta pun tak di jawab satupun oleh puteranya itu. Atta sedikit mulai memahami keadaan puteranya.
"Apa kau sedang salah tingkah?"
"Entahlah, ayah."
Atta tertawa terpingkal-pingkal. Baru kali ini ia melihat puteranya yang seperti itu. Rasanya sangat lucu baginya.
"Tidak apa-apa nak, hal itu sering terjadi." (ucap Atta tersenyum jahil sembari mengeloyor pergi)
Zidan memandang punggung ayahnya penuh arti. Lalu memejamkan mata, dan mengembuskan nafas beratnya. Entah apa yang mengganjalnya kali ini.
......................
Cinta,
Aku tak mengira kau memang benar adanya
Cinta,
Aku tak mengira kau cepat datangnya
Cinta,
Sebentar lagi, kau sangat dekat di pelupuk mata, jiwa, dan raga
Andin menyairkan beberapa rangkaian kata yang di rangkainya sendiri dalam hati. Tersenyum manis sekali setelah itu. Menyangga wajahnya manja di depan cermin. Hiasan lampu elok di pinggiran cermin membuat wajah menawannya terlihat begitu jelas mempesona.
Kau memang terlahir cantik, Andin. Sebentar lagi sang pangeran akan datang menjemput mu. Dan bersamanya lah kau akan mengarungi kehidupan baru.
"Andin, coba tebak siapa yang datang..."
Andin sedikit terkejut dengan suara mamahnya.
"Siapa mah?"
Dua orang perempuan masuk. Siapa lagi kalau bukan...
"Tante Helen!"
Helen merengkuh tubuh Andin.
"Selamat hari pernikahan mu, sayang."
__ADS_1
"Ini kado kecil dari Tante."
Helen menyodorkan kado besar warna lavender.
"Dan ini dariku, tolong di buka nanti saja!" (ucap Rossie juga)
"Aaaa, kalian sangat baik, terimakasih." (ucap Andin)
"Dan apa ini isinya, Rossie?"
"Itu spesial dariku." (jawab Rossie ketus)
"Ya, baiklah. Karena hari ini aku akan menikah, oleh karena itu aku akan bersikap baik padamu." (ucap Andin kepada Rossie sembari tersenyum)
Tak dapat dipungkiri, Rossie sudah tak sanggup menahan rasa terharunya karena temannya sejak kecil akan menikah hari ini. Rossie tiba-tiba memeluk Andin.
"Eh, ada apa denganmu, heh?!"
Hal itu malah membuat Andin tertawa melihat kelakuannya. Setelah tertawa beberapa saat, dan Rossie pun tak melepaskan pelukannya, Andin mulai merasakan hal yang sama. Bola matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca.
"Aku hanya akan menikah. Bukan pergi meninggalkan planet, Rossie."
Rossie melepaskan pelukannya dan mengeloyor pergi tanpa berkata sepatah katapun. Andin, Helen, dan Kumala memahami yang ia rasakan.
Aku masih temanmu, Rossie. Dan akan selalu seperti itu sampai kapanpun.
"Emm, sudahlah. Biar mamah yang menemani Rossie, ya?" (ucap Kumala)
Helen dan Andin mengangguk serempak. Kumala pun pergi menyusul Rossie.
"Beberapa kali Rossie mengatakan pada Tante tentang pernikahan mu." (Helen mengawali pembicaraan)
"Apa yang dia katakan, Tante?" (tanya Andin antusias)
"Dia sedih karena kau akan menjadi istri orang lain secepat ini."
Andin tersenyum penuh makna.
"Lalu?"
"Dia sangat menyayangkan karena kau harus menunda pendidikan mu. Kau sangat cerdas dan berbakat. Dan Rossie sedih akan hal itu juga."
"Dan menurut Tante, yang dikatakan Rossie memang benar, Andin sayang. Seharusnya kau..."
Andin mencoba tersenyum kembali walau itu sulit baginya jika itu membahas tentang pendidikan nya.
"Semua ini atas kehendak papah. Aku tidak bisa menolak. Tante pasti sangat tahu bagaimana papah ku kan? Aku pun tidak mengerti kenapa papah menikahkan ku secepat ini." (ucap Andin pasrah)
"Sudah tidak apa-apa nak. Sekarang yang terpenting adalah kau mencintainya, dan dia lebih mencintai mu."
"Dan semoga saja, calon suami mu itu adalah suami terbaik di dunia ini,"
"Maaf, karena Tante membuat mu merasa sedih."
Andin memeluk Helen.
"Tidak Tante."
"Tante hanya bisa mendoakan mu, nak."
......................
Hari sebelumnya...
"Eh, eh, Meta!"
"Tunggu!"
Sebuah teriakan keras terdengar menggema di lorong asrama.
"Ada apa mbak?" (ucap Meta pada Zulfia)
"Kau mau pergi ke Surabaya kan?"
"Ya, mbak. Aku sangat buru-buru."
"Salam untuk Andin ya,"
Meta berlari mengejar waktu.
"Meta, tunggu!"
"Tenang saja mbak, nanti ku sampaikan salam nya."
Samar-samar jawaban dari Meta terdengar di telinga Zulfia. Membuat Zulifa sedikit menyesal karena belum mengatakan sesuatu yang ingin dikatakan kepada Meta.
__ADS_1
Padahal aku ingin mengatakan padamu, bahwa Ummi pergi ke Surabaya juga semalam. Ah, sudahlah. Yang terpenting adalah, semoga kau bisa menjelaskan kebenaran nya pada Andin. Itu doaku.
BERSAMBUNG...