Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Pagi Hari Di Langit Yang Sama


__ADS_3

"Selamat pagi, tuan muda."


Sapa Sekretaris Chan sembari meletakkan segelas susu di meja.


"Kau duduk saja, disini."


Sekretaris Chan pun duduk di balkon hotel menemani Ziban Alkash. Tidak. Kali ini bukan di tanah yang sama, tempat seseorang yang menjadikannya gundah gulana seperti itu. Kali ini, ia benar-benar memilih memutuskan jarak untuk meredakan rasa yang tak mampu orang lain pahami.


"Bang Zidan pasti sangat berbahagia, ya?"


"Menurut saya, tidak tentu tuan."


"Memangnya ada pengantin yang tidak berbahagia?"


Sekretaris Chan tak menanggapinya, kali ini. Selain ia tidak banyak mengetahui tentang kehidupan pernikahan, sepertinya ia memang tidak terlalu tertarik memikirkannya. Jadi, diam, mungkin adalah pilihan yang paling tepat.


"Kau, mau?"


Ziban Alkash mengangkat gelas susunya hendak meneguknya. Sekretaris Chan menggelengkan kepalanya secepat mungkin. Ia memang tidak menyukai semua jenis susu.


"Maaf tuan muda, anda kan tahu, bahwasanya saya tidak menyukai semua jenis susu."


Ziban menikmati minumnya. Lalu ia meletakkan kembali gelas susu yang masih tersisa separuh sembari mengangguk-angguk.


"Aku yakin suatu saat kau akan menyukainya."


"Tidak akan mungkin, tuan muda. Ketidaksukaan saya kepada susu sejak saya masih kecil. Dan itu tetap akan terjadi sampai kapanpun."


"Memangnya, tau apa kau tentang susu?"


"Yang saya tahu, susu itu, tidak enak tuan."


"Dari semua jenis susu di dunia ini, baik itu murni maupun campuran, apa tidak ada satupun yang ingin kau rasakan?"


"Tidak ada, tuan muda. Baik itu murni, ataupun tidak, saya sama sekali tidak tertarik."


Ziban menatap Sekretaris Chan jahil. Sedangkan Sekretaris Chan pun tidak memahaminya sedikitpun. Ia memang selalu serius dalam kondisi apapun.


"Apa yang akan kau lakukan, jika suatu saat nanti kau menyukai salah satu jenis susu?"


"Maksud anda, tuan?"


"Baiklah seperti ini saja. Jika suatu saat nanti, kau sampai menyukai salah satu jenis susu, kau akan memilih untuk pergi berkencan dengan Si Romlah atau menjadi badut dan ditonton khalayak? Ya, hitung-hitung sebagai hukuman karena kau melanggar perkataan mu sendiri."


Sekretaris Chan bergidik ngeri mendengar Romlah di sebutkan. Romlah adalah perempuan yang selalu berada di jalanan kota. Dan ia selalu menarik-narik jas Sekretaris Chan, ketika tidak sengaja bertemu dengannya. Sebenarnya Sekretaris Chan bisa saja langsung menendang siapapun yang berani mengusik dirinya. Tetapi di luar dugaan, justru hal itu adalah guyonan untuk Ziban. Bahkan, terkadang Ziban sengaja menyuruh untuk melewati jalanan itu hanya untuk menertawainya. Tentu saja, Sekretaris Chan tidak bisa berbuat apa-apa.


"Apa tidak ada pilihan lain, tuan?"

__ADS_1


"Tidak."


"Badut saja."


Akan ku tunggu hari itu, Sekretaris Chan.


Ziban tersenyum jahil kepadanya. Sekertaris Chan mencatat janjinya itu tanpa ia pahami sedikitpun. Baginya, janji adalah hutang yang wajib di bayar, walaupun itu dengan nyawanya sendiri.


Sedangkan di meja makan yang amat luas nan mewah, terlihat Kumala, Arga, dan Andin yang tengah sarapan pagi bersama. Terlihat kekakuan diantara mereka. Entah apa yang membuat Kumala, yang biasanya selalu memperhatikan putrinya, kali ini hanya diam saja. Andin mulai menyadarinya.


"Mamah, kenapa diam saja, mah?"


Kumala meminum jus jeruk segar yang menemani sarapannya.


"Semalam, hemm..." (ucap Kumala ragu-ragu)


Arga menghentikan suapan sendok sarapannya. Memandang Kumala curiga dengan harapan Kumala tidak membicarakan perbincangan nya dengan Arga semalam, kepada Andin.


"Semalam kau bisa tidur, nak?" (ucap Kumala pada akhirnya)


"Kenapa tidak? Bahkan aku tidur sangat pulas, mah."


Jawaban Andin yang sesantai mungkin, membuat Kumala merasa lega. Setidaknya, ia tengah berfikir bahwa putri satu-satunya, putri kesayangannya, telah menjadi wanita yang sesungguhnya.


"Kenapa Zidan belum turun dan ikut sarapan?" (tanya Arga)


Andin hanya mengedikkan bahunya dan tetap melanjutkan sarapannya dengan sangat menikmatinya.


"Tadi aku lihat, dia masih tertidur pulas di sofa. Aku pikir, dia masih mengantuk, jadi ku biarkan."


"Tidur di sofa?" (ucap Kumala tidak percaya)


Arga masih diam saja, sembari menunggu penjelasan Andin selanjutnya.


"He'eh."


"Sejak kapan Zidan tidur di sofa?"


"Ya, sejak malam, mah. Memangnya, sejak kapan lagi."


"Andin, sayang?!"


"Ada apa sih, mah? Memangnya ada masalah apa. Aku memintanya untuk tidur di sofa, dan dia merasa tidak keberatan. Lalu, dimana masalahnya?"


"Sebenarnya, Andin sedang datang bulan."


Tiba-tiba saja suara Zidan terdengar jelas. Membuat Kumala, Arga, dan Andin menyadari kedatangannya di meja makan itu.

__ADS_1


Astaga, benar-benar memalukan. Kenapa dia harus mengatakannya si.


"Tapi, bukannya, ini belum waktunya kau datang bulan, sayang?" (ucap Kumala)


"Sudah, sudah. Jangan biasakan berbicara terlalu banyak saat berada di meja makan. Zidan, ayo, sarapan dulu." (ucap Arga membuat semuanya bungkam)


Setelah beberapa saat berlalu, semua telah menyelesaikan sarapannya masing-masing. Dan ketika hendak beranjak dari meja makan, tiba-tiba seorang pelayan paruh baya datang dengan sedikit tergopoh-gopoh hendak menyampaikan pesan.


"Maaf menganggu sarapan kalian, tuan dan nyonya. Di depan ada Nyonya Helen dan juga Non Rossie."


"Tante Helen dan Rossie?!" (ucap Andin berbinar-binar)


"Kau tidak perlu meminta izin untuk kedatangan mereka. Pintu ini selalu terbuka lebar untuk mereka. Lain kali, tidak usah meminta izin, ya?" (ucap Kumala lembut)


Seorang pelayan paruh baya itu, mengangguk paham. Ia langsung saja meminta izin untuk mempersilakan kedua tamu itu untuk segera masuk ke dalam.


"Baiklah, sekarang kita semua ke ruang utama. Kita akan mengobrol santai disana." (ucap Arga)


Semua mengangguk terkecuali Zidan. Zidan Haq lah yang paling terlihat tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat pasi, karena hal seperti ini, di luar dugaannya. Kumala dan Arga tentunya mengira bahwa Zidan telah membicarakan semuanya kepada Helen, Rossie, dan terutama Andin. Untuk sebutan Andin kepada Helen, kedua orangtua Andin memahaminya. Mungkin Andin memang terbiasa dengan panggilan akrabnya itu. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah Andin tidak tahu-menahu apapun. Sungguh malang.


......................


Semburat mentari pagi, menyelusup masuk ke dalam kamar berukuran kecil melewati jendela bambu yang di paku sejajar. Seorang perempuan mengikat gorden kain bekas partai yang ia pasang untuk menahan angin malam agar tidak masuk ke dalam terlalu banyak di malam harinya. Lalu ia memandang putrinya yang sebentar lagi berusia, genap tujuh tahun.


"Bangun Elle, kita sarapan ya?"


Terlihat gadis kecil itu mengerjapkan mata cantiknya beberapa kali.


"Ibu sudah masak, Bu?"


"Ibu sudah menanak nasi, dong. Pagi ini, kita sarapan pakai kecap ya, nak?"


"Asiiiikk, Elle makan pakai kecap."


Gadis kecil itu terlihat kegirangan dan bangun dari tiduran nya, lalu ia menari-nari kecil di atas ranjang kecil dengan beralaskan kasur yang sudah sedikit mengeras, tentu akan membuat siapapun merasa tidak nyaman tidur di atas kasur seperti itu, terkecuali bagi gadis kecil dan sang perempuan itu, yang sudah terbiasa.


Sedangkan perempuan itu, memalingkannya wajahnya dari putri kecilnya. Meneteskan buliran air bening di pelupuk matanya. Mengingat hari-harinya, yang selalu memberi makan pada putrinya tak seperti orang lainnya. Yang sering ia lakukan, adalah membuat kuah dengan air, garam, sedikit gula, dan sedikit penyedap rasa tanpa sayuran atau bahkan daging yang jelas tidak mampu ia beli.


Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya berulangkali. Ia sangat memahami suaranya. Ia segera mengelap air matanya menggunakan punggung tangannya.


"Elle, sayang, kau tunggu disini sebentar, ya?"


Gadis kecil itu mengangguk lalu merebahkan tubuh mungilnya di kasurnya lagi. Tanpa berlama-lama, perempuan itu pun langsung saja sampai di depan, tentunya karena memang rumahnya yang sangat kecil lah yang membuat ia cepat sampai di depan.


"Zulfia, kau disini? Ada apa?"


"Aku boleh masuk? Ada hal penting yang perlu aku bicarakan denganmu."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Mohon maaf karena baru up setelah sekian hari lamanya, tentu karena sakit yang (tak) kunjung sembuh, hehe. Tapi sekarang sudah baikan, kok. Stay safe, stay healthy, kalau bisa, stay with me. Di cerita ini, maksudnya hehehe. Terimakasih yang senantiasa bertahan dan mendukung , Tuhan bersama kalianđź’›


__ADS_2