Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Sakit Atta


__ADS_3

"Halo Tuan Arga..."


Terdengar suara Atta yang menyapa Arga. Sedangkan Kumala duduk di sofa ruang kerja itu dengan perasaan sebal. Ya, tentu karena pintu ruang kerja milik suaminya itu telah dikunci rapat-rapat. Sembari mendengarkan kira-kira apa pembicaraan mereka berdua.


"Ya, halo."


"Apa saya mengganggu anda, tuan?"


Ya! Bahkan lebih dari menganggu!


"Tidak. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, tuan. Hanya ingin menyapa calon mertua putera ku saja."


"Putera mu yang mana?"


"Ah Tuan Arga suka bergurau."


"Tidak. Aku tidak suka bergurau. Kau kan memang memiliki dua putera."


"Ehehe ya benar tuan. Tetapi tentu saja sesuai perjodohan dari awal yaitu putera sulung saya, Zidan Haq. Tidak mungkin tiba-tiba diganti dengan Ziban Alkash kan? Hahahah." (Atta tertawa)


"Ya, kau benar. Aku pun tidak terlalu menyukai putera kedua mu itu."


"Memangnya ada apa dengan puteraku, Ziban tuan?"


"Ahh, dia sangat nakal saat kecil dulu. Aku masih sangat mengingat semuanya."


"Ahaha dia sudah berubah tuan. Namanya juga anak kecil."


"Tidak, tetap tidak."


Diam. Kali ini Atta membisu. Ya, mau sekuat apapun ia dalam beradu mulut, tentu saja akan kalah jauh dari Arga.


"Apa ada hal lain yang perlu dibicarakan?" (tanya Arga)


"Tidak tuan."


Tut.


Panggilan diputus oleh Arga. Sebenarnya ia memang tidak ingin berlama-lama berbicara dengannya. Entah apa yang Atta pikirkan mengenai Arga nantinya, ia benar-benar tidak peduli.


Berani-beraninya menelepon ku tanpa kepentingan apapun!


Arga mematikan daya handphonenya. Menaruh nya di laci rapat-rapat. Sepertinya itu usahanya agar misinya kali ini berhasil tanpa ada pengganggu manapun.


"Aku datang, istriku..."


Perasaan tegang kembali menguasai dirinya ketika memandang istrinya yang tengah duduk anggun di sofa ruang kerja miliknya. Arga mendekati istrinya.


"Apa yang dikatakan ayahnya Zidan?" (tanya Kumala)


"Tidak penting." (jawab Arga)


Kumala Melengoskan wajahnya ke kanan.


"Ah ya, sekarang aku tahu kode darimu itu." (kata Arga)


"Kode apa?!"


Kumala melototkan bola matanya.


"Itu,"


"Itu apa?!"


"Kau ingin aku memulai dari bagian itu dulu kan?"

__ADS_1


Ucap Arga sembari memandang leher Kumala.


"Tidak sama sekali!"


"Ah akui saja jika itu kemauan mu," (ucap Arga)


"Tapi tidak. Aku akan tetap memulai nya sesuai bagian yang aku inginkan terlebih dahulu," (ucapnya lagi)


"Tenang saja, istriku sayang. Nanti juga akan ku turuti kemauan mu itu. Tetapi, nanti ya. Biar dua gunung kembar mu dulu yang ku adili" (sambungnya lagi)


"Habiskan dulu teh mu." (ucap Kumala berusaha mencari-cari alasan)


"Teh nya sudah dingin."


"Akan ku buatkan lagi."


"Aku mau susu saja."


"Baiklah, biar aku buatkan ya?"


"Sudah lah istriku sayang. Kau tidak perlu repot-repot seperti itu. Susu yang sudah di depan mata saja."


"Aaaaaa!!!! Kau benar-benar menyebalkan!!! Menjauh dariku!!!!"


Teriak histeris Kumala. Arga tak mengindahkan teriakan istrinya itu. Ia langsung memulai saja misinya itu tanpa mendapat persetujuan dari Kumala dengan semangat yang membara.


......................


Tut...


"Kenapa dimatikan?" (tanya Olive)


"Tuan Arga yang mematikan." (jawab Atta)


Beberapa saat mereka berdua terpaku dalam pikirannya masing-masing. Memikirkan sesuatu yang mereka berdua anggap adalah masalah. Olive yang tengah memikirkan bagaimana caranya agar selalu dekat dengan Keluarga Raharga, sedangkan Atta memikirkan Olive. Ya, mengenai dirinya yang telah lama tak mampu menggertak istri nya itu setelah ia mengetahui bahwa ia di hianati.


"Pah,"


"Ya."


Atta diam saja. Tak menggubris perkataan istrinya kali ini. Karena bagaimanapun, ia tahu, bahwa Arga memang orang yang paling tidak suka diganggu.


"Pah,"


"Iya."


"Untung saja Zidan dan Andin telah dijodohkan ya pah."


"Ya, ini sesuai rencana mu kan."


Dari awal inisiatif perjodohan antara Zidan dan Andin memang bermula dari Olive. Ia menganggap jika mempunyai kerabat konglomerat seperti Keluarga Raharga, akan sangat menguntungkan untuk keluarga nya terutama untuk dirinya sendiri. Atta menuruti semua kemauan Olive karena Zidan, putera pertamanya, memang mengiyakan perjodohan itu. Dan tentunya, Arga dan Kumala pun memang menyukai sosok laki-laki seperti Zidan Haq. Mereka berdua telah mengenalnya lama.


"Itu akan sangat menguntungkan kita, pah."


"Itu kan menurut mu."


"Ah papah ini. Suatu saat kita bisa memanfaatkan mereka."


"Memanfaatkan bagaimana, maksudnya?"


"Ya apa saja. Karena bagaimanapun, Tuan Arga jauh lebih memiliki segala-gala nya dibandingkan dengan mu pah. Keluarga kita bisa saja bangkrut suatu saat. Tetapi Keluarga Raharga tidak akan mungkin bangkrut, bahkan sampai tujuh turunan sekalipun."


Atta menghembuskan nafas keras.


"Jika kau sedikit berhemat, maka kebangkrutan tidak akan pernah datang di keluarga kita, bahkan hanya sekedar mampir sekalipun." (tukas Atta)


"Berhemat?!"

__ADS_1


"Ya."


"Untuk apa aku berhemat. Kau bertanggungjawab sepenuhnya atas keuangan. Jika sampai aku kekurangan sedikitpun, maka kau yang ku anggap tidak becus dalam mencari uang!"


"Minimal kau kurangi belanja tidak penting mu itu."


"Tidak bisa! Kau yang harus bekerja keras. Tugas ku hanyalah merawat diri dan bersenang-senang."


"Atau kurangi pergi ke salon."


"Apa?! Enak saja kau bilang,"


"Hanya dikurangi saja."


"Ingat ya, kau pun dulu berpaling dari mantan istri mu karena kau tertarik padaku. Bisa-bisanya, kali ini kau berusaha melarang ku untuk tidak rutin ke salon."


Atta tidak bisa mengatakan apapun. Yang dikatakan oleh Olive memang benar adanya. Ia lah yang tertarik padanya dan menghianati mantan istrinya, Helen. Dan hal itulah yang selalu mengingatkan dirinya untuk tidak mengegur Olive yang menyelingkuhi nya. Ia tahu, itu adalah balasan apa yang ia lakukan pada Helen. Walau Atta mengetahui dihianati, ia tetap berusaha sebaik mungkin. Itu yang ia pelajari dari mantan istrinya, Helen. Ya, walau ia tak bisa sebaik dan sesabar Helen.


Ya Olive, kau benar. Aku yang salah.


Arga membuka kemeja beserta kaus dalamnya.


"Sakit kok tidak sembuh-sembuh!" (kata Olive)


Arga mengulas senyum tipis. Tipis sekali. Hampir tidak terlihat. Olive meninggalkan Atta sendirian.


"Kau mau kemana?"


"Bertemu teman-teman ku."


"Apa harus sekali bertemu dengan teman-teman mu?"


"Ya, tentu saja."


"Memangnya ada acara apa?"


"Minum kopi."


Olive mengeloyor pergi, meninggalkan Atta tanpa menunggu jawaban lagi dari Atta.


Kau bahkan tidak menanyakan sakit yang ku alami selama ini.


Atta melangkahkan kakinya menuju cermin datar setengah badan. Ia menatap dirinya di cermin itu. Memandang dada nya yang masih terlihat jelas lebam merah nya.


Kau memang bodoh, Atta!


Pekiknya dalam hati. Lalu ia mengulas senyum terpaksa nya.


Tidak ada gunanya menyesali segala sesuatu yang telah lama berlalu. Tidak ada gunanya.


"Bodoh! Aku lebih dari bodoh!"


Atta masih berdiri di depan cermin. Bertahun-tahun lamanya ia memendam rasa yang berkecamuk. Entah apa yang harus ia lakukan kepada istrinya itu.


"Mengapa aku jadi selemah ini?!"


Sejak Atta menikah lagi dengan Olive, ia memang menjadi sangat lemah di hadapannya. Ia bahkan telah lama mengetahui alasan bertahun-tahun telah berhubungan suami istri dengan Olive, Atta belum juga mendapatkan anak darinya. Ya, ia memang sudah sangat lama menemukan pil kontrasepsi yang selalu Olive konsumsi secara sembunyi-sembunyi. Itu sebabnya sampai detik ini mereka tidak juga mendapatkan anak. Tentu pil kontrasepsi itu di luar sepengetahuan Atta. Kecewa? Tentu saja. Lagi-lagi, ia hanya mengingat kesalahan apa saja yang ia lakukan kepada mantan istrinya, Helen. Hanya itu. Ia benar-benar merasa bersalah. Dan ya, katakanlah sangat menyesal.


"Aku bodoh!!!!!"


"Aku bodoh!!!!!!"


"Aku sangat bodoh!!!!!"


Atta memukul keras dadanya berkali-kali. Menghantam dadanya sendiri dengan amat keras. Menumpuk kembali sakit memar yang masih setia berada di dada. Berulang-ulang, hingga ia benar-benar mati rasa. Itulah alasan mengapa Atta menderita sakit di dadanya, memar yang selalu ada di dadanya selama bertahun-tahun. Tidak lain tidak bukan adalah ulahnya sendiri. Ia selalu saja menghukum dirinya sendiri seperti itu. Penyesalan dan sakit yang teramat sangat, membuatnya tak dapat berfikir dengan sehat.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2