
Di depan cuaca sedang baik-baik saja, tapi tidak dengan di ruang kamar Arif. Ya, itu karena perbuatan Andin yang membuka diary milik Arif.
Sebelum-sebelumnya Andin belum pernah melihat raut wajah Arif yang begitu menyeramkan.
Arif terlihat benar-benar marah, itu karena Andin membaca diary milik nya. Andin pun segera meletakkan kembali buku diary Arif ke meja dengan berhati-hati.
"Ehehe ayolah Rif, aku belum sempat membaca isi diary mu. Saat aku mau baca, eh kamu keburu masuk kesini."
Andin mengatakan dengan lugas untuk membuat Arif percaya kepadanya. Tetapi Arif masih di posisinya yang tidak bergeming sama sekali.
Andin benar-benar kehilangan konsentrasi lagi untuk mengelabuhi dan merayu Arif.
Sial, wajah Arif benar-benar membuatku tidak bisa berkutik lagi. Aaaa, kenapa Arif memegang pisau di tangannya. Ternyata Arif jauh lebih menyeramkan dari papah Arga!
Beberapa menit telah berlalu dengan posisi Arif dan Andin yang masih sama di tempat dengan tak bergeming. Andin benar-benar ingin menghilangkan diri saja dari situ. Tapi apalah daya, ia harus tetap bertahan di situ dengan bernafas secara perlahan supaya Arif tidak mendengar desahan nafas nya.
Aaaa, aku benar-benar ingin menghilang saja dari sini. Ayo mantra sakti mandraguna ku, sekarang tunjukkan kemampuan mu. Antar aku kemana saja, asalkan pergi dari ruang kamar Arif. Jangan sampai Arif membunuhku dengan pisau tajam yang sedang di pegangnya. Aaaa aku belum ingin mati, aku bahkan belum menikah dengan suamiku dan belum memiliki anak-anak yang sangat menggemaskan. Mantra sakti mandraguna ayo, cepat! gunakan kekuatanmu. Aku ini bos mu!
"Ehmm eh Rif, aku minta maaf kepadamu karena hemm, aku sudah membaca buku diary mu. Tapi cuma dua lembar saja kok Rif, demi tuhan. Ayolah Rif, lagian aku benar-benar sama sekali tidak memahami arah pembicaraan mu Rif. Aku baru akan membuka lembar ke tiga, malah kamu keburu datang. Ah, sayang sekali. Ayo Rif, letakkan dulu pisaunya itu sangat berbahaya."
Andin berusaha menjelaskan sejujur-jujurnya kepada Arif, karena setelah melihat kondisi di kamar Arif yang tidak memungkinkan itu Andin tidak akan melanjutkan kebohongannya. Itu sama sekali tidak berpengaruh untuk Arif. Dan lihat saja, walaupun Andin sudah menjelaskan apa adanya Arif pun masih terlihat tidak bergeming sedikitpun. Andin benar-benar dibuat merinding dengan tatapan maut dari Arif yang belum dia tunjukkan sebelumnya.
Ah ayolah tuhan, turunkan bala bantuan darimu. Heii siapapun tolong akuuuu!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruangan lain, ruang tamu lebih tepatnya..
Kenapa Andin belum juga turun? ini kan sudah sangat lama dia di atas sana. Apa mereka sedang baik-baik saja? entah mengapa hatiku merasa ada sesuatu yang terjadi kepada Andin. Ah, itu hanya kecemasanku saja. Andin kan diatas sedang bersama temannya.
Zidan Haq yang memang masih di ruang tamu rumah Arif sedang ditemani Bi Ningsih, asisten rumah tangga Arif.
Mereka terlihat beberapa kali mengobrol tentang keadaan Arif sekarang, yang diceritakan oleh Bi Ningsih tentu nya sambil sesekali menyeruput air putih yang disuguhkan oleh Bi Ningsih.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya sedikit lancang. Saya ingin tahu, kenapa anda hanya memesan air putih saja tuan?" (Bi Ningsih mengajukan pertanyaan kepada Zidan Haq untuk memulai obrolan)
"Saya tidak terbiasa minum air selain air putih sejak kecil. Selain itu air putih bagus untuk kesehatan bi."
"Wah, apa semua anggota keluarga anda hanya meminum air putih semua tuan? maaf saya terlalu banyak tanya."
"Ya bi, tentu saja. Semua anggota keluarga kami tidak ada yang meminum minuman sembarangan. Itu semua karena ajaran dari ibu saya bi. Kami hanya diperbolehkan minum selain air putih itu jika seperti, jus buah segar itupun harus tanpa gula sedikitpun."
"Orang sukses memang selalu hidup dengan prinsip dan disiplin, seperti anda tuan. Siapapun nanti yang akan menjadi pendamping hidup anda, dia adalah orang yang paling beruntung."
Bi Ningsih benar-benar terkagum-kagum dengan laki-laki yang berada di depannya ini, yang tidak lain tidak bukan adalah pemilik sekolah MAN 102 BANDUNG, tempat dimana anak majikannya bersekolah disitu.
Sedangkan Zidan Haq hanya tersenyum setelah mendengar kata-kata terakhir dari Bi Ningsih.
"Ehm, bi.. kenapa Andin dan Arif belum juga turun ke bawah ya bi?"
(Zidan Haq menanyakan kepada Bi Ningsih yang membuat Bi Ningsih terlihat kebingungan karena ia memang baru menyadari mengapa anak majikannya dan Nona Andin tidak turun sejak tadi)
"Tidak tahu tuan, biar saya lihat ke atas sebentar tuan." (kaya Bi Ningsih segera beranjak dari ruang tamu)
"Tentu saja boleh tuan, mari ikuti saya."
Bi Ningsih menuju ke kamar anak majikannya dengan bergerak cepat, begitupun dengan Zidan Haq yang mengikuti langkah Bi Ningsih dari belakang. Zidan Haq benar-benar merasa gelisah, entah apa yang sedang berputar di otaknya.
Di Ruang Kamar Arif, Andin terlihat beberapa kali menelan salivanya setelah membayangkan pisau tajam yang dipegang di tangan kanan Arif akan mengakhiri hidupnya.
Terlihat juga Arif melangkahkan kakinya dengan dua kali langkah, yang tentu saja sangat membuat bulu kuduk Andin merinding takut-takut Arif benar-benar akan melukainya.
"Ariffff tolonggg berhentiiiiiii! aku kan sudah minta maaafff!! apa kau akan menghabisi ku karena hal sepele buku diary ituuuu. Aaaaa siapapun tolongg akuuuu!!"
Andin berteriak keras sekali sehingga terdengar di telinga Zidan Haq dan Bi Ningsih yang membuat mereka bedua segera mempercepat langkah setelah mendengar jeritan histeris dari Andin.
Zidan Haq lah yang paling terlihat panik setelah mendengar jeritan Andin. Ia langsung membuka pintu kamar itu dengan sangat keras yang membuat Bi Ningsih sangat terkejut.
__ADS_1
Setelah membuka pintu kamar Arif, Zidan Haq dan Bi Ningsih benar-benar terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Terlihat Arif dan pisau tajamnya yang tergenggam erat di tangan kanan Arif lalu Andin yang menutupi semua wajahnya dengan kedua tangannya dengan histeris.
"Arif, hentikan!!"
Zidan Haq segera berlari ke arah Arif dan juga Andin. Sedangkan Bi Ningsih masih berdiri di ambang pintu dengan panik juga, tetapi ia tidak bisa melakukan apapun.
Zidan Haq segera menyingkirkan Arif yang berada di dekat Andin lalu mendekap erat tubuh mungil Andin.
"Apa yang kau lakukan?! apa kau akan melukai Andin?! jika kau berani melakukan hal itu, maka kau berurusan denganku!"
"Ada apa denganmu, Tuan Zidan?"
"Apa kau bisa mendengar yang aku katakan?! jika kau berani macam-macam dengan Andin, maka kau berurusan denganku!"
Zidan Haq benar-benar sudah tesulut api emosi karena tingkah Arif hari ini. Karena menurut nya, kekakuan Arif adalah hal di luar wajar dengan motif kriminal.
"Memangnya apa yang akan saya lakukan kepada Andin tuan."
"Apa kau masih tidak mengakui niat burukmu dengan pisau di tangan kanan mu itu?!"
"Ah, anda salah paham tuan."
Terlihat semua orang yang ada di ruang kamar itu sedikit mengernyitkan keningnya, terkecuali dengan Andin yang memang masih sembunyi dibalik dekapan Zidan Haq.
"Jadi begini, tadi aku ingin sekali makan buah segar yang ada di meja itu, tapi belum dikupas jadi aku mengambil pisau di dapur karena Bi Ningsih sedang sibuk melayani Andin dan juga anda, Tuan Zidan."
Semua telinga di ruang kamar Arif mendengar penjelasan dari Arif termasuk Andin. Semua sangat terkejut dengan kata-kata Arif yang sangat masuk akal. Dan seketika itu juga Zida Haq melepaskan dekapannya kepada Andin, karena tentunya sangat kikuk dengan sikapnya sendiri yang sangat berlebihan.
"Oh, jadi begitu kejadiannya."
Zidan Haq menanggapi penjelasan Arif dengan singkat karena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sekarang hanya memikirkan perbuatan nya kepada Andin dan begitupun sebaliknya.
Harusnya aku tadi tidak bersikap berlebihan kepada Andin, bagaimanapun juga Tuan Arga tidak akan mengizinkan ku untuk menyentuh putrinya seperti itu. Ah, Andin pasti sangat kikuk dengan perlakuan ku tadi. Semoga saja Andin tidak membenciku. (Zidan Haq)
__ADS_1
Aaaa, bagaimana mungkin tadi si kaku tampanku melindungi ku, aaaa dia bahkan memelukku seperti itu. Ayo waktu, berputar lah kembali dan berhenti lebih lama lagi di adegan itu. Ah ayolah sang sutradara, buat adegan romantis lainnya untuk aku dan juga si kaku tampanku, aku mohooooon. (Andin Puspita Arga)
BERSAMBUNG..