Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Aku, Mencintaimu


__ADS_3

"Hai, apa kau tahu? Entah mengapa akhir-akhir ini hatiku sangat susah di jelaskan."


"Apa kau hanya bisa diam saja?! Coba katakan apa yang harus kulakukan?!"


Andin menjatuhkan boneka pemberian mamahnya di pangkuannya. Beberapa tahun belakangan ia memang sering bercerita kepada benda tak bernyawa kesayangan nya itu. Ya, mau bagaimana lagi? Hendak bercerita kepada siapa ia? Meta, sahabatnya? Bahkan ia sudah sangat jauh baginya.


Tidak ada yang senantiasa mendengarkan keluh kesah Andin. Padahal sebelum-sebelumnya ia sudah terbiasa bercerita banyak kepada Meta mengenai hidupnya. Tetapi apalah dayanya. Ia memang harus terbiasa dengan keadaan dimana harus sendiri dan terus sendirian dalam menghadapi lika-liku kehidupannya.


Ah iya, Ummi kan menyuruhku untuk ke ruangannya. Hemm, akhir-akhir ini Ummi jadi lebih dekat denganku.


Andin segera memakai jilbab nya. Jilbab berwarna biru muda bercorak garis-garis di pinggiran nya. Ia memang menyukai warna biru, terutama biru muda. Baginya, warna biru muda adalah warna cerah, secerah masa depannya. Itulah alasan mengapa Andin menyukai warna cerah itu. Ia terlihat bertambah bersinar ketika berpadu dengan warna favoritnya itu. Sejatinya ia memang sudah terlihat cantik sejak dia masih kecil.


"Kau sedang apa disitu? Ayo Andin, masuklah."


Tutur Ummi yang melihat Andin berdiri di depan pintu. Andin pun menganggukan kepalanya dan segera mengikuti Ummi yang melangkah ke ruangannya.


Ruangan yang begitu minimalis. Terdapat lemari rak kecil dan beberapa buku-buku yang mengisi rak itu. Andin duduk di lantai sedangkan Ummi duduk di sofa.


"Eh, ayo duduk di atas bersama Ummi."


Ummi membantu Andin untuk duduk di sebelahnya. Andin tidak menolak, atau bahkan hanya untuk sekedar menyanggahnya.


"Apa kau tahu, Ummi memanggil mu ke sini karena apa?"


"Tidak tahu Ummi."


Mimik wajah Ummi terlihat lebih serius. Ya, Andin menyadari akan hal itu.


"Apa kau menjalin hubungan dengan Ustad Zidan Haq?"


Deg.


Aaaaa, tamatlah riwayatku. Sekarang apa yang harus ku katakan?!


"Andin, kau bebas menceritakan hal apapun kepada Ummi. Hal mengenai kau dan juga Ustad Zidan Haq. Ada apa diantara kalian berdua? Ummi akan sangat merasa dihargai jika kau sudi untuk menceritakan hal yang Ummi ingin dengar. Cepat, cerita lah..."


Apa aku ceritakan saja kepada Ummi ya? Lagi pula Ummi tidak akan mungkin menjadi penghalang nantinya. Baiklah, Ummi kan juga orang tuaku disini. Dia sangatlah baik dan akan selalu seperti itu.


"Pada saat itu..."


Andin mulai bercerita kepada Ummi mengenai dirinya dengan Zidan Haq. Ia menceritakan perlahan sambil memilah kata-kata yang sekiranya pas untuk di ceritakan ke Ummi. Ya, tentu saja dengan tidak menghilangkan fakta-faktanya.


......................


"A-aku...."


"Hemm, maksudnya kita...."


"A-anu...."

__ADS_1


Ucap Zidan Haq terbata-bata kepada Andin. Setelah Andin mengizinkan Zidan Haq untuk mengatakan sesuatu yang katanya sangat ingin dikatakan, rupanya Zidan Haq terlihat kesulitan dalam mengungkapkannya.


Tentu hal itu sangat membuat Andin kebingungan dan juga penasaran. Kira-kira apa yang akan di katakan oleh Zidan? Tidak biasanya ia kesulitan berbicara seperti itu. Batin Andin bertanya-tanya.


"Ada apa? Apa yang ingin anda katakan?" (tanya Andin)


"A-aku..."


Lagi-lagi Zidan terbata-bata. Andin benar-benar dibuat gemas dengan kelakuannya.


"Apa ini sangatlah penting? Ah tentu saja ini sangat penting. Jika tidak, anda tidak akan repot-repot ingin mengatakannya kan? Oke, ayolah katakan saja. Aku siap mendengarkan apapun yang anda katakan."


"Kau yakin?"


Andin mengangguk mantap.


"Papah dan mamahmu..."


"Ada apa dengan mamahku?! Apa dia baik-baik saja? Cepat katakan kalau mamah ku baik-baik saja." (jawab Andin tidak sabar)


Andin terlihat sangat khawatir. Ya, itu sangat tidak dibuat-buat.


"Bukan seperti itu Andin, mamah mu bahkan papah mu baik-baik saja."


"Ah baiklah. Aku sama sekali tidak peduli dengan papah."


Entah dapat angin dari mana, Zidan memegang jemari Andin. Apa reaksinya Andin? Tentu saja ia seperti sedang jantungan.


"Kau ingin tahu apa yang ingin ku katakan kan?"


Andin mengangguk pelan.


Astaga, cepat katakan saja! Aku takut semua organ di dalam tubuhku akan lepas semua.


"Emmm, kau sangat ingin tahu?"


Sudah kubilang iya!


Lagi-lagi Andin hanya mengangguk pelan. Dalam jarak yang sedekat itu sepertinya Andin takut mengecewakan orang yang berada di hadapannya itu. Ia takut jika ia mengeluarkan suaranya sedikit saja, akan mengeluarkan bunyi yang tidak seksi di telinga. Tentu itu akan membuat Andin malu di hadapan Zidan Haq nantinya.


"Sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu, kau akan menjawabnya dengan jujur kan?"


"Baiklah aku akan menjawabnya."


"Emmm, apa kau..." (Zidan menggantungkan kalimatnya)


"Apa kau menyukai ku?"


"Ehehe, apa yang sedang anda bicarakan?"

__ADS_1


Andin melepaskan tangannya dari genggaman Zidan. Ia terkejut dengan respon yang Andin tunjukkan. Tetapi mau bagaimana lagi? Sepertinya Zidan memang harus menuntaskan pembicaraan nya dengan Andin. Ya, ia tidak akan menundanya lagi.


"Katakan saja, kau menyukai ku apa tidak?"


Ah, mengapa dia menanyakan hal seperti itu kepadaku sih. Akan sangat memalukan jika aku menjawabnya. Sudahlah, biarkan saja.


"Kau tidak ingin menjawabnya?"


"Baiklah, jika kau tidak ingin menjawabnya. Sekarang coba kau lihat mata ku. Apa yang kau lihat?"


Andin menuruti perintah Zidan Haq untuk melihat ke matanya.


"Apa yang kau lihat Ndin?"


"Saya melihat ada wajah saya di bola mata anda." (jelasnya tanpa keraguan)


Zidan Haq tersenyum mendengar ungkapan polos gadis yang berada di hadapannya itu.


"Apa kau tidak melihat ketulusan di dalam mata ku hanya untuk mu?"


"Andin dengarkan aku..."


Zidan kembali meraih jemari Andin dan segera menggenggamnya erat.


"Aku mencintaimu. Bahkan sangat mencintai mu. Kau pun sama kan?"


"Iya, aku yakin kau pun memiliki rasa yang sama untukku." (sambungnya lagi)


Zidan terlihat tersenyum beberapa kali. Sedangkan Andin hanya diam saja. Ia khidmat dalam mendengarkan tutur kata Zidan.


"Dan apa kau tahu, bahkan kita telah di jodohkan. Kau sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya, maka dari itu aku memutuskan untuk mengatakan hal ini sekarang."


Tentunya Andin sangatlah terkejut dengan perkataan Zidan yang mengatakan bahwa mereka berdua sebenarnya telah di jodohkan.


Apa yang dikatakan olehnya adalah benar? Dan jika iya sekalipun, seharusnya aku senang kan? Bukankah ia adalah idamanku selama ini? Ada apa dengan diriku kali ini? Ada apa? Siapa yang bisa membantu ku dalam menjawab kegelisahan ku kali ini. Ada apa dengan hatiku saat ini?


......................


"Begitulah ceritanya Ummi. Intinya adalah Ustad Zidan mengungkapkan perasaanya kepadaku. Dan ia mengatakan bahwa kami sebenarnya sudah dijodohkan."


Ummi terlihat tengah mencerna kalimat Andin sebelum ia mengatakan sanggahannya.


"Apa kau juga mencintainya, Andin?"


"Ya, begitulah Ummi."


Hanya itu yang dapat di katakan oleh Andin. Sepertinya ia tidak ingin terlalu ambil pusing untuk urusannya itu. Dan ya, tentu saja ia tidak ingin menceritakan semua hal tentang dirinya kepada Ummi secara gamblang. Bagaimanapun, ia belum mempercayai siapapun untuk kali ini. Kecuali mamahnya dan, ya Tante Helen.


Ah aku jadi merindukan mamah dan Tante Helen. Apa kabar dengan mereka berdua, ya? Semoga selalu baik-baik saja. Mamah, Tante Helen, apa kalian berdua juga merindukan Andin?

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2