
Pukul 18.00 WIB. Kediaman mempelai wanita, sudah di sesaki dengan semua tamu khusus undangan pernikahan putri tunggal Keluarga Raharga. Kebanyakan tamu undangan adalah konglomerat negeri dan rekan bisnis Arga Raharga. Beberapa penyanyi tersohor tanah air pun terlihat tengah mendendangkan lagu-lagu populer mereka di tengah-tengah acara. Sorot mata penuh kebahagiaan terpancar jelas dari mereka semua. Saling menyemarakkan acara dan juga tentunya menikmati jamuan yang tersedia. Terlihat rombongan mempelai pria tiba di tempat. Tim khusus penerima tamu menyambutnya dengan penuh suka cita.
"Dimana Tuan kalian?"
Seorang laki-laki paruh baya menanyakan kepada salah satu penerima tamu.
"Tuan Arga sedang berbincang bersama kolega-kolega nya Tuan."
Terlihat Atta yang sedikit kesal. Seharusnya pihak keluarga mempelai wanita lah yang langsung menyambut kedatangan rombongan mempelai pria. Begitu tuntut nya dalam hati, kira-kira. Zidan menyadari raut wajah ayahnya itu.
"Ayah..."
Tegur Zidan pada ayahnya, dengan panggilan dan tatapan matanya. Atta pun langsung memaksakan senyumannya. Sedangkan Olive tak mempedulikan apa yang terjadi di hadapannya. Sejak tadi, ia terlihat mengamati semua kesemarakan acara. Sesekali merapikan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan sedikitpun. Sepertinya, kebiasaannya yang selalu tampil sempurna memang sudah ia lekatkan dalam kepribadiannya. Hingga ia tak mengijinkan sehelai rambut nya pun untuk merusak penampilannya.
"Selama aku menjadi orang kaya, aku belum pernah melihat acara semeriah ini, pah." (bisik Olive di telinga Atta)
Atta tidak menanggapi bisikan istrinya itu. Ia masih saja hanyut di dalam pikirannya.
"Mari, biar saya antar ke ruang khusus untuk keluarga mempelai pria." (ucap salah satu penerima tamu)
"Ayo ayah..." (ajak Zidan)
Atta menganggukkan kepalanya pelan. Mereka bertiga mengikuti seseorang yang akan menunjukkan ruangan khusus untuk mereka.
Sedangkan di kamar khusus pengantin wanita, ada Meta dan Kumala yang menemani Andin. Hal itu adalah permintaan dari Andin. Tidak sembarang orang yang boleh masuk di kamar itu. Tentu ada maksud di balik permintaannya itu.
"Mah, kenapa Rossie dan Tante Helen sejak tadi tidak kelihatan?" (tanya Andin)
"Ibunya Rossie memang sedang menyibukkan dirinya di dapur kan?" (ucap Kumala)
"Lalu Rossie?"
"Satu jam terakhir aku melihatnya di kamarnya. Ia masih memainkan ponselnya dengan asik." (ucap Meta)
"Bukannya menemaniku disini, Rossie malah sibuk dengan ponselnya."
Andin duduk di kursi rias pengantin. Kumala membuka pintu kamar, hendak memanggil perias pengantin wanita.
Ceklek
"Eh, kenapa kalian disitu?" (pekik Kumala)
Tiga perias pengantin wanita profesional tengah berdiri di depan pintu.
"Ehehe, kami sedang menunggu nyonya memanggil kami."
"Seharusnya kan kalian tidak berdiri di depan pintu seperti ini."
"Maafkan kami, nyonya."
Kumala mempersilahkan tiga perias pengantin wanita untuk masuk ke kamar itu. Mereka pun menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Kumala yang berjalan di depan lebih dulu.
"Andin sayang, kau sudah siap nak? Periasnya sudah datang, lihatlah."
"Sudah siap, mah."
Tiga perias pengantin pun meminta izin untuk segera merias Andin.
"Ya, silakan. Lakukanlah yang terbaik ya. Nanti, akan ada bonus untuk kalian." (ucap Kumala)
Mereka bertiga sontak tersenyum mendengar kata bonus. Tetapi sebelum itu, mereka harus memaksimalkan hasil kerja mereka. Jangan sampai mengecewakan. Begitulah doa mereka dalam hati masing-masing. Sebenarnya, ada bonus tidaknya itu, adalah hal akhiran. Hal yang pertama adalah membuat tuan rumah merasa puas dan senang. Apalagi, mereka merias pengantin wanita dari putri tunggal Keluarga Raharga. Tentunya, akan semakin membuat brand terkenal mereka mendadak meroket di dunia rias-merias nantinya.
"Oh ya, dan rias putriku ini menjadi sangat cantik ya?" (ucap Kumala lagi)
"Putri anda memang sudah sangat cantik dari lahiriyah. Pastinya jika sudah dirias sedikit saja, akan sangat membantu menguak kecantikannya lebih dalam lagi."
Meta hanya diam saja memperhatikan dan mendengarkan obrolan mereka. Sesekali menggelengkan kepalanya.
Obrolan macam apa ini, sejak tadi hanya berisi pujian saja untuk Andin. Aku bahkan tak dianggap ada di kamar ini. Ah ayolah, Meta. Kau harus bercermin terlebih dahulu. Masih beruntung kau bersahabat dengan Andin, eh maksudnya si putri Andin. Jadi kau melihat semua drama ala-ala orang tajir melintir seperti ini. Dan gaya bicara orang papan atas yang belum pernah kau lihat sebelumnya.
"Andin sayang, mamah akan turun ke bawah sebentar ya."
"Aaaa, mamah disini saja ya? Kumohon."
Kumala tersenyum sembari mengelus-elus kepala putrinya.
"Mamah mau melihat calon mu beserta keluarganya, sayang."
__ADS_1
Wajah Andin terlihat merona. Itu jelas terlihat sekali. Dan semua yang berada di kamar itu pun menyadarinya, termasuk Meta.
"Sebentar saja ya? Nanti mamah ke sini lagi. Tante Helen dan Rossie di ajak kesini juga ya, mah."
Kumala mengangguk. Lalu ia pergi meninggalkan Andin, Meta dan juga tiga orang perias.
Astaga selama hidup ku, aku tidak pernah diperlakukan seistimewa itu. Ibuku di rumah belum pernah mengelus kepalaku seperti yang dilakukan mamahnya Andin. Bahkan mamahnya Andin memanggil Andin dengan diakhiri kata "sayang". Benar-benar membuatku iri saja. Cih!
Meta mengingat-ingat bagaimana ibunya dalam memanggil dirinya.
"Meta! Meta! Cepat kesini!"
"Meta! Kau mempunyai telinga, apa tidak?!"
Meta bergidik ngeri mengingatnya. Membandingkan ibunya dengan Kumala adalah kesalahan besar. Begitu umpatnya. Meta tiba-tiba terkekeh dalam hati telah memaki ibunya sendiri secara tidak langsung.
Maafkan Meta, Bu. Bagaimanapun dirimu, kau tetaplah ibu tercinta ku, hehe.
"Ndin..."
"Apa Met? Kau lapar?"
"Memangnya wajahku terlihat wajah kelaparan?!"
"Ehehe, sedikit."
Cih!
"Emm, Ndin...apa yang kau rasakan? Apa kau merasa sangat gugup?"
"Ah, aku tidak seperti itu."
"Aku kan bertanya serius, Ndin."
"Suatu saat kau juga akan menikah dan akan tahu."
"Ah, kau tidak mau berbagi cerita padaku. Kau menyebalkan sekali."
Andin melihat raut wajah Meta melalui pantulan cermin riasnya. Terlihat jutek sekali. Rasanya Andin ingin tertawa, setelah sekian lama tak bisa mengerjainya.
"Ayolah Andin, kau tidak sedang berfikir bahwa aku sedang cemburu lagi kan?"
Meta menghela nafas panjang-panjang.
"Aaaa aku sudah menyukai laki-laki lain!"
Andin terkejut mendengar ungkapan Meta. Ia sontak membalikkan badannya menghadap ke Meta. Hal itu membuat perias yang sejak tadi konsentrasi, ikut terkejut juga karena gerakan Andin yang tiba-tiba.
"Ehehe, maafkan aku..." (ucap Andin kepada para perias)
"Tidak apa-apa Nona Andin."
Andin kembali menghadapkan wajahnya di cermin riasnya.
"Met, kau yang mendekat sini. Aku tidak boleh banyak bergerak." (pinta Andin)
Meta pun mendekat ke Andin dengan menarik kursi empuk lainnya dan segera duduk di dekatnya.
"Kau sedang menyukai siapa?" (tanya Andin)
"Seperti apa wajahnya?"
"Apa aku mengenalnya?"
"Heh! Tanya nya satu-satu, putri Andin!"
Andin menahan gelak tawanya yang ingin pecah. Bagaimanapun, ia tidak ingin membuat para periasnya kewalahan karena ulahnya.
"Ah ayolah, katakan siapa laki-laki itu? Apa aku mengenalnya?"
"Hemm, bisa jadi."
Ah sial! Meta berhasil membuatku penasaran.
"Meta, tolong katakan siapa dia. Kalau tidak, aku akan marah padamu."
Cih! Andin sedang mengancam ku dengan kelemahan ku saat ini!
__ADS_1
"Kalau aku tetap tidak ingin memberitahu mu, bagaimana?"
"Baiklah, tidak masalah. Silahkan pergi dari rumahku."
Sudah kuduga!
"Ah ayolah Andin, kau ini tega sekali padaku."
"Bukan urusanku."
"Ah, aku bahkan belum sempat berenang di kolam renang mu yang luas itu, Ndin."
"Silakan pergi saja. Aku tidak mau kau menghadiri akad pernikahan ku, nanti."
"Aaaa, baiklah! Aku menyukai Khamam."
"Khamam? Apa aku mengenalnya?"
"Tentu saja kau mengenalnya."
Andin memberi kode kepada para periasnya untuk berhenti sejenak. Mereka pun menuruti kemauan Andin.
"Tapi sepertinya namanya sangat asing di telinga ku."
"Dia kan lurah asrama putra."
"Mas Lurah Suleman, maksudnya?"
"He'eh."
Andin menahan kegelian yang membuncah. Seperti ada yang menggelitik di perutnya.
"Kau menyukai Mas Lurah Suleman??"
"Nama lengkapnya, Suleman Khamam. Panggilnya Khamam saja."
"Kenapa jadi kau yang menentukan nama panggilannya."
"Aku calon istrinya."
"Tetapi rumor beredar bahwa, Mas Lurah Suleman sangat galak. Kau sudah tahu, kan?"
"Aaa, dia hanya menjalankan tugasnya sebagai lurah. Jika dia berbaik hati, maka tidak akan ada yang segan padanya. Dan hal itu akan menyulitkan pekerjaannya."
"Bagaimana kau tahu? Apa Mas Lurah Suleman menceritakan hal itu padamu?"
"Tidak. Itu menurut asumsi ku saja."
Ceklek
Tiba-tiba pintu terbuka. Membuat percakapan Andin dan Meta berakhir.
"Sudah selesai?" (ucap Kumala)
"Lima belas menit lagi, semuanya selesai, nyonya." (ucap salah satu perias)
"Baiklah, masih ada waktu setengah jam lagi sebelum akad pernikahan dimulai."
"Oh ya Andin sayang, tadi mamah mencari ibunya Rossie tidak ada. Begitupun dengan Rossie. Tapi mamah sudah menyuruh pelayan untuk segera mencari mereka berdua di rumah ini."
"Mamah menyuruh pelayan nya, sudah lumayan lama kan?"
"Iya, justru ketika mamah keluar dari kamar ini, hal pertama yang mamah lakukan adalah mencari mereka berdua. Tenang saja, mereka berdua pasti tidak akan kemana-mana. Mereka berdua masih disini, mamah yakin itu."
"Tapi ini sudah sangat lama, mah." (lirih Andin)
"Yang dikatakan oleh mamah mu, benar Ndin. Rumah ini begitu luas. Jadi, tentunya akan sulit untuk menemukan mereka." (Meta menimbali)
Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu. Kumala membukanya, yang ternyata adalah pelayan yang tadi ia suruh untuk mencari Helen dan Rossie.
"Bagaimana?" (tanya Kumala)
"Maaf Nyonya Kumala, semua tempat di rumah ini, sudah saya susuri. Tetapi tidak ada Nyonya Helen dan Non Rossie."
"Mamah..."
"Tenang sayang, tenang."
__ADS_1
BERSAMBUNG...