Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Siapa Dia?


__ADS_3

Keriuhan, saling cepat menyepatkan, kepanikan, pertemuan juga perpisahan, serta kesabaran akan menunggu jemputan. Suasana yang menjadi pemandangan yang selalu ada pada saat di bandara. Sama halnya dengan sepasang kekasih yang terlihat tengah menanti jemputan. Ya, Ziban dan Talita.


"Sudah sering ku bilang, lepaskan topi mu. Kau akan terlihat lebih tampan tanpa topi ini."


Talita melepas topi yang dikenakan Ziban. Lalu ia melempar topi tersebut tepat di tempat sampah yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ziban hanya diam. Lalu Talita menyandarkan kepalanya di bahu Ziban.


"Terimakasih, ya, sayang?"


Talita mendongakkan wajahnya. Menatap Ziban dari kedekatan. Ziban mengangguk lalu sedikit mengulas senyum. Sedikit sekali.


Beberapa saat berlalu, mereka masih menunggu jemputan. Talita masih menyandarkan kepalanya. Ziban tiba-tiba menanyakan sesuatu.


"Apa benar kita sudah menjalin hubungan selama lima tahun terakhir?"


"Iya tentu, benar. Bukankah aku mengatakan semua yang kau lupakan? Dan sudah terbukti, kan? Seperti bisnis-bisnis mu, misalnya. Dan ah ya, semua tentang keluarga mu juga." (jawab Talita)


Ziban mengangguk-angguk membenarkan ucapan Talita. Ia merasa, semuanya kembali pun berkat bantuan dari Talita sepenuhnya. Karenanya lah, ia mampu menjalankan hari-harinya normal seperti sediakala. Talita memang mengatakan beberapa hal kebenaran. Hanya saja, ada beberapa hal yang ia ciptakan sendiri. Ziban tidak bisa mengelak. Yang ditunjukkan olehnya hanyalah mempercayainya. Tidak kurang.


"Lalu bagaimana kita bisa bertemu?" (tanya Ziban lagi)


"Ah sayang. Kan sudah pernah ku ceritakan."


"Maksudnya ceritakan tentang awal kita menjalin hubungan. Sepertinya, hal itu kau belum pernah menceritakannya padaku."


Talita terdiam sesaat. Lalu kemudian ia berbicara kembali.


"Saat itu, kau sangat mencintaiku. Kau mengatakan bahwa aku adalah kekasih mu. Kau mengatakan di hadapan semua teman-teman. Lalu aku tersenyum dan berlari menerima uluran tangan mu,"


"Dan saat itu, Andin tidak menerima semuanya. Dia menjelek-jelekkan diriku. Aku diam saja, tetapi kau tidak,"


"Kau mengumpulkan semua siswa kelas X IIS 1 Favorit. Kau membuat Andin mengakui semuanya atas fitnah yang dia tujukan padaku. Pada kekasih mu, ini,"


"Terimakasih sayang, sekali lagi."


Talita menggapai tangan kanan Ziban lalu menciumnya pelan. Ziban mengangguk lagi.


Talita sudah tak lagi menyandarkan kepalanya pada bahu Ziban. Kali ini, ia melihat ponselnya. Sudah terlalu lama ia dan Ziban menunggu jemputan.


Ketika Talita hendak mengubungi kembali seseorang yang akan menjemput mereka, tiba-tiba seseorang itu telah lebih dahulu memanggilnya. Talita mendongakkan wajahnya.


"Papah..." (ucap Talita)


Laki-laki itu berjalan mendekati Talita dan Ziban.


"Kenapa lama sekali sih, pah?"


"Biasalah, masalah lalu lintas." (jawabnya)

__ADS_1


Laki-laki itu pun tersenyum kepada Ziban.


"Maaf membuat anda menunggu lama, Tuan Muda Ziban." (ucapnya)


Seketika Talita berdehem. Lalu mengedipkan matanya tertuju pada papahnya. Papahnya pun seketika salah tingkah. Ia baru saja melupakan sesuatu.


"Maksudku, apa kabar Ziban? Lama tidak bertemu denganmu, nak."


Ziban membalas senyumannya.


"Aku baik, Tuan Bram."


"Ah, panggil papah saja sama seperti Talita."


Talita tersenyum mengembang. Seakan ia menyetujui ucapan papahnya itu. Ziban hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku sangat senang, akhirnya aku bisa memiliki rekan bisnis muda yang sangat jenius seperti mu, nak. Dan ah ya, bukan sebagai rekan bisnis saja. Tetapi calon menantu."


"Iya pah, tentu saja. Setelah pulang nanti, kami akan langsung menemui keluarganya." (ucap Talita)


Bram memicingkan matanya. Kali ini, ia tidak memahami ucapan putrinya tersebut.


"Dia sudah lama tidak bertemu dengan keluarganya. Tentu dia sudah sangat merindukan keluarganya tersebut. Bukan begitu, sayang?"


Ziban mengangguk sembari tersenyum mengiyakan.


Talita tertawa melihat papahnya yang merasa dilupakan.


"Ah, ayolah pah. Papah kan selalu menuruti semua keinginan putri papah ini."


Talita memegang tangan papahnya. Lalu ia menarik-narik nya dengan sangat manja. Ziban terus saja memperhatikan tingkah laku Talita.


Dia sangat manja kepada siapapun.


Ziban mengedarkan pandangannya ke arah lain. Tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki mengenakan jaket, masker dan mengenakan topi hitam, yang berdiri tepat di ambang pintu keluar masuk. Ziban mengernyitkan keningnya, setelah menyadari bahwa seseorang tersebut tengah memandangnya. Ia menyilangkan kedua tangannya. Membentuk huruf X.


Siapa dia?


Dan, apa maksudnya?


......................


"Hei, bagaimana kuliah mu hari ini? Apa ujiannya lancar, selancar belajar mu? Hahaha."


Meta yang terlihat tengah membaca buku pelajaran, melirik Andin yang baru saja pulang dari kampus.


"Ujian ku tidak pernah gagal dan mengecewakan." (ucap Andin)

__ADS_1


Meta menutup buku pelajaran yang tengah dibacanya.


"Kecuali ujian kehidupan mu, kan?" (tanya Meta)


"Setiap ujian memiliki hasilnya masing-masing. Baik itu ujian sekolah, maupun ujian di kehidupan nyata. Tuhan pun akan memberikan nilai atas ujian yang sudah diberikannya. Tidak saat ini, mungkin masa depan nanti. Tuhan bahkan sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan porsinya masing-masing,"


"Dalam kata lain, aku hanya perlu bersabar sedikit lagi, untuk menerima pengumuman dari Tuhan. Bahwa aku berhasil melewati ujian dengan baik, dan sangat pantas untuk mendapatkan hadiah luar biasa."


Meta tersenyum sinis.


"Sok bijak kau, Ndin!"


Andin hanya mengedikkan bahunya.


Itulah kenapa, kau sekarang memilih jurusan psikologi. Kau hanya ingin lebih mengerti dan memahami lika-liku kehidupan. Terutama kehidupan mu.


"Baiklah, aku tidak akan mengomentari sahabatku ini lagi. Lebih baik, aku belajar darinya. Ya, walaupun tidak akan ada hal yang pantas di pelajari dari nya." (ucap Meta)


Kali ini, Andin yang tersenyum sinis. Mereka berdua memang kerapkali berdebat untuk hal- hal kecil sekalipun. Pada dasarnya, semua orang memiliki caranya masing-masing dalam segala hal. Caranya berbicara, caranya menanggapi atau bahkan caranya bersahabat.


Andin meraih ponselnya yang ia abaikan sejak kemarin ia memilih fokus belajar. Ujiannya telah usai, jadi kali ini ia memutuskan untuk mengecek ponselnya yang sengaja ia senyap kan sejak kemarin malam.


Terlihat notifikasi panggilan tak terjawab berkali-kali. Juga beberapa pesan yang masuk. Dari Kumala, Diana, dan dua nomor tak dikenal.


Andin tak terlalu merasa bersalah. Ia tahu, tidak sedang terjadi apa-apa hingga membuat semuanya berusaha menghubungi nya.


Andin mulai membaca semua pesan yang masuk hari ini. Pesan dari Kumala lah, yang pertama dilihat. Kumala mengirimkan pesan seyogyanya seorang ibu kepada putrinya. Andin membalas pesan Kumala.


"Iya mamah."


Andin berlanjut membuka pesan dari Diana. Terdengar beberapa pesan suara dari Elle. Lalu ia segera membalasnya.


"Elle sayang. Ante Andin minta maaf ya. Beberapa hari lagi, ante pasti pulang ke rumah dan bermain lagi sama Elle yang cantik."


Senyum Andin merekah setelah membalas pesan suara dari Elle. Ketika ia melihat terdapat pesan dari nomor yang tidak dikenal, senyumnya mendadak sirna.


"Apa kau sangat sibuk di kampus? Kenapa tidak pulang ke rumah? Kau sekarang ada dimana? Izinkan aku menjemput mu, ya?"


"Aku sangat menghawatirkan mu,"


"Katakan sesuatu, istriku. Ku mohon."


Tidak ada niat sedikitpun untuk membalas pesan dari Zidan. Nomor yang sudah sejak lama ia hapus dari daftar kontaknya. Hanya saja, ia memang sudah terlanjur menghafal belakang nomornya. Tetapi itu tidak berarti apa-apa, karena ia bahkan sudah menghapus namanya di dalam hati juga hidupnya.


Andin kembali membuka pesan-pesan lainnya. Terdapat satu lagi pesan dari nomor yang tidak dikenal. Andin mengernyitkan keningnya setelah ia membaca pesan tersebut.


Siapa dia? Kenapa dia mengatakan hal seperti itu padaku? Apa dia tidak tahu, bahwa aku sudah menikah dengan kakak nya. Kakak dari seseorang yang sedang dia bicarakan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2