Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Kejutannya, Cukup Sampai Disini


__ADS_3

Mandi kilat telah tuntas Ziban lakukan. Tidak biasanya ia mandi secepat itu. Mungkin karena topik pembicaraan yang akan di bicarakan oleh Raditya yang membuat Ziban bergegas cepat. Dengan berpakaian gaya santai, rambut indah nan menawannya, ia menduduki ranjang empuk tempat peristirahatan nya.


"Wah man, kau terlihat sangat tampan setelah mandi."


Ziban hanya mengedikkan bahunya. Tampan. Ya, ia sudah bosan dengan sebutan itu yang tentu selalu tertuju padanya. Apalagi hal itu dikatakan langsung oleh Raditya. Teman akrab laki-lakinya. Rasa ingin muntah. Ya, mungkin itu lebih tepat di katakan untuk menanggapi pujian Raditya untuk Ziban.


"Hei, kau tidak ingin mendengarkan perkataan ku hah?! Apa kau tidak bisa mendekat beberapa langkah saja?" (ucap Raditya kesal)


"Aku tidak akan pernah mendekat kepada siapapun." (jawab Ziban acuh)


Raditya bertambah di buat kesal dengan jawaban yang di berikan oleh Ziban. Sebenarnya jaraknya tidaklah jauh. Raditya masih berada di sofa. Sedangkan Ziban duduk di ranjang kebesarannya. Raditya memang terbiasa asal bicara dan lebih akrab dengan Ziban dari pada yang lainnya.


"Ooh, jadi kau tidak ingin mendekat ke arahku dan duduk di sofa? Baiklah..."


Ziban melirik ke arah Raditya dengan ekor matanya.


"Aku tidak akan berbicara mengenai Andin kepadamu." (sambung Raditya)


Ziban mencengkeram sprei nya kuat-kuat. Tetapi beruntung lah Raditya tidak melihat kelakuan Ziban. Jika sampai Raditya melihat, mungkin ia akan mentertawakan kelakuan temannya itu yang sama sekali bukan kebiasaannya.


"Ah, aku tidak peduli dengannya. Jika kau tidak ingin berbicara tentangnya, maka itu akan jauh lebih baik." (jawab Ziban lugas)


Jangan sebut Raditya, jika ia akan langsung mudah menyerah begitu saja di hadapan siapapun.


"Baiklah, aku akan pulang saja..."


Raditya berdiri dari tempat duduknya.


Lihat saja nanti, kali ini kau pasti akan memohon-mohon kepadaku agar aku berbicara mengenai Andin. Jika dugaanku salah, maka aku akan memukul kepalaku tiga kali di hadapanmu. Haha, tapi hal itu tidak akan pernah terjadi karena aku sangat tahu dengan sikap dan hatimu, Ziban Alkash.


Raditya melangkahkan kakinya pelan sambil menunggu jawaban apa yang akan di lontarkan oleh mulut temannya itu. Ia berjalan dengan berusaha berwibawa sebaik mungkin. Tetapi tetap saja, ia kalah wibawanya dengan Ziban. Entah sihir apa yang terdapat di tubuh Ziban, hingga siapapun bahkan berdecak iri dengan fisiknya itu.


Tinggal satu langkah lagi untuk Raditya memegang gagang pintu.


Ah, kali ini aku tidak akan mengalah. Aku akan tetap melangkah dan bersiap-siap menertawai mu karena kau memohon kepadaku.


Gagang pintu sudah sempurna ia tarik ke bawah hingga berbunyi ceklek. Itu tandanya, pintu telah terbuka. Kali ini Raditya benar-benar kehilangan kesabarannya. Ia pun segera membalikkan wajahnya ke belakang.


Apa?!


Raditya berdecak semakin kesal karena melihat Ziban yang telah beradu dengan selimutnya itu. Raditya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan temannya itu. Bagaimana mungkin ia bisa dengan semudah itu tertidur yang bahkan Raditya saja belum meninggalkan kamarnya itu. Begitu gerutu Raditya kira-kira.


Akhirnya Raditya tidak jadi meninggalkan kamar Ziban. Ia mendekat ke arah tempat tidur Ziban dan segera menarik selimutnya itu.


"Heh man, bisa-bisanya kau tidur!"

__ADS_1


Ziban membuka sepasang matanya. Ia mengerjapkan beberapa kali matanya itu.


"Mengapa kau tidak jadi pulang? Katanya kau mau pulang."


"Kau ini ya, aku ini sengaja datang kesini hanya karena mu. Bisa-bisanya kau malah tidur seperti tadi." (ucap Raditya sangat kesal)


"Hehe. Apa kau tadi telah bersumpah sesuatu?"


Dari mana Ziban mengetahui bahwa aku tadi telah berikrar jika Ziban sampai tidak memanggil dan memohon ku maka aku akan memukul kepalaku sendiri tiga kali. Ah, sial.


"Ahaha, untuk apa aku bersumpah man."


"Ya mungkin saja, karena kau kan memang terbiasa seperti itu.." (kata Ziban datar)


"Oh ya, apa kau tahu, jika seseorang telah bersumpah dan melanggar sumpahnya itu...maka seseorang itu akan di kenai sial hingga tujuh turunan." (sambungnya lagi)


Raditya kesusahan dalam menelan salivanya. Ia menyesali kebiasaan buruknya yang selalu bersumpah dimanapun ia berada. Ya, pada dasarnya sebenarnya Raditya memang selalu menyadari mengenai kebiasaan nya itu, tetapi entah mengapa ia sangat sulit dalam merubahnya. Setiap ada sesuatu, ia pasti akan mempertaruhkan sumpah tentang dirinya sendiri dengan sesuatu itu. Ya, seperti hal itu tadi.


Ziban sebagai teman dekatnya pun telah memahami kebiasaan Raditya itu. Bahkan Ziban terkadang dengan sengaja memancing Raditya dan dengan sengaja menakut-nakuti Raditya dengan hal yang sama. Yaitu, akan di kenai sial selama tujuh turunan.


"Ah iya iya, baiklah. Aku akan memukul kepalaku satu kali." (jawab Raditya frustasi)


Ziban menaikkan satu alisnya.


"Emm..."


"Ah iya baiklah aku akan memukul kepalaku sendiri tiga kali."


"Aku tidak percaya denganmu, jangan-jangan kau bersumpah akan memukul kepalamu sendiri berkali-kali. Iya kan?"


"Ah tidak Ziban. Demi tuhan aku tadi bersumpah memukul kepalaku sendiri hanya tiga kali."


"Lagi-lagi kau bersumpah haha."


Di hadapan Ziban, Raditya memukul kepalanya sendiri sampai tiga kali. Tentu saja tidak terlalu keras. Karena bagaimanapun alasan Raditya sekarang adalah, tentu karena di dalam sumpah nya itu tidak terdapat keras atau tidaknya. Kali ini ada hal kecil yang perlu di syukuri oleh Raditya rupanya. Setidaknya ia tidak akan kesakitan karena yang memukul adalah dirinya sendiri.


"Kau mau jadi bicara apa tidak?" (tanya Ziban)


"Cih, kau benar-benar menyebalkan."


"Jika tidak ada yang akan kau katakan, maka aku akan kembali tidur. Dan kau pulanglah."


"Ah ayolah man, ada sesuatu yang amat penting yang harus ku bicarakan denganmu."


Ziban bangun dari tidurnya dan langsung duduk sigap mendengarkan apa yang akan di katakan oleh temannya itu.

__ADS_1


"Katakan saja, cepat."


"Ini mengenai Andin..." (ucap Raditya)


Ziban menggeram lirih. Sorotan matanya seperti menyiratkan kekesalannya kepada Raditya.


"Ya tentu saja aku sudah mengetahui yang akan dikatakan oleh mu adalah tentang Andin. Dasar bodoh! Kau kan sudah mengatakannya dari awal tadi."


"Ehehe, santai man."


"Andin telah menduga-duga mengenai siapa pengirim yang selalu mengirimkan sesuatu di lokernya." (sambung Raditya lagi)


Ziban tertarik mendengarnya.


"Benarkah? Lalu masalahnya dimana?"


"Masalahnya adalah Andin menduga pengirimnya adalah abang mu, Tuan Zidan."


Ziban Alkash hanya terdiam. Ia tidak bisa menyanggah sedikitpun mengenai penjelasan Raditya. Lalu ia melanjutkan kalimatnya kembali.


"Apa kau tahu, Andin bahkan selalu datang ke lemari lokernya setiap hari hanya untuk mengetahui dan mengambil kejutan apa yang ada di lemari lokernya. Dia bahkan menganggap bahwa Pangeran Senjana adalah abang mu dan Putri Senjani adalah dirinya sendiri."


"Sepertinya hari demi hari, Andin semakin menyukai surat dan hadiah yang datang di setiap harinya." (sambung nya lagi)


Ziban mulai angkat bicara.


"Memangnya kau menuliskan apa dalam surat itu hah?!" (tukas Ziban)


"Aku kan melakukan sesuai keinginan mu. Aku menuliskan untaian kalimat indah dan puisi di setiap harinya. Tidak lupa pujian dan rayuan untuknya."


"Perlu diingat itu hanya atas namaku! Kau tidak boleh benar-benar merayu Andin."


"Ya man. Aku tahu kau tidak bisa merayu atau bahkan hanya sekedar menuliskan kalimat manis. Bukankah aku menjalankan tugasku dengan baik kan?"


"Hemm. Tetapi mengapa bisa Andin sampai mengira bahwa Bang Zidan lah pengirimnya?"


Raditya mengedikkan bahunya. Sebagai tangan kanan Ziban yang selalu mengirimkan sesuatu di lemari lokernya Andin, ia memang hanya berusaha menjalankan tugas itu sebaik mungkin dan selalu setia kepada temannya itu. Tidak ada niatan sekecil apapun untuk menghianati Ziban.


"Dit, kau hentikan saja kejutan-kejutan di setiap harinya untuk Andin. Lagian sebentar lagi kita juga akan segera meninggalkan MAN 102 Bandung."


Ucap Ziban hambar di akhir kalimatnya. Raditya hanya mengangguk paham. Ia tak berniat untuk menanggapi Ziban kembali.


Aku tahu kau sedang kecewa, Ziban.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2