Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Hati Helen


__ADS_3

"Kenapa terkejut seperti itu?"


"Dan ada apa ini sayang. Kenapa berantakan seperti ini?"


Helen perlahan mendekati Andin. Sedangkan Andin hanya menggelengkan kepalanya pelan sekali. Lalu sejurus dengan itu, ia duduk di pinggir ranjangnya.


Helen mengangkat pelan dagu Andin yang tertunduk. Tentunya dengan senyuman dari Helen seperti biasa.


"Ceritakan semua masalah mu padaku. Bukankah itu adalah kebiasaan mu dari kecil?"


Helen melangkahkan kakinya ke sekitar meja rias Andin yang sangat berantakan. Terlihat ia yang perlahan mengumpulkan serpihan kaca yang tersebar. Andin menatap Helen terlebih dahulu, sebelum ia melarang Helen.


"Tante, jangan..."


Helen sama sekali tidak mendengarkan Andin. Hal itu membuat Andin berdiri mendekati Helen lalu kemudian membantunya mengumpulkan serpihan kaca. Dan baru beberapa serpihan kaca yang berhasil dikumpulkan oleh Andin, jemarinya sudah terlebih dahulu tergores. Hal itu tentu membuat Andin meringis menahan sakit. Helen menatap jemari Andin yang keluar darah akibat tergores serpihan kaca.


"Sakit? Perih? Atau dua-duanya?" (tanya Helen)


Andin menggelengkan kepalanya. Sedangkan Helen menuntun Andin untuk kembali duduk di ranjang. Helen mengambil tissue dan gunting di meja dekat ranjang. Lalu ia mengelap sedikit demi sedikit darah yang keluar dari jemari Andin. Terlihat Andin yang meringis, tetapi Helen tak memperdulikan nya.


"Apa yang kau rasakan?" (tanya Helen)


Andin masih tetap meringis menahan tangis. Helen menggunting dua titik pojok tunik panjang nya secara sejajar. Lalu ia merobeknya dengan keras. Andin terperanjat melihat Helen yang merusak bajunya sendiri.


"Tante, apa yang kau lakukan..." (ucap Andin lirih)


Helen merapikan kain hasil robekan dengan gunting. Lalu setelah itu ia melihat sorot mata Andin dalam.


"Semua luka-luka mu akan menjadi sedikit ringan jika kau mau berbagi."


Ucap Helen sembari mengikatkan kain tersebut rapat ke jemari Andin supaya tidak akan ada lagi darah yang berusaha merembes keluar.


"Seperti kain kecil ini contohnya. Kain ini memang tidak akan menyembuhkan goresan di jemari mu. Tetapi, kain ini berpotensi besar menyumbat darah yang hendak keluar."


Helen menatap Andin lalu mengusap pipi Andin dengan lembut. Berusaha membuat Andin memahami segala ucapannya.


"Kau memerlukan kami, sayang. Kami keluarga mu, bukan musuh mu."


Andin menatap balik Helen lalu memeluk nya dengan tangisan yang tak tertahankan mengiringi. Helen menepuk-nepuk pelan punggung Andin untuk menyalurkan sedikit kekuatan padanya.


"Ya, sayang. Menangis lah dengan keras. Menangis lah sekuat mu. Lalu setelah itu, kau harus ceritakan semua masalah mu."


Pada ibu mertua mu, ini.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Andin melepaskan pelukannya. Ia menyudahi tangisannya setelah merasa sudah lelah tenggelam dalam kesedihan. Helen tersenyum melihat Andin yang masih sedikit sesenggukan. Lalu ia mengusap sisa air mata di wajah Andin menggunakan kedua tangannya.


"Kau sedang ada masalah dengan suami mu, kan?"


Andin sudah terlihat lebih sedikit tenang. Ia tengah memandang lantai dengan tatapan tak berarti.


"Sedangkan mamah ku saja tidak dapat menebak keadaan ku. Lalu, bagaimana tante mengetahuinya?"


"Mamah mu, tentu saja merasakannya. Bahkan, mamah mu lah yang mengatakannya terlebih dahulu pada ku."


Andin menatap Helen.


"Benarkah?"


Helen mengangguk.


"Apa kau benar-benar tidak ingin menceritakan pada kami mengenai masalah mu?" (tanya Helen)


Andin kembali terdiam tak bergeming. Setelah melihat keadaan Andin secara langsung, Helen tak ingin memaksakan Andin untuk bercerita.


"Beberapa masalah antara hubungan suami istri, pada dasarnya memang seharusnya di selesaikan antara suami istri tersebut." (ucap Helen)


Andin menatap Helen dalam-dalam.


"Tidak tante. Aku akan membaginya dengan kalian. Dengan papah, mamah, dan juga tante."


"Apa yang harus Andin lakukan, tante? Katakan?!"


Andin kembali jatuh ke dalam tangisannya. Sedangkan kali ini, Helen diam tak bersuara. Berjuta rasa sesak tengah berkecamuk di dalam dirinya. Mendengarkan fakta mengenai putra pertamanya. Ia sudah cukup terluka mengingat pernikahan Zidan yang seolah membisu dan tak menganggap dirinya ada sedikitpun. Ya, walau sejatinya ia ada di sekitarnya. Di dekat putra pertamanya.


"Tante, Andin harus apa?!"


Andin sudah terlanjur sesenggukan terlalu dalam. Helen memeluknya erat. Erat sekali. Seperti rasanya, tak ingin ia lepas sedikitpun dari peluknya.


Ya Tuhan, cobaan apa yang tengah kau berikan?


"Andin, tenang sayang."


Helen meneteskan air matanya di balik punggung Andin, tanpa berhenti mengelus-elus rambut Andin. Ia tahu, kesedihan dan kekecewaan Andin jauh lebih besar dibandingkan dirinya, ibu kandungnya. Kehidupan awal pernikahan yang seharusnya menjadi ladang pahala juga ladang kebahagiaan, justru terjadi sebaliknya.


"Katakan tante, katakan. Apa aku boleh menyesalinya? Menyesali pertemuan hingga pernikahan kami?"


"Kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa, tante? Kenapa?"

__ADS_1


Helen semakin deras dalam meneteskan air matanya. Ia tidak tahu, apa yang harus dikatakan kepada Andin. Bagaimanapun, ia adalah ibu kandungnya. Ia tetap ikut bertanggungjawab atas kelakuan putranya itu. Beberapa saat, Helen mengusap air matanya.


"Aku adalah ibu kedua mu, tentu saja aku memahami perasaan mu. Terlebih, seseorang yang melukai hati mu, adalah darah daging ku sendiri."


Andin membuka matanya dibalik peluk Helen. Ia tertegun mendengar ucapan Helen kali ini. Andin segera melepaskan pelukannya.


"Darah daging Tante Helen?"


Andin berucap tak mempercayainya. Sedangkan Helen pun dibuat terkejut dengan reaksi Andin. Helen memejamkan matanya sekejap dan membukanya kembali. Ia sudah memahami segalanya saat ini.


Putraku sendiri, bahkan tidak memperkenalkan aku sebagai ibu kandungnya di depan istrinya. Ada apa denganmu, nak. Bukan kah sebelum kau pergi meninggalkan ibu dulu, kau lah yang paling pendiam dan penurut? Ada apa denganmu, nak. Ada apa? Kau bahkan mengukir masa lalu yang tak mudah termaafkan.


"Tante? Kenapa tante diam? Bicaralah tante. Andin mohon." (pinta Andin)


Helen mengusap wajahnya. Menguatkan dirinya, untuk Andin.


"Ya, sayang. Suami mu, Zidan Haq, adalah putra pertama ku."


Andin memasang wajah tidak percaya. Kesedihannya mengenai permasalahannya, berhasil terlupakan sekejap. Saat ini, ia terlihat ingin mengetahui kebenaran lainnya. Yang tidak diketahuinya.


"Apa maksud tante? Dan, bagaimana itu mungkin?"


Helen pun akhirnya menceritakan beberapa hal inti dengan singkat. Mengenai dirinya yang berpisah dengan Atta. Mengenai Atta yang memilih perempuan lain. Dan mengenai hak asuh kedua putranya, Zidan dan Ziban yang jatuh ke tangan Atta, mantan suaminya.


Andin mendengarkan dengan seksama walau dengan suasana hatinya yang tengah tidak baik. Terlihat raut wajah kekecewaan di wajahnya. Tetapi Andin berhasil menyingkirkan nya, setelah melihat bola mata Helen yang berkaca-kaca. Tidak mudah bagi seorang ibu, untuk jauh dari kedua putranya. Begitulah pikiran yang terlintas di benak Andin.


Andin mengambil air minum di dekat meja dan memberikannya pada Helen.


"Tante, minumlah."


Helen menggelengkan kepalanya.


"Kau pasti sangat tersiksa selama ini." (ucap Andin lagi)


"Tidak sayang, aku baik-baik saja,"


"Dan tolong, jangan benci tante."


Andin meletakkan kembali air minum di atas meja. Lalu ia kembali memeluk Helen.


"Tentu tidak, tante. Atas dasar apa, aku membenci mu."


Helen pun membalas pelukan Andin.

__ADS_1


"Kau jangan memikirkan perihal Zidan adalah putraku. Dan ingat satu hal, apapun keputusan mu nanti, tante harap kau memikirkan kebahagiaan mu terlebih dahulu."


BERSAMBUNG...


__ADS_2