
"Kita kembali ke kelas saja ya, Ndin.."
Talita melepaskan pelukannya dengan Andin.
"Tidak mau..."
Andin menjawab ajakan Talita dengan putus asa.
"Tidak apa-apa, kan ada aku."
Talita berhasil membujuk Andin. Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju ke kelas X IIS 1 Favorit. Tentu dengan wajah dan ekspresi yang berbeda-beda. Andin yang terlihat jelas sekali habis menangis, sedangkan raut wajah Talita yang susah ditebak. Lebih tepatnya Talita hanya menampilkan wajah yang biasa-biasa saja.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah sampai di depan kelas yang tentunya sudah sejak tadi melewati beberapa anak-anak yang terus merundung Andin. Selama perjalanan pun Andin hanya tertunduk. Biasanya ia adalah tipikal yang sangat menikmati perjalanan nya. Tetapi kali ini tidak. Yaa, tentu saja sejak fitnah yang sedang merundung Andin.
"Andin, kau masuk sendirian dulu ya? Tiba-tiba perutku sangat sakit. Aku mau ke belakang dulu."
Ujar Talita kepada Andin ketika mereka berdua berdiri di depan pintu kelas X IIS 1 Favorit persis. Andin pun langsung memasang wajah ketakutan dan memelas kepada Talita yang hendak meninggalkan nya dan menyuruhnya masuk kedalam sendirian.
"Tidak apa-apa Ndin, masuk saja."
Kata Talita menggenggam erat tangan Andin lalu tanpa mendengar sanggahan dari Andin ia segera berlalu pergi menuju toilet laki-laki. Yaa, sekali lagi karena Talita memang masih berpura-pura menjadi laki-laki. Entah kapan ia akan menjadi dirinya sendiri, hanya ia dan tuhannya lah yang mengetahui.
Setelah Talita menghilang di pelupuk matanya, Andin segera mengumpulkan nyali untuk masuk ke dalam kelasnya. Rupanya kejadian tadi sangat menekan batinnya, hingga ia takut bertemu dengan teman-teman lainnya. Ia takut tidak ada yang mau berteman dengannya seperti biasa. Dirundung setiap hari tentu tidak akan mudah dihadapi bagi semua siswa di sekolah. Sebelumnya Andin memang tidak pernah diperlakukan seperti itu. Ia selalu dihormati dimanapun ia berada. Tentu karena semua orang mengetahui bahwa Andin adalah keturunan satu-satunya dari Keluarga Raharga. Dan tentu karena prestasinya yang sangat diluar batas normal. Sekali lagi, Andin memang sangatlah cerdas.
Andai saja semua teman-temannya mengetahui Andin berasal dari Keluarga Raharga. Tetapi Andin tidak sama sekali berharap semua teman-temannya mengetahui asal-usul keluarganya. Ia memang hanya ingin menjadi gadis yang sederhana dan berteman dengan siapapun.
Na'as, kehidupannya di sekolah kali ini harus Andin lalui dengan penuh deritat. Semua itu karena fitnah yang tersebar di sekolah itu.
Ketika Andin memasuki ruang kelasnya, semua pasang mata memandang tak suka kepadanya. Ada sesuatu yang membuat Andin tiba-tiba merasa kuat.
Andin, tenanglah. Ayo lanjutkan langkah kakimu dan segera duduk di tempatmu. Jangan hiraukan mereka. Kau ingat kan kata Talita tadi? Dia akan selalu menggandeng tanganmu jika kau membutuhkan nya.
Baru dua langkah Andin melangkahkan kakinya. Dua teman sekelasnya tiba-tiba menghalangi jalan dengan kakinya.
"Apa kau mau lewat?"
Andin menganggukkan kepalanya. Mereka berdua membuka jalan untuk Andin. Andin segera melangkahkan kakinya kembali setelah mengucap terimakasih lirih.
Tiba-tiba...
BRUGHHHH...!!!!
__ADS_1
Andin tersungkur sangat keras akibat tersandung kaki salah satu dari mereka yang sengaja memalang jalannya.
"Ups, sorry aku tidak sengaja."
Seisi kelas riuh menertawai Andin yang terjerembab di lantai. Andin pun meringis kesakitan karena luka dibagian siku dan lututnya. Lalu segera bangkit menuju kursinya tak memperdulikan tawaan teman sekelasnya.
Siapa yang membuat meja dan kursiku berlumuran cat berwarna merah seperti ini?! Memangnya apa salahku kepada kalian semua.
Andin menangisi nasibnya yang sangat malang, setelah melihat meja dan kursinya berlumuran berwarna merah bertuliskan hati-hati penggoda laki-laki.
Kau dimana Talita? Hanya ke belakang kenapa lama sekali? Aku membutuhkan mu.
Panjang umur. Seseorang yang baru saja ia sebut dalam hatinya tiba-tiba masuk ke dalam kelas. Andin sedikit merasa tenang.
"Syukurlah kau segera datang Talita. Apa kau tahu tadi mereka semua mengerjai ku hingga aku terjatuh dan disusul dengan gelak tawa mereka.."
Kata Andin lirih dengan memegang lengan Talita mengadukan rasa sakitnya kepada Talita.
"Dan, lihatlah meja dan kursi ini. Entah siapa yang melakukannya." (lanjut Andin seraya menunjuk ke arah kursi dan mejanya)
Talita tidak merespon apapun. Membuat Andin sedikit bingung dengannya. Tiba-tiba seseorang menarik lengan Talita dan mengatakan sesuatu.
"Eh Rif, lebih baik kau duduk denganku saja. Aku sarankan jangan dekat-dekat dengannya."
"Kenapa hidup sebercanda ini, tuhan?"
Andin mengucapkan lirih sebelum ia terjatuh dan hilang kesadaran di atas lantai X IIS 1 Favorit, MAN 102 Bandung.
...----------------...
Rumah sakit ternama di kota Bandung terlihat sedang genting. Semua dokter hilir mudik kesana kemari. Ruang VVIP berada, dimana Andin Puspita Arga terkapar tak berdaya. Di ruangan itu terdapat beberapa dokter terpercaya, Andin, dan juga seseorang yang membawa Andin ke rumah sakit itu.
"Cepat periksa dan lakukanlah yang terbaik untuknya. Gadis yang sedang tak berdaya itu namanya Andin Raharga. Tentu kalian tahu dengan Arga Raharga kan?"
Semua dokter terpercaya yang akan turun tangan langsung memeriksa Andin, terlihat menganggukkan kepalanya tanda bahwa mereka sangat paham.
"Baik, jangan lupa kabari aku apa yang terjadi dengan Andin Raharga."
"Baik, tuan. Kami berjanji akan bersungguh-sungguh dalam memeriksanya."
......................
__ADS_1
Suara deru segerombol Motor Kawasaki keluaran terbaru menggema memekak telinga bagi siapapun yang mendengar di sebuah gudang tua tak terpakai.
Segerombolan Geng Motor Kawasaki dengan wajah tertutup rapat oleh helm. Mereka sedang menderu gas nya keras-keras seraya memutari sekelompok siswa itu. Ada yang diam seribu bahasa, ada juga yang berteriak histeris ketakutan.
"Apa yang mereka inginkan? Mengapa mereka membawa kita semua ke dalam gedung tua ini?"
"Huss, diam saja. Jangan banyak bicara, nanti mereka mendengar."
Mereka semua benar-benar merasa bingung mengapa segerombol geng motor itu tiba-tiba menculik mereka semua. Beberapa dari mereka berusaha mengingat-ingat mungkin saja telah melakukan suatu kesalahan. Dan beberapa dari mereka pula mengira bahwa mereka tidak lain tidak bukan adalah korban penculikan semata.
Segerombolan motor itu tiba-tiba berhenti. Seketika gedung tua itu mendadak senyap tak bersuara.
Salah satu dari geng motor itu turun dari motornya tanpa melepaskan helmnya.
"Apa kalian tahu mengapa aku membawa kalian semua kesini?!"
Mereka semua terdiam mendengar pertanyaan salah satu geng motor itu. Dan kemungkinan besar dia adalah ketua gengnya.
"Apa kalian tidak memiliki telinga untuk mendengarku, hah?!"
Tidak ada satupun yang berani menjawab. Lalu ketua geng itu menjentikkan jarinya ke belakang. Dan seketika seseorang datang memberinya pengeras suara.
"Siapa yang dengan sengaja membuat Andin terjatuh di kelas tadi?! Silakan mendekat ke arahku!"
Seorang perempuan gemetaran tak karuan mendengar gertakan dari ketua geng tersebut. Ia benar-benar tidak berani untuk mengakuinya.
Tetapi tiba-tiba beberapa anak lainnya memojokkan nya untuk menuruti perkataan ketua geng itu.
"Heh, sana cepat maju. Bukankah tadi kau yang dengan sengaja memalangkan kakimu kepada Andin hingga dia tersungkur?"
"Iya ayo cepat turuti saja maunya. Kita sedang dalam bahaya!"
Akhirnya seorang perempuan berdiri dan melangkahkan kaki ke depan dengan sangat ragu-ragu.
"Dan untuk yang memfitnah Andin lalu mencoret-coret meja dan kursinya, silakan maju kedepan!!"
Kali ini diantara mereka tidak ada yang bergeming satupun. Membuat ketua geng itu mengulangi perkataannya.
"Aku tahu, kau ada disini! Cepat berdiri dan menghadapku!! Jika tidak aku akan melakukan hal yang tidak akan pernah kalian duga sebelumnya!!"
"Cepat berdiri dan akui kau yang telah memfitnah Andin!!!"
__ADS_1
Wajah seseorang mendadak pias mendengar gertakan dan ancaman yang keluar jelas dari mulut ketua geng motor itu.
BERSAMBUNG....