Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Mata Ku Sudah Tidak Suci Lagi


__ADS_3

"Apa yang kalian tunggu?"


Tiba-tiba suara Arga memecahkan suasana hening di kamar rias khusus pengantin wanita. Ya, Andin.


"Emm, pah..." (ucap Kumala)


"Ayo cepat,"


"Sudah selesai?" (tanya Arga kepada tiga perias)


"Sudah, Tuan."


Ucap ketiga perias secara bersamaan.


"Mah..."


Arga memanggil Kumala seraya memberikan kode agar lekas turun ke bawah. Tetapi Kumala sedikit menggelengkan kepalanya, lalu memberikan kode juga kepada Arga agar mengamati putrinya yang duduk termenung. Arga memahaminya.


"Ada apa?" (tanya Arga)


"Ibunya Rossie dan juga Rossie tidak ada di sini pah." (jawab Kumala)


"Jadi hanya gara-gara hal seperti itu saja?"


"Pah..."


Kumala menunjukkan wajah ketidaksukaannya nya dengan tanggapan Arga.


"Mereka sudah di bawah. Ayo cepat turun. Acara intinya akan segera dimulai." (ucap Arga)


Andin langsung saja memandang papahnya.


"Benarkah, pah?"


Arga mengangguk.


"Mah, bawa Andin turun. Papah akan ke bawah lebih dulu."


Arga segera turun ke bawah. Dengan gaya berjalannya yang mampu menyihir siapapun.


"Andin sayang, sudah dengar kan, yang dikatakan papahmu?"


"Tapi kenapa dari tadi mereka tidak dapat ditemukan. Dan tiba-tiba saja, Tante Helen dan Rossie sudah ada di bawah. Memangnya, itu tidaklah aneh, mah?"


"Menurutku pelayan tadi tidak mencarinya di tempat utama acara. Jadi, tentu saja tidak akan ketemu karena sejak tadi, mereka berada di sana. Iya kan?" (Ucap Meta)


Astaga Meta, mulut mu ini seperti kebelet buang air kecil saja. Tidak bisa ditahan. Cih!


Kumala memandang Meta sejenak.


"Benar yang dikatakan Meta, sayang."


Andin pun mengangguk. Andin segera turun ke bawah dengan dibantu oleh Kumala dan Meta di kanan kirinya. Dan juga perias tadi, yang turut membantu memegangi gaun pengantin berwarna putih yang di desain khusus itu.


Setelah berhasil berpijak di tangga utama yang terlihat jelas dari bawah, Andin menelan salivanya agak berat. Begitupun dengan Meta. Hanya Kumala saja lah, yang terlihat biasa-biasa saja dengan gaya mempesona nya, seperti biasa. Tidak, tidak biasa. Hari ini Kumala sangat jauh terlihat mempesona tentunya.


Wahai jantung dan segala teman-teman mu di dalam sana, tolong bertahan di tempat kalian masing-masing.


Andin berhenti sejenak setelah merasa tidak mampu untuk melangkahkan kakinya lagi di anak tangga selanjutnya lagi. Kumala dan Meta memandang Andin.


"Ada apa, Andin sayang?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mah." (ucap Andin merenges)


"Kenapa berhenti, Ndin? Lihatlah ke bawah, semuanya tengah memandang ke arah sini." (ucap Meta berbisik-bisik)


"Apa aku terlihat cantik, Met? Tiba-tiba aku merasa tidak percaya diri."


Meta seketika memandang nya lalu setelah itu, memandang dirinya sendiri.


Hei?! Apa kau sedang mengejekku?! Kau bahkan terlihat seperti bidadari kahyangan. Sedangkan aku? Ah, sudahlah. Semua orang memandang Andin dengan penuh cinta, sedangkan ketika memandang ku? Hemm, kalian artikan saja sendiri.


"Kenapa kalian berbisik-bisik seperti itu? Cepat nak, kita sudah ditunggu." (ucap Kumala)


Andin dan Meta tersenyum tipis secara bersamaan. Andin segera menundukkan kepalanya setelah matanya, sempat beradu dengan Zidan Haq, orang yang sebentar lagi akan menjadi suami sah nya. Melihatnya tersenyum, membuat Andin merasakan berjuta kunang-kunang yang tengah bertebaran di dalam perutnya.


...----------------...


"Tuan muda,"


"Boleh saya masuk?"


"Sehari ini, anda belum makan apapun, tuan muda."


Apa yang harus saya lakukan, tuan. Apa yang harus saya lakukan supaya anda mau makan sedikit saja.


Sekretaris Chan hendak meninggalkan pintu. Tetapi tiba-tiba pintu lebih dulu terbuka. Sekretaris Chan terkejut karena melihat Ziban yang masih memakai baju tidurnya kemarin malam. Dan juga tentunya, prihatin dengannya yang terlihat jelas tengah tidak berdaya.


"Kita ke luar negeri ya? Sekarang juga, bisa kan?"


"Malam ini, tuan?"


"Ya."


"Akan saya usahakan, tuan."


"Mungkin bisa, tuan."


"Jangan mungkin-mungkin!"


"Pasti bisa, tuan muda."


"Nah.."


Rasanya ingin sekali Sekretaris Chan menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah gatal untuk di geleng-gelengkan karena permintaan tuan mudanya.


"Tapi aku belum mandi."


"Hari ini, tuan?"


"Ya. Memangnya kenapa? Apa aku bau?!" (ucap Ziban meninggikan suaranya)


"Tidak tuan. Sangat tidak mungkin, jikalau anda bau."


Ziban mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda bahwa ia setuju.


"Bahkan jika anda tidak mandi satu bulan sekalipun, maka tidak ada bedanya tuan. Anda tetap harum dan terlihat tampan seperti biasa." (ucapnya lagi)


"Jadi maksudmu, kau menyuruhku untuk tidak mandi selama sebulan, seperti itu?!"


Ya Tuhan, kadang-kadang, Tuan Muda Ziban tidak memahami maksud saya.


"Berani-beraninya kau mengajariku untuk melakukan hal jorok dengan tidak mandi selama sebulan, hah?! Bagaimana jika terdapat jamur yang menempel di kulit ku ini?!"

__ADS_1


Semua itu, tidak akan pernah terjadi jika anda tidak benar-benar melakukannya.


"Hemm, sepertinya sedikit menarik saran mu itu."


Sekretaris Chan mendadak bergidik ngeri. Sepertinya ia sudah mampu menduga-duga apa yang akan dikatakan oleh Ziban selanjutnya.


"Bagaimana kalau kau yang tidak mandi, selama sebulan? Dan itu akan langsung di mulai hari besok. Tidak ada bantahan."


"Tapi tuan muda..."


"Sekali lagi, tidak ada bantahan."


"Anda sedang tidak serius kan, tuan..."


Ekspresi kepanikan mulai terlihat di wajah Sekretaris Chan. Padahal sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah terlihat panik sedikitpun. Ziban menutup pintunya kembali.


Apa Tuan Muda Ziban, serius? Tetapi dia tidak suka bercanda, apalagi bercanda dengan saya.


Tiba-tiba pintu terbuka kembali.


"Kau tadi menawariku makan, kan? Mana makanannya?"


"Itu tuan, tetapi sudah dingin. Biar saya ambilkan lagi, tuan." (ucap Sekretaris Chan sembari menunjuk tempat penyajian hidangan)


"Kau ini lebay sekali. Itu hanyalah makanan dingin. Bukan basi, kan? Sini, biar aku makan, daripada mubazir."


"Ya, tuan baiklah."


Ziban terlebih dahulu masuk ke dalam, lalu di susul oleh Sekretaris Chan dengan mendorong tempat penyajian hidangan makanan itu, yang tersaji semua makanan kesukaan Ziban Alkash. Dan tentunya masih memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang tengah berputar di kepalanya.


Ada apa dengan tuan muda. Biasanya, ia paling tidak suka makanan dingin.


"Cepat keluar, dan tutup pintu!" (ucap Ziban)


Sekretaris Chan mengangguk sopan seperti biasa, lalu keluar dan menutup pintu. Baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar itu, tiba-tiba suara keras di dalam terdengar jelas di telinga nya. Ia pun segera mendekati pintu kembali, ia takut sesuatu tengah terjadi.


"Tuan muda, apa anda baik-baik saja di dalam?"


"Tidak ada apa-apa! Pergi sana! Jangan menguping!" (pekik Ziban)


Suara apa tadi? Tadi terdengar seperti, sesuatu jatuh ke lantai. Hemm, seperti suara piring! Astaga, saya baru mengerti sekarang.


Sekertaris Chan melangkahkan kaki keluar hotel untuk mengurus penerbangan ke luar negeri malam ini juga sesuai permintaan Ziban. Tentunya sembari menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia baru menyadari bahwa Ziban hanya sudah tidak kuat menahan rasa lapar. Maka dari itu, piring saja sampai jatuh. Ya, itulah faktanya.


...----------------...


Apa yang harus aku lakukan? Ah, mamah tidak pernah mengajariku apa yang harus ku lakukan di malam pertama!


"Kau tidak mandi?" (tanya Zidan Haq)


Andin terkejut setelah Zidan, suaminya keluar dari kamar mandi.


Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak memakai handuk setelah mandi? Aaaaa, apa ini. Astaga, mata suci ku telah ternodai.


Andin memalingkan wajahnya. Zidan menyadari kegelisahan yang terlihat jelas di mata Andin.


"Aku tadi lupa membawa handuk, aku akan mengambilnya. Di lemari, kan?"


Andin mengangguk kaku tanpa melihat ke arah suaminya itu. Ia tiba-tiba merasakan bulu kuduknya merinding. Antara takut dan bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


Kenapa dia santai sekali seperti itu sih. Aaaa, Tuhan, tolong kirim siapa saja ke kamar ku ini untuk menemaniku. Aku takut jika hanya berdua seperti ini. Aaaaaa, Tuhan, ku mohon kabulkan permintaanku.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2