
"Bu, seharusnya ibu tidak perlu bersikap baik padanya."
Rossie berdiri tepat di pintu sembari berkacak pinggang. Melihatkan wajah cemberut karena ketidaksukaan dirinya. Berusaha memprotes Helen, karena telah bersikap baik pada tamunya. Ia sangat tak menyukai akan hal tersebut. Baginya, bersikap baik pada tamunya kali ini, adalah kesalahan besar.
"Rossie, jangan seperti itu, nak."
Helen berucap tanpa melihat ke arah Rossie. Ia menanggapi ucapan Rossie sembari menuangkan air ke gelas. Air yang akan disuguhkan untuk ketiga tamunya. Rossie mendengus kesal.
"Ibu, Bang Ziban sudah tidak bersama dengan kita selama bertahun-tahun lamanya, bu. Dan, dia memang tidak pernah menemui kita sebelumnya, karena dia tidak ingin,"
"Ibu harus menghilangkan mereka berdua dari hidup mu, bu. Lupakan kedua putra ibu."
Helen berjalan ke arah Rossie sembari membawa nampan.
"Mereka berdua hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh ayah mu. Ibu tahu, itu. Ibu sangat memahaminya,"
"Dan hubungan antara ibu dan anak, tidak akan dapat diputuskan dengan alasan apapun."
Rossie masih terlihat kesal. Ia mendengus kembali. Helen memang memiliki banyak kesabaran dalam segala hal. Rossie hafal akan hal itu. Tetapi tentu saja, Rossie tak ingin ibunya kembali terluka. Ia hanya khawatir mengenai perasaan ibunya. Tak ingin siapapun melukainya. Terutama ayah dan kedua kakaknya tersebut.
"Tapi bu..." (ucap Rossie)
Helen mengelus pundak putrinya.
"Kau akan belajar dari ibu mu ini, kan?"
Rossie melengoskan wajahnya. Mengindari tatapan Helen.
"Kita bicarakan ini nanti ya, sayang. Sekarang, antar ke depan minuman ini." (pinta Helen)
Rossie sempat beberapa kali menolak atas permintaan Helen itu. Tetapi karena Helen memang bersikeras menginginkan Rossie ikut ke depan, akhirnya Rossie pun mengiyakan dengan atas nama keterpaksaan.
Mereka berdua jalan beriringan. Rossie lah yang membawa nampan. Helen yang menyuguhkan minuman tersebut pada Ziban, dan dua orang yang tak di kenal mereka sebelumnya.
Rossie hendak meninggalkan mereka. Tetapi Helen meminta untuk tetap bertahan. Terlihat Ziban yang membisikkan sesuatu di telinga Talita.
"Iya benar. Dia Rossie, adik perempuan mu."
Talita menjawab dengan bisikan pula.
"Rossie, duduklah." (ucap Ziban)
"Tidak, tidak. Aku sudah terbiasa duduk." (Rossie menolak)
Ziban Alkash mengulas senyum. Senyum yang jarang ia perlihatkan sejak dua tahun belakangan. Ia berdiri dari tempat duduknya, mendekati Rossie, lalu merangkulnya.
Rossie masih memperlihatkan ketidaksukaan dirinya. Tetapi Ziban terlihat tidak putus asa.
__ADS_1
"Aku tahu, adik ku ini sangat marah pada ku. Kau berhak atas semua itu,"
"Tetapi asal kau tahu, aku tidak pernah melupakan mu dan ibu barang sedetikpun. Kalian berdua selalu ada disini. Melekat di dalam dan aman berada disana."
Ziban menunjuk pada bagian dadanya. Ia bermaksud menunjukkan seberapa berartinya Rossie dan Helen di dalam hidupnya. Helen tersenyum mendengar putranya mengatakan hal tersebut. Kebahagiaan tengah ada di depan matanya.
Helen pun ikut berdiri. Mendekati putra putrinya. Tersenyum. Lalu merengkuh mereka berdua. Helen sempat mengeluarkan air mata.
"Ibu, jangan menangis."
Rossie mengusap air mata Helen. Dan disusul dengan tatapan tajam darinya yang ia tujukan pada Ziban.
"Pergilah! Kedatangan mu membuat ibu ku menangis!"
Helen menahan emosi Rossie dengan menggelengkan kepalanya pelan. Mengatakan padanya, bahwa yang dikatakan Rossie adalah salah.
"Tidak nak, ini air mata bahagia."
Sedangkan terlihat Talita yang memutarkan bola matanya melihat kejadian di depannya. Ia menanggap semua yang tengah terjadi, adalah drama semata. Membosankan. Satu kata yang pas untuk mewakilkan raut wajah nya.
Helen menggenggam tangan Ziban dan Rossie. Mereka duduk dengan saling bersebelahan. Helen lah yang berada di tengah antara Ziban dan Rossie.
"Baiklah, tante. Seperti yang sudah aku ceritakan sejak awal tadi. Aku adalah kekasih putra tante ini. Kami memutuskan untuk segera bertunangan. Dan setelah bertunangan, satu minggu atau selambat-lambatnya dalam kurun waktu dua minggu, kami akan menikah,"
"Tante setuju kan?"
Tetapi ia segera melupakan keterkejutan nya, setelah ia mengingat ucapan Talita sejak dahulu.
Seseorang pasti akan sangat berterimakasih pada orang yang sudah membantunya mengingat masa-masa yang hampir sepenuhnya dilupakan. Dan dia pasti akan mengenang jasanya itu. Dia akan menuruti semua keinginannya, jika dia bisa melakukan hal itu.
Ucapan Talita yang masih melekat jelas pada pikirannya. Tak goyah sedikitpun, apalagi sampai ia lupakan.
Akhirnya, Ziban hanya diam saja. Ia tidak mengatakan sepatah katapun, setelah Talita memutuskan untuk segera bertunangan dan menikah.
Helen masih memperlihatkan wajah yang biasa-biasa saja. Tetapi tidak dengan Rossie. Ia menarik sudut bibirnya ke atas. Menanggapi ucapan Talita dengan ketidaksukaan. Ia memperhatikan penampilan Talita. Seorang perempuan yang memakai baju yang sangat terbuka. Dengan riasan tebal melekat di wajahnya.
Setelah memperhatikan Talita, Rossie memperhatikan Ziban, kakaknya. Ia menggelengkan kepalanya.
Aku baru tahu, jika salah satu kakakku mempunyai selera sepertinya. Ah ya, jika membicarakan perihal selera, Bang Zidan jauh lebih memiliki selera yang tinggi. Dan, dia pasti akan menjadi laki-laki yang sangat beruntung. Jika dia, tidak memiliki masa lalu yang sulit di terima dan di maafkan.
"Ibu, aku tinggal disini saja ya, bu? Boleh?" (ucap Ziban)
"Lalu bagaimana dengan ayah mu?" (tanya Helen)
"Aku rasa, dia sudah cukup dewasa tante. Dia berhak untuk memutuskan tinggal dengan siapapun. Termasuk tinggal dengan ibu kandungnya sendiri. Menurut mu, ucapanku benar kan, tante?"
Talita lah yang menjawab pertanyaan Helen. Rossie menghembuskan nafas kasar. Ia benar-benar tidak dapat menyembunyikan kekesalannya pada siapapun.
__ADS_1
"Baiklah, tinggal lah disini sesuai keinginan mu." (ucap Helen)
Rossie terlihat tidak mempermasalahkan keputusan Helen. Ia sangat memahami. Kejadian seperti itulah, yang Helen dambakan sejak lama. Dimana, putranya kembali tinggal bersamanya. Saling mencurahkan kasih sayang. Begitupun dengan Rossie. Ia tak dapat mengelak, bahwa kerinduannya hampir sejajar dengan apa yang dirasa Helen.
"Papah pulang saja. Aku akan tinggal disini juga sampai jelang pertunangan kami." (ucap Talita)
Rossie membulatkan matanya lebar-lebar. Begitupun dengan Helen. Hanya Ziban lah yang terlihat biasa saja.
"Dia sudah kehilangan akal, bu." (bisik Rossie di telinga Helen)
"Emm, nak. Menurut tante kau sebaiknya pulang dan tinggal di rumah mu, saja." (ucap Helen berhati-hati)
"Tapi kenapa, tante?"
"Pasangan yang belum sah menikah, tidak boleh tinggal di atap yang sama. Untuk mencegah hal-hal yang terlarang."
Talita menghembuskan nafasnya berat.
"Oleh karena itulah, aku ingin cepat-cepat menikah."
Rossie melirik Talita.
"Tidak tahu malu."
Talita menyadari ucapan Rossie tertuju kepadanya.
"Adik ipar, kau mengatakan sesuatu?"
Apa? Adik ipar? Benar-benar menjijikan.
"Ibu, aku ke belakang ya bu." (ucap Rossie)
"Kenapa sayang?"
"Aku ingin muntah. Sudah tidak kuat rasanya. Mungkin aku salah jajan ketika di kampus tadi."
Semua pasang mata memandang Rossie yang berlari terbirit-birit.
"Baiklah, kami pulang terlebih dahulu. Sampai jumpa di hari pertunangan Talita Arifa dan Ziban Alkash." (ucap Bram)
Bram dan Talita keluar dari rumah tersebut. Meninggalkan Helen dan Ziban yang masih duduk di tempat yang sama. Sebenarnya jika Helen mengiyakan ucapan Talita untuk tinggal di atap yang sama dengan Ziban sekalipun, Ziban tidak akan melakukan hal-hal aneh. Ziban masih mengerti batasan-batasan. Dan mengenai batasan-batasan yang dimaksud Ziban, Talita tak dapat menggoyahkan nya sedikitpun.
"Kenapa kau membuat Ziban tinggal di rumah ibu kandungnya? Papah masih tidak mengerti. Itu kan di luar urusan mu." (tanya Bram)
"Di rumah ayahnya, ada Olive. Papah tahu, dia perempuan licik. Dia melakukan semua hal atas kehendaknya. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan calon suamiku tinggal dengan perempuan licik sepertinya." (jawab Talita)
Talita dan Bram masuk ke dalam mobil. Lalu pulang kembali ke rumah mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG...