
Akhir pekan telah berakhir, semua kembali normal seperti sediakala. Ada yang bergegas berangkat ke kantor, dan juga siswa yang harus kembali ke sekolah untuk menerima pelajaran seperti biasanya.
Sedangkan di asrama pesantren tempat Andin dan teman-teman tinggal, ada yang terlihat sibuk bergegas berangkat ke sekolah mereka masing-masing, dan ada pula yang tetap berdiam diri di kamar karena memang tidak melanjutkan sekolah.
Di kamar C12, Meta dan Violla lah yang memang tidak melanjutkan sekolah sejak lulus sekolah menengah pertama. Mereka memang hanya ingin fokus dalam memperdalam ilmu agama mereka. Hal yang dilakukan mereka setelah kepergian teman-teman yang lain bersekolah tentu saja menuju ke dapur untuk membantu Mbak Zulfia.
Berbeda dengan Andin, ia memang bersekolah di tempat yang berbeda dari teman-teman lainnya. Kebanyakan dari teman-teman nya bersekolah di Sekolah Menengah Atas dan kejuruan. Tentu saja Papah Arga lah yang menentukan Andin untuk bersekolah di aliyah tanpa Andin harus tahu alasannya.
"Ahh, ini adalah hari pertama aku masuk ke kelas jurusan. Setelah kemarin melihat hasil pengumuman yang menyatakan bahwa aku dan Jin Tomang Arif akhirnya berbeda kelas dan jurusan, rasanya lega sekali. Ahh tidak, hari ini pula kan aku resmi menjadi pacar kontrak pura-pura dari Kak Ziban. Sialan!" (batin Andin tiba-tiba memberontak)
Kira-kira apa tugasku untuk menjadi pacar pura-pura nya ya? Ah, semoga saja orang sinting itu tidak meminta macam-macam dariku.
Ruang kelas IIS 1 favorit..
Bel masuk berdenting keras, semua siswa tergopoh-gopoh memasuki ruang kelas baru mereka. Kecuali Andin, ia memang selalu terlihat santai dimanapun ia berada. Berjalan pelan diantara desakan siswa lain yang kian mulai mendorong Andin tanpa diindahkan oleh Andin sedikitpun. Yaa, Andin memang tidak suka didesak atau bahkan ditekan. Ia hanya berusaha setenang mungkin dibalik situasi apapun.
Andin masuk ke dalam ruang kelas IIS 1 favorit, terlihat semua kursi sudah ditempati. Hanya meja bagaian belakang lah yang masih kosong dengan dua kursi yang masih tersisa.
"Ah di belakang atau dimana saja sama sekali tidak masalah buatku, asalkan tidak ada pengganggu lagi." (lirih Andin sembari melangkahkan kedua kakinya menuju tempat duduk)
Setelah Andin duduk di kursinya, tiba-tiba seseorang yang tidak asing baginya masuk ke kelas itu lalu menuju ke bangku Andin dan duduk disebelahnya.
"Heii!! apa yang kau lakukan di kelas ini?!" (tanya Andin dengan raut muka terkejut)
"Memangnya kenapa? Inikan juga kelasku." (menjawab dengan santai yang membuat Andin semakin kebingungan)
Kenapa Arif ada di kelas ini? Bukannya jelas-jelas kemarin disebutkan Arif mendapat nilai yang hampir sempurna juga dan bahkan masuk ke kelas MIA 1 favorit?
Sebelum Andin menghujani Arif dengan banyak pertanyaan, wali kelas sudah terlebih dahulu memasuki ruang kelas dengan mengucapkan salam dan tentu saja kegiatan perkenalan seperti biasa antara wali kelas dan murid-muridnya pun segera dimulai.
Jam istirahat pukul 12.00 akhirnya tiba, kebanyakan siswa ketika jam menunjukkan waktu istirahat, maka mereka akan langsung menuju ke kantin sekolah. Tentu saja bukan kantin biasa seperti sekolahan pada umumnya. Ah, mungkin restoran adalah nama yang paling tepat untuk menamai kantin MAN 102 Bandung. Bagaimana tidak? Disitu memang hanya terdapat menu makanan kelas atas yang tentunya dengan harga yang sangat ekstrim.
__ADS_1
Tetapi berbeda dengan Andin, setelah bel istirahat ia langsung bergegas menuju ke masjid yang ada di sekolah. Tentu saja masjid yang sangat mewah dengan desain menawan yang jarang terlihat di masjid manapun.
Setelah menunaikan ibadah sholat dhuhur selesai, Andin baru akan bergegas menuju suatu tempat untuk mengisi perutnya. Yang pastinya bukan ke kantin sekolah, tetapi Andin akan menuju ke pinggir jalan depan sekolah yang terdapat banyak jejeran kaki lima. Ia memang lebih suka membeli makanan kepada pedagang kaki lima di pinggir jalan. Tentu saja bukan karena ia tidak mampu untuk membeli makanan di kantin. Bahkan jika Andin ingin membeli kantinnya sekalipun ia sangatlah mampu. Ya begitulah Andin, sejak tinggal di asrama pesantren ia memang lebih mandiri terutama soal makan, Andin tidak pilih-pilih lagi dan bahkan lebih menyukai makanan-makanan pinggir jalan.
"Seporsi ketoprak seperti biasa ya bang, jangan lupa yang pedas oke bang." (kata Andin yang disambut baik oleh pedagang ketopraknya)
"Oke neng, sumonggo tunggu sebentar atuh." (jawab pedagang ketoprak dengan logat khas nya)
"Nih seporsi ketoprak pedes pisan buat si eneng gelis."
(kata si Abang dengan menyodorkan seporsi ketoprak dan juga segelas es teh manis)
"Terimakasih, bang."
Andin terlihat makan dengan sangat menikmati, sesekali diselingi dengan meneguk es teh nya yang selalu pas rasanya, tidak terlalu manis dan juga tidak terlalu pahit. Tentu saja sambil makan dengan sesekali melihat arloji agar tidak terlalu lama di situ dan masuk ke kelas tepat pada waktunya.
Setelah melihat arloji hitam miliknya yang menunjukkan pukul 12.30, maka Andin harus segera menyelesaikan tugas suci mulianya yaitu menghabiskan ketoprak secepatnya.
"Tidak usah atuh neng, kali ini biar Abang mentraktir eneng." (kata si Abang dengan menolak Andin membayar seporsi ketoprak yang sudah dilahapnya)
"Ah yang bener bang? Masa pembeli mau bayar tidak boleh sih."
Jawab Andin kembali kepada laki-laki yang sedang berada di hadapannya ini yang memang belum terlalu tua, mungkin sekitar 25 tahun. Tetapi ia memang terlihat sangat polos dengan gaya tampilan khas alakadarnya.
"Iya atuh, tidak apa-apa. Toh hari ini dagangan ketopraknya sudah ludes semua."
"Aaa, terimakasih traktiran kali ini bang. Ketopraknya sangat enak dan akan selalu seperti itu. Aku masuk ke kelas lagi ya bang, semoga harimu menyenangkan."
Andin berlari masuk kedalam sekolah sebelum pintu gerbang di tutup karena pastinya akan susah untuk masuk dan menuju ke kelasnya. Si Abang ketoprak hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis yang dianggapnya lucu.
Ketika Andin sudah memasuki sekolah dan menginjak kan kakinya di taman, dua orang tiba-tiba datang menghalangi jalan Andin. Tentu saja membuat Andin terkejut dengan kehadiran dua makhluk paling populer di sekolah ini.
__ADS_1
"Heiii! Kebon karet! Sudah kau baca belum?!" (kata Ziban dengan tatapan angkuh)
"Sudah kak."
"Hahaha tentu saja kau akan sangat menerima persyaratan itu dengan suka cita, apalagi syarat untuk menjadi pacar pura-pura ku. Yayaayaaa, itu adalah impian semua perempuan kepadaku. Aku mengijinkan mu jika kau memang ingin bertekuk lutut kepadaku atas kebaikan ku"
Aku benar-benar tidak sudi untuk bertekuk lutut kepadamu. Aku hanya akan bertekuk lutut kepada Tuhanku! Satu lagi, hahaha tentu saja aku bukanlah tipe perempuan yang sedang kau katakan, aku bahkan sangat menyesal telah dipertemukan denganmu wahai iblis. Cih.
"Hemmm." (jawab Andin singkat karena tidak ingin berlama-lama dengan iblis ini)
"Berani sekali kau hanya mengatakan itu kepadaku?!"
Apa? Memangnya aku mengatakan apa kepadamu? Bukannya itu yang sering kau katakan kepadaku? Gantian orang lain yang mengatakan kau malah langsung darah tinggi.
"Ahh aku hanya sedikit bergurau, bolehkah aku kembali ke kelasku? Karena kelas akan segera dimulai kak."
"Hemm."
Aku benar-benar ingin menghabisi mu sekarang juga!
Andin segera berlari menuju kelas IIS 1 Favorit meninggalkan mereka berdua, yaitu Ziban dan juga Rinta yang sedari tadi hanya diam saja tanpa ikut berbicara atau bahkan memojokan Andin. Mungkin dia sedang berperan sebagai asisten pribadi yang hanya berbicara jika tuannya mengijinkan.
Cih! Drama apalagi yang sedang mereka buat.
Pelajaran hari pertama telah usai, tentu saja dengan duduk berjejeran dengan si Arif tanpa berbicara sepatah kata pun. Sejak kejadian terakhir kemarin di ruang pengumuman, Arif memang sudah terlihat menjadi sangat pendiam dan tidak menggangu Andin lagi seperti biasanya. Andin tentu saja terlihat masih kebingungan dengan sikap dingin Arif yang tidak seperti biasanya.
Dan jika Andin melontarkan pertanyaan kepada Arif, dia hanya diam saja atau hanya menjawab iya dan tidak.
Ah Arif Jin Tomang benar-benar membuatku penasaran! Mulai dengan kenapa dia masuk ke kelas IIS 1 Favorit dan juga dengan sikap dingin yang Arif tujukan kepadaku. Mengapa Arif bahkan jauh lebih menyebalkan ketika bersikap dingin dan berhenti mengganggu ku lagi siii. Aaaaa ayolah Rif, jelaskan kepadaku ada apa sebenarnya?!
BERSAMBUNG...
__ADS_1